Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu

Tiga hari berlalu. HP Doni tetap sepi dari nomor asing yang dia tunggu-tunggu.

Pagi itu, di ruang tengah kos, Mamat lagi ngecek laporan koperasi di laptop, sementara Doni duduk di sampingnya, pura-pura fokus baca tapi sebenarnya pikirannya melayang ke mana-mana.

"Don, ini angka bulan kemarin udah gue rapiin. Tinggal lo ACC aja," kata Mamat, nyodorin laptop.

"Oh iya, bentar." Doni ngecek sekilas, langsung manggut-manggut tanpa bener-bener baca detail.

Mamat merhatiin, mengernyit. "Lo oke, Don? Dari kemarin kayak orang ilang fokus."

"Oke, Mat. Cuma lagi mikirin banyak hal."

"Mikirin apa? Cerita dong, siapa tau gue bisa bantu."

Doni ragu sebentar. "Belum bisa cerita sekarang, Mat. Nanti kalau udah waktunya, gue certain."

"Ya udah, terserah lo," Mamat ngangkat bahu, nggak maksa lebih jauh.

Sore itu, Sinta dateng ke kos, bawa dua bungkus gorengan buat cemilan sore.

"Ada kabar?" tanya Sinta, langsung to the point begitu duduk di teras.

"Belum, Sin. Tiga hari, masih sepi."

"Sabar, Don. Orang kayak dia butuh waktu buat mikir mateng-mateng."

"Iya sih. Tapi tiap HP bunyi, jantung gue langsung deg-degan. Ternyata cuma notifikasi promo ojol."

Sinta ketawa kecil. "Lucu juga bayanginnya."

"Nggak lucu, Sin. Capek."

"Maaf, maaf." Sinta nyubit gorengan, nyodorin ke Doni. "Nih, makan dulu. Biar nggak stres mikirin HP doang."

Doni ngambil gorengan itu, sedikit tersenyum. "Makasih, Sin."

"Herman gimana? Udah cerita?"

"Belum. Masih bingung mulai dari mana."

"Don," Sinta menatap serius, "lo nggak bisa terus-terusan nyimpen ini sendirian. Herman temen sekamar lo, dia pasti curiga makin parah kalau lo terus diem-diem gini."

"Gue tau, Sin. Tapi ini bukan cuma soal gue. Ada rahasia kakek juga di dalamnya."

"Ya kasih tau bagian yang bisa lo kasih tau aja. Nggak usah detail semuanya."

Doni mikir sebentar, ngangguk pelan. "Oke. Nanti malam gue coba."

Malam itu, Herman lagi rebahan main HP waktu Doni masuk kamar, wajahnya serius.

"Man, gue mau cerita sesuatu."

Herman langsung duduk, ngeliat ekspresi Doni. "Serius amat mukanya. Lo kena masalah apaan?"

"Bukan masalah, Man. Tapi ini penting, dan gue udah kelamaan nutup-nutupin dari lo."

"Oke, gue dengerin."

Doni duduk di kasurnya, natap Herman lama sebelum akhirnya mulai. "Man, inget waktu lo bilang gue suka ngomong sendiri jam-jam aneh?"

"Inget. Kenapa emang?"

"Itu bukan gue lagi mikir doang, Man. Ada... suara. Notifikasi, semacam sistem, yang muncul di kepala gue tiap minggu. Ngasih info-info yang selalu bener soal peluang, bisnis, apa aja."

Herman diam, natap Doni lama, kayak lagi nyerna kalimat itu. "Lo serius, Don?"

"Serius, Man. Dari situ semua mulai jaket vintage, saham, turntable nenek Sinta, sampai koperasi."

"Anjir." Herman garuk kepala, masih setengah nggak percaya. "Kenapa nggak cerita dari dulu?"

"Takut, Man. Takut lo mikir gue gila."

"Ya emang kedengerannya gila sih, Don. Tapi..." Herman mikir sebentar, "...gue juga inget, lo emang selalu keliatan aneh tiap abis dapet 'firasat' itu. Sekarang masuk akal."

Doni ketawa kecil, lega. "Makasih udah nggak langsung ngejauhin gue, Man."

"Ya kali gue ngejauhin temen sekamar sendiri. Lagian lo kan traktir gue mulu, sayang banget kalau diputus," Herman ketawa, mencoba mencairkan suasana.

