Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.Tak habis pikir
Mobil Rolls-Royce hitam bernomor polisi istimewa itu meluncur membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati pendar lampu jalan. Keheningan di dalam kabin penumpang terasa begitu pekat, hanya diselingi oleh deru halus mesin yang kedap suara dan hembusan pendingin udara.
Aira menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Arka. Tangan kanan pria 39 tahun itu melingkar posesif di pinggangnya, sementara jemari kirinya menautkan jemari mungil Aira, menggenggamnya erat-erat seolah-olah jika ia melonggarkan genggaman itu sejenak saja, Aira akan menguap dan hilang dari jangkauannya.
Meski napas Arka sudah mulai teratur, Aira bisa merasakan detak jantung suaminya yang masih bergemuruh akibat sisa-sisa amarah di hotel tadi. Wajah tampan dengan rahang tegas itu masih tampak mengeras, menatap lurus ke arah jendela luar dengan pandangan mata hitam yang pekat dan berbahaya.
"Mas..." bisik Aira pelan. Suara lirihnya memecah sunyi di antara mereka.
Arka seketika menundukkan kepalanya. Pendar mata dingin yang baru saja memancar mendadak melunak total saat menyapu wajah Aira. Pria itu menaikkan jemari Aira yang berada di pangkuannya, lalu mendaratkan satu kecupan hangat di punggung tangan gadis itu.
"Iya, Sayang? Ada yang terasa sakit? Kepala kamu pusing?" tanya Arka bertubi-tubi dengan nada suara yang begitu lembut dan sarat akan kecemasan.
Aira menggeleng pelan. Ia menatap iris mata Arka yang dipenuhi rasa cinta yang murni. "Aira nggak apa-apa, Mas. Tapi... tindakan Mas Arka di hotel tadi... apa itu nggak terlalu berlebihan?"
Arka menyipitkan matanya sedikit, membelai pipi Aira yang terasa halus dengan ibu jarinya.
"Berlebihan? Mas bahkan merasa perlakuan Mas tadi masih terlalu halus untuk orang-orang yang berani membuat istri Mas meneteskan air mata."
"Tapi Ibu... Ibu pasti marah besar sama Mas Arka," sahut Aira ragu. Suaranya bergetar menahan gejolak rasa bersalah yang mendadak menghimpit dadanya.
"Ibu itu ibu kandung Mas Arka. Gara-gara Aira, hubungan Mas sama Ibu jadi rusak. Mas juga sampai mengancam memotong dana yayasan... Aira merasa jadi penyebab semua kekacauan ini."
Mendengar penyesalan yang keluar dari bibir polos istrinya, Arka menghembuskan napas panjang.
Hatinya teriris. Aira adalah korban intimidasi, namun gadis sembilan belas tahun ini justru menyalahkan dirinya sendiri atas benturan yang terjadi.
Arka merengkuh tubuh Aira lebih dalam, membawa gadis itu naik ke atas pangkuannya. Aira tersentak pelan saat Arka memeluknya erat, membenamkan wajah tegapnya di ceruk leher Aira seraya menghirup aroma vanila yang menenangkan dari kulit gadis itu.
"Dengarkan Mas baik-baik, Aira Danuartha," gumam Arka. Suara seraknya yang berat bergetar di dekat telinga Aira.
"Kamu tidak pernah menjadi penyebab kekacauan. Mas yang bertanggung jawab penuh atas dirimu sejak Mas mengucapkan janji suci pernikahan. Siapa pun yang mencoba merendahkanmu—tidak peduli apakah itu Ibu Mas sendiri atau seluruh relasi bisnis di kota ini—mereka harus berhadapan dengan Mas."
Arka menarik wajahnya sedikit, menatap mata cokelat jernih milik Aira dengan intonasi yang tidak menerima bantahan.
"Kamu adalah kehormatan Mas. Merendahkanmu sama saja dengan menginjak-injak harga diri Mas sebagai pria dan suami. Mengerti?"
Aira menelan ludah. Keteguhan dan perlindungan mutlak yang diberikan Arka terasa bagaikan benteng baja yang begitu kokoh. Namun di balik kehangatan itu, jauh di sudut hatinya yang paling dalam, bisikan minder itu tidak pernah benar-benar padam.
Aira tahu betul siapa dirinya: seorang gadis muda berlatar belakang miskin yang pernah dijual oleh keluarganya sendiri demi uang dua miliar.
