RAHASIA PANAS DI BALIK PERNIKAHAN

RAHASIA PANAS DI BALIK PERNIKAHAN

Pria gila

"Lepaskan aku! Kau mau bawa aku ke mana? Lepas!"

Dami memberontak ketika tubuhnya tiba-tiba di bopong paksa oleh Jeremy. Ia sedang mengintai sebuah markas mafia yang menjadi sasaran balas dendam berikutnya. Namun tidak di sangka-sangka Jeremy berada di lokasi yang sama dengannya.

Dami menggerakkan tenaga sepenuhnya. Namun serangan tadi tiba-tiba dan Jeremy langsung menekan titik yang melumpuhkan kekuatannya, membuatnya menjadi lemas seketika. Jeremy sialan.

"Lepas Jeremy!" Dami terus memberontak. Sayangnya Jeremy bukan lagi Jeremy yang akan kalah darinya, dia sudah belajar dari kesalahan.

"Melepaskanmu sekarang? Jangan harap."

Ia di masukan ke dalam mobil hitam mewah. Jeremy duduk di jok tengah, sopir pria itu sudah siap-siap menyalakan mesin meninggalkan tempat itu. Dami memberontak lagi, berusaha melepaskan diri tapi tubuhnya yang sudah dibuat lemah itu tidak berhasil melawan kekuatan Jeremy.

"Kekuatanmu sudah kelumpuhkan, jangan melawan lagi."

Asli. Lagi-lagi Asli. Dami tidak suka dipanggil Asli lagi. Baginya, nama itu dan orangnya sudah lama mati. Ia menatap Jeremy tajam.

"Kau mau bawa aku ke mana?!"

"Tentu saja ke rumahku."

"Aku sudah menikah Jeremy, jangan main-main denganku."

Jeremy tersenyum miring menatap wanita itu.

"Aku sudah bilang tidak peduli kau menikah atau tidak, kau tetap milikku kan? Kau lupa?"

Astaga. Sinting.

"Kau gila."

"Ya, kau yang membuatku gila."

Dami menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. Sopir yang menyetir mobil itu hanya diam membisu, matanya lurus menatap jalanan di depannya, seolah tak mendengar pertengkaran panas yang terjadi di kursi belakang. Ia sudah terbiasa dengan tingkah majikannya yang obsesif, tahu betul bahwa tak ada satu pun atau apa pun yang bisa mengubah pendirian Jeremy begitu keinginannya sudah bulat.

Dami mendengus kasar, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Tubuhnya masih terasa lemas luar biasa akibat tekanan tepat di titik saraf yang dilakukan Jeremy tadi, membuat setiap usahanya untuk bergerak atau melawan terasa sia-sia belaka. Ia menatap tajam ke arah pria yang duduk bersandar santai di sampingnya itu, pria yang tampak begitu tenang dan bangga seolah baru memenangkan sesuatu.

"Kau benar-benar sudah gila, Jeremy," ucap Dami lagi, suaranya rendah namun penuh penekanan.

"Aku istri orang lain sekarang. Kau tidak bisa sembarangan membawaku pergi seperti barang milikmu sendiri! Aku dan dokter Bima sudah berjanji di depan hukum dan semua orang."

Jeremy memutar kepalanya perlahan, menatap wanita itu dengan sorot mata yang gelap, dalam, dan penuh kepemilikan yang tak terbantahkan. Ia mengulurkan tangan, jari-jemarinya yang panjang menyentuh ujung rambut Dami, lalu mengelusnya pelan, gerakan yang terasa begitu lembut namun mengerikan bagi Dami.

"Hukum? Janji?" Jeremy tertawa kecil, suara rendah yang terdengar sinis dan meremehkan.

"Asli ... kau tahu betul aku tidak pernah peduli pada aturan buatan manusia. Dan soal janji... ingatlah siapa yang pertama kali mengikat janji denganmu. Siapa yang dulu kau kejar, kau cintai, dan kau katakan akan menjadi miliknya selamanya? Itu aku. Bukan laki-laki itu."

Ia mendekatkan wajahnya, membuat Dami refleks mundur hingga punggungnya menempel ke pintu mobil. Napas hangat Jeremy menerpa wajah wanita itu, matanya menelusuri setiap inci wajah Dami dengan tatapan lapar dan rindu yang sudah tertahan lama.

