Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Dingin di Meja Makan dan Aroma Kopi

Pagi hari di penthouse megah lantai empat puluh itu dimulai bukan dengan sapaan hangat atau senyuman manis layaknya pasangan muda pada umumnya, melainkan dengan bunyi dentingan sendok dan garpu yang beradu secara agresif.

Sinar matahari pagi merangsek masuk melalui dinding kaca transparan, menerangi meja makan minimalis berbalut marmer hitam. Reina Lunox duduk di salah satu sisi kursi dengan balutan pakaian kasual—kaus putih polos dan celana training longgar—sementara rambut panjangnya dicepol asal-asalan ke atas. Di hadapannya, sebuah piring berisi pancake buatan setengah gosong dan secangkir hitam mengepul menjadi saksi bisu kekalahan pertamanya di dapur pagi ini.

Di seberang meja, Jino West tampak sangat kontras. Pria itu sudah rapi mengenakan setelan jas kerja tailored-fit berwarna charcoal, dasi sutra terikat sempurna di leher jenjangnya, dan jam tangan mewah melekat di pergelangan tangan kirinya. Jino sedang membaca tablet bisnis dengan satu tangan, sementara tangan kanannya memegang cangkir kopi hitam dengan elegan.

Suasana hening pekat menyelimuti ruangan itu, hingga akhirnya Jino melirik sekilas ke arah piring Reina. Alis tajam pemuda itu terangkat sebelah, dan sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman miring yang selalu berhasil memancing emosi Reina.

"Kau berniat meracuni dirimu sendiri dengan pancake arang itu, atau memang sengaja ingin membakar penthouse ini sebelum kita sempat menikah?" sindir Jino datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.

Reina yang sedang berusaha memotong pancake-nya yang keras langsung menghentikan gerakannya. Ia mendelik tajam, menatap Jino dengan sorot mata menyala-nyala.

"Kalau tidak suka dengan masakan buatan orang lain, silakan buat sendiri atau pesan lewat katering bintang lima langgananmu, Tuan Muda Jino!" balas Reina ketus, melemparkan garpunya ke atas piring hingga berbunyi nyaring. "Setidaknya aku sudah berusaha memasak sesuatu di pagi hari ini, daripada cuma duduk sok elegan sambil menghina hasil kerja keras orang lain!"

Jino akhirnya meletakkan tabletnya secara perlahan. Ia menatap Reina lekat-lekat, lalu menyesap kopinya sejenak sebelum bersuara dengan nada rendah yang menyebalkan.

"Usaha yang bagus untuk ukuran seorang gadis desa yang baru belajar hidup mandiri," balas Jino tenang, sengaja memanggil julukan menyebalkan itu lagi. "Tapi sayangnya, lidahku terbiasa dengan makanan berkualitas tinggi, bukan eksperimen kimia gagal."

Darah Reina mendidih hingga ke ubun-ubun. Ia berdiri dari kursinya dengan mengentakkan kaki keras-keras, lalu mengambil piring pancake gosong itu dan membawanya ke tempat cuci piring.

"Kalau begitu, silakan nikmati hari-harimu dengan perut kelaparan, Tuan Sombong!" teriak Reina sengit dari dapur. "Aku mau berangkat kuliah sekarang, dan jangan harap kau bisa menyuruhku membuat sarapan lagi!"

Tanpa menunggu balasan dari Jino, Reina menyambar tas kuliahnya, melangkah keluar penthouse dengan membanting pintu utama cukup keras—sebuah bentuk protes nyata atas kekesalan yang sudah menumpuk di dadanya sejak subuh.

Di ruang makan, Jino hanya menatap punggung Reina yang menghilang di balik pintu lift. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang jauh berbeda dari biasanya—bukan senyuman sinis, melainkan senyuman geli yang menyiratkan rasa penuh ketertarikan. Jino menggelengkan kepalanya pelan, lalu beranjak dari kursi, membiarkan pancake gosong itu tetap utuh di atas meja.

Sementara itu, di kampus, hari Reina sama sekali tidak berjalan lebih baik. Jam kuliah statistik ekonomi yang membosankan ditambah tugas kelompok dari dosen killer membuat kepalanya terasa mau pecah. Sepanjang pagi hingga siang hari, pikirannya terus melayang pada pertengkaran kecil di meja makan tadi pagi.