Setebal apa pun benteng yang dibangun Arka untuk melindunginya, fakta bahwa kehadiran dirinya menciptakan jurang pemisah antara Arka dan ibu kandungnya terus menggerogoti ketenangan batin Aira.
Aira membalas pelukan Arka, melingkarkan lengannya di leher pria itu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. "Maafkan Aira ya, Mas..."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sayang," bisik Arka lembut. Pria itu menunduk dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang amat panjang, hangat, dan penuh kepasrahan—menyerap seluruh kesedihan Aira dan menggantikannya dengan gelora kasih sayang yang melimpah.
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Danuartha yang terletak di kawasan elite Menteng, suasana terasa mencekam bagaikan diterpa badai es.
Nyonya Rosalia Danuartha berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke taman belakang. Tangannya yang dipenuhi perhiasan mahal menggenggam erat cangkir porselen hingga buku-buku jarinya memutih.
Di belakangnya, Dania duduk di sofa kulit dengan wajah yang berpura-pura sedih, meski matanya memancarkan kilatan rasa puas atas kekacauan yang terjadi.
"Kurang ajar!" desis Rosalia dengan suara yang tertahan namun sarat akan amarah yang membakar.
"Arka benar-benar sudah dibutakan oleh anak gadis ingusan itu! Dia berani mempermalukan ibu kandungnya sendiri di depan seluruh relasi sosialita hanya demi membela wanita tidak berpendidikan seperti Aira!"
"Tante harus tenang..." bujuk Dania dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar prihatin.
"Dania juga kaget banget tadi melihat Mas Arka sampai seperti itu. Mas Arka yang dulu sangat menghormati Tante mendadak berubah total. Sepertinya wanita itu memang sengaja menggunakan kepolosannya untuk mencuci otak Mas Arka dan menguasai harta keluarga Danuartha."
Rosalia membalikkan badannya dengan cepat. Matanya menyalang tajam.
"Menguasai harta Danuartha? Langkahku masih ada sebelum hal itu terjadi! Aku yang melahirkan Arka, aku yang membesarkannya hingga menjadi pemimpin Danuartha Group. Aku tidak akan membiarkan dinasti yang kubangun puluhan tahun hancur hanya karena Arka tergiur oleh tubuh gadis muda yang dibelinya di jalanan!"
"Tapi Tante..." Dania memancing perlahan, "kalau Tante menyerang Aira secara langsung seperti tadi, Mas Arka justru akan makin protektif dan makin menjauhkan Tante dari Elano. Mas Arka itu pria yang sangat keras kepala jika sudah merasa ditantang."
Rosalia menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin dan penuh intrik. Ia berjalan melangkah menuju mejanya, meletakkan cangkir porselen itu tanpa suara.
"Kamu benar, Dania," sahut Rosalia dingin. "Arka pria berdarah panas. Semakin dipaksa, dia akan semakin melawan. Kalau begitu, kita tidak boleh lagi menyerangnya dari luar. Kita akan merusak hubungan mereka dari dalam—membuat Aira sendiri yang merasa hancur dan sadar diri untuk pergi meninggalkan Arka."
Rosalia mengambil ponsel khususnya, lalu memanggil sebuah nomor di seberang sana. Setelah beberapa detik, suara seorang pria paruh baya terdengar dari pengeras suara.
"Halo, Nyonya Rosalia?"
"Bagus. Saya ada tugas penting untukmu," kata Rosalia dengan nada memerintah yang dingin.
"Cari tahu seluruh silsilah keluarga Aira. Cari tahu orang tua angkatnya, kerabat jauhnya, hingga semua hutang atau skandal yang pernah dibuat oleh keluarganya di kampung halaman. Saya ingin seluruh kebusukan dan kerendahan latar belakang gadis itu berada di meja saya besok pagi."
"Baik, Nyonya. Segera kami proses."
Rosalia mematikan sambungan telepon. Ia menatap Dania dengan binar mata yang memancarkan kelicikan aristokrat sejati.
"Kita lihat seberapa bertahan mental gadis kampung itu ketika seluruh aib dan dosa keluarganya dibongkar di hadapan publik dan di hadapan Arka sendiri," bisik Rosalia kejam.
"Batu jalanan tetaplah batu jalanan, tidak akan pernah bisa menjadi berlian."
Keesokan harinya, kediaman Arka kembali diselimuti suasana hangat yang seolah mengaburkan badai yang sedang mengintai.