"Pernikahanmu dengan pria baik-baik itu hanyalah sebuah sandiwara konyol di mataku. Kau bisa membiarkan pria itu menyebutmu istrinya, tapi ingat ... Kau tidak akan pernah berhenti menjadi milikku. Tubuhmu, pikiranmu, hatimu ... semuanya milikku.

"Kau tidak punya hak!" seru Dami berusaha meninggikan suara meski tubuhnya lemas.

"Itu masa lalu, Jeremy! Semuanya sudah berubah! Aku bukan lagi gadis bodoh yang mau dipermainkan olehmu, dan kau bukan lagi pria yang aku kagumi. Aku punya hidupku sendiri, aku punya suami, dan aku punya tujuan hidup yang tidak ada hubungannya denganmu!"

Jeremy berhenti tersenyum. Wajahnya berubah menjadi dingin dan mengerikan. Ia meraih dagu Dami dengan kuat namun tidak menyakiti, memaksanya menatap lurus ke dalam manik matanya.

"Ucapkan itu sekali lagi, Asli. Katakan kau sudah tidak peduli padaku, katakan aku tidak ada artinya lagi bagimu ... sambil menatap mataku," tantang Jeremy dengan suara berat dan parau.

Dami terdiam lama. Alih-alih menatap mata Jeremy, ia justru membuang muka. Jeremy mendengus pelan.

"Aku lihat jelas tatapanmu di pernikahan itu. Aku melihat bagaimana matamu berubah saat kau melihatku. Kau berusaha bersandiwara bahagia di sampingnya, tapi hatimu ... Kau tidak akan pernah bisa membohongiku, Asli.

Dami terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Ia tak sanggup menjawab, tak sanggup membantah meski ia tahu ia harusnya marah. Kata-kata Jeremy menancap tepat di hatinya, membongkar keraguan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

"Lihat... kau diam saja," bisik Jeremy lagi, senyum miring yang mengerikan kembali terukir. Ia melepaskan dagu Dami, lalu bersandar kembali dengan tenang seolah tak ada apa-apa yang terjadi.

Mobil itu terus melaju sampai ke sebuah Penthouse mewah. Bukan Penthouse yang terakhir kali pria itu membawanya pada saat menganggapnya dirinya masih lawan, bukan Asli. Ini tempat yang lain, yang jauh lebih besar dan lebih banyak pengawalnya.

Dami heran sekali begitu mobil memasuki halaman luas yang dikelilingi oleh banyak sekali pengawal terlatih itu.

Apa dia ingin menetap di negara ini?

Gumamnya dalam hati. Kalau benar, itu akan jauh lebih sulit baginya untuk bebas dari laki-laki yang dulunya bersikap sangat dingin padanya ini, tapi sekarang justru berbanding terbalik. Semua pria berjas hitam-hitam dan pelayan yang berdiri di depan pintu masuk utama rumah itu segera membungkuk hormat begitu sopir membuka pintu mobil dan Jeremy turun lebih dulu.

"Selamat datang, tuan Jeremy."

Dami masih bertahan di mobil, tidak ikut keluar. Lebih tepatnya tidak mau. Tapi Jeremy dengan mudah menariknya turun, karena tubuhnya saat ini lemah.

"Turun, sayang."

Asli menatapnya penuh permusuhan.

"Jangan pegang-pegang!" Tukasnya ketika tangan Jeremy melingkar di pinggangnya. Bukannya melepaskan, tangan pria itu justru makin menekan dan membawanya masuk ke dalam rumah besar itu.

Para pelayan perempuan saling bertukar pandang, mereka semua adalah pelayan baru, tentu saja penasaran siapa wanita yang di bawa oleh tuan besar mereka ke rumah ini. Karena tidak pernah ada seorang pun wanita yang menginjakan kaki di rumah ini selain para pelayan dan wanita itu.

Di dalam sana, saat mereka hampir mencapai ruang tamu yang besar. Dami tiba-tiba menggigit tangan Jeremy dan berlari kencang menaiki tangga. Kekuatannya boleh saja di tekan, tapi dia masih bisa menggigit dan berlari bukan.

"Kemari Asli, kau tidak akan bisa kabur dari sini tanpa persetujuanku." kata Jeremy tenang.

