Program punya anak

"Kamu di mana? Mama dan papa di rumah. Ayo pulang sekarang, mereka ingin melihatmu."

Dami baru memeriksa ponselnya setelah hampir seharian ini. Ternyata Bima menelponnya berkali-kali. Bahkan ada 29 telpon tak terjawab. Terakhir, lelaki itu mengiriminya pesan yang baru saja dia baca barusan. Ia segera menelpon balik dan langsung di angkat oleh Bima.

"Dami, kamu di mana? Baik-baik saja kan?!"

Suara Bima terdengar khawatir di seberang sana. Dami jadi tidak enak. Tapi dia juga tidak bisa bilang kalau dirinya di culik oleh Jeremy bahkan lelaki itu melecehkannya bukan? Tidak, ia tidak ingin situasi makin kacau. Lagipula pikirannya tentang Jeremy memang masih kacau. Perasaannya terhadap lelaki itu tidak benar-benar hilang.

Tapi di sisi lain, dia juga tahu statusnya sekarang adalah seorang istri di mata orang lain. Dia harus menghargai dan menghormati Bima sebagai suaminya sekarang.

"Dami?"

Suara Bima terdengar lagi di ujung sana. Dami menutup matanya dalam-dalam sebelum menjawab.

"Aku baik-baik saja kak. Maaf, terlalu sibuk tadi jadi nggak sempat memeriksa hape. Aku lagi di jalan pulang, hampir sampai kok. Jangan khawatir." jawabnya.

Di seberang, suara lega Bima terdengar.

"Baiklah. Kalau begitu aku tunggu. Hati-hati di jalan."

Dami tersenyum dan begitu sambungan terputus, ia menghembuskan nafas panjang. Karena ulah Jeremy, ia terpaksa harus berbohong pada Bima. Memang masih ada sisa-sisa perasaan rumit yang ia rasakan terhadap pria itu, tapi ...

Ia menggeleng keras, berusaha menepis bayangan wajah Jeremy, sentuhannya, dan kata-kata penuh kepemilikan yang selalu terlontar dari mulut pria itu.

Jangan memikirkan pria gila itu.

Jangan pikirkan dia...

Dami terus mengulang kalimat tersebut dalam hati.

Tak lama kemudian, mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gerbang rumah besar tempat ia tinggal bersama Bima. Suaminya itu membeli rumah sendiri untuk mereka berdua agar Dami bisa bergerak lebih leluasa. Rumah yang kini menjadi saksi status barunya sebagai istri Bima.

Dami menarik napas panjang sekali lagi, merapikan pakaian yang ia beli terburu-buru di toko pakaian biasa dalam perjalanan pulang, memastikan tak ada lagi jejak yang mencurigakan terlihat. Ia harus terlihat biasa saja, seolah tak ada yang terjadi, seolah ia hanya pulang dari kegiatan sehari-hari seperti biasa.

Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, aroma masakan yang sedap menyambutnya, diiringi suara obrolan hangat dari ruang tengah. Bima yang sedang berdiri di dekat jendela menunggu kedatangannya, langsung berbalik badan.

Begitu melihat sosok istrinya, raut cemas yang menghiasi wajah tampannya seketika lenyap, digantikan lega yang luar biasa. Ia berjalan cepat menghampiri Dami, dan tanpa ragu sedikit pun, langsung merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat dan erat.

"Akhirnya kamu pulang sayang." bisik Bima di samping telinganya, nadanya penuh kelegaan yang tulus. Pelukan itu begitu lembut, begitu aman, dan begitu berbeda dengan cengkeraman kasar namun penuh gairah milik Jeremy. Di sini, Dami merasa dihargai, merasa aman, dan merasa menjadi wanita yang dijunjung tinggi.

Tapi, dia juga bingung kenapa laki-laki ini tiba-tiba memeluknya seperti ini. Biasanya Bima selalu menjaga jarak karena menghormatinya. Lalu sebuah bisikan terdengar lagi di telinganya.

"Papa dan mama melihat ke sini, harus akting lagi.".

Ah betul. Tidak mungkin juga Bima akan peluk-peluk dia begini kalau hanya ada mereka berdua.

Dami mengangguk pelan di dalam pelukan itu, perlahan membalas rengkuhan Bima agar terlihat lebih wajar, seolah pasangan yang saling mencintai yang baru saja bertemu kembali setelah berpisah seharian. Ia membenamkan wajahnya sebentar di dada suaminya itu, berusaha menyembunyikan raut wajah dan kegelisahan yang masih tersisa di matanya.

"Maaf ya bikin kak Bima khawatir," bisiknya pelan, cukup rendah agar hanya terdengar oleh Bima, menyesuaikan diri dengan peran yang harus mereka mainkan.

Bima perlahan melepaskan pelukannya namun tangannya tetap menggenggam tangan Dami erat, menuntunnya berjalan masuk lebih dalam menuju ruang tengah tempat kedua orang tuanya duduk menunggu dengan senyum bahagia.

"Lihat, kan? Sudah pulang dengan selamat," ucap Bima dengan nada ceria, berbicara pada orang tuanya sambil sesekali menoleh menatap Dami dengan pandangan yang penuh cinta, sangat meyakinkan di mata orang lain. Tapi tatapan cinta itu memang benar, Dami saja yang terlalu bodoh, tidak pernah menyadarinya.

Nova segera bangkit berdiri, berjalan menghampiri mereka berdua lalu meraih tangan Dami dengan lembut.

"Syukurlah, sayang. Kami sudah khawatir setengah mati loh dengar Bima bilang kamu susah dihubungi. Ada urusan penting ya sampai sibuk sekali?" tanyanya ramah namun penuh perhatian.

Dami tersenyum tipis, berusaha sekuat tenaga agar senyum itu terlihat tulus dan wajar.

"Iya, ma. Ada sedikit masalah yang harus diselesaikan di luar, lumayan menyita waktu dan perhatian sampai lupa mengecek ponsel. Maaf ya bikin mama dan papa cemas," jawabnya sehalus mungkin, mengulangi kebohongan yang sama sekali terasa pahit di lidahnya.

"Ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja dan sudah ada di sini sekarang," kata ayah mertuanya sambil tersenyum hangat.

"Ayo kita duduk, makanan sudah siap semua. Kami menunggu kamu biar bisa makan bersama."

Sepanjang jam makan malam itu, Dami berusaha menjadi istri yang sempurna, pendengar yang baik, tersenyum di waktu yang tepat, dan menjawab pertanyaan seputar kegiatannya dengan jawaban-jawaban aman yang sudah ia susun di kepala.

Bima pun sangat kooperatif, sesekali menyuapinya makanan, mengelus punggung tangannya, atau bertanya hal-hal ringan seolah mereka adalah pasangan suami istri yang benar-benar saling mencintai. Di luar dugaan, akting mereka berdua berjalan sangat mulus, membuat kedua orang tua itu tampak begitu bahagia melihat kedekatan anak dan menantunya.

Namun di balik semua itu, Dami semakin merasa bersalah. Setiap kali Bima menyentuhnya, entah kenapa bayangan tangan kasar Jeremy yang merambat ke seluruh tubuhnya dengan penuh gairah dan kepemilikan itu kembali melintas cepat. Setiap kali Bima tersenyum lembut, ia teringat senyum miring penuh obsesi dan ancaman milik Jeremy. Perbedaan keduanya sangat jauh. Bima memberikan kenyamanan dan keamanan, sementara Jeremy memberikan badai dan kekacauan yang entah kenapa masih membuat jantungnya berdebar dengan cara yang aneh.

"Kamu terlihat lelah sekali, masuk saja istirahat kalau sudah tidak tahan," bisik Bima tiba-tiba saat orang tuanya sedang berbicara satu sama lain, suaranya rendah dan kembali menjadi nada biasa mereka, nada rekan kerja yang saling mengerti, bukan nada suami istri yang penuh cinta.

Dami menoleh, menangkap sorot mata Bima yang jeli.

"Nggak apa-apa, aku masih bisa tahan."

"Oh ya, kalian berdua udah program punya anak kan? Mama benar-benar gak sabar pengen gendong cucu lagi. Jangan kalah sama Arsen dan Zora. Kalian berdua juga harus cepat punya anak."

Dami langsung terbatuk-batuk mendengarnya.

Terpopuler

Comments

Dirman Ha

Dirman Ha

uy g hiii

2026-08-15

0

Dirman Ha

Dirman Ha

uy g Hi

2026-08-15

0

Yuliana Purnomo

Yuliana Purnomo

bikin mereka bersatu Thor,,,aku kasiann Bima juga orang tua nya ,,baik pada Dami

2026-06-09

1

lihat semua
Episodes
1 Pria gila
2 Mau lepas? Jangan harap.
3 Tidak mencintaimu lagi
4 Kabur
5 Program punya anak
6 Sehari dua kali
7 Panas
8 Besar ya ...
9 Kau yang mulai
10 Panggil namaku
11 Jangan pikirkan apa pun
12 Pertengkaran
13 Kau sudah di sentuh?
14 Tatap mataku
15 Jangan ganggu aku lagi
16 Maaf
17 Bersihkan dirimu
18 Temani aku minum
19 Wanita jahat
20 Dingin
21 Usaha Dami
22 Mau berdansa?
23 Ciuman
24 Jalang?
25 Dia yang mulai
26 Kau cemburu?
27 Berpisah?
28 Panas tinggi
29 Malu
30 Ancaman Bima
31 Memang merepotkan
32 Bukan jalan-jalan santai
33 Puncak
34 Jatuh
35 Tenggelam
36 Kau menggigil
37 Menyiapkan air mandi
38 Hanya ingin istriku
39 Kakak sudah mabuk
40 Milikku
41 Andai saja kau tahu
42 Mau kabur?
43 Jawab aku
44 Lemas
45 Ketegasan Bima
46 Perahu
47 Jelaskan
48 Hanya aku yang berhak
49 Membuatmu lupa
50 Hanya aku, selamanya
51 Aku mencintaimu
52 Kehebohan staf
53 Kenalan
54 Kau tidak takut padaku?
55 Turun
56 Di gendong
57 Selingkuh?
58 Lagi memikirkan siapa?
59 Pelukan
60 Kemarahan Bima
61 Tidak ingin melihatmu
62 Pergi
63 Panik
64 Rumah Jeremy
65 Perkelahian
66 Tempat baru
67 Hamil?
68 Raka
69 Ketemu lagi
70 Permintaan
71 Hasil
72 Tak berhenti mencari
73 Rencana yang gagal
74 Firasat
75 Bertemu
76 Lepas
77 Bukan anakmu
78 Ucapan Kenny
79 Naik mobilku saja
80 Pegangan padaku
81 Tidak lapar?
82 Anakmu
83 Jangan harap
84 Terimakasih sudah datang
85 Perutmu sakit?
86 Memeriksamu
87 Kelabakan
88 Restoran depan penginapan
89 Kekesalan Bima
90 Mendukung keputusan istri
91 Menyebalkan
92 Ciuman
93 Drama Queen
94 Jangan mendekatiku lagi
95 Muntah
96 Pindah kamar
97 Perempuan cerewet
98 Protektif dan posesif
99 Belum saatnya
100 Rakus
101 Hati-hati
102 Kau memang ceroboh
103 Laki-laki kejam
104 Pria bule
105 Bima kembali
106 Bertemu mertua
107 Rumah baru
108 Belanja
109 Yang lain datang
110 Kumpul keluarga
111 Ketar ketir
112 Pria bule
113 Tidak selera makan
114 Ciuman tiba-tiba
115 Rumah Kenny
116 Sudah tenang?
117 Menyatu
118 Terlalu enak
119 Lupa
120 Sudah bercerai
