Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUANG KOSONG DI SISI HARUTO

Sejak hari di mana Kaito memberikan isyarat sampai jumpa di selasar kampus, keberadaannya seolah menguap begitu saja. Kaito tidak lagi terlihat menungguku di gerbang perkuliahan, tidak ada lagi bayangannya di bawah pohon maple, dan tidak ada lagi pesan singkat yang menanyakan apakah asmaku kumat. Jika tak sengaja berpapasan di lorong gedung, Kaito hanya menyunggingkan senyum tipis yang hangat, membungkuk sopan, lalu melangkah berlalu begitu cepat. Kaito benar-benar menepati janjinya untuk memberiku ruang. Namun, keheningan yang ia tinggalkan justru terasa begitu memekakkan telinga.

Di dalam kamar, aku kerap mematung di depan meja belajar. Mataku tertuju pada botol selai stroberi pemberian Kaito yang berdiri berjejer dengan tumpukan novel dari Haruto. Duniaku memang selalu sunyi tanpa suara, tetapi baru kali ini aku merasakan bentuk kesunyian yang amat dingin dan menyiksa—kesunyian tanpa hadirnya Kaito.

"Hana, lihat lukisan yang ini. Warna senjanya indah sekali, ya?"

Suara hangat Haruto membuyarkan lamunanku. Hari Minggu ini, Haruto memenuh janji untuk mengaitkan jemariku di sebuah pameran seni kecil di pusat kota. Tempat ini sangat tenang, dihiasi pendar lampu kekuningan dan deretan kanvas abstrak yang memanjakan mata. Aku tersenyum tipis, mengangguk pelan menyetujui ucapan Haruto. Haruto berdiri di sampingku, merangkul bahuku erat untuk melindungiku dari gesekan pengunjung lain yang melintas. Ia adalah sosok kekasih yang begitu sempurna sabar, penuh perhatian, dan tidak pernah lelah berusaha membuatku tersenyum. Sepanjang menyusuri galeri, Haruto tak henti-hentinya menceritakan sudut pandangnya tentang setiap lukisan, memastikan aku tidak merasa terabaikan sedikit pun.

Namun, saat mataku tertuju pada sebuah lukisan kanvas berukuran besar yang menggambarkan sudut jalanan kota di musim gugur, dadaku mendadak berdesir pilu. Lukisan itu menampilkan bayangan dua orang yang berjalan berdampingan di bawah pendar lampu jalan. Garis lukisannya sangat lembut, mengingatkanku pada gaya melukis yang sangat kukenal. kaito akan duduk melantai di dekat jendela kamarku, menunjukkan setiap detail garis lukisannya lewat jemari yang menari penuh ketelitian.

Kaito... sedang apa dia sekarang? Apakah dia sudah makan siang? Apakah tugas tugas nya sudah selesai?

Tanpa sadar, jemariku bergerak perlahan di udara, membentuk isyarat huruf nama Kaito secara refleks—sebuah kebiasaan yang tak sanggup kukendalikan saat merindukannya.

"Hana?" Haruto menoleh ke arahku, menyadari gerak jemariku yang terhenti di udara. "Kamu mau menyampaikan sesuatu tentang lukisan ini?"

Aku tersentak pelan. Cepat-cepat kubendung rasa sesak di dadaku, lalu mengambil ponsel dari dalam tas. Jemariku mengetik dengan sedikit canggung:

[Lukisan ini sangat indah. Pewarnaannya lembut sekali.]

Haruto membaca pesan di layar ponselku, lalu menyunggingkan senyuman paling manis. Ia mengusap puncak kelapaku dengan penuh kasih sayang. "Aku senang kalau kamu menyukainya. Nanti kalau ada pameran lagi, kita pergi berdua lagi, ya."

Aku mengangguk pelan, menyunggingkan senyum terbaik yang bisa kuberikan padanya. Aku berusaha setengah mati untuk hadir sepenuhnya di tempat ini bersama Haruto. Aku memeluk lengannya, berjalan mengelilingi sisa pameran, dan menikmati es krim cokelat yang ia belikan sesudahnya.

Menjelang sore hari, pameran seni itu pun selesai. Haruto mengantarku kembali ke stasiun kereta pusat kota untuk perjalanan pulang ke kompleks perumahan kami. Kereta sore itu melaju tenang membawa kami kembali. Di dalam gerbong yang agak senggang, Haruto menggenggam telapak tanganku yang terasa agak dingin, mengusap punggung tanganku menggunakan jempolnya untuk memberikan kehangatan. Aku bersandar pelan di bahunya, memperhatikan pendar cahaya senja yang memantul di kaca jendela kereta. Haruto merangkulku makin erat, menyandarkan dagunya di puncak kepalaku.

