Indonesia
NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memberitakan Kebenaran dan Mencari Pujaan Hati

Fajar menyingsing di ufuk timur, mengusir pekatnya malam dengan semburat warna kelabu yang dingin. Bus malam yang kami tumpangi akhirnya merayap pelan memasuki sebuah terminal kecil di dataran tinggi Jawa Tengah. Udara pagi yang menusuk tulang langsung menyergap pori-pori kulit begitu aku melangkahkan kaki turun ke pelataran terminal yang masih basah oleh embun.

Gemeretak roda koper yang ditarik Mama beradu dengan sunyinya aspal desa. Di sampingnya, Glenn dan Gwen berjalan gontai sambil mengucek mata, mengantuk berat setelah menempuh perjalanan darat belasan jam dari Jakarta.

"Bude Sri pasti kaget lihat kita datang tiba-tiba sepagi ini," gumam Mama seraya merapatkan jaket rajutnya. Wanita paruh baya itu menoleh ke arahku dengan raut wajah yang masih memendam ribuan pertanyaan. "Kamu beneran gak mau cerita ke Mama, Gisel? Kenapa preman-preman itu ngejar kita? Apa ini ada hubungannya sama tempat kerja kamu di kafe?"

Aku menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Dengan susah payah, aku mengukir senyum palsu di bibirku yang gemetar kedinginan.

"Gak ada apa-apa, Ma. Mereka cuma lintah darat yang salah sasaran, ngiranya kita yang punya utang. Daripada kita celaka, mending kita sembunyi dulu di sini sampai Gisel bisa selesain urusannya dari jauh," jawabku, merangkai kebohongan demi kebohongan untuk melindungi jantung Mama dari kenyataan yang sebenarnya.

Mama menghela napas panjang, tampak belum sepenuhnya percaya, namun ia terlalu lelah untuk berdebat. Kami melanjutkan langkah menuju rumah kayu sederhana milik Bude Sri yang terletak di lereng bukit.

Begitu sampai di kamar kecil yang disediakan Bude untukku, pertahananku akhirnya hancur lebur tak bersisa. Aku mengunci pintu kayu yang berderit itu dari dalam, lalu meluruh jatuh ke atas lantai papan. Aku memeluk kedua lututku erat-erat, menenggelamkan wajahku, dan menangis sejadi-jadinya tanpa suara.

Dadaku serasa diremas dan diinjak-injak hingga hancur menjadi debu. Di sini, di tengah desa yang begitu tenang dan jauh dari kebisingan kota, hatiku justru menjerit merana.

Bayangan wajah pucat Varro saat terkapar bersimbah darah di pangkuanku, genggaman tangannya yang hangat saat ia berjanji tidak akan pernah meninggalkanku, dan senyum menawannya yang selalu berhasil membuat pipiku merona... semuanya berputar menghantui setiap hela napasku.

Apa lo selamat, Varro? Apa luka di perut lo udah sembuh? Apa lo benci banget sama gue sekarang karena gue ninggalin lo gitu aja di saat lo butuh gue?

Aku menyentuh leherku yang kosong. Tidak ada lagi kalung berlian yang menempel di sana. Tidak ada lagi ponsel pelacak yang bisa memberitahu pria itu di mana keberadaanku. Aku telah memilih jalan ini—jalan pengorbanan demi keselamatan Mama dan adik-adikku, jalan untuk menjauh dari pria yang darah ayahnya telah merenggut nyawa Papaku.

Namun, Ya Tuhan... rasanya sangat menyakitkan. Aku mencintai putra dari seorang pembunuh, dan cinta itu kini membakar diriku sendiri dari dalam.

Sementara itu, di sebuah fasilitas medis bawah tanah di ibu kota Jakarta, hawa membunuh yang teramat pekat membuat seluruh oksigen di dalam ruangan serasa tersedot habis.

Tuan Wijaya berdiri mematung. Wajah angkuhnya yang biasa memancarkan dominasi mutlak kini berkedut menahan amarah dan ketidakpercayaan. Ia menatap putra tunggalnya yang duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit dengan seringai sosiopat yang amat mengerikan.

"Kau pikir kau bisa menghancurkan kerajaan bisnisku yang kubangun selama tiga puluh tahun hanya dengan kumpulan berandalan motormu, Varro?!" bentak Tuan Wijaya, suaranya menggelegar memantul di dinding ruangan.

Varro Aldrian Wijaya tidak berkedip. Ia meraih gelas kaca berisi air putih di meja sampingnya, lalu menatap sang ayah dengan pandangan mata yang kosong, gelap, dan mematikan.

"Berandalan motor yang Anda sebut itu," desis Varro dengan suara bariton yang teramat pelan, rendah, dan menusuk tulang, "baru saja meretas dan mengambil alih tiga lapis firewall brankas lepas pantai Anda di Swiss tepat lima belas menit yang lalu."

Mata Tuan Wijaya membelalak lebar. "Mustahil! Darimana kau bisa-

"Dan sebelum Anda melangkah keluar dari pintu ruangan ini," potong Varro dingin, meletakkan gelas kaca itu dengan bantingan keras, "seluruh data transaksi kotor Wijaya Corp, aliran dana ilegal ke beberapa politisi, dan bukti sabotase perusahaan mendiang Herman Setiawan sepuluh tahun lalu... akan tersebar ke seluruh meja pemimpin redaksi media nasional."

"VARRO! KAU MAU MENGHANCURKAN KELUARGAMU SENDIRI?!" raung Tuan Wijaya, kehilangan kendali dan merangsek maju hendak mencengkeram kerah baju putranya.

