Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Ternyata Dia Penyelamat
Apakah tim pemeriksa tiba di jalan itu sebelum bus biru berangkat?
Sampai siang, Laras belum menerima jawaban.
Ratih sudah dua kali menelepon dari travel. Perjalanan lewat rute timur berjalan lambat tetapi aman. Ia bahkan sempat menggoda Laras karena terus meminta lokasi setiap kali kendaraan berhenti.
Kabar itu seharusnya menenangkan. Namun dalam mimpi, bus jatuh menjelang sore. Selama bus biru masih mungkin berangkat, bahaya belum selesai.
Di lapangan tengah asrama, fitnah Vania justru semakin ramai.
"Katanya Ibu Ratih sampai mengganti tiket mendadak," ujar seorang ibu.
"Mungkin benar menantunya tidak mau tinggal serumah."
Vania berdiri di antara mereka dengan wajah prihatin. "Aku cuma kasihan. Kalau nanti terjadi sesuatu di jalan, Mbak Laras pasti menyesal sudah menyuruh beliau pergi terburu-buru."
"Jangan bicara seperti mendoakan orang celaka," tegur Rina.
Vania buru-buru menggeleng. "Bukan begitu. Aku hanya takut keluarga Adiningrat mendapat musibah karena keputusan yang salah."
Kata `musibah` diucapkan terlalu yakin.
Bu Marni datang setelah menerima pesan Vania. Ia masih menyimpan sakit hati karena dipermalukan di gedung dan langsung menyambar pembicaraan.
"Dari dulu Laras membawa masalah," katanya. "Baru masuk Keluarga Adiningrat, ibu mertuanya sudah disuruh menempuh perjalanan mendadak. Kalau ada apa-apa, siapa yang bertanggung jawab?"
"Ratih mengubah jadwal atas pilihannya sendiri," kata Laras.
"Kamu yang membujuk."
"Dan beliau sudah menelepon dalam keadaan aman."
"Aman sekarang belum tentu sampai tujuan," sela Vania. "Jalan gunung berbahaya."
Rina maju satu langkah. "Kalian ini menunggu orang celaka atau bagaimana? Dari tadi kalimatnya selalu `kalau ada apa-apa`."
Beberapa ibu mulai saling pandang. Vania sadar ia terlalu jauh dan segera memasang wajah tersinggung.
"Aku hanya mengingatkan."
"Kalau benar peduli, doakan selamat. Bukan sebarkan pesan bahwa Laras mengusirnya," balas Rina.
Laras tidak ikut berteriak. Ia hanya menyimpan pesan dan ucapan mereka dalam ingatan. Begitu kabar dari jalan tiba, kebenaran akan berbicara lebih keras daripada bantahan di lapangan.
Laras yang baru keluar rumah menghentikan langkah. Vania mungkin hanya mengikuti ingatan kehidupan sebelumnya, tetapi keyakinannya bahwa Ratih akan celaka terdengar seperti seseorang yang menunggu berita kematian.
Sebelum Laras sempat menjawab, Wahyu datang berlari dari arah kantor satuan.
"Bu Laras, Komandan meminta Ibu segera ke kantor. Ada kabar tentang perjalanan Ibu Ratih."
Wajah Vania langsung berubah cerah, lalu cepat-cepat ditundukkan.
"Kabar buruk?" tanyanya.
Wahyu menatapnya dingin. "Saya bicara dengan Bu Laras."
Laras mengikuti Wahyu. Di belakangnya, Vania sudah mengetik pesan kepada Bu Marni.
`Sepertinya Ratih kecelakaan. Laras dipanggil ke kantor satuan.`
Di kantor, Bram berdiri di dekat meja dengan telepon masih di tangan. Begitu Laras masuk, ia menutup jarak dalam dua langkah.
"Bunda aman," katanya.
Lutut Laras hampir kehilangan tenaga. "Benar?"
Bram mengangguk dan menyalakan pengeras suara. Suara Ratih langsung terdengar.
"Nak, Bunda sudah hampir sampai kota transit. Travel kami dialihkan sebentar karena ada penutupan jalan. Bunda aman. Semua penumpang aman."
Laras mencengkeram tepi meja. "Jalan yang mana?"
Seorang petugas Dinas PU yang ikut dalam panggilan menjelaskan. Tim pemeriksa tiba di tikungan yang dilaporkan Laras menjelang tengah hari. Permukaan aspal hanya menunjukkan retak tipis, tetapi setelah tanah di dekat gorong-gorong dibuka, mereka menemukan aliran air telah menggerus lapisan bawah badan jalan.
Bagian tepi bisa ambles jika dilewati bus berat.
Petugas memasukkan batang ukur ke bawah lapisan aspal dan menemukan rongga memanjang hampir di seluruh lajur luar. Tanah dari lereng atas juga bergerak setelah hujan lokal yang tidak tercatat di kota bawah. Mereka memasang barikade, meminta polisi menghentikan kendaraan berat, lalu mengirim alat untuk menguatkan bahu jalan sementara.
Bus biru sudah menyalakan mesin ketika perintah tahan tiba di terminal. Sopir sempat memprotes karena penumpang penuh, tetapi polisi menunjukkan foto rongga dan surat penutupan. Semua penumpang diturunkan, didata, lalu dipindahkan ke kendaraan kecil melalui rute alternatif atau dijadwalkan ulang.
Tidak lama setelah kendaraan terakhir berbalik, tepi aspal sepanjang beberapa meter ambruk. Barikade paling luar ikut jatuh ke lereng. Tidak ada korban karena tim sudah memindahkan semua orang ke jarak aman.
Polisi langsung menutup satu lajur, menahan bus biru di terminal, dan mengalihkan kendaraan kecil. Ketika pekerjaan pengamanan dimulai, sebagian bahu jalan benar-benar runtuh ke lereng.
"Kalau bus berangkat sesuai jadwal," kata petugas, "kendaraan itu mungkin tiba saat struktur sudah gagal. Laporan Ibu menyelamatkan banyak orang."
Napas yang sejak malam tertahan akhirnya keluar dari dada Laras.
"Terima kasih sudah memeriksa."
"Kami yang berterima kasih. Laporan Ibu sangat spesifik. Polisi akan menghubungi lagi untuk berita acara."
Panggilan berakhir setelah Ratih berjanji menelepon saat tiba di hotel transit.
Laras menutup mata. Bahunya bergetar satu kali.
Tiba-tiba Bram memeluknya.
Pelukan itu kuat dan singkat, lahir sebelum lelaki tersebut sempat menyusun jarak. Laras membeku sesaat, lalu merasakan napas Bram yang tidak teratur di atas kepalanya.
"Kamu menyelamatkan Bunda lagi," katanya serak. "Dua kali."
Di peternakan, Laras menyelamatkan Ratih dari tanduk domba. Hari ini ia menyelamatkan ibunya dari bus yang bisa jatuh ke lereng.
"Saya hanya melaporkan apa yang saya takutkan."
"Kamu menyelamatkan keluarga kami."
Bram baru menyadari dirinya memeluk Laras ketika Wahyu berdeham pelan dari pintu. Ia segera melepaskan tangan dan mundur.
"Maaf."
"Tidak apa-apa, Mas Bram."
Keduanya sama-sama mengalihkan pandangan.
Setelah emosi mereda, Bram bertanya, "Mimpi tadi malam yang membuatmu yakin?"
"Iya. Saya melihat bus, tikungan, dan jalan yang ambles. Saya tidak tahu kenapa, tapi firasat itu terasa nyata."
"Lain kali, beri tahu saya sejak awal. Kita periksa bersama. Kamu tidak perlu menanggung risiko laporan sendirian."
Laras tidak bisa mengungkapkan bahwa mimpinya benar-benar menunjukkan masa depan. Namun ia mengangguk. "Baik."
Mereka kemudian dipanggil ke kantor Danrem.
Kolonel Wibowo telah menerima laporan dari polisi dan Dinas PU karena alamat Laras berada di asrama militer. Ia bukan marah, tetapi tetap meminta penjelasan mengapa Laras berani melaporkan kerusakan yang tidak dilihatnya dari dekat.
"Saya melihat penurunan kecil ketika datang ke kota ini dan mendengar pekerja jalan membicarakan gorong-gorong," jawab Laras. "Semalam saya mimpi buruk tentang kecelakaan. Saya sadar mimpi bukan bukti, jadi saya tidak menuntut jalan ditutup. Saya hanya meminta pemeriksaan dan bersedia bertanggung jawab kalau keterangan saya keliru."
