Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Ibu Tiri / Ruang Ajaib
Popularitas:26.5k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.

Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.

"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.

"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.

Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JENDRAL JELEK

"Langsung ke intinya saja, kamu panggil aku kesini untuk apa?" tanya Aleta to the point, menyandarkan punggungnya dengan santai.

Liam menyipitkan matanya, rahang tegas pria itu mengeras perlahan, auranya yang dingin langsung menekan seisi ruangan.

Mata tajam Liam memperhatikan wanita didepan nya itu, dengan pikiran yang berkecamuk, melihat perubahan istri nya.

"Kamu berubah banyak, Aleta," ucap Liam dingin.

"Manusia itu belajar dari keadaan, Jendral. Kalau aku tetap jadi wanita bodoh yang suka menghabiskan uang untuk foya-foya seperti dulu, mungkin kediaman ini sudah hancur sejak bulan kedua kamu tinggal di perbatasan," jawab Aleta dingin, sama sekali tidak gentar menatap mata tajam suaminya.

Liam terdiam sejenak, tatapannya semakin lekat meneliti setiap gerak-gerik wanita di depannya, mencari celah atau kebohongan di balik mata elang milik Aleta.

"Kau tahu, kediaman ini hampir bangkrut, gaji para prajuritku tertunda tiga bulan, dan kamu masih sempat-sempatnya bersikap arogan di depanku?" desis Liam tajam.

Aleta berdecih pelan, lalu mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, menatap tepat di mata pria kulkas itu dengan penuh keyakinan.

"Masalah keuangan? Bukannya itu memang tanggung jawab kepala keluarga yang sibuk perang sampai lupa kalau istri dan anaknya hampir mati kelaparan di rumah?" sindir Aleta dengan nada santai namun menusuk.

Liam mengepalkan kedua tangannya di atas meja, otot-otot di lengan pria itu terlihat menegang karena menahan emosi.

"Jaga ucapanmu, Marchiones," ucap Liam penuh penekanan.

"Kenapa? Tersinggung karena kenyataan?" jawab Aleta cepat, tidak mau kalah sedikit pun.

"Aku tidak punya waktu untuk berdebat tidak jelas denganmu, kalau kamu datang ke sini cuma mau pamer omongan kosong, silakan keluar dari ruanganku sekarang," usir Liam dingin, kembali menatap tumpukan dokumen di depannya seolah Aleta tidak lagi penting.

Aleta mendengus kasar, berdiri dari duduknya dengan gerakan tegas, lalu menepuk meja kerja Liam pelan dua kali.

"Dasar pria menyebalkan! Kamu yang menyuruh ku datang kesini!" ucap Aleta kesal.

Liam hanya diam melirik Aleta sekilas, membuat Aleta semakin kesal.

Bhuk

"Dasar Jendral jelek!" pekik Aleta menginjak kaki Liam.

"Sssttt...Kau!"

Aleta tidak perduli, dia langsung berjalan keluar dari ruang kerja Liam dengan kesal, menggerutu sepanjang jalan.

"Awas saja kalau ketemu lagi, benar-benar minta dicolok matanya tuh jenderal kulkas!" gerutu Aleta dengan suara berbisik sepanjang lorong yang remang-remang.

Langkahnya diayunkan dengan hentakan kesal, Sesekali ia mendengus tajam, melampiaskan sisa-sisa emosi akibat perdebatan singkat yang sama sekali tidak memuaskan tadi dengan suaminya.

Seno yang sedari tadi berjaga di luar ruang kerja sempat terlonjak kaget saat melihat Aleta keluar dengan wajah cemberut dan aura membara.

Asisten pribadi Liam itu buru-buru menunduk dalam-dalam, sama sekali tidak berani membuka suara ataupun bertanya, lantaran takut ikut terseret dalam amukan sang Marchiones yang terkenal semakin mengerikan akhir-akhir ini.

"Seno," panggil Aleta berhenti di samping Seno.

"Saya Marchiones," jawab Seno sopan.

"Kau sama menyebalkan nya dengan Jendral mu itu," dengus Aleta berlalu pergi dari sana.

Seno terdiam mematung, dia tidak mengerti kenapa Marchiones nya itu marah kepada nya.

"Apa salah ku?" batin Seno, merana.

"Sialan banget itu laki, udah salah malah sok jual mahal!" gumam Aleta geram, merapikan sedikit bajunya sambil terus mengomel.

Para prajurit dan pelayan yang kebetulan berpapasan di lorong langsung menunduk ketakutan, buru-buru menepi karena mengira sang Marchiones sedang mengamuk besar.

Tidak butuh waktu lama, Aleta akhirnya tiba kembali di depan pintu kamarnya.

Ceklekk...

Aleta membuka pintu pelan-pelan supaya tidak membangunkan Julian yang sedang tidur pulas di atas ranjang.

Wanita itu berjalan masuk, lalu menghempaskan tubuhnya ke tepi tempat tidur dengan napas yang masih naik-turun karena emosi.

"Bikin darah tinggi saja kerjaannya," rutuk Aleta pelan, melirik sekilas ke arah Julian yang menggeliat pelan dalam tidurnya.

Melihat wajah damai bocah itu, emosi Aleta perlahan-lahan mulai mereda, dia menghela napas panjang untuk menetralisir rasa kesalnya pada sang jendral.

"Untung anak tiriku ini imut, kalau nggak, sudah ku antarkan nyawa si Liam itu ke akhirat malam ini juga," batin Aleta menyeringai tipis.

