"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari keberangkatan
Tiga minggu berlalu sejak keputusan besar itu diambil, dan hari keberangkatan Rain ke Surabaya akhirnya tiba. Bandara Soekarno-Hatta pagi itu dipenuhi hiruk-pikuk orang-orang yang datang dan pergi, namun bagi Rain, suasana itu terasa berbeda, campuran antara kegembiraan menyambut babak baru dan kesedihan berat harus meninggalkan orang-orang yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.
"Semua barang udah masuk koper?" tanya Tiyu, membantu menyeret salah satu koper besar Rain menuju konter check-in.
"Udah, dua kali dicek malah," jawab Rain, mencoba tersenyum meski matanya sudah mulai berkaca-kaca sejak tadi pagi.
Kenzo berdiri di sebelah mereka, membawa tas kecil berisi beberapa barang yang sengaja dia bawakan sebagai bekal tambahan untuk Rain, termasuk beberapa cemilan kesukaan Rain dan sebuah buku catatan baru yang dibelikannya khusus.
"Ini buat kamu," kata Kenzo, menyerahkan buku catatan bersampul kulit sederhana namun elegan itu. "Biar kamu bisa nulis progress kerja kamu di sana. Dan mungkin, sesekali nulis surat buat aku, kalau kamu kangen."
Rain menerima buku itu dengan tangan gemetar, terharu dengan perhatian kecil namun begitu bermakna itu. "Makasih, Kenzo. Aku bakal jaga ini baik-baik."
---
Setelah proses check-in selesai, mereka bertiga duduk di area tunggu, menghabiskan waktu terakhir sebelum boarding dengan obrolan ringan yang berusaha menutupi kesedihan yang sebenarnya cukup berat mereka rasakan.
"Kak, jangan lupa makan teratur di sana," pesan Tiyu, memeluk kakaknya erat. "Jangan kayak dulu, kerja keras sampai lupa makan."
"Iya, aku janji," jawab Rain, memeluk adiknya lebih erat lagi, menahan air mata yang mulai menggenang.
"Semangat skripsinya, ya. Kakak bakal selalu dukung kamu dari jauh," lanjut Rain, mengusap kepala adiknya seperti kebiasaan mereka sejak kecil.
"Pasti, Kak. Aku janji bakal lulus tepat waktu, biar Kakak nggak perlu khawatir lagi," Tiyu menjawab mantap, meski suaranya sedikit bergetar menahan haru.
---
Setelah Tiyu memberi ruang privasi dengan pura-pura pergi membeli minuman, Rain dan Kenzo akhirnya memiliki waktu berdua, duduk berdampingan menunggu pengumuman boarding.
"Aku bakal kangen banget," kata Rain pelan, menyandarkan kepalanya ke bahu Kenzo.
"Aku juga," jawab Kenzo, merangkul Rain erat. "Tapi ini bukan perpisahan selamanya, Rain. Ini cuma jarak sementara, yang bakal kita lewatin bareng-bareng."
"Kamu janji bakal sering-sering ke Surabaya?" tanya Rain, mencari kepastian yang sama seperti berkali-kali sebelumnya.
"Aku janji," Kenzo menjawab tegas. "Setiap ada kesempatan libur, aku bakal terbang ke sana. Dan kita bisa video call tiap malam, meski cuma sekadar cerita hal-hal kecil sepanjang hari."
Rain tersenyum, meski air matanya mulai menetes perlahan. "Aku takut, Kenzo. Takut jarak ini bikin kita berubah."
Kenzo menghapus air mata Rain dengan lembut, menatapnya dalam-dalam. "Jarak nggak akan mengubah perasaan aku ke kamu, Rain. Yang mengubah hubungan biasanya bukan jarak, tapi kurangnya komunikasi dan usaha. Selama kita berdua sama-sama berusaha, aku yakin, kita bisa lewatin ini."
Pengumuman boarding akhirnya terdengar, memaksa mereka untuk segera mengakhiri momen perpisahan yang berat itu. Rain berdiri, menatap Kenzo untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar berpisah untuk waktu yang cukup lama.
"Aku sayang kamu, Kenzo," kata Rain, suaranya bergetar menahan tangis.
"Aku juga sayang kamu, Rain," jawab Kenzo, memeluknya erat untuk terakhir kalinya. "Hati-hati di sana. Kabari aku begitu sampai, ya."
Rain mengangguk, melepaskan pelukan itu dengan berat hati, lalu berjalan menuju gerbang keberangkatan sambil sesekali menoleh ke belakang, melambaikan tangan ke arah Kenzo dan Tiyu yang berdiri mengantarnya dengan mata berkaca-kaca.
---
Beberapa jam kemudian, pesawat yang membawa Rain mendarat dengan selamat di Bandara Juanda, Surabaya. Begitu keluar dari area kedatangan, Rain segera menghubungi Kenzo lewat video call, seperti janji yang sudah mereka sepakati.
"Aku udah sampai," kata Rain begitu panggilan video tersambung, tersenyum meski matanya masih sedikit sembab.
"Gimana perjalanannya?" tanya Kenzo, wajahnya terlihat lega melihat Rain baik-baik saja.
"Lancar. Cuma... berat banget rasanya ninggalin kalian," jawab Rain jujur, suaranya masih terdengar sendu.
"Aku tahu," Kenzo menjawab lembut. "Tapi kamu bakal baik-baik aja, Rain. Kamu selalu berhasil ngelewatin hal-hal berat sebelumnya."
Rain tersenyum kecil, menyeka air matanya. "Makasih udah selalu dukung aku, Kenzo."
"Itu tugas aku," jawab Kenzo, tersenyum tulus dari layar ponselnya. "Sekarang, istirahat dulu. Besok kamu punya hari pertama yang penting di kantor baru."
"Iya," Rain mengangguk. "Video call lagi nanti malam?"
"Pasti," Kenzo menjawab mantap. "Aku bakal selalu ada, kapan pun kamu butuh."
---
Malam itu, di kamar hotel sementara sebelum menemukan tempat tinggal tetap di Surabaya, Rain membuka buku catatan pemberian Kenzo, menuliskan kata-kata pertama di halaman pertamanya.
*"Hari ini, aku mulai babak baru dalam hidupku. Jauh dari orang-orang yang aku sayangi, tapi dengan keyakinan penuh bahwa cinta dan dukungan mereka akan selalu menyertai, meski jarak memisahkan kami untuk sementara waktu. Aku percaya, perjuangan ini akan membuahkan hasil yang berharga, baik untuk karierku, maupun untuk hubunganku dengan Kenzo yang aku yakin akan semakin kuat setelah melewati ujian ini."*
Dia menutup buku itu perlahan, menatap keluar jendela kamar hotel yang menampilkan gemerlap lampu kota Surabaya di malam hari, kota baru yang akan menjadi rumah keduanya, tempat dia akan membuktikan sekali lagi, bahwa kerja keras dan keberanian selalu akan membawa hasil yang layak diperjuangkan.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...