Pria itu benar-benar menyebalkan! Kenapa mulutnya tajam sekali seperti silet? Rasanya aku ingin mencakar wajah tampannya itu sampai jera! maki Reina dalam hati saat ia sedang duduk di bangku taman kampus bersama sahabat karibnya, Maya.

"Reina, halo? Kamu dengar aku nggak sih dari tadi?" tanya Maya sambil melambaikan tangan di depan wajah Reina. "Dari tadi kamu ngelamun terus sambil merhatiin ponsel. Lagi perang dingin lagi sama calon suami tampanmu itu?"

Reina tersentak kecil, lalu mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Jangan sebut nama pria es batu itu di depanku, May. Kalau kamu tahu betapa menyebalkannya dia setiap pagi, kamu pasti setuju kalau aku masukin dia ke daftar buronan paling dicari."

Maya malah tertawa terbahak-bahak mendengar gerutuan sahabatnya. "Halah, ngaku aja kamu, Rein. Biasanya kan pepatah bilang, benci jadi cinta. Jangan-jangan sebentar lagi kamu bucin akut sama CEO muda kaya raya itu!"

"Benci jadi cinta your head!" protes Reina sewot, meski rona merah sempat menyelimuti pipinya tipis-tipis sebelum ia menutupinya dengan membuang muka.

Sore harinya, setelah jam kuliah terakhir selesai, Reina memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe kecil di dekat kampus untuk mengerjakan sisa tugas kelompoknya sendirian. Suasana kafe yang tenang dengan alunan musik akustik pelan sedikit banyak membantu menenangkan pikirannya yang kusut.

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam ketika Reina akhirnya membereskan laptop dan buku-bukunya ke dalam tas. Langit di luar sudah gelap, diselingi gerimis tipis yang mulai membasahi jalanan kota. Reina mengedarkan pandangannya mencari taksi online, namun aplikasi di ponselnya menunjukkan bahwa semua pengemudi sedang sibuk dan waktu tunggu cukup lama karena hujan.

Sial, pas banget gerimis segala, keluh Reina dalam hati, berdiri di teras kafe sambil mengeratkan jaketnya.

Tepat saat ia hendak melangkah nekat menerobos gerimis menuju halte bus terdekat, sebuah sedan hitam mewah berlogo merek Jerman berhenti tepat di depan trotoar kafe. Pintu kaca mobil terbuka perlahan dari dalam, menampilkan sosok pria dengan payung hitam besar di tangan kanannya.

Jino West berdiri di sana. Mengenakan mantel panjang gelap, wajah tampannya tampak tegas di bawah temaram lampu jalan kota yang basah oleh air hujan.

Reina terpaku di tempatnya, mengerjap beberapa kali tidak percaya. "Kau... sedang apa di sini?" tanya Reina bingung saat Jino sudah berdiri di hadapannya, memayunginya agar tidak terkena titik-titik gerimis.

Jino melirik Reina sekilas dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang khas. "Menjemput calon istriku yang keras kepala agar tidak jatuh sakit dan merepotkanku di rumah," jawab Jino datar, namun ada nada perhatian yang terselubung di balik suaranya yang berat.

Reina mendengus pelan, meski ada rasa hangat aneh yang mendadak menyapa dadanya mendengar ucapan itu. "Siapa juga yang minta dijemput? Aku bisa pulang sendiri naik taksi!"

"Taksi sedang susah malam ini, dan aku tidak punya waktu untuk menungguimu masuk angin di pinggir jalan," balas Jino tanpa kompromi. Tanpa menunggu persetujuan Reina, tangan kiri pemuda itu merangkul pelan pinggang ramping Reina, membimbing gadis masuk ke dalam mobil sedan mewahnya yang hangat dan nyaman.

Selama perjalanan pulang menuju penthouse, suasana di dalam kabin mobil terasa begitu tenang. Tidak ada perdebatan sengit atau sindiran tajam seperti biasanya. Jino fokus menyetir, sementara Reina membuang muka ke arah jendela, memperhatikan rintik hujan yang menempel di kaca mobil.

Namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Reina mulai menyadari satu kenyataan yang sulit ia akui: benteng pertahanan yang ia bangun rapat-rapat untuk membenci pria di sampingnya itu... perlahan-lahan mulai runtuh oleh hal-hal kecil yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!