Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27 - Malam Sempurna
Ketika tamu terakhir pergi dan keheningan kembali menguasai rumah, kami naik ke kamar. Lelah dari hari itu dan dari emosi pesta masih terasa, tetapi ada juga rasa ringan yang sudah lama tidak kurasakan. Seolah setelah semua yang terjadi, akhirnya kami meninggalkan ketidakpastian dan menemukan diri kami di tempat yang nyata.
Ibuku menyerahkan Kirana ke pelukanku sebelum pergi ke kamarnya sendiri. Katanya, bayi itu hanya tidur sebentar sepanjang malam, terlalu sibuk memperhatikan segala hal di sekeliling dan menerima perhatian. Namun ketika kami sampai di kamar dan aku meletakkannya di boks bayi, Kirana segera bergerak, mengeluarkan suara-suara kecil, dan membuka matanya lebar-lebar, seolah berkata ia sama sekali tidak berniat tidur dulu.
Alya tertawa pelan, duduk di tepi ranjang.
"Sepertinya dia juga ingin menikmati sisa malam," katanya sambil mengulurkan tangan.
Aku mengangkat Kirana lagi dan meletakkannya di antara kami berdua, di atas kasur, memastikan ia benar-benar aman, disangga bantal-bantal lembut. Di usia baru lima bulan, ia sudah bisa sedikit mengangkat kepala dan memutar tubuh, melihat dari satu orang ke orang lain dengan rasa ingin tahu yang seakan tidak ada habisnya.
"Kalau begitu, kita lakukan sesuatu yang berbeda," usulku sambil memandang Alya. "Mau menonton film? Yang ringan saja, supaya kita bisa di sini tanpa terburu-buru."
Ia mengangguk sambil tersenyum. Dalam beberapa menit, aku menyalakan televisi dan memilih cerita yang tenang, dengan gambar lembut dan suara rendah. Kami mematikan lampu utama dan hanya membiarkan lampu nakas yang redup menyala, menerangi kamar dengan warna hangat dan damai.
Aku berbaring menyamping, menopang wajah dengan tangan. Alya melakukan hal yang sama di sisi lain, dan kami berdua memperhatikan putri kecil kami di tengah. Kirana tampak terpesona oleh warna-warna yang muncul di layar. Matanya yang besar mengikuti gerakan, sesekali ia mengayunkan lengan mungil dan tertawa lirih, seolah memahami semua yang dilihatnya.
"Tidak mau tidur, ya, putriku?" bisikku, mengusap ringan pipinya yang lembut dengan jariku. "Tidak apa-apa. Kamu boleh di sini bersama kami selama yang kamu mau."
Alya mendekat sedikit dan membelai rambut halus Kirana dengan tatapan penuh kelembutan.
"Ini pertama kalinya kami melewati malam seperti ini, tanpa takut pada hari esok, tanpa harus khawatir apakah besok masih punya tempat berteduh," katanya pelan. "Rasanya seperti mimpi."
Aku menggenggam tangannya di atas selimut dan meremasnya penuh sayang.
"Ini bukan mimpi," jawabku. "Ini kenyataan kita sekarang. Tidak ada yang akan merampasnya dari kita."
Kami tetap di sana hampir satu jam, menonton film, hanya sedikit berbicara, sekadar merasakan kehadiran satu sama lain. Setelah semua kegembiraan tadi, Kirana mulai melambat. Matanya semakin berat, gerakannya berkurang, sampai akhirnya kelopak matanya tertutup. Ia mengembuskan napas lembut dan tidur pulas, masih berbaring di antara kami.
Dengan hati-hati, kami menyelimutinya dengan selimut tipis tanpa memindahkannya dari sana. Tidak masalah jika ia memakan sedikit lebih banyak tempat. Memiliki Kirana di situ, aman dan tenang, adalah akhir terbaik yang bisa dimiliki malam itu.
Aku melihat Alya, yang juga mulai memejamkan mata, lalu merasakan sebuah kepastian mutlak di dada. Tidak peduli Viktor Pranata pernah mengancam kami, tidak peduli tatapan tidak setuju atau bahaya yang mungkin masih muncul. Dengan mereka di sisiku, aku punya semua yang kubutuhkan untuk menghadapi apa pun yang datang.