Terpopuler

Comments

Dirman Ha

Dirman Ha

yg g Hi

2026-08-12

0

Dirman Ha

Dirman Ha

ig g Hi

2026-08-12

0

Dirman Ha

Dirman Ha

t rg Hi

2026-08-11

0

lihat semua
Episodes
1 Pria gila
2 Mau lepas? Jangan harap.
3 Tidak mencintaimu lagi
4 Kabur
5 Program punya anak
6 Sehari dua kali
7 Panas
8 Besar ya ...
9 Kau yang mulai
10 Panggil namaku
11 Jangan pikirkan apa pun
12 Pertengkaran
13 Kau sudah di sentuh?
14 Tatap mataku
15 Jangan ganggu aku lagi
16 Maaf
17 Bersihkan dirimu
18 Temani aku minum
19 Wanita jahat
20 Dingin
21 Usaha Dami
22 Mau berdansa?
23 Ciuman
24 Jalang?
25 Dia yang mulai
26 Kau cemburu?
27 Berpisah?
28 Panas tinggi
29 Malu
30 Ancaman Bima
31 Memang merepotkan
32 Bukan jalan-jalan santai
33 Puncak
34 Jatuh
35 Tenggelam
36 Kau menggigil
37 Menyiapkan air mandi
38 Hanya ingin istriku
39 Kakak sudah mabuk
40 Milikku
41 Andai saja kau tahu
42 Mau kabur?
43 Jawab aku
44 Lemas
45 Ketegasan Bima
46 Perahu
47 Jelaskan
48 Hanya aku yang berhak
49 Membuatmu lupa
50 Hanya aku, selamanya
51 Aku mencintaimu
52 Kehebohan staf
53 Kenalan
54 Kau tidak takut padaku?
55 Turun
56 Di gendong
57 Selingkuh?
58 Lagi memikirkan siapa?
59 Pelukan
60 Kemarahan Bima
61 Tidak ingin melihatmu
62 Pergi
63 Panik
64 Rumah Jeremy
65 Perkelahian
66 Tempat baru
67 Hamil?
68 Raka
69 Ketemu lagi
70 Permintaan
71 Hasil
72 Tak berhenti mencari
73 Rencana yang gagal
74 Firasat
75 Bertemu
76 Lepas
77 Bukan anakmu
78 Ucapan Kenny
79 Naik mobilku saja
80 Pegangan padaku
81 Tidak lapar?
82 Anakmu
83 Jangan harap
84 Terimakasih sudah datang
85 Perutmu sakit?
86 Memeriksamu
87 Kelabakan
88 Restoran depan penginapan
89 Kekesalan Bima
90 Mendukung keputusan istri
91 Menyebalkan
92 Ciuman
93 Drama Queen
94 Jangan mendekatiku lagi
95 Muntah
96 Pindah kamar
97 Perempuan cerewet
98 Protektif dan posesif
99 Belum saatnya
100 Rakus
101 Hati-hati
102 Kau memang ceroboh
103 Laki-laki kejam
104 Pria bule
105 Bima kembali
106 Bertemu mertua
107 Rumah baru
108 Belanja
109 Yang lain datang
110 Kumpul keluarga
111 Ketar ketir
112 Pria bule
113 Tidak selera makan
114 Ciuman tiba-tiba
115 Rumah Kenny
116 Sudah tenang?
117 Menyatu
118 Terlalu enak
119 Lupa
120 Sudah bercerai
121 Ayo bicara
122 Menuju melahirkan
123 Melahirkan
124 Menyembunyikan sesuatu
125 Kemoterapi
126 Pingsan
127 Pingsan Revisi
128 Rumah
129 Efek After
130 Kau pernah mengandung?
131 Aku berhak tahu
132 Kau masih istriku
133 Bicara di rumah
134 Kau akan menjadi istrinya
135 Kemarahan Kenny
136 Mengakhiri hubungan
137 Pingsan
138 Jangan khawatir
139 Bisa merasakan perasaanmu
140 Ketahuan
141 Kau bukan beban
142 Berjuang bersama
143 Sarapan
144 Lutfic Reynold
145 Keinginan Eva
146 Rumah
147 Pohon pengharapan
148 Dia suamiku!
149 Maafkan aku
150 Menginaplah di sini
151 Kau memang iblis
152 Hancur
153 Rumah
154 Di manja istri
155 Terimakasih
156 Ditemukan
157 Dilema dan keputusan
158 Pesawat
159 Maaf
160 Sampai
161 Rendah diri
162 Daerah menyedihkan
163 Dokter muda terbaik
164 Tidak nyaman
165 Bertemu dan berlutut
166 Kenapa keluar
167 Belum bisa di operasi
168 Delapan tahun
169 Isi hati kakek
170 Tidak tulus
171 Makin membaik
172 Detik-detik menuju operasi
173 Operasi
174 Hasil operasi
175 Kenapa harus berhasil?
176 Kesempatan kedua
177 Kurang pede
178 Makan malam
179 kumpul dengan teman-teman
180 Tegas
181 Cemas
182 Berita menggembirakan
183 Rencana licik
184 Menyadari ada yang beda
185 Butuh Eva
186 Bantu aku
187 Akhirnya
188 Masih mau?
189 Ganti rugi
190 Membuat Eva menyerah
191 Kenapa bersikap aneh?
192 Kemarahan Eva
193 Memang benar dia
194 Pura-pura tersakiti
195 Saksi dan bukti rekaman
196 Tidak adil
197 Minta di manjakan
198 Memanjakan 1
199 Memanjakan 2
200 Tak berdaya
201 Pamitan
202 Kejadian di toilet
203 Hampir kehilangan kendali
204 Perjalanan pulang
205 Sampai
206 Aku juga ingin
207 Pelan-pelan
208 Belum selesai
209 Nyaman?
210 Keputusan bersama
211 Fakta
212 Membantu
213 Fakta dan ditangkap
214 Keputusan
215 Kembali
216 Melanjutkan yang mereka mulai
217 S2 Dari Salah Paham Menjadi Cinta
218 S2 DSPMC -Ep 1
219 S2 DSPMC -Ep 2
220 S2 DSPMC -ep 3
221 S2 DSPMC - Ep 4
222 S2 DSPMC - Ep 5
223 S2 DSPMC- Ep 6
224 S2 DSPMC - Ep 7
225 S2 DSPMC - Ep 8
226 S2 DSPMC - Ep 9
227 S2 DSPMC - EP 10
228 S2 DSPMC - Ep 11
229 S2 DSPMC- Ep 12
230 S2 DSPMC- Ep 13
231 S2 DSPMC -Ep 14
232 S2 DSPMC - Ep 15
233 S2 DSPMC - Ep 16
234 S2 DSPMC - Ep 17
235 S2 DSPMC - Ep 18
236 S2 DSPMC - Ep 19
237 S2 DSPMC - Ep 20
238 S2 DSPMC - Ep 21
239 S2 DSPMC - EP 22
Episodes

