Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Buka gerbang dunia di belakang tubuhku," batin Raka.
Sring.
Sebuah celah cahaya keemasan terbuka tepat di belakang punggung Raka tanpa bersuara.
Cahaya menyilaukan meledak sesaat dari celah itu membuat ketiga pria bersenjata tersebut menutup mata refleks karena silau.
Dalam sekejap mata Raka melangkah mundur menembus cahaya itu dan menghilang dari lahan kosong tersebut.
"Tembak dia!" teriak pria pimpinan itu sambil menembak membabi buta ke arah cahaya.
Dor! Dor! Dor!
Peluru-peluru panas itu hanya menembus udara kosong dan menghantam kerangka beton di belakang tempat Raka berdiri tadi.
Cahaya keemasan itu lenyap seketika meninggalkan ketiga pembunuh bayaran itu dalam kebingungan luar biasa.
"Ke mana perginya gembel itu? Dia menghilang begitu saja!" teriak salah satu pembunuh dengan wajah pucat pasi.
"Pencar dan cari di sekitar sini, dia pasti pakai bom asap atau trik murahan!" perintah si pimpinan dengan panik.
Mereka bertiga menyebar dengan pistol siaga mencari jejak Raka di antara tiang-tiang beton setengah jadi.
Padahal saat ini Raka sedang berdiri santai di tengah alun-alun desa dunia kuno menghirup udara malam sejenak.
"Buka gerbang di belakang mobil sedan hitam mereka," perintah Raka pada sistem gaibnya.
Sring.
Celah cahaya terbuka lagi di lahan proyek Jakarta tepat di titik buta para pembunuh bayaran tersebut.
Raka melangkah keluar sambil memegang dua buah alat kejut listrik hitam di kedua tangannya.
Pria pimpinan pembunuh itu sedang berjalan membelakangi mobilnya mengintip ke arah semak-semak gelap.
Tap tap tap.
Raka mengendap-endap dari belakang seperti bayangan maut yang siap mencabut nyawa tanpa suara.
"Lagi cari koin hilang ya Bang?" sapa Raka berbisik tepat di telinga pria tersebut.
Pria itu terkejut setengah mati dan buru-buru membalikkan badannya sambil mengangkat laras pistolnya.
Bzzzt!
Sebelum pelatuk ditarik, Raka sudah menempelkan ujung stun gun voltase tinggi itu ke leher si pimpinan.
"Aaaakh!" jerit pria itu tersengat arus listrik ribuan volt dari senjata polisi tersebut.
Tubuhnya langsung kaku kejang-kejang dan jatuh berdebum ke tanah dengan mata putih terbalik.
Mendengar jeritan bosnya, dua pembunuh lainnya langsung menoleh ke arah mobil.
"Itu dia! Habisi dia sekarang!" teriak salah satunya sambil mengarahkan laras pistol lurus ke depan.
Dor!
Satu peluru melesat tapi Raka dengan lincah berguling cepat ke balik kap mobil sedan hitam milik mereka sendiri.
Peluru itu malah nyasar dan memecahkan kaca jendela mobil bos mereka hingga hancur berantakan.
Prang!
"Bodoh, sasaran sebesar ini saja meleset," ejek Raka dari balik tempat persembunyiannya yang aman.
Raka menekan tombol di gagang alat kejutnya membuat suara sengatan listrik biru berbunyi nyaring menakutkan di keheningan malam.
"Maju sini kalau berani, biar kusetrum ginjal kalian sampai matang dari dalam."
Kedua pria elit itu saling berpandangan dengan keringat dingin mengucur deras membasahi dahi mereka.
Mereka perlahan berjalan mengitari mobil dari dua sisi yang berbeda untuk menjepit posisi Raka di tengah.
Raka merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kaleng semprotan merica ukuran besar yang masih tersegel.
Saat pria dari sisi kiri muncul membidikkan pistol, Raka langsung menyemprotkan cairan lada merah itu ke wajahnya tanpa ampun.
Srot!
"Ugh! Mataku perih sekali!" teriak pria itu menjatuhkan pistolnya dan mengusap wajahnya kasar sambil berteriak histeris.
Di saat yang sama pria dari sisi kanan muncul dari sudut belakang dan bersiap menarik pelatuknya.
Raka melemparkan kaleng besi keras itu sekuat tenaga tepat ke wajah pria tersebut.
Bugh!
Kaleng itu menghantam hidung si pembunuh sampai berdarah dan membuatnya kehilangan keseimbangan sesaat.
Wush.
Raka melompat melompati kap mobil dan menerjang pria itu dari atas seperti macan kelaparan.
Bzzzt!
Ujung stun gun mendarat mulus di dada pria bersenjata itu menembus kemeja hitam mahalnya.
Pria itu ikut kejang-kejang dan ambruk menyusul dua temannya ke tanah berdebu kehilangan kesadaran.
Raka melompat turun lalu berjalan santai ke arah pria yang matanya terkena semprotan merica tadi.
Pria itu masih meringkuk di tanah merengek kesakitan tidak bisa membuka matanya sama sekali.
Bzzzt!
Raka menempelkan stun gun ke bahunya tanpa belas kasihan sedikit pun untuk menyamakan penderitaan mereka.
Orang ketiga akhirnya pingsan menyusul teman-temannya menyisakan keheningan absolut di lahan proyek tersebut.
"Hah, ternyata pembunuh bayaran elit bumi nggak lebih tangguh dari bandit gunung primitif," kekeh Raka merapikan jaketnya yang sedikit kusut.
Cittt! Cittt!
Tiga buah mobil SUV hitam anti peluru tiba-tiba menerobos masuk ke dalam area proyek dengan kecepatan tinggi.
Sorot lampu utama mobil-mobil itu langsung menyinari wajah Raka dan ketiga tubuh pembunuh yang tergeletak di kakinya.
Belasan pria berbadan tegap bersenjata laras panjang keluar dari dalam mobil dan langsung mengepung area itu.
Dari mobil SUV yang berada di tengah, Sasa turun dengan wajah pucat pasi dan nafas terengah-engah panik.