Indonesia
NovelToon NovelToon
RAHASIA PANAS DI BALIK PERNIKAHAN

RAHASIA PANAS DI BALIK PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Dewasa
Follow My Instagram @Mae_jer

Dami tidak menyangka dia akan menghadapi Jeremy yang menggila padahal statusnya sudah menjadi istri dokter Bima. Walau status itu hanya sebatas pernikahan kontrak, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Namun, siapa yang akan menyangka Dami akan terlibat dengan permainan panas Jeremy, serta Bima yang ikut-ikutan menggila, yang membuatnya berada di situasi yang membingungkan.

Terjebak di antara dua pria yang sama-sama menginginkannya, situasi semakin rumit saat Dami hamil. Karena ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Jeremy atau Bima? Lebih gilanya lagi, baik Bima maupun Jeremy, sama-sama tidak mau melepaskannya.

Ketiganya harus merahasiakan hubungan gila mereka sampai akhirnya salah satu dari kedua pria itu mengalah, dan merelakan Dami dengan laki-laki yang dia cintai.

Apakah masih Jeremy cinta pertamanya yang menjadi pemenang? Atau Bima, dokter tampan yang juga mencintai Dami dengan tulus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan jalan-jalan santai

Sikap Bima mulai melunak semenjak Dami sakit. Walau masih dingin, tapi lelaki itu tidak sedingin biasanya. Makanan yang dimasak Dami juga di makan. Dan, laki-laki itu sering sarapan dan makan malam bersama kalau dia pulang lebih cepat dari pekerjaannya.

Meski masih jarang bicara, Dami tetap senang. Setidaknya ada sedikit harapan, meski sekian persen. Malam itu, orangtua Bima, mertua Dami makan malam di rumah mereka. Dami sengaja memasak sendiri. Karena sudah memutuskan untuk memperbaiki rumah tangganya dengan Bima, tentu saja dia harus menjadi ibu rumah tangga yang dapat diandalkan oleh keluarga tersebut. Dia juga ingin menunjukkan kepada Bima kalau dirinya serius menjalin kehidupan rumah tangga dengan pria itu.

Meja makan sudah tertata rapi dengan taplak bersih, dan berbagai hidangan yang dimasak Dami sendiri terhidang sempurna, mengeluarkan aroma harum yang menggugah selera. Dari sup bening, ikan bakar berbumbu, hingga tumisan sayuran dan lauk pelengkap lainnya, semuanya disiapkan dengan penuh perhatian dan ketulusan hati.

Begitu orang tua Bima masuk dan duduk di kursi masing-masing, wajah mereka tampak senang melihat hidangan yang tersaji. Nova langsung tersenyum lebar menatap Dami.

"Wah, semuanya kau masak sendiri, sayang ?" tanyanya dengan nada lembut.

Dami mengangguk sambil tersenyum sopan.

"Iya, ma. Semoga rasanya cocok."

Ayah Bima hanya mengangguk puas, sesekali melirik ke arah putranya yang duduk tepat di samping Dami. Bima terlihat tenang, sesekali membantu mengambilkan lauk ke piring istrinya secara alami, seolah sudah menjadi kebiasaan lama, karena itu yang selalu dia lakukan pada istrinya untuk meyakinkan orangtua mereka kalau mereka saling mencintai.

Sepanjang makan malam, percakapan mengalir santai. Mereka membahas kesehatan, pekerjaan, dan hal-hal ringan lainnya. Bima tidak banyak bicara, namun ia menjawab setiap pertanyaan dengan sopan dan matanya sesekali melirik Dami, diam-diam.

"Oh ya, Bim, mama dengar besok klinik kamu ada kegiatan di puncak? Kalo gitu bawa Dami juga. Di puncak pas banget loh buat kalian berdua usahain bikin cucu untuk mama dan papa.

Uhuk! Uhuk!

Dami langsung terbatuk-batuk mendengar perkataan ibu mertuanya. Wajahnya seketika memerah padam, dari leher hingga ke ujung telinga. Ia tidak menyangka percakapan akan berbelok ke arah itu secara tiba-tiba, membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan. Tangannya yang memegang sendok terasa sedikit gemetar, dan ia segera menunduk berusaha menyembunyikan rasa malunya yang meluap.