Kolonel Wibowo menatap nomor registrasi pengaduan dan kronologi tim PU.
"Kamu memilih jalur yang benar," katanya. "Tidak memakai pangkat suami, tidak menyebarkan kepanikan, dan memberi detail untuk diverifikasi. Satuan akan mengeluarkan pengumuman penghargaan. Pemerintah daerah juga ingin menyampaikan terima kasih."
"Saya tidak membutuhkan penghargaan, Pak Kolonel."
"Ini bukan sekadar hadiah. Banyak orang di asrama menyebarkan kabar bahwa kamu mengusir mertua. Fakta harus diumumkan sejelas fitnahnya."
Bram tidak menyela, tetapi tatapannya menunjukkan persetujuan.
Keesokan paginya, pengeras suara asrama menyampaikan pengumuman tiga kali.
Larasati Adiningrat, anggota keluarga satuan dan dokter hewan, telah melaporkan kerusakan jalur pegunungan melalui prosedur resmi. Pemeriksaan menemukan longsor bawah permukaan, perjalanan bus dihentikan, dan seluruh penumpang selamat. Warga diminta tidak menyebarkan informasi bohong mengenai kepulangan Ratih Adiningrat.
Lapangan yang kemarin dipenuhi bisikan berubah menjadi kerumunan orang membawa buah, beras, telur, dan makanan kering. Beberapa dari mereka memiliki saudara yang seharusnya naik bus biru.
"Maaf, Bu Laras," kata seorang ibu. "Saya ikut percaya kata Vania. Kakak saya ada dalam daftar penumpang bus itu. Kalau bukan karena laporan Ibu..."
Laras tidak membiarkan perempuan tersebut berlutut atau menangis lama. "Yang menyelamatkan mereka tim lapangan. Saya hanya memberi laporan. Tolong lain kali jangan teruskan pesan yang belum diperiksa."
Pengeras suara ponsel Rina tiba-tiba berbunyi. Ratih melakukan panggilan video dari hotel transit. Begitu wajahnya muncul, ibu-ibu berdesakan mendekat.
"Bunda sehat," kata Ratih. "Laras tidak pernah mengusir Bunda. Dia meminta Bunda mengganti perjalanan, dan keputusan itu menyelamatkan Bunda dari jalur yang rusak. Siapa pun yang masih mengatakan menantu Bunda berhati jahat, silakan bicara langsung dengan Bunda."
Tak seorang pun menjawab.
Ratih kemudian menatap Laras melalui layar. "Nak, terima kasih karena tidak mengabaikan firasatmu."
"Yang penting Bunda aman."
"Bunda akan tiba di Jakarta besok. Buku-bukumu juga akan Bunda carikan. Alasanmu boleh dibuat-buat, tapi permintaan bukunya tetap harus dipenuhi."
Tawa pecah di lapangan dan menurunkan ketegangan. Klarifikasi itu datang dari orang yang disebut korban, di depan saksi yang kemarin ikut menghakimi. Fitnah Vania runtuh sampai ke akarnya.
Rina berdiri di sampingnya sambil mencatat nama pemberi barang agar tidak ada yang hilang. "Kemarin mereka bilang kamu mengusir mertua. Hari ini rumahmu hampir jadi gudang hadiah."
Di ujung lapangan, Vania berdiri kaku.
Ratih seharusnya mati. Bus seharusnya jatuh. Tidak pernah ada laporan jalan dalam kehidupan sebelumnya.
Apakah Laras juga kembali dari masa lalu?
Pikiran itu membuat telapak tangan Vania basah. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa selama Rendra tetap menjadi dokter sukses, hidupnya masih bisa berjalan sesuai rencana.
Seorang perawat rumah sakit datang tergesa menghampiri kelompok ibu-ibu.
"Kalian dengar belum? Karena kasus keracunan catering, keluhan pasien, dan video pertengkaran di rumah sakit, dr. Rendra dinonaktifkan sementara dari pelayanan."
Ponsel Vania hampir jatuh.
Satu demi satu masa depan yang diingatnya sedang berubah.
Dan untuk pertama kalinya, Vania tidak tahu perubahan mana yang akan menghantam berikutnya.