Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Dimas Menemukan Jalannya

Sore itu kita dapet foto dari Dimas. Gambarnya di depan bengkel, papan nama baru dicat cerah: "Bengkel & Pusat Pelatihan Bangkit — Belajar Mandiri, Bangkit Bersama". Di depannya berdiri lima anak remaja, senyum lebar, tangan kotor oli, mata berbinar bangga.

"Mulai hari ini resmi. Mereka bukan murid gue. Mereka teman belajar. Kita benerin motor, kita benerin mimpi."

Farhan baca pesan itu senyum lebar banget, matanya berbinar bangga. "Dimas hebat banget ya. Beneran bangkit."

"Dan bukan buat dirinya sendiri," tambah gue. "Buat orang-orang yang dulu kayak dia."

Malam itu kita telepon bareng bertiga. Layar HP menampilkan wajah Dimas di balik meja kerjanya, rambut sedikit berantakan, kaos kotor, tapi senyumnya paling tenang yang pernah kita lihat.

"Terima kasih kalian," buka dia duluan. "Kalau dulu gak ada lo berdua... gue gak bakal sampai di titik ini."

"Jangan bilang gitu," kata Farhan pelan. "Lo yang berjuang. Kita cuma temenin."

"Temenin itu segalanya." Dimas sandarkan punggung ke kursi, napas lega. "Lo tau gue sadar apa? Gue gak ditakdirkan buat jadi orang hebat sendirian. Gue ditakdirkan buat bantu orang lain jadi hebat."

"Dan lo lakuin itu sekarang," kata gue tulus.

"Baru mulai. Peralatan masih seadanya, tempat masih sempit, dana juga pelan." Dia senyum tak menyerah. "Tapi mereka datang tiap hari. Suka. Semangat. Dan itu cukup."

Minggu berikutnya, Dimas kirim laporan perkembangan — tiap anak itu punya cerita sendiri: yatim piatu, putus sekolah, orang tua sakit, bingung mau ke mana.

"Gue gak ajarin mereka cuma benerin mesin," tulisnya di pesan panjang itu. "Gue ajarin: kalau rusak, bukan berarti buang. Bisa diperbaiki. Kayak diri sendiri. Kayak kita."

Suatu sore, Farhan bilang: "Gue mau bantu Dimas. Sebagian beasiswa gue, gue kirim ke sana. Beli alat, buku, seragam."

"Gue juga sisihkan sebagian uang saku gue," kata gue. "Sedikit gapapa. Yang penting rutin."

Dimas protes pas terima kiriman pertama. "Gak bisa! Kalian juga butuh!"

"Kita punya masa depan masing-masing," kata Farhan tegas. "Tapi masa depan kalian juga masa depan kita. Terima aja."

Dimas diem lama di seberang telepon. Lalu angkat muka, usap mata punggung tangan. "Baik. Gue terima. Dan gue janji — tiap rupiah ini bakal gue pastikan jadi pelajaran buat mereka."

Bulan berlalu, kabar dari Dimas makin baik. Anak-anak bertambah, alat makin lengkap, bahkan sekolah setara mulai dibuka di sudut ruangan. Orang desa mulai tahu — di situ ada tempat buat anak yang kesulitan. Bukan amal. Tapi tempat belajar berdiri sendiri.

Suatu hari Dimas kirim video. Salah satu anak pertamanya — anak laki-laki berumur enam belas tahun — sedang berdiri di depan motor yang dia perbaiki sendiri, senyum bangga.

"Sudah siap buka jasa sendiri, Pak Dimas!" serunya ceria.

Dimas tertawa bangga. "Bukan Pak Dimas. Kakak Dimas. Dan ingat — kalau sudah berhasil, jangan lupa ajak temannya."

"Siap! Ajak semua!"

Farhan tarik napas dalam, matanya berkaca-kaca. "Dimas bukan cuma buka bengkel. Dia buka jalan."

Malam itu kita telepon lagi. Dimas cerita sampai larut — soal anak yang tadinya diam takut, sekarang berani ngomong di depan umum. Soal anak yang putus sekolah, sekarang lanjut lagi. Soal harapan yang dulu cuma satu, sekarang jadi puluhan.

"Lo tau apa yang paling berubah?" tanya Dimas pelan. "Mata mereka. Dulu redup. Sekarang nyala."

"Itu yang lo lakuin, Dim," kata gue. "Lo nyalakan api itu."

"Gue cuma kasih kayu bakar. Mereka yang nyalain sendiri." Dia hening sebentar, lalu senyum malu-malu. "Ada satu hal lagi..."

"Apa?" tanya Farhan.

"Di antara anak-anak itu ada kakak perempuan. Namanya Sari. Bantu urus administrasi, catat keuangan, bahkan ajarin baca tulis yang belum bisa. Dia... baik banget." Dimas garuk leher yang gak gatal. "Pintar, sabar, senyumnya menenangkan."

Gue senyum lebar ke arah Farhan. "Cie..."

"Jangan godain gue dulu!" Dimas ketawa. "Gue cuma bilang — dia bikin hari-hari gue makin ringan. Itu aja."

"Pelan-pelan ya, Dim," kata Farhan lembut. "Lo pantes bahagia. Sepantasnya kita semua."

"Kita semua ya..." Dimas natap layar, matanya lembut. "Gue senang banget lihat kalian berdua jalan. Gue senang lihat Bu Sari dan Ibu akur. Gue senang bengkel jalan. Kayak semuanya mulai pada tempatnya."

"Karena kita saling tarik ke atas, bukan ke bawah," kata gue.

"Benar. Dulu gue pikir sukses itu naik sendiri. Ternyata sukses itu banyak yang naik bareng."

Setelah telepon ditutup, Farhan duduk di samping gue, natap ke luar jendela.

"Dimas tumbuh paling banyak dari kita semua," katanya pelan.

"Karena dia belajar dari yang paling berat."

"Iya. Dan sekarang dia kasih pelajaran itu ke orang lain." Dia pegang tangan gue. "Kita juga harus belajar dari dia. Sukses bukan seberapa tinggi kita naik. Tapi seberapa banyak kita tarik orang lain naik bareng kita."

Malamnya, gue tulis panjang di buku catatan:

"Dimas menemukan jalannya. Bukan jalur yang dipilih orang lain. Bukan jalur yang dulu dia impikan. Tapi jalur yang dia bangun sendiri — dari puing-puing masa lalu, dari luka yang sempat menganga, dari keinginan sederhana: jangan biarkan orang lain merasa sendirian kayak dia dulu."

"Bengkel itu bukan sekadar bengkel. Itu rumah kedua bagi anak-anak yang belum punya tempat. Itu bukti nyata: kamu bisa jatuh sedalam apa pun, dan tetap bangun untuk jadi payung bagi orang lain."

"Dan di sana, di antara bau oli dan suara mesin, Dimas menemukan bahagia. Bukan karena mudah. Tapi karena bermakna."

Pesan terakhir masuk dari Dimas sebelum tidur:

"Terima kasih udah percaya sama gue. Kalian alasan gue gak nyerah dulu. Sekarang gue jadi alasan mereka gak nyerah. Dan begitu seterusnya. Nyala terus sampai ke mana-mana."

Gue tunjuk ke Farhan. Dia senyum, ketik balas pelan:

"Nyala terus, Dim. Kita ikut terang dari sini."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!