Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Pewaris Ilmu Medis Kuno

Ternyata Aku Pewaris Ilmu Medis Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Sinar matahari pagi menerobos masuk dari sela-sela gorden kamar Arif yang mewah.

Arif terbangun dan meregangkan tubuhnya hingga terdengar suara tulang yang bergemeretak pelan.

Krek!

Dia menyentuh dadanya dan bernafas lega karena suhu tubuhnya normal.

"Tamparan kemarin ternyata khasiatnya lebih bagus dari ramuan akar ginseng gunung," gumamnya.

Arif segera mandi, berganti pakaian santai, dan turun ke lantai bawah untuk sarapan.

Aroma roti panggang dan kopi segar langsung menyambutnya di ruang makan utama.

Di sana sudah ada Surya Liem yang sedang membaca koran pagi sambil menyeruput kopi.

Nana duduk di seberangnya sambil mengecek dokumen di tabletnya dengan serius.

"Pagi, Tuan Arif! Bagaimana tidur Anda semalam?" sapa Surya Liem ramah saat melihat Arif.

"Tidurku sangat nyenyak, kasurnya terlalu empuk sampai membuat punggungku sedikit pegal," jawab Arif jujur.

Nana terkekeh pelan mendengar keluhan aneh tersebut.

Bagi orang miskin, kasur empuk adalah surga, tapi bagi Arif yang biasa tidur di tikar bambu, itu butuh adaptasi.

"Silakan duduk Tuan Arif, pelayan sudah menyiapkan menu sarapan ala barat dan lokal," tawar Nana ramah.

Arif menarik kursi di sebelah Nana dan duduk dengan santai.

Baru saja dia hendak mengambil sepotong roti, terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari arah tangga.

Tap! Tap! Tap!

Shinta berlari menuruni tangga dengan seragam kuliahnya yang modis.

Wajah gadis itu ditekuk rapat dan matanya langsung menatap tajam ke arah Arif bagai pisau terbang.

"Pagi Ayah, pagi Kak Nana," sapa Shinta sambil duduk di kursi seberang Arif.

Dia sengaja meletakkan tasnya dengan kasar ke atas meja hingga menimbulkan suara keras.

Brak!

"Shinta, jangan kasar begitu! Ini meja makan, bukan arena gulat," tegur Surya Liem menggelengkan kepala.

"Habisnya pagi-pagi mataku sudah rusak karena melihat ada orang asing ikut makan di sini," sindir Shinta terang-terangan.

Arif hanya diam dan dengan tenang mengoleskan selai stroberi ke atas rotinya.

Gadis ini pikir sindiran murahan seperti itu bisa membuatnya kehilangan nafsu makan? Salah besar.

"Telingaku sepertinya berdengung, apa ada nyamuk besar yang sedang mengomel ya pagi ini?" balas Arif datar tanpa melihat Shinta.

Shinta langsung mendelik marah mendengar balasan telak itu.

Dia mengepalkan tangannya di bawah meja menahan hasrat untuk menampar Arif lagi seperti semalam.

"Sabar Shinta, sabar, balas dendam ini harus elegan," batin Shinta menarik napas panjang.

Gadis itu tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya yang galak menjadi senyum manis yang sangat dipaksakan.

Dia mengambil cangkir teh kosong milik Arif lalu menuangkan teh hangat ke dalamnya.

"Wah Tuan Arif, maafkan kelancanganku, ini silakan diminum teh paginya," ucap Shinta dengan nada dibuat-buat lembut.

Nana dan Surya Liem langsung berhenti dari aktivitas mereka.

Mereka berdua saling berpandangan dengan wajah sangat curiga melihat perubahan drastis Shinta.

Arif menatap cangkir teh di depannya, lalu menatap wajah Shinta yang tersenyum penuh tipu muslihat.

"Oh? Tumben sekali harimau betina repot-repot menuangkan teh untukku," ucap Arif curiga.

"Harimau betina apanya?! Aku ini cuma sedang berusaha menjadi calon istri yang baik!" balas Shinta mengigit bibirnya kesal.

"Cepat minum tehnya, nanti keburu dingin!" desak gadis itu tidak sabar.

Arif mengendus samar uap yang mengepul dari cangkir tersebut.

Hidungnya yang sudah dilatih selama dua puluh tahun untuk membedakan ribuan jenis herbal langsung mengenali aromanya.

Ada sedikit bau asam yang sangat tipis bercampur di dalam teh melati tersebut.

"Bocah ini mencampurkan obat pencahar ke dalam tehku," batin Arif menyeringai tipis.

Arif mengangkat cangkir teh itu dan memutarnya perlahan.

"Aromanya enak, tapi aku sedang tidak ingin minum teh pagi ini," ucap Arif meletakkan cangkirnya kembali.