Dini hari sudah semakin larut, dan kamar tenggelam dalam remang yang lembut, hanya diterangi cahaya redup lampu nakas. Aku tidur pulas, lelah oleh emosi dan pekerjaan sepanjang hari, ketika suara kecil yang akrab memecah keheningan: tangisan lemah dan mengantuk dari Kirana.
Mataku langsung terbuka, tanpa perlu tanda lain. Bahkan sebelum aku sempat bergerak, aku merasakan Alya bergerak ringan di sisiku. Ia sudah terbangun, mencondongkan tubuh ke atas bayi kami, menghujani kening dan pipi Kirana dengan ciuman lembut sambil membisikkan kata-kata pelan dan manis, kata-kata yang hanya dimiliki seorang ibu.
"Tenang, sayang, Mama di sini... Tidak perlu menangis, kami semua dekat sekali..."
Sementara Alya bicara dan mengusap tubuh kecil Kirana untuk menenangkannya, aku sudah bangkit pelan tanpa membuat suara. Aku tahu persis apa yang harus dilakukan. Aku pergi ke lemari dan rak tempat kami menyimpan semuanya dengan rapi, mengambil botol susu yang sudah siap dan dihangatkan di termos, popok bersih, tisu basah, serta krim ruam popok, semua yang diperlukan. Aku meletakkan semuanya di nampan kecil agar tidak ada yang tertinggal, lalu kembali ke ranjang.
Saat mendekat, aku berhenti sebentar dan melihat pemandangan itu: Alya duduk dengan Kirana yang sudah lebih tenang di pangkuannya, sementara semua benda yang kubawa berada dalam jangkauan tangan. Pada momen itulah sebuah rasa aneh, tetapi sangat kuat, memenuhi diriku.
Dulu aku selalu berkata tidak ingin membangun keluarga, punya anak, atau meninggalkan warisan. Bagiku semua itu hanya kata-kata, hal-hal yang diharapkan dari seseorang tanpa benar-benar kurasakan di dasar dada. Aku tidak pernah berhenti untuk memikirkan makna sebenarnya: terbangun di dini hari, mencari popok, menyiapkan susu, mengganti pakaian bayi, dan menimangnya. Aku selalu mengira itu sesuatu yang jauh, bagian dari hidup yang mungkin datang begitu saja, tetapi bukan sesuatu yang benar-benar kuinginkan sedalam ini.
Sekarang, di sana, dengan semuanya tertata, melihat calon istriku dan putriku, aku menyadari aku selalu menginginkan ini. Aku hanya belum menyadarinya. Ini bukan sekadar kewajiban menjadi penyedia atau pelindung. Ini kegembiraan karena berada di sana, membantu, menjadi bagian dari setiap detail, bahkan yang paling sederhana dan melelahkan. Inilah kekosongan yang tidak pernah kusadari ada, dan kini terisi sepenuhnya.
"Aku bawa semuanya," kataku pelan, suara masih agak serak oleh tidur.
Alya memandangku dan tersenyum, dengan tatapan yang juga memahami betapa baru dan indahnya semua ini.
"Kamu sudah tahu di mana semua barangnya, ya?" godanya, mengambil botol susu dengan hati-hati.
Aku duduk di samping mereka, menyandarkan siku pada bantal, lalu memperhatikan dalam diam saat Alya menyusui Kirana dengan botol. Bayi itu mengisap dengan tenang, mata terpejam, nyaris kembali tidur.
"Kurasa begitu," jawabku pelan, melihat mereka dengan perasaan yang tidak bisa kujelaskan dengan kata lain. "Dan aku menyadari satu hal. Aku selalu ingin menjalani ini. Aku hanya tidak membayangkan bahwa dalam kenyataannya, aku menginginkannya sebesar ini."
Alya mengangkat mata dan melihat ketulusan di wajahku. Ia meremas tanganku yang bebas, lalu menjawab dengan lembut.
"Sekarang kamu tidak perlu membayangkannya lagi. Ini ada di sini, sedang terjadi. Untuk selamanya."
Kami tetap di sana beberapa saat lagi, sampai Kirana selesai minum dan kembali tertidur, tenang serta puas. Dalam keheningan dini hari itu, aku tahu dengan pasti: tidak ada kuasa, uang, atau kedudukan di dunia yang lebih berharga daripada momen itu.