Julian yang tadinya tertidur lelap tampak terusik.

Bocah berusia enam tahun itu mengerjapkan matanya perlahan, mengucek matanya dengan punggung tangan, lalu mendongak menatap Aleta yang masih berdiri di dekat pintu dengan wajah masam.

"I-ibu...? Kenapa mukanya ditekuk gitu?" tanya Julian dengan suara serak khas orang bangun tidur, kepalanya miring ke kiri karena bingung.

Mendengar suara polos itu, ekspresi galak di wajah Aleta langsung melunak.

Aleta berjalan mendekati tempat tidur, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang sambil mengelus rambut Julian pelan.

"Ah, tidak apa-apa, Jendral kecil," jawab Aleta tersenyum.

Julian bergeser duduk, menatap Aleta dengan mata bulatnya yang penuh rasa penasaran.

"Ayah marah lagi sama Ibu?" cicit Julian pelan, ada nada cemas di dalam suaranya.

"Marah? Mana berani dia marah sama Ibu," jawab Aleta sambil terkekeh geli, mencubit pelan hidung Julian sampai bocah itu sedikit meringis.

"Udah, jangan dipikirin, mending sekarang kamu lanjut tidur lagi, besok kan kita harus bangun pagi-pagi banget buat jualan stroberi ke pasar kota," lanjut Aleta lembut, merapikan selimut Julian.

Julian mengangguk patuh, senyuman kecil kembali terukir di bibirnya saat mendengar rencana mereka esok hari.

"Iya, Bu. Besok kita akan punya uang banyak ya, dan bisa beli makanan enak!" ucap Julian antusias sebelum kembali merebahkan kepalanya di atas bantal.

Tidak butuh waktu lama bagi Julian untuk kembali terlelap dalam tidurnya.

Aleta tidak langsung ikut tidur, dia memilih duduk di dekat jendela, menatap kembali kebun belakang yang gelap gulita.

Tangannya meraba tato bunga matahari di pergelangan tangannya, merasakan sensasi hangat yang sesekali berdenyut di sana.

"Besok adalah langkah awal kita untuk menguasai dunia ini," batin Aleta menyeringai tipis dalam gelap.

Sementara di ruang kerja nya Liam masih duduk terpaku, menatap kosong sepatunya yang tadi di injak Aleta dengan penuh kekesalan.

Rasa sakit di kakinya sudah mereda, tapi rasa terkejut di kepalanya justru semakin menjadi-jadi.

"Ada yang aneh dengan wanita itu," gumam Liam berat.

Pintu ruang kerja mendadak diketuk dari luar, membuyarkan lamunan sang jendral.

Tok

Tok

Tok

"Masuk," perintah Liam dingin.

Ceklekk...

Seno melangkah masuk dengan kepala menunduk hormat, berdiri tegap di hadapan meja kerja atasannya dengan ekspresi serba salah.

"Ada apa, Seno?" tanya Liam dingin.

"Maaf mengganggu, Marquez, saya hanya ingin melaporkan laporan harian penjagaan gerbang sekaligus... umm..." ucap Seno tampak ragu-ragu.

"Katakan saja, jangan bertele-tele," desak Liam tidak sabar.

Glek

Seno menelan ludah kasarnya sebentar, lalu mendongak menatap Liam dengan hati-hati.

1
Septi Wijaya
Aleta tiada lawan donggg😍
miss blue 💙💙💙
jadi makin penasaran sama liam 🤔🤔🤔😅😅😅
Maria Lina
makasih ya thor ud up pagi"ya thor🙏🙏🥰🥰
Septi Wijaya
ish ish jenderal liam ini... katanya kismin kok punya banyak koin emas.... bohhong yaaaa😬
Tiara Bella
kena menta pastinya si lady serra....
Anbu Hasna
Garel atau Geral?
Septi Wijaya
yg ada serra justru akan makin dipermalukan di acara sendiri 🤣🤣
miss blue 💙💙💙
ngomongin jiwa modern, apa gak bikin liam makin penasaran 🤣🤣🤣🤣
miss blue 💙💙💙
julian itu anak kandung liam apa bukan kak? gak pernah ada cerita sebelumnya, bahkan ibu kandung julian juga. apa aq yg gak merhatiin cerita sebelumnya ya?? 🤔🤔🤔
miss blue 💙💙💙: sipp kak 👍👍👍
total 2 replies
miss blue 💙💙💙
kok aq curiga liam itu kaisar atau putra mahkota kekaisaran, mungkin dia di angkat anak oleh marques volis sebelumnya 🤔🤔🤔🤔
kaylla salsabella
jiwa modern🤔🤔🤔🤔 pasti Liam mikir🤣🤭🤭
kaylla salsabella
sombong itu wajib🤣🤣🤭🤭🤭
kaylla salsabella
la itu tahu kamu garel
Maria Lina
makasih ya thor ud up double"nya🙏🙏😍😍☕️☕️
IG : hofi03_skrniii: kembali kasih sayangggg🤍
total 1 replies
kaylla salsabella
kenapa jadi gariel mondar-mandir🤣🤣
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍😍😍
kaylla salsabella
lanjut thor
Ita Xiaomi
Lady Serra lg mengundang bahaya.
IG : hofi03_skrniii: minta di cincang dia kak😁
total 1 replies
Tiara Bella
Aleta membalas wanita gila itu dengen tenang dan cantik....
Tiara Bella
wow ini yg ditunggu² para pembaca...Pepet trs liam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!