Updated 239 Episodes

1
Pria gila
2
Mau lepas? Jangan harap.
3
Tidak mencintaimu lagi
4
Kabur
5
Program punya anak
6
Sehari dua kali
7
Panas
8
Besar ya ...
9
Kau yang mulai
10
Panggil namaku
11
Jangan pikirkan apa pun
12
Pertengkaran
13
Kau sudah di sentuh?
14
Tatap mataku
15
Jangan ganggu aku lagi
16
Maaf
17
Bersihkan dirimu
18
Temani aku minum
19
Wanita jahat
20
Dingin
21
Usaha Dami
22
Mau berdansa?
23
Ciuman
24
Jalang?
25
Dia yang mulai
26
Kau cemburu?
27
Berpisah?
28
Panas tinggi
29
Malu
30
Ancaman Bima
31
Memang merepotkan
32
Bukan jalan-jalan santai
33
Puncak
34
Jatuh
35
Tenggelam
36
Kau menggigil
37
Menyiapkan air mandi
38
Hanya ingin istriku
39
Kakak sudah mabuk
40
Milikku
41
Andai saja kau tahu
42
Mau kabur?
43
Jawab aku
44
Lemas
45
Ketegasan Bima
46
Perahu
47
Jelaskan
48
Hanya aku yang berhak
49
Membuatmu lupa
50
Hanya aku, selamanya
51
Aku mencintaimu
52
Kehebohan staf
53
Kenalan
54
Kau tidak takut padaku?
55
Turun
56
Di gendong
57
Selingkuh?
58
Lagi memikirkan siapa?
59
Pelukan
60
Kemarahan Bima
61
Tidak ingin melihatmu
62
Pergi
63
Panik
64
Rumah Jeremy
65
Perkelahian
66
Tempat baru
67
Hamil?
68
Raka
69
Ketemu lagi
70
Permintaan
71
Hasil
72
Tak berhenti mencari
73
Rencana yang gagal
74
Firasat
75
Bertemu
76
Lepas
77
Bukan anakmu
78
Ucapan Kenny
79
Naik mobilku saja
80
Pegangan padaku
81
Tidak lapar?
82
Anakmu
83
Jangan harap
84
Terimakasih sudah datang
85
Perutmu sakit?
86
Memeriksamu
87
Kelabakan
88
Restoran depan penginapan
89
Kekesalan Bima
90
Mendukung keputusan istri
91
Menyebalkan
92
Ciuman
93
Drama Queen
94
Jangan mendekatiku lagi
95
Muntah
96
Pindah kamar
97
Perempuan cerewet
98
Protektif dan posesif
99
Belum saatnya
100
Rakus
101
Hati-hati
102
Kau memang ceroboh
103
Laki-laki kejam
104
Pria bule
105
Bima kembali
106
Bertemu mertua
107
Rumah baru
108
Belanja
109
Yang lain datang
110
Kumpul keluarga
111
Ketar ketir
112
Pria bule
113
Tidak selera makan
114
Ciuman tiba-tiba
115
Rumah Kenny
116
Sudah tenang?
117
Menyatu
118
Terlalu enak
119
Lupa
120
Sudah bercerai
121
Ayo bicara
122
Menuju melahirkan
123
Melahirkan
124
Menyembunyikan sesuatu
125
Kemoterapi
126
Pingsan
127
Pingsan Revisi
128
Rumah
129
Efek After
130
Kau pernah mengandung?
131
Aku berhak tahu
132
Kau masih istriku
133
Bicara di rumah
134
Kau akan menjadi istrinya
135
Kemarahan Kenny
136
Mengakhiri hubungan
137
Pingsan
138
Jangan khawatir
139
Bisa merasakan perasaanmu
140
Ketahuan
141
Kau bukan beban
142
Berjuang bersama
143
Sarapan
144
Lutfic Reynold
145
Keinginan Eva
146
Rumah
147
Pohon pengharapan
148
Dia suamiku!
149
Maafkan aku
150
Menginaplah di sini
151
Kau memang iblis
152
Hancur
153
Rumah
154
Di manja istri
155
Terimakasih
156
Ditemukan
157
Dilema dan keputusan
158
Pesawat
159
Maaf
160
Sampai
161
Rendah diri
162
Daerah menyedihkan
163
Dokter muda terbaik
164
Tidak nyaman
165
Bertemu dan berlutut
166
Kenapa keluar
167
Belum bisa di operasi
168
Delapan tahun
169
Isi hati kakek
170
Tidak tulus
171
Makin membaik
172
Detik-detik menuju operasi
173
Operasi
174
Hasil operasi
175
Kenapa harus berhasil?
176
Kesempatan kedua
177
Kurang pede
178
Makan malam
179
kumpul dengan teman-teman
180
Tegas
181
Cemas
182
Berita menggembirakan
183
Rencana licik
184
Menyadari ada yang beda
185
Butuh Eva
186
Bantu aku
187
Akhirnya
188
Masih mau?
189
Ganti rugi
190
Membuat Eva menyerah
191
Kenapa bersikap aneh?
192
Kemarahan Eva
193
Memang benar dia
194
Pura-pura tersakiti
195
Saksi dan bukti rekaman
196
Tidak adil
197
Minta di manjakan
198
Memanjakan 1
199
Memanjakan 2
200
Tak berdaya
201
Pamitan
202
Kejadian di toilet
203
Hampir kehilangan kendali
204
Perjalanan pulang
205
Sampai
206
Aku juga ingin
207
Pelan-pelan
208
Belum selesai
209
Nyaman?
210
Keputusan bersama
211
Fakta
212
Membantu
213
Fakta dan ditangkap
214
Keputusan
215
Kembali
216
Melanjutkan yang mereka mulai
217
S2 Dari Salah Paham Menjadi Cinta
218
S2 DSPMC -Ep 1
219
S2 DSPMC -Ep 2
220
S2 DSPMC -ep 3
221
S2 DSPMC - Ep 4
222
S2 DSPMC - Ep 5
223
S2 DSPMC- Ep 6
224
S2 DSPMC - Ep 7
225
S2 DSPMC - Ep 8
226
S2 DSPMC - Ep 9
227
S2 DSPMC - EP 10
228
S2 DSPMC - Ep 11
229
S2 DSPMC- Ep 12
230
S2 DSPMC- Ep 13
231
S2 DSPMC -Ep 14
232
S2 DSPMC - Ep 15
233
S2 DSPMC - Ep 16
234
S2 DSPMC - Ep 17
235
S2 DSPMC - Ep 18
236
S2 DSPMC - Ep 19
237
S2 DSPMC - Ep 20
238
S2 DSPMC - Ep 21
239
S2 DSPMC - EP 22

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!