Bima yang duduk di sampingnya juga tertegun sesaat, rahangnya mengeras sedikit, namun berusaha tetap tenang. Ia segera menyodorkan segelas air putih ke hadapan Dami dengan gerakan yang cepat dan alami.

"Minum pelan-pelan," bisiknya pelan, cukup terdengar oleh Dami saja. Lalu ia menoleh ke arah ibunya dengan nada tenang namun sedikit berusaha mengalihkan topik,

"Ma, itu cuma kegiatan kerja biasa. Pelatihan pekerja baru. Bukan jalan-jalan santai."

Nova tersenyum mengerti, namun tatapannya tetap penuh harapan.

"Tapi tetap saja, kan kamu yang memimpin kegiatannya. Pasti ada waktu santainya juga. Bawa saja Dami, biar dia bisa menghirup udara segar, ganti suasana. Selama ini dia banyak di rumah saja, takutnya malah bosan dan pikirannya melayang kemana-mana."

Ayah Bima pun ikut menimpali dengan suara berat namun lembut,

"Benar kata mama kamu. Sudah waktunya kalian berdua meluangkan waktu lebih banyak bersama. Jangan kerja terus, terutama kamu Bim."

Kata-kata orang tuanya membuat suasana meja makan menjadi hening sejenak. Dami masih menunduk, wajahnya masih memerah, namun di dalam hatinya ada rasa campur aduk antara malu dan juga sedikit rasa ingin tahu. Ia melirik sekilas ke arah Bima, penasaran apa jawaban pria itu nanti. Kalau dulu dia pasti tidak mau, tapi sekarang ... Entah kenapa dia ingin di ajak juga.

Bima terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan keputusan itu. Ia sadar orang tuanya bermaksud baik, dan memang benar hubungan mereka butuh lebih banyak waktu bersama untuk benar-benar membaik. Membawa Dami ke sana juga bukan hal yang mustahil, asalkan dia bisa mengatur jadwalnya dengan baik.

Setelah beberapa detik hening, Bima akhirnya buka suara.

"Kau mau ikut?" tanyanya tidak lembut tapi tidak kasar juga.

Dami menggigit bibirnya. Dia tidak mungkin langsung bilang iya kan? Gengsi sedikit dong. Dami menunduk lebih dalam, jari-jarinya meremas ujung serbet di pangkuannya. Wajahnya masih terasa panas, namun ia memberanikan diri mengangkat pandangan sebentar, sekilas menatap Bima sebelum kembali menunduk.

"Kalau ... kalau tidak mengganggu pekerjaan kak Bima, aku boleh saja ikut," jawabnya pelan, suaranya terdengar ragu namun jelas terdengar keinginan di baliknya.

"Aku hanya ingin melihat suasana di sana, tidak akan mengganggu atau merepotkan."

Mendengar jawaban itu, sudut bibir Bima terangkat sedikit, meski hanya sesaat dan hampir tak terlihat. Ia menoleh kembali ke arah orang tuanya, lalu mengangguk singkat.

"Baiklah, aku bawa dia. Besok pagi kita berangkat lebih awal, jam enam sudah harus siap."

Wajah Nova langsung berseri-seri, senyumnya melebar penuh kepuasan.

"Bagus sekali! Nanti Dami bawa jaket tebal ya, udara di puncak sangat dingin, apalagi kalau malam. Jangan sampai sakit lagi seperti kemarin.

"Iya, ma. Aku ingat," jawab Dami dengan senyum tipis, rasa malunya perlahan berubah menjadi rasa senang yang mulai menyebar di dadanya.

Setelah makan malam selesai, orang tua Bima tidak berlama-lama lagi. Sebelum pulang, Nova sempat menarik tangan Dami dan berbisik lembut,

"Jangan lupa ya, di puncak nanti kalian harus usaha kasih mama papa cucu."

Wajah Dami langsung memerah, ia tersenyum kikuk. Makin merah lagi setelah mertuanya menghilang dari hadapan mereka dan Bima mengucapkan pertanyaan padanya.

"Mama bilang apa?"