121 Ayo bicara
122 Menuju melahirkan
123 Melahirkan
124 Menyembunyikan sesuatu
125 Kemoterapi
126 Pingsan
127 Pingsan Revisi
128 Rumah
129 Efek After
130 Kau pernah mengandung?
131 Aku berhak tahu
132 Kau masih istriku
133 Bicara di rumah
134 Kau akan menjadi istrinya
135 Kemarahan Kenny
136 Mengakhiri hubungan
137 Pingsan
138 Jangan khawatir
139 Bisa merasakan perasaanmu
140 Ketahuan
141 Kau bukan beban
142 Berjuang bersama
143 Sarapan
144 Lutfic Reynold
145 Keinginan Eva
146 Rumah
147 Pohon pengharapan
148 Dia suamiku!
149 Maafkan aku
150 Menginaplah di sini
151 Kau memang iblis
152 Hancur
153 Rumah
154 Di manja istri
155 Terimakasih
156 Ditemukan
157 Dilema dan keputusan
158 Pesawat
159 Maaf
160 Sampai
161 Rendah diri
162 Daerah menyedihkan
163 Dokter muda terbaik
164 Tidak nyaman
165 Bertemu dan berlutut
166 Kenapa keluar
167 Belum bisa di operasi
168 Delapan tahun
169 Isi hati kakek
170 Tidak tulus
171 Makin membaik
172 Detik-detik menuju operasi
173 Operasi
174 Hasil operasi
175 Kenapa harus berhasil?
176 Kesempatan kedua
177 Kurang pede
178 Makan malam
179 kumpul dengan teman-teman
180 Tegas
181 Cemas
182 Berita menggembirakan
183 Rencana licik
184 Menyadari ada yang beda
185 Butuh Eva
186 Bantu aku
187 Akhirnya
188 Masih mau?
189 Ganti rugi
190 Membuat Eva menyerah
191 Kenapa bersikap aneh?
192 Kemarahan Eva
193 Memang benar dia
194 Pura-pura tersakiti
195 Saksi dan bukti rekaman
196 Tidak adil
197 Minta di manjakan
198 Memanjakan 1
199 Memanjakan 2
200 Tak berdaya
201 Pamitan
202 Kejadian di toilet
203 Hampir kehilangan kendali
204 Perjalanan pulang
205 Sampai
206 Aku juga ingin
207 Pelan-pelan
208 Belum selesai
209 Nyaman?
210 Keputusan bersama
211 Fakta
212 Membantu
213 Fakta dan ditangkap
214 Keputusan
215 Kembali
216 Melanjutkan yang mereka mulai
217 S2 Dari Salah Paham Menjadi Cinta
218 S2 DSPMC -Ep 1
219 S2 DSPMC -Ep 2
220 S2 DSPMC -ep 3
221 S2 DSPMC - Ep 4
222 S2 DSPMC - Ep 5
223 S2 DSPMC- Ep 6
224 S2 DSPMC - Ep 7
225 S2 DSPMC - Ep 8
226 S2 DSPMC - Ep 9
227 S2 DSPMC - EP 10
228 S2 DSPMC - Ep 11
229 S2 DSPMC- Ep 12
230 S2 DSPMC- Ep 13
231 S2 DSPMC -Ep 14
232 S2 DSPMC - Ep 15
233 S2 DSPMC - Ep 16
234 S2 DSPMC - Ep 17
235 S2 DSPMC - Ep 18
236 S2 DSPMC - Ep 19
237 S2 DSPMC - Ep 20
238 S2 DSPMC - Ep 21
Episodes

