Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pagi itu rumah sakit kembali dipenuhi kesibukan. Azmira baru saja keluar dari ruang poli ketika Tania menghampirinya sambil membawa dua gelas kopi.
"Mira."
Azmira menoleh. "Apa?"
Tania menyodorkan salah satu gelas kepadanya. "Ini."
Azmira menerimanya dengan bingung. "Untuk apa?"
"Teman kerja yang baik hati."
Azmira mencium aroma kopi itu. "Kamu habis menang lotre?"
Tania tertawa. "Kenapa?"
"Biasanya kamu kalau punya makanan atau minuman tidak pernah ingat aku."
"Ya ampun. Sekali-kalinya aku baik malah dicurigai."
Azmira terkekeh kecil. Mereka kemudian berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
Tania masih sesekali melirik ke arah Azmira dengan senyum jahil yang belum juga hilang dari wajahnya.
"Ngomong-ngomong..." Tania melirik Azmira dari samping.
"Apa?"
"Pak William."
Azmira langsung mendengus.
"Kenapa lagi dia?"
Tania menahan senyum. "Kenapa setiap aku menyebut namanya wajahmu langsung berubah?"
"Karena kamu selalu membicarakan dia."
"Karena menarik."
Azmira menatapnya. "Menarik apanya?"
"Dia."
Tania menunjuk gelas kopi di tangan Azmira.
"Dan sepertinya dia juga mulai memperhatikanmu."
Azmira hampir tersedak. "Jangan sembarangan bicara."
"Aku cuma bilang sepertinya."
"Jangan membuat gosip."
Tania mengangkat kedua tangannya. "Iya, Dokter."
Azmira menggeleng. "Dasar."
Mereka baru saja sampai di depan ruang rapat kecil ketika seseorang keluar dari dalam. William. Pria itu membawa beberapa dokumen. Begitu melihat Azmira, langkahnya berhenti.
"Dokter."
Azmira mengangguk. "Pak William."
William melihat jam tangannya. "Anda sudah selesai pemeriksaan?"
"Sudah."
"Bagus. Saya sedang mencari Anda."
Azmira mengerutkan kening. "Saya?"
William mengangguk. "Kita perlu membahas jadwal pemeriksaan tahap kedua untuk Mahardika Group."
Azmira menghela napas. "Kenapa tidak dibicarakan nanti saja?"
"Karena jadwalnya berubah."
Azmira langsung serius. "Berubah bagaimana?"
William menyerahkan dokumen kepadanya. "Jumlah karyawan yang akan diperiksa bertambah."
Azmira membaca dokumen tersebut dengan cukup serius. "Dua ratus lima puluh?"
"Ya."
"Padahal sebelumnya hanya dua ratus."
William mengangguk. "Karena beberapa cabang ikut dalam program ini."
Azmira menghela napas. "Kalau begitu timnya juga harus ditambah."
"Saya sudah memikirkannya."
William menunjukkan daftar nama yang sudah disiapkan. Azmira membacanya lagi dengan teliti.
"Ini cukup."
William tersenyum tipis. "Berarti kita sepakat?"
"Untuk pekerjaan, iya."
William tertawa kecil. "Kenapa Anda selalu menambahkan kalimat itu?"
Azmira mengangkat wajah.b"Supaya Anda tidak salah paham."
William menatapnya beberapa detik. "Saya tidak pernah salah paham."
"Bagus."
Azmira mengembalikan dokumen itu. "Kalau begitu saya kembali bekerja."
William mengangguk. "Baik."
Azmira berjalan pergi. Tania yang sejak tadi berdiri di belakang hanya menahan senyum. Ia tahu jika temannya itu tidak suka dengan momen ini namun bagi dirinya ini justru begitu menyenangkan.
Sementara William menoleh kepadanya. "Apa?"
Tania langsung menggeleng. "Tidak ada, jangan sensi gitu dong Pak Bos."
William menyipitkan mata. "Kalau tidak ada, kenapa tersenyum?"
Tania tersenyum semakin lebar. "Saya cuma merasa Dokter Azmira memang berbeda."
William terdiam. "Berbeda bagaimana?"
"Entahlah."
Tania kemudian berjalan meninggalkannya. "Silakan dipikirkan sendiri."
William hanya bisa menggeleng. Namun tanpa sadar, pandangannya kembali tertuju kepada punggung Azmira yang semakin jauh.
Entah sejak kapan, perempuan itu memang mulai menarik perhatiannya. Bukan karena kecantikan paras Azmira tapi karena Azmira memang tidak pernah memperlakukannya seperti anak pemilik rumah sakit.
Di hadapan perempuan itu, William hanyalah William. Dan anehnya... Ia menyukai hal tersebut.
☘️☘️☘️☘️
Sementara itu, di tempat lain... Sebuah ruangan besar di lantai paling atas Wiratama Group terlihat jauh lebih tenang dibandingkan rumah sakit.
Dika duduk di balik meja kerjanya. Beberapa dokumen tersusun rapi di hadapannya. Tangannya hendak mengambil sebuah berkas ketika tiba-tiba dadanya terasa tidak nyaman.
Dika berhenti. Tangannya berpindah ke dada.
"Ah..."
Ia menarik napas panjang. Rasa tidak nyaman itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum perlahan menghilang.
Dika mengerutkan kening. "Kenapa akhir-akhir ini..."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, pintu ruangan diketuk. "Masuk."
Seorang asistennya masuk membawa beberapa dokumen. "Pak, ini laporan dari cabang."
Dika mengangguk. "Taruh di meja."
Asisten itu meletakkan dokumen kemudian hendak keluar. Namun sebelum pintu tertutup, Dika memanggilnya.
"Tunggu."
"Ya, Pak?"
"Hubungi dokter perusahaan."
Asisten itu terdiam. "Bapak merasa kurang sehat?"
Dika menggeleng. "Tidak perlu dibesar-besarkan."
Ia mengambil berkas di atas meja. "Saya hanya ingin melakukan pemeriksaan."
"Baik, Pak."
Asisten itu mengangguk lalu keluar. Dika kembali bersandar di kursinya. Tatapannya kosong beberapa saