Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Kabur

"Kalau Jonah... entahlah, dia tadi mendadak meminta diturunkan di sekitar hutan cemara pinggiran kota. Katanya... dia ingin mencari sedikit 'cemilan segar'."

Mendengar frasa 'hutan cemara' dan 'cemilan segar' keluar dari mulut Josiah, Elisa secara refleks langsung mencengkeram erat leher kirinya yang tertutup gerai rambut cokelat bergelombangnya. Darahnya mendadak berdesir hebat diliputi rasa ngeri. Jadi... tebakannya benar. Kedua kakak Josiah juga berada di distrik ini.

VROOOOMMM!

Tiba-tiba, suara deru mesin motor sport berkapasitas silinder besar yang sangat berat dan familiar terdengar bergaung keras dari arah depan gerbang utama kastil Pendragon.

Atmosfer di sekitar halaman belakang yang tadinya hangat seketika berubah menjadi sangat dingin, mencekam, dan dipenuhi oleh tekanan energi gelap yang luar biasa masif.

Sesosok pria dengan postur tubuh yang jauh lebih tegap, kekar, dengan rambut hitam ikal yang berantakan namun seksi, melangkah masuk ke area halaman belakang tanpa permisi. Dialah Jonas Salvatore, si Sulung dari tiga bersaudara, sosok yang mewarisi dominasi darah murni bangsa Demon (Iblis) terkuat.

Sepasang matanya yang hitam pekat tanpa dasar menatap langsung ke arah Elisa dengan sebuah tatapan yang sangat dingin, tajam, dan penuh dengan intimidasi mutlak—seolah-olah gadis manusia di depannya saat ini tak lebih dari sekadar kotoran debu di jalanan yang hampir saja ia tabrak dengan motornya tadi pagi.

Jonas menghentikan langkah kakinya tepat di ujung teras, menyilangkan kedua tangan kekarnya di depan dada sembari mendesis rendah, "Ada keributan apa ini? Dan kenapa... bisa ada makhluk manusia kotor yang berbau lumpur murahan berada di halaman belakang keluarga kita?"

Dia... pria brengsek yang membuat bajuku kotor tadi pagi! Sepasang mata cokelat gelap Elisa membelalak sempurna.

Aroma laut yang asin dan bauran karat besi tajam yang menguar pekat dari tubuh tegap Jonas sama persis dengan aroma pengendara motor sport hitam yang hampir mencelakainya di jalanan distrik lama.

Logika dan insting bertahan hidup Elisa seketika berteriak nyaring, mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh urat sarafnya.

Aku benar-benar tidak percaya jika makhluk-makhluk rupawan di depanku ini ternyata bukan manusia fana. Aku menyesal, sangat menyesal telah datang ke tempat ini! Aku kira monster-monster pengisap darah dan sejenisnya hanya eksis di dalam gulungan film Hollywood, tapi sekarang... aku justru berada tepat di tengah-tengah sarang mereka!

Pikiran Elisa berkecamuk hebat, dihantam gelombang kepanikan yang masif.

Aku dalam bahaya besar. Aku bisa dijadikan bahan camilan segar mereka kapan saja jika mereka mau. Dan yayasan panti asuhan itu... aku tidak akan pernah membiarkan Ibu Iris dan belasan adik kecilku tinggal di panti milik keluarga mistis ini! Mereka tidak akan selamat. Mereka semua hanya akan dijadikan hewan ternak, lalu dihisap darahnya sampai kering tanpa sisa!

Elisa terus melangkah mundur secara perlahan, sepasang kakinya gemetar hebat di atas rerumputan hijau.

"Jonas, jaga bicaramu! Dia bukan manusia kotor. Dia adalah sahabat baik Kak Evelyn, namanya Elisa Morpheana," ucap Scarlett Pendragon, bergegas melangkah maju demi menengahi ketegangan yang kian meruncing.

Gadis berambut perak itu lantas menoleh ke arah Elisa, mencoba mengulas seulas senyuman lembut yang menenangkan.

"El, jangan takut. Pria menyebalkan ini juga sepupu kandungku, namanya Jonas Salvatore."

Jonas hanya mendengus sinis, sama sekali tidak memedulikan teguran sepupunya. Sepasang matanya yang hitam pekat tanpa dasar terus menatap tajam ke arah wujud Elisa, menelanjangi ketakutan gadis itu seolah-olah ia sedang menilai kualitas potongan daging buruan yang siap dieksekusi.

"Teman Evelyn? Sejak kapan seorang aristokrat kelas atas sepertinya sudi berteman dengan tikus panti yang ketakutan dan gemetaran seperti ini?"

"Jangan bicara sekasar itu, Jonas!" tegur Scarlett lagi, suaranya meninggi. Ia mendadak menyadari ada sesuatu yang sangat salah dengan gestur tubuh Elisa.

Scarlett mengambil langkah mendekat ke arah tempat Elisa berdiri. "Elisa? Kau kenapa? Kenapa wajah dan bibirmu mendadak menjadi sepucat ini?"

"Jangan mendekat! Tetap di tempatmu!" teriak Elisa spontan, suaranya melengking tinggi dipenuhi keputusasaan yang nyata.

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari mulut Scarlett, Elisa memutar tubuhnya dengan cepat. Ia berbalik dan berlari tunggang langgang melintasi koridor kastil menuju ruang tamu utama.

Begitu tiba di ruangan luas itu, tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung menyambar pergelangan tangan Evelyn yang saat itu sedang asyik mengunyah biskuit cokelat premium.

"Eve! Ayo pergi sekarang juga! Muntahkan makanan itu, jangan dimakan sama sekali!" teriak Elisa panik dengan napas terengah-engah, menarik paksa tubuh Evelyn hingga gadis bermata zamrud itu tersedak hebat.

"Uhukk! Uhukk! El? Kau ini kenapa? Kenapa kau mendadak panik dan terlihat seperti habis melihat hantu?" tanya Evelyn kebingungan setengah mati sembari terhuyung-huyung, dipaksa mengikuti langkah kaki lebar Elisa yang menyeretnya keluar dari kastil.

Di ambang pintu kaca yang besar, Jonas dan Josiah Salvatore tampak berdiri tegak, menonton drama pelarian itu dengan ekspresi wajah yang bertolak belakang.

Josiah tertawa geli seolah melihat komedi yang menghibur, sementara Jonas melipat tangan dengan tatapan dingin yang menghina. Namun tiba-tiba, suasana di sekitar mereka memberat saat sesosok pria lainnya—Jonah Salvatore—muncul dari balik pilar marmer, menyeka sudut bibirnya yang pucat menggunakan sapu tangan sutra putih.

"Mau lari ke mana lagi, Manusia Manis?" gumam Jonah pelan dengan suara baritonnya yang lembut, namun entah bagaimana, gaung suaranya terdengar layaknya bisikan maut yang mengalun tepat di lubang telinga Elisa.

"Pergi! Jangan berani mendekatiku!" jerit batin Elisa.

Ia menarik tubuh Evelyn semakin cepat, berlari melintasi halaman luas menuju mobil sedan hitam milik keluarga sahabatnya yang masih setia terparkir di dekat gerbang emas Pendragon.

"Antarkan aku kembali ke panti asuhan lama sekarang juga, Eve! Cepat suruh supirmu jalan!" perintah Elisa dengan nada mutlak yang bergetar begitu tubuh mereka berdua berhasil masuk dan membanting pintu mobil.

"El, kau benar-benar membuatku takut! Apa yang sebenarnya terjadi di halaman belakang tadi?"

Evelyn bertanya dengan raut cemas yang kentara sembari memberikan isyarat tangan pada supir pribadinya untuk segera menekan pedal gas.

"Ini jauh lebih seram dan berbahaya dari hantu mana pun di dunia ini, Eve. Ayo cepat pergi! Sebelum keluarga monster vampir itu datang dan menghisap habis semua darah adik-adik dan Ibu Iris, aku harus membawa mereka pergi menjauh!" tutur Elisa histeris.

Ia memeluk erat tubuhnya sendiri yang masih terasa dingin, sepasang matanya terus melirik waswas ke arah kaca spion luar, merasa takut jika ketiga bersaudara Salvatore itu mendadak mengejar kendaraan mereka dengan kecepatan supernatural yang tidak masuk akal.

****

Sementara itu, di halaman belakang kediaman Pendragon, Scarlett berdiri mematung menatap kepergian mobil sedan hitam Evelyn yang kian menjauh membelah jalanan kota. Ia lantas memutar tubuhnya, menatap tajam ke arah ketiga sepupu Salvatore-nya dengan binar mata ungu yang menuntut penjelasan mutlak.

"Apa yang telah kalian bertiga lakukan padanya?" tanya Scarlett dengan nada suara yang sangat tajam dan mengintimidasi. "Gadis manusia itu ketakutan setengah mati!"

Josiah mengangkat kedua bahunya santai sembari mengulas seringai lebar yang jenaka. "Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa padanya, Scarlett manis. Aku hanya menyapanya dengan ramah. Tapi sepertinya pesona ketampananku terlalu 'berbahaya' untuk ukuran gadis panti sekecil dia."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!