Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Punggungnya benar-benar sakit.
Chelsea tidak bisa berbaring. Bahkan krim yang biasa ia pakai untuk meringankan rasa sakitnya entah kenapa tidak memberikan pengaruh apa-apa sekarang.
Padahal sebentar lagi masuk sekolah. Ia mesti sembuh secepatnya.
Chelsea hampir tidak bisa berjalan tegak dengan punggung penuh lebam begini.
Untung saja kakinya sudah sembuh total, seakan tidak ada luka apapun. Punggungnya juga pasti begitu.
Tapi tetap saja terasa sakit.
Pukulan dari Ayahnya selalu keras, tapi tidak pernah meninggalkan luka. Sepertinya Ayahnya tahu bagaimana cara membuat rasa sakit tanpa meninggalkan bekas apa-apa.
Lagipula, yang Chelsea punya hanya tubuhnya ini.
Gadis itu berdiri di depan cermin. Posturnya yang agak membungkuk karena rasa sakit ditegakkan sedikit demi sedikit, agar terlihat sempurna seperti biasa.
Tidak seperti si anak pungut itu, Ia tidak pintar, tidak berprestasi.
Chelsea hanya cantik.
Kecantikan itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya berarti di rumah ini.
Kalau Chelsea bisa menikahi seseorang dari keluarga ternama, mungkin Ayah akhirnya bisa bangga padanya. Mungkin Ibu akhirnya bisa sayang padanya.
Kalau Chelsea lebih berguna saja—
Tapi kemudian si anak pungut itu datang. Dia dan segala kepintarannya. Dia adalah bukti kalau Chelsea gagal menjadi anak yang sempurna.
Bukankah akan jauh lebih adil, jika Chelsea melampiaskan rasa kesalnya pada anak itu?
Selama tidak menimbulkan luka permanen tidak apa-apa kan ya? Toh, Ayahnya juga begitu.
Kruyukkk~
Chelsea mengusap perut. Yah, balas dendamnya bisa nanti, sekarang ia lapar. Hukuman hari ini selain dicambuk Chelsea juga tidak diberi makan, jadi perutnya benar-benar kosong sekarang.
Tapi pergi ke dapur pun, kulkasnya pasti dikunci. Ia akan minum air banyak-banyak saja seperti biasa.
Ketika membuka kulkas yang biasanya hanya berisi air dingin, mata Chelsea melebar melihat ada sepotong kue disana.
Chelsea mengambil kue itu dan mengangkatnya. Ini benar-benar makanan?
Ia membuka plastik yang menutupi kue itu secara perlahan dan mencium baunya.
Ini makanan asli!
Chelsea langsung membungkuk, menghindari CCTV dan menggigit kue itu dengan suapan besar. Ia hampir menelan kuenya ketika suara langkah kaki terdengar.
Siapa?!
“Ah.”
“Eh?”
Chelsea mencoba menelan.
Si anak pungut?
“Itu... punyaku?” tanyanya sembari menunjuk sisa kue di tangan Chelsea.
Chelsea dengan cepat menelan kue yang masih ada di mulutnya dan mengusap sudut bibir dengan tangan. “Me-memangnya kenapa?” ucapnya panik. “Secara logika semua yang ada di rumah ini akan menjadi milikku nantinya. Hal seperti ini tidak masalah.”
“Ya sudah.” si anak pungut terlihat menghela nafas. Ia mengambil botol air dingin dari kulkas dan terlihat akan pergi.
Chelsea menatap setengah lemon tart yang ada di tangannya, kemudian menyipitkan mata. “Tunggu.”
Si anak pungut berhenti dan berbalik, “Apa?”
“Setidaknya makan setengahnya,” Chelsea menyimpan kembali kue itu di kulkas. “Ini memang punyamu.”
Anak pungut itu berkedip kemudian tertawa kecil ketika mendengar suara yang keluar dari perut Chelsea.
“Jangan tertawa!” sentaknya, menahan malu.
“Makan saja,” ucap si anak pungut sembari menahan tawanya. “Aku tidak setega itu merebut makanan dari orang yang sedang kelaparan.”
Chelsea menyipitkan mata. Kenapa dia malah merespon begitu?
Apa karena Chelsea mengambil kepunyaannya, dia ingin sesuatu yang lain? Imbalan apa yang dia mau? Bukan. Apa yang dia rencanakan?
Apa mungkin, dia berencana untuk mengadukan ini pada Ayah?
Tidak. Chelsea menggigit bibirnya. Ia tidak mau dihukum lagi.
“Tenang saja, Ayah tidak akan tau,” ucap anak pungut itu. “Aku tidak sedang berada di pihakmu, aku cuma tidak mau bertemu dengan orang itu lebih lama dari seharusnya.”
Chelsea terdiam.
“Selamat malam,” angguk anak itu.
Ia tidak tahu harus merasa bagaimana sekarang.
...****************...