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca ruang makan. Elano duduk di kursi khususnya sambil menyantap sereal dengan wajah berantakan penuh susu. Aira duduk di samping bocah itu, dengan sabar mengelap sudut bibir Elano menggunakan tisu dapur.
"Mama Aira, nanti sore jadi ajak Elano main ke taman burung?" tanya Elano polos dengan mata membulat lucu.
Aira tersenyum manis, mengusap kepala anak sambungnya dengan penuh rasa sayang.
"Jadi dong, Mas Elano. Tapi syaratnya makan serealnya harus habis dulu, ya?"
"Siap, Mama Aira!" seru Elano semangat, lalu kembali melahap serealnya dengan gembira.
Arka yang baru saja turun dari lantai atas dengan balutan setelan jas kerja lengkap melangkah masuk ke ruang makan. Pemandangan di hadapannya—Aira yang tersenyum lembut mengurus Elano—seketika menghapus seluruh kelelahan dan ketegangan pikiran yang sempat menumpuk di kepalanya.
Arka berjalan mendekati Aira dari belakang. Tanpa memedulikan keberadaan Bi Inah yang sedang menyiapkan teh di dapur, Arka menunduk dan memeluk bahu Aira dari belakang, menanamkan satu ciuman dalam yang hangat di pipi istrinya.
"Selamat pagi, Istriku," bisik Arka dengan suara seraknya yang amat memikat.
Wajah Aira merona merah manis. Ia menoleh sedikit, menatap wajah tampan suaminya yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar kencang.
"Selamat pagi, Mas Arka. Mas mau minum kopi atau teh pagi ini?"
"Kopi buatanmu saja," sahut Arka mendaratkan satu ciuman singkat lagi di bibir Aira sebelum akhirnya mendudukkan diri di kursi utama di kepala meja.
Melihat interaksi mesra kedua orang tuanya, Elano menutupi kedua matanya dengan tangan mungilnya sambil tertawa kecil.
"Papa nakal! Memeluk Mama Aira terus!"
Arka terkekeh rendah, menatap putra tunggalnya dengan pandangan jenaka. "Mama Aira ini punya Papa, Elano. Jadi Papa bebas mau memeluk kapan saja."
"Nggak boleh! Mama Aira punya Elano juga!" protes bocah kecil itu lucu, membuat Aira tak sanggup menahan tawa bahagianya. Suasana ruang makan itu terasa begitu damai dan dipenuhi gelora cinta keluarga sejati.
Namun, kebahagiaan itu sedikit terusik ketika suara bel pintu depan berbunyi.
Beberapa saat kemudian, Bi Inah masuk ke ruang makan dengan membawa sebuah amplop cokelat tebal yang disegel rapi.
"Maaf mengganggu, Bapak. Ada kurir yang mengantarkan dokumen ini khusus untuk Nyonya Aira," kata Bi Inah sopan seraya menyerahkan amplop tersebut kepada Aira.
Aira bertaut alis heran. "Untuk saya? Dari siapa, Bi?"
"Kurirnya tidak menyebutkan nama pengirimnya, Nyonya. Katanya hanya dokumen penting mengenai riwayat pendidikan dan verifikasi data diri."
Dada Aira mendadak berdebar agak cepat. Rasa tidak tenang yang misterius kembali merayap di celah-celah hatinya.
Arka yang menyadari perubahan ekspresi di wajah istrinya langsung memasang raut sigap.
"Biar Mas yang buka, Aira."
Arka mengambil amplop tersebut dari tangan Aira. Dengan gerakan tenang namun penuh kewaspadaan, Arka merobek segel amplop cokelat itu dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen berstempel resmi di dalamnya.
Saat Arka membaca baris demi baris isi dokumen tersebut, rahang pria berusia 39 tahun itu seketika mengeras. Manik mata hitamnya menyipit tajam, memancarkan kilatan ketegangan yang amat pekat.
Aira yang memperhatikan raut wajah Arka yang berubah drastis menjadi dingin dan tegang merasa makin panik. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
"M-Mas Arka...? Isi surat itu apa? Kenapa muka Mas Arka jadi seperti itu?" tanya Aira dengan suara yang bergetar cemas.
Arka dengan cepat melipat kembali dokumen tersebut dan memasukkannya ke dalam saku dalam jasnya. Pria itu menyunggingkan senyum yang dipaksakan—sebuah usaha keras dari seorang pria dewasa untuk menyembunyikan ancaman agar tidak melukai hati istrinya yang rapuh.