Raut wajah Shinta langsung panik dan kecewa berat.

"Lho kenapa? Kau harus minum! Ini teh herbal langka dari Tiongkok!" paksa Shinta mendorong cangkir itu kembali ke arah Arif.

"Kalau ini teh langka, kenapa bukan kau saja yang meminumnya sebagai bentuk rasa terima kasihmu padaku?" balas Arif menantang.

"Aku? Ah, aku tidak haus kok!" tolak Shinta gelagapan mencari alasan.

Arif berdiri dari kursinya dan meraih cangkir teh itu dengan cepat.

Sebelum Shinta sadar, Arif sudah menempelkan ujung cangkir itu ke depan mulut Shinta.

"Kau harus minum biar tidak gampang kram perut," ucap Arif memaksa memiringkan cangkir itu.

Glug!

Air teh yang masih hangat itu dengan paksa masuk ke dalam mulut Shinta dan tertelan secara refleks.

"Uhuk! Uhuk! Bleh!"

Shinta tersedak hebat dan memuntahkan sisa teh di mulutnya.

"Dasar cowok gila! Apa yang kau lakukan?!" jerit Shinta memegangi tenggorokannya yang terasa aneh.

"Membuatmu lebih sehat," jawab Arif tersenyum penuh kemenangan dan kembali duduk dengan tenang.

Wajah Shinta langsung berubah memucat saat dia menyadari cairan apa yang baru saja ditelannya.

Obat pencahar dosis tinggi yang dia curi dari lemari obat ayahnya semalam!

Kruk. Kruk.

Perut Shinta langsung berbunyi sangat nyaring seperti suara drum yang dipukul bertubi-tubi.

Rasa mulas yang dahsyat menyerang ususnya tanpa ampun.

"Aduh... perutku..." ringis Shinta memegangi perutnya yang melilit kencang.

"Shinta? Kau kenapa Nak? Wajahmu pucat sekali," tanya Surya Liem panik melihat kondisi putrinya.

Shinta tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya lagi.

Dia langsung bangkit dari kursinya dan berlari terbirit-birit menuju toilet lantai bawah.

Brak!

Suara pintu toilet dibanting dengan sangat keras menggetarkan dinding ruang makan.

Terdengar suara rintihan tertahan dari dalam toilet membuat Nana kebingungan.

"Tuan Arif, apa yang terjadi pada adik saya?" tanya Nana khawatir.

"Entahlah, mungkin teh herbal Tiongkoknya terlalu berkhasiat," jawab Arif sambil memakan rotinya dengan santai.

Nana menghela nafas panjang, dia akhirnya menyadari ada yang tidak beres dengan teh tersebut.

"Pasti anak itu merencanakan sesuatu yang bodoh dan senjata makannya tuan," batin Nana menggelengkan kepalanya pasrah.

Sementara itu, di kediaman Keluarga Baskoro, suasana pagi ini sangat berbeda dengan rumah Liem.

Tidak ada tawa atau keributan kecil, yang ada hanyalah ketegangan dan bau obat-obatan yang menyengat.

Ruang kerja Baskoro sudah diubah menjadi ruang perawatan VIP darurat.

Baskoro terbaring lemas di atas ranjang medis dengan wajah yang semakin memucat.

Mata pria paruh baya itu sangat cekung dan bibirnya pecah-pecah kering.

"Dokter Richard, tolong lakukan yang terbaik untuk ayah mertuaku," ucap Rizki memohon.

Rizki dan Hana berdiri di sudut ruangan menatap dokter spesialis bule berpakaian rapi itu.

Dokter Richard adalah ahli jantung terkenal dari Singapura yang dibayar miliaran rupiah untuk datang ke Jakarta pagi ini.

Dokter berambut pirang itu sedang mengecek hasil rontgen dan tes darah Baskoro di tabletnya.

1
Was pray
Shinta itu tipe wanita keras kepala tapi ceroboh dan agak lambat berpikir
Was pray
pemimpin naga hitam jenis biji-bijian kah Thor?
Was pray
gak apa2 Shinta.. anggap aja rekreasi ke pelabuhan tanjung Priok , kamu kan wanita hebat yg gak butuh nasehat orang lain.. 🤭
Was pray
emang Arif dan Shinta kuliahnya di rumah sakit? waduh .. ambil fakultas apaan Arif nanti?
Was pray
kenapa bos preman kalau gak plontos ya botak? gak ada yg ganteng kah si bos preman Thor? 🤭🤭
Was pray
cek cek.... 👎 MC nya kuat sih... tapi mulutnya perlu dipemak ulang
Was pray
kurang didikan Budi pekerti kah Arif?
kayra lubna
Cerita yang sangat unik,ada percintaan,pengobatan,seni bela diri,sangat memuaskan hati untuk dibaca...mantaaaap👍
kiyoe: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!