"Ada lagi, Man. Ini yang lebih berat."

"Apa lagi?"

"Soal kakek gue. Dari pihak Ibu."

Doni cerita pelan-pelan soal marga Wijaya, soal penolakan dulu, sampai pertemuan minggu lalu di perkebunan. Herman dengerin sambil sesekali manggut-manggut, matanya makin lama makin lebar.

"Jadi lo punya kakek konglomerat kebun, dan sekarang lagi nunggu dia telepon?"

"Gitulah, Man."

"Anjir, hidup lo drama banget, Don. Sinetron kalah."

"Diem lo," Doni ketawa, ngelempar bantal ke arah Herman.

Herman nangkis bantal itu, ketawa juga. "Serius, Don. Gue seneng lo akhirnya cerita. Kalau butuh apa-apa, gue di sini."

"Makasih, Man."

Jam sebelas malam, waktu Doni udah hampir tidur, HP-nya bergetar. Nomor tidak dikenal.

Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia duduk tegak, menatap layar lama sebelum akhirnya menjawab.

"Halo?"

Hening sebentar di seberang, cuma suara napas pelan.

"Ini... Doni?" Suara itu berat, familiar.

"Iya, Pak. Ini saya."

"Ini Wijaya." saut pak Wijaya di sebrang telepon

Doni menahan napas. Herman, yang masih di kasur sebelah, langsung diam, ikut merhatiin meski cuma bisa denger satu sisi percakapan.

"Kek..."

"Saya sudah pikirkan," potong Pak Wijaya, suaranya lebih pelan dari yang Doni inget.

"Saya siap ketemu Ibu kamu."

Doni ngerasa dadanya sesak, campuran antara lega dan gugup luar biasa. "K-kapan, kek?"

"Secepatnya. Tapi saya nggak mau ketemu tiba-tiba, bikin dia kaget. Kamu yang atur, gimana caranya paling baik."

"Siap, kek. Saya... saya pikirkan dulu caranya."

"Satu lagi." Ada jeda sebentar. "Terima kasih, Nak. Udah berani dateng waktu itu."

Telepon ditutup. Doni duduk mematung, HP masih nempel di telinga meski panggilan udah selesai.

"Don? Lo oke?" tanya Herman, khawatir.

Doni menoleh, matanya berkaca-kaca tapi ada senyum lebar di wajahnya. "Dia mau ketemu Ibu gue, Man."

"SERIUS?!" Herman langsung bangun, hampir jatuh dari kasur saking kagetnya.

"Serius, Man. Gue harus mikir cara ngatur ini semua."

"Wih, gimana caranya nanti? Lo mau bilang ke Ibu lo langsung?"

"Belum tau, Man. Gue harus mikir baik-baik. Ini nggak boleh salah langkah."

Doni rebahan lagi, natap langit-langit kamar, pikirannya udah penuh sama rencana gimana caranya nyampein kabar ini ke ibunya tanpa bikin dia syok atau malah trauma sama masa lalu yang udah lama dia coba lupakan.

"Besok gue telepon Sinta," gumamnya pelan. "Gue butuh bantuan mikir ini."

Herman ngangguk, meski matanya masih keliatan excited. "Gue juga bantu mikir kalau perlu, Don. Ini kayak nonton drama Korea beneran."

Doni ketawa kecil, meski di dalam hati dia tau, babak berikutnya bakal jadi salah satu momen paling menegangkan dalam hidupnya.

1
RR
sorry bgt baru bisa update satu bab, karna badan masih belom fit. besok kita gass langsung 3 bab yakk 🔥🔥
RR
sorry banget gaiss update nya malem terus beberapa hari ini, karna lagi kurang fit🙏
RR
siapp suhu, btw saya gaada copas karya orang lain 😁
Gege
padahal setelah 3 hari lebih tapi masih harus 6 harian nunggunya.. otornya kalo copas lupa edit detail
RR
FOR PEMBACA

Jika kalian ada request nama kalian mau saya jadikan salah satu karakter tinggalin aja yaa di kolom komentar, jangan lupa follow dan support terimakasih all buat yg udah stay 😁🙏
rey
kerenn njirrr si Doni😍
Wk Annuar
satu perjalanan yang memperispirasikan buat teladan pemuda
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!