Tak lama kemudian, kereta yang kami tumpangi tiba di stasiun tujuan. Kami melangkah keluar menuju area peron stasiun. Karena arah jalur kereta rumah Haruto berbeda, di sinilah tempat biasa kami harus berpisah arah jalur pulang.

"Hana, kamu benar-benar tidak apa-apa jalan sendirian dari stasiun ini ke rumah?" tanya Haruto dengan raut wajah cemas, menatapku lekat-lekat di dekat pintu keluar peron. "Atau aku antar sampai depan gang rumahmu dulu, baru aku naik kereta sebaliknya?"

Aku tersenyum lembut, lalu menggerakkan jemariku memberi isyarat tangan sederhana yang sudah dipahami Haruto: [Tidak perlu. Dari stasiun ke rumah dekat kok. Kamu juga harus pulang, hari sudah mau malam.]

Aku lalu mengetik pesan di ponselku untuk memperjelas: [Terima kasih untuk hari ini ya, Haruto. Aku senang sekali.]

Haruto menatap layar ponselku, lalu menghembuskan napas pelan. Ia mengusap puncak kepalaku dengan lembut. "Baiklah. Kalau sudah sampai di rumah, langsung kirim pesan padaku, ya. Hati-hati di jalan, Hana."

Aku mengangguk, melambaikan tangan saat Haruto berbalik melangkah masuk kembali ke dalam area peron untuk menunggu keretanya sendiri. Aku sendiri lantas berbalik dan berjalan keluar menuju gerbang utama stasiun untuk menempuh sisa jalan pulang dengan berjalan kaki.

Suasana sore menjelang malam di sekitar jalan stasiun itu terasa tenang. Dedaunan kering berguguran tertiup angin senja. Namun, baru saja aku melangkah beberapa puluh meter dari area pelataran stasiun, langkahku mendadak terhenti.

Di bawah pendar lampu jalan yang baru saja menyala, sesosok tubuh tinggi berbalut sweter rajut abu-abu tengah berdiri sambil memegang kantong kertas belanjaan. Kacamata tipisnya memantulkan cahaya lampu kota.

Itu Kaito.

Kaito tampaknya baru saja kembali dari toko kebutuhan luar atau minimarket dekat stasiun. Saat matanya menangkap keberadaanku yang berjalan sendirian keluar dari area stasiun, langkahnya seketika membeku. Binar matanya bergetar tipis di balik kacamata, terkejut mendapati aku seorang diri tanpa Haruto di sisiku.

Aku pun mematung di tempat. Jantungku berdesir hebat—sebuah hantaman rasa rindu yang seketika membuncah di dada.

Kaito menguasai ekspresinya, lalu melangkah mendekat dengan tenang. Ia mengangkat tangannya, menyapa lewat bahasa isyarat yang sudah begitu melekat di hatiku:

[Hana? Baru pulang dari pameran bersama Haruto?]

Aku mengangguk pelan, mengangkat kedua tanganku membalas isyaratnya: [Iya. Baru saja turun dari kereta.]

Kaito memperhatikan penampilanku, lalu tanpa ragu ia melangkah maju selangkah. Ia merapikan syal di leherku yang agak longgar tertiup angin stasiun. Perhatian kecil yang begitu natural itu membuat dadaku terasa hangat sekaligus nyeri.

[Ayo jalan pulang bersama,] isyarat Kaito pelan, menawarkan diri untuk menemaniku menyusuri sisa jalan menuju kompleks rumah kami.

Kami berjalan berdampingan di bawah temaram lampu senja. Tidak ada suara, hanya ketukan sepatu di atas trotoar dan keheningan yang menenangkan. Kaito berjalan di sisi luar trotoar, melindungiku dari arah jalan raya seperti kebiasaannya sejak kecil. Di tengah langkah kaki itu, jemari kami sesekali bergerak saling bertukar cerita tentang hari yang telah kami lalui. Dan malam itu, di dalam dekap sunyi langkah bersama Kaito, aku tahu bahwa sejauh apa pun aku mencoba melangkah pergi, separuh hatiku akan selalu memilih untuk pulang ke sisi ini.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!