Di depan cermin, seorang gadis dengan seragam SMA terlihat diam. Wajahnya datar, tanpa ekspresi sembari menatap dirinya sendiri dengan dalam.
Ophelia mati memakai seragam ini.
Ia penasaran seperti apa kelihatannya kala itu. Apa kemeja putihnya berubah menjadi merah? Apa jas dan rok hitamnya tetap sama?
Ia mengambil tas dan berjalan keluar kamar.
Tidak.
Itu tidak akan terjadi lagi. Ophelia akan melakukan apapun agar akhir hidupnya tidak semenyedihkan itu lagi.
Ketika turun, Randi dan Chelsea terlihat sudah menunggu di depan pintu utama. Randi terlihat mengecek jam tangannya beberapa kali, sedangkan Chelsea sibuk dengan ponsel.
“Seragam itu cocok untukmu,” ucap Ayah angkatnya, yang entah kenapa membuat Ophelia merinding.
“Sekali lagi, jangan sampai kalian membuat masalah apapun di sekolah, mengerti?”
Ophelia mengangguk. “Dimengerti.”
“Mengerti, Ayah.”
Mereka berangkat dengan mobil yang berbeda. Randi pergi ke kantornya menggunakan mobilnya sendiri, sedangkan Chelsea dan Ophelia diantar supir menggunakan mobil lain. Yelena... Ophelia belum melihat Ibu angkatnya itu sejak kemarin.
Airinnnn^^
aku deg2an bangettt>< semoga aja kita satu kelas jadi ada yang kukenal huhu
^^^Anda^^^
^^^Kuharap juga begitu^^^
Ada satu hal yang Ophelia tahu setelah berkirim pesan dengan Airin beberapa hari ini. Dia akan berangkat dan pulang bersama dengan Kaiser jadi kecelakaan itu mungkin terjadi ketika dia berangkat atau pulang sendiri.
Tapi jika itu Ophelia yang akan mencelakakan seseorang, dia pastinya memilih ketika langit mulai gelap.
Mungkin Reine juga berfikir begitu.
^^^Anda^^^
^^^Kamu udah sampai? Aku masih di jalan, macet^^^
Airinnnn^^
udah dari tadii👍🏻 Kaiser jadi panitia MPLS habisnya, jadi harus datang lebih awal
Airinnnn^^
disini udah ada banyak orang lho tapi aku nggak berani nyapa(╥﹏╥) kalau bisa kamu terbang aja kesini supaya cepett
“Yah, mana bisa,” gumam Ophelia pelan.
Ia mesti tahu kapan jadwal mereka. Airin memang terbuka, tapi jika harus menanyakan hal itu setiap hari sampai semester dua—merepotkan.
Kenapa Ophelia tidak bisa mengingat jelas kapan kecelakaan itu terjadi sih?
Tunggu.
Ophelia melihat ke arah kursi depan, dimana Chelsea terlihat masih sibuk dengan ponselnya. Kalau Reine yang merencanakan ini, apa Chelsea juga terlibat? Mereka teman dekat ‘kan?
Mereka juga sama-sama mengincar Kaiser.
Kalau ia bisa menggali informasi dari Chelsea sedikit saja, mungkin ia akan punya sedikit gambaran.
Tapi mereka tidak berada di pihak yang sama.
Ophelia juga mesti mempersiapkan diri akan pembullyan yang mungkin terjadi. Soal itu, ia yakin sudah dilakukan sejak masa MPLS dimulai.
Apa penyebabnya?
Karena dia anak angkat yang tiba-tiba masuk ke sekolah elit? Mungkin mereka tidak terima ada anak biasa yang masuk ke sekolah mereka?
Entah kenapa alasan itu terlalu sepele.
“Non, kita sampai.”
Ophelia membuka pintu dan melihat gerbang megah itu dengan seksama. Jika kediaman Pratama adalah penjara, di mata Ophelia tempat ini benar-benar terlihat seperti neraka.
“Kenapa malah berdiri begitu? Anak baru harus langsung berbaris di lapangan,” ucap Chelsea.
Ophelia melihat kakak angkatnya yang memakai logo ‘OSIS’ di tangan kiri. “Kakak anggota OSIS juga kan ya?”
“Tentu saja.” Chelsea memutar mata. “Kamu itu buta atau gimana?”
“Kenapa nggak sekalian jadi panitia MPLS?”
Chelsea menyimpan ponselnya di saku. “Males. Lagian kamu tau dari siapa soal panitia begitu?”
“Kaiser,” ucap Ophelia sambil tersenyum.
Airin sih. Tapi dia ingin mengompori sedikit.
Chelsea menyipitkan mata, terlihat kesal. “Berikan aku nomornya sekarang.”
“Boleh.” Ophelia mengangkat ponselnya ke arah Chelsea, senyum itu masih ada bibirnya. “Tapi aku juga pengen minta nomor kak Reine. Dia wakil ketua OSIS ‘kan ya?”
Kakak angkatnya terlihat kaget dengan permintaan itu.