Dami terkejut, lalu menunduk makin dalam sambil memainkan ujung jarinya. Wajahnya yang tadi sudah agak memudar merahnya, seketika memerah lagi seperti tomat matang. Ia berdeham pelan, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

"Tidak... tidak ada apa-apa. Cuma pesan biasa saja," jawabnya terbata-bata, suaranya nyaris berbisik. Ia tidak berani menatap mata Bima, takut lelaki itu bisa langsung membaca kebohongannya hanya dari tatapan matanya.

Bima menatapnya tajam sekilas, seolah tidak percaya, namun ia tidak memaksa untuk bertanya lebih lanjut. Ia sudah bisa menebak apa yang dikatakan ibunya, mengingat ucapan sebelumnya di meja makan tadi. Sudah biasa bagi ibunya untuk selalu mengingatkan soal keturunan setiap kali ada kesempatan.

"Malam ini bereskan barang-barang yang dibutuhkan. Jangan banyak-banyak, cukup yang penting-penting saja. Di sana tempatnya terbatas dan udaranya dingin, bawa jaket tambahan."

Dami mengangguk.

"Mau aku bereskan barang-barang kak Bima juga?" tanyanya.

Bima berhenti melangkah, menoleh padanya cukup lama lalu menolak.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Ia lalu melanjutkan langkahnya. Dami menghembuskan nafas panjang kemudian berjalan ke lantai dua menuju kamarnya. Dia dan Bima masih tidur terpisah sampai hari ini.

1
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
zahrahaifa
pokoknya naya harus & wajib sm langit thor.... masson jodohin aja sm siapa kek ... najong deh klo naya dapetin tuh anak
indri ana: aku setujui bangeet kalo ini,gak rela kalo Naya sama Mason😡🙄
total 1 replies
Hanima
👍👍
🍒WINA🍒
Molly dibakar api🔥🔥🔥cemburu melihat naya dekat sama langit, hello molly wajar langit luluh hatinya kerena naya sangat tulus orangnya...
molly tidak suka sama naya karena langti sangat perhatian sama naya dan peduli, karena molly jangan sok cantik kamu dan sikap kamu sombong...
Bima dan dami orgnya sangat ramah dan tidak sombong sifatnya, kah molly nurunin siapa sifatnya kok beda ya...

Mason masih membelain naya walaupun manegur molly klo salah, walaupun mason bersikap dingin dan datar sama naya...

semenjak kehadiran naya langit mulai berubah dikit-dikit, langit mengijinkan tempatnya buat nari naya...
Anisa Dwi riona
salah didikan anaknya bima.kasihan
Dian Rahmawati
penasaran Langit anak nya siapa ya ,kok bisa sahabatan sama Mason dari kecil
🍒WINA🍒
Naya anggap aja molly gak ada jangan hiraukan molly🤭molly beda banget sih sifatnya sama dami dan bima...

molly anggep naya gak bener bergaul dengan langit anak berandalan, makanya menilai jangan luar aja molly. naya sangat baik hati tidak seburuk yg kamu kira...
Dirman Ha
ig g hoo
Dirman Ha
it th9
fitria linda
waduh, 1 waktu berdekatan 2 lelaki
Fera Susanti
c moly anak pungut kalee...dulu kelakuan ortu nya g jahat??..padahal lingkungan rmh nya baik ya??...aneh ah moly
Ardiansyahsasa
pasti molly ini anak pungut bukan anak Dami sama Bima
Husniati
suka cerita nya dari pada cerita mamah papah nya lebih seru yang anak nya
Atik Marwati
teman jadi musuh ternyata
Atik Marwati
ooo...cemburu rupanya
aryuu
anjing bikin naik tensi baca dialog si moly aku skip aja deh yg ada molinya
aryuu
anak lu bim dam
didik yg benar donk.... punya anak kelakuan mirip setaan semua sih lu bedua kasih makan menyan apa
Herman Lim
lah cemburu nya kerna ga di bs dekat Sama langit kasian bgt sih molly
Gian Hazza
molly sifatnya g niru ortunya y Thor,
Yuliana Purnomo
ya ampun,, molly sifat nya kog jauuh banget sm orang tua nya ya🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!