"Tidak ada apa-apa, Sayang," ujar Arka dengan nada suara yang diusahakan setenang mungkin, walau urat-urat di lehernya tampak tegang. "Hanya berkas verifikasi administrasi dari lembaga hukum. Nanti Mas yang akan urus."
"Tapi Mas—"
"Mas jalan ke kantor dulu ya, sudah ada rapat direksi pagi ini," potong Arka cepat, berdiri dari kursinya. Ia mendekati Aira, merengkuh kepala gadis itu dan mengecup keningnya sangat lama dan erat—sebuah kecupan yang terasa begitu sarat akan beban dan dorongan protektif yang besar.
"Jaga diri di rumah ya, Sayang. Jangan berpikiran yang aneh-aneh," bisik Arka tegas di dekat telinga Aira.
Aira hanya bisa mengangguk pasrah saat Arka berbalik dan melangkah pergi dengan terburu-buru bersama Raymond yang sudah menunggu di luar.
Di dalam mobil yang melaju kencang menuju kantor pusat Danuartha Group, Arka mengeluarkan kembali dokumen cokelat itu dari dalam jasnya.
Tangan Arka yang kekar meremas tepi kertas tersebut hingga agak kusut. Di dalam dokumen itu terlampir berkas gugatan dan silsilah kelam keluarga angkat Aira di kampung halaman—sebuah dokumen hukum yang sengaja direkayasa dan diangkat kembali ke permukaan oleh tim pengacara ibunya.
Dokumen itu berisi tuduhan bahwa pernikahan Arka dan Aira dapat dibatalkan secara hukum atas dasar 'penipuan latar belakang' dan 'pembelian manusia yang melanggar pasal perdata', lengkap dengan ancaman akan mempublikasikan skandal tersebut ke seluruh media nasional jika Aira tidak menandatangani surat perjanjian perpisahan secara sukarela.
"Brengsek!" umpat Arka dingin. Suaranya bergema menakutkan di dalam kabin mobil.
Raymond yang duduk di kursi kemudi melirik dari kaca spion dengan raut cemas. "Ada yang bisa saya bantu, Pak Arka?"
"Ibu saya sudah mulai bertindak kotor," kata Arka dengan nada suara yang membeku.
"Dia menggunakan celah hukum dan riwayat kemiskinan keluarga Aira untuk menekan batin istri saya. Dia ingin memeras Aira agar merasa tidak pantas dan mundur dengan sendirinya."
Arka memejamkan matanya rapat-rapat, menahan gejolak amarah dan frustrasi yang membakar dadanya. Pria itu tahu persis ketakutan terbesar Aira adalah rasa minder dan ketakutan menjadi beban bagi dirinya. Jika Aira sampai membaca dokumen tuduhan ini dan melihat bagaimana media meretas latar belakangnya, mental gadis sembilan belas tahun yang polos itu dipastikan akan hancur berkeping-keping.
"Raymond," panggil Arka dengan intonasi rendah dan sarat akan dominasi berbahaya.
"Ya, Pak?"
"Blokir seluruh akses berita media yang mencoba meliput latar belakang Aira. Beli seluruh saham media yang berani menyentuh topik ini. Dan siapkan tim pengacara terbaik kita untuk membatalkan seluruh tuduhan absurd ini sebelum sampai ke telinga Aira."
"Baik, Pak Arka. Segera dilaksanakan."
Arka menyandarkan punggungnya di kursi kulit mewah, menatap kosong ke luar jendela. Hatinya berdesir nyeri memikirkan betapa besarnya ujian yang harus dihadapi rumah tangga mereka. Ibunya tidak akan berhenti hanya dengan gertakan ini. Ini baru permulaan dari permainan dingin yang bertujuan meremukkan rasa percaya diri Aira secara perlahan namun mematikan.
Dan di rumah besar yang sepi, Aira berdiri melamun di balkon kamar utama. Menatap langit pagi yang mendung, rasa cemas yang tak kasatmata makin mencengkeram dadanya. Aira bisa merasakan... ada rahasia besar dan badai yang amat dahsyat yang sedang disembunyikan oleh Arka demi melindunginya—sebuah badai yang siap menguji sejauh mana cinta dan keteguhan hati mereka berdua dapat bertahan.
_Bersambung