Updated 238 Episodes

1
Pria gila
2
Mau lepas? Jangan harap.
3
Tidak mencintaimu lagi
4
Kabur
5
Program punya anak
6
Sehari dua kali
7
Panas
8
Besar ya ...
9
Kau yang mulai
10
Panggil namaku
11
Jangan pikirkan apa pun
12
Pertengkaran
13
Kau sudah di sentuh?
14
Tatap mataku
15
Jangan ganggu aku lagi
16
Maaf
17
Bersihkan dirimu
18
Temani aku minum
19
Wanita jahat
20
Dingin
21
Usaha Dami
22
Mau berdansa?
23
Ciuman
24
Jalang?
25
Dia yang mulai
26
Kau cemburu?
27
Berpisah?
28
Panas tinggi
29
Malu
30
Ancaman Bima
31
Memang merepotkan
32
Bukan jalan-jalan santai
33
Puncak
34
Jatuh
35
Tenggelam
36
Kau menggigil
37
Menyiapkan air mandi
38
Hanya ingin istriku
39
Kakak sudah mabuk
40
Milikku
41
Andai saja kau tahu
42
Mau kabur?
43
Jawab aku
44
Lemas
45
Ketegasan Bima
46
Perahu
47
Jelaskan
48
Hanya aku yang berhak
49
Membuatmu lupa
50
Hanya aku, selamanya
51
Aku mencintaimu
52
Kehebohan staf
53
Kenalan
54
Kau tidak takut padaku?
55
Turun
56
Di gendong
57
Selingkuh?
58
Lagi memikirkan siapa?
59
Pelukan
60
Kemarahan Bima
61
Tidak ingin melihatmu
62
Pergi
63
Panik
64
Rumah Jeremy
65
Perkelahian
66
Tempat baru
67
Hamil?
68
Raka
69
Ketemu lagi
70
Permintaan
71
Hasil
72
Tak berhenti mencari
73
Rencana yang gagal
74
Firasat
75
Bertemu
76
Lepas
77
Bukan anakmu
78
Ucapan Kenny
79
Naik mobilku saja
80
Pegangan padaku
81
Tidak lapar?
82
Anakmu
83
Jangan harap
84
Terimakasih sudah datang
85
Perutmu sakit?
86
Memeriksamu
87
Kelabakan
88
Restoran depan penginapan
89
Kekesalan Bima
90
Mendukung keputusan istri
91
Menyebalkan
92
Ciuman
93
Drama Queen
94
Jangan mendekatiku lagi
95
Muntah
96
Pindah kamar
97
Perempuan cerewet
98
Protektif dan posesif
99
Belum saatnya
100
Rakus
101
Hati-hati
102
Kau memang ceroboh
103
Laki-laki kejam
104
Pria bule
105
Bima kembali
106
Bertemu mertua
107
Rumah baru
108
Belanja
109
Yang lain datang
110
Kumpul keluarga
111
Ketar ketir
112
Pria bule
113
Tidak selera makan
114
Ciuman tiba-tiba
115
Rumah Kenny
116
Sudah tenang?
117
Menyatu
118
Terlalu enak
119
Lupa
120
Sudah bercerai
121
Ayo bicara
122
Menuju melahirkan
123
Melahirkan
124
Menyembunyikan sesuatu
125
Kemoterapi
126
Pingsan
127
Pingsan Revisi
128
Rumah
129
Efek After
130
Kau pernah mengandung?
131
Aku berhak tahu
132
Kau masih istriku
133
Bicara di rumah
134
Kau akan menjadi istrinya
135
Kemarahan Kenny
136
Mengakhiri hubungan
137
Pingsan
138
Jangan khawatir
139
Bisa merasakan perasaanmu
140
Ketahuan
141
Kau bukan beban
142
Berjuang bersama
143
Sarapan
144
Lutfic Reynold
145
Keinginan Eva
146
Rumah
147
Pohon pengharapan
148
Dia suamiku!
149
Maafkan aku
150
Menginaplah di sini
151
Kau memang iblis
152
Hancur
153
Rumah
154
Di manja istri
155
Terimakasih
156
Ditemukan
157
Dilema dan keputusan
158
Pesawat
159
Maaf
160
Sampai
161
Rendah diri
162
Daerah menyedihkan
163
Dokter muda terbaik
164
Tidak nyaman
165
Bertemu dan berlutut
166
Kenapa keluar
167
Belum bisa di operasi
168
Delapan tahun
169
Isi hati kakek
170
Tidak tulus
171
Makin membaik
172
Detik-detik menuju operasi
173
Operasi
174
Hasil operasi
175
Kenapa harus berhasil?
176
Kesempatan kedua
177
Kurang pede
178
Makan malam
179
kumpul dengan teman-teman
180
Tegas
181
Cemas
182
Berita menggembirakan
183
Rencana licik
184
Menyadari ada yang beda
185
Butuh Eva
186
Bantu aku
187
Akhirnya
188
Masih mau?
189
Ganti rugi
190
Membuat Eva menyerah
191
Kenapa bersikap aneh?
192
Kemarahan Eva
193
Memang benar dia
194
Pura-pura tersakiti
195
Saksi dan bukti rekaman
196
Tidak adil
197
Minta di manjakan
198
Memanjakan 1
199
Memanjakan 2
200
Tak berdaya
201
Pamitan
202
Kejadian di toilet
203
Hampir kehilangan kendali
204
Perjalanan pulang
205
Sampai
206
Aku juga ingin
207
Pelan-pelan
208
Belum selesai
209
Nyaman?
210
Keputusan bersama
211
Fakta
212
Membantu
213
Fakta dan ditangkap
214
Keputusan
215
Kembali
216
Melanjutkan yang mereka mulai
217
S2 Dari Salah Paham Menjadi Cinta
218
S2 DSPMC -Ep 1
219
S2 DSPMC -Ep 2
220
S2 DSPMC -ep 3
221
S2 DSPMC - Ep 4
222
S2 DSPMC - Ep 5
223
S2 DSPMC- Ep 6
224
S2 DSPMC - Ep 7
225
S2 DSPMC - Ep 8
226
S2 DSPMC - Ep 9
227
S2 DSPMC - EP 10
228
S2 DSPMC - Ep 11
229
S2 DSPMC- Ep 12
230
S2 DSPMC- Ep 13
231
S2 DSPMC -Ep 14
232
S2 DSPMC - Ep 15
233
S2 DSPMC - Ep 16
234
S2 DSPMC - Ep 17
235
S2 DSPMC - Ep 18
236
S2 DSPMC - Ep 19
237
S2 DSPMC - Ep 20
238
S2 DSPMC - Ep 21

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!