Namun sebelum Tuan Wijaya sempat menyentuh sehelai pun benang dari baju Varro, Marcel dan Brandon bergerak serentak. Keduanya mencabut pistol Glock dari balik jas mereka dan menodongkannya tepat ke arah dada dan kepala konglomerat tua tersebut.

Tuan Wijaya membeku. Para pengawalnya di luar tak bisa masuk karena anak-anak Starlit telah mengepung seluruh akses bangunan.

"Anda yang menghancurkan keluarga saya saat Anda memutuskan untuk menyingkirkan satu-satunya wanita yang membuat saya ingin hidup," ucap Varro. Tatapannya berubah menjadi tajam bagai sembilu. "Keluar dari sini sekarang. Dan saksikan sendiri bagaimana kerajaan Anda runtuh menjadi debu."

Tuan Wijaya mengepalkan tangannya hingga gemetar, menatap putranya dengan kebencian dan rasa ngeri yang bercampur aduk. Ia membalikkan badan, melangkah keluar ruangan dengan langkah kaku, menyadari bahwa ia baru saja membangunkan seekor naga yang siap membakar habis dunianya.

Begitu pintu tertutup, Brandon menurunkan senjatanya, membetulkan kacamatanya, lalu menatap sahabatnya. "Al, saham Wijaya Corp di bursa efek udah anjlok dua puluh persen sejak berita investigasi awal kita rilis. Bokap lo bener-bener habis hari ini."

Varro memejamkan mata. Tidak ada kepuasan, tidak ada rasa kemenangan di wajahnya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, mencengkeram kotak beludru merah yang tak pernah lepas dari tangannya.

"Gue gak peduli sama harta atau kebangkrutan pria tua itu," gumam Varro dengan suara yang terdengar begitu hancur dan putus asa. "Gue cuma mau Gisel. Bran... tolong, kasih gue kabar baik. Lo udah nemuin di mana dia?"

Brandon menelan ludah, menatap Marcel sejenak sebelum menjawab pelan. "Maaf, Al. Anak-anak di lapangan belum nemuin jejak Gisel di stasiun atau terminal manapun. Dia bener-bener pergi tanpa ninggalin satu pun jejak digital."

Varro meremas kotak beludru itu hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang memerah menatap kosong ke arah langit-langit kamar. "Terus cari. Kerahkan semua anggota Starlit di seluruh pulau Jawa. Sewa intel swasta, suap aparat, lakuin apapun yang kalian bisa! Gue harus temuin dia, Bran! Gue bisa gila kalau gak lihat wajahnya lagi!"

Dua minggu berlalu bagaikan neraka tanpa ujung.

Di desa, aku mulai beradaptasi dengan kehidupan yang sunyi. Aku bekerja paruh waktu menjaga warung sembako milik Bude Sri di pasar tradisional. Penampilanku berubah; aku sering mengenakan masker dan topi, menyembunyikan wajahku dari siapa pun. Setiap malam, aku masih menangis dalam diam, meratapi cinta yang terpaksa kukubur hidup-hidup.

Hari ini, udara pasar terasa cukup terik. Aku sedang menata tumpukan beras saat suara televisi di warung sebelah menyiarkan berita terkini.

"Berita mengejutkan datang dari dunia bisnis tanah air. Wijaya Corp, salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia, resmi dinyatakan pailit setelah serangkaian skandal korupsi dan sabotase masa lalu terungkap ke publik. Sang Direktur Utama kini resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian..."

Aku menjatuhkan karung beras dari tanganku.

Bruk!

Napas serasa ditarik paksa dari paru-paruku. Mataku membelalak lebar menatap layar televisi tabung yang menampilkan gambar Tuan Wijaya digiring mengenakan rompi tahanan. Wijaya Corp... hancur? Siapa yang melakukan ini? Mungkinkah... Varro?! Pria itu benar-benar mengorbankan keluarganya sendiri dan seluruh masa depannya demi membalaskan dendamku?!

Astaga, Varro... lo cowok paling gila di dunia ini! jeritku dalam hati, air mata seketika menetes tanpa permisi.

"Neng Gisel! Ini ada paket buat Neng!"

Suara teriakan Mang Ujang, kurir ekspedisi desa, membuyarkan keterkejutanku. Aku mengusap wajahku dengan panik, berjalan menghampirinya. "Paket apa, Mang? Gisel gak pesen apa-apa."

"Gak tau, Neng. Tapi namanya bener Gisella, alamatnya juga bener warung ini. Cuma ada satu kotak kecil doang," ucap Mang Ujang menyerahkan sebuah kotak kardus kecil berlapis plastik hitam.

Dengan dahi berkerut, aku menerima paket tersebut. Tanganku gemetar saat membuka lakban yang merekat kuat. Ketika kardus itu terbuka, mataku terbelalak melihat isinya.

Bukan bom, bukan surat ancaman.

Di dalam sana, tergeletak sebuah kotak beludru merah yang sangat familiar.

Napas tercekat di tenggorokan. Dengan jemari tremor, kubuka kotak merah itu. Kalung berlian indah yang kutinggalkan di atas meja belajarku di Jakarta kini kembali berada di hadapanku. Di bawah kalung tersebut, terdapat secarik kertas sticky notes berwarna hijau, kertas yang sama persis dengan yang kugunakan untuk menulis surat perpisahan, namun kini berisi tulisan tangan yang tebal dan tajam.

Lo pikir lo bisa lari dari gue, Gisel cantik? Tunggu di situ. Ratu gue harus pulang malam ini juga. -Varro

Jantungku meledak seketika.

Dia... dia menemukanku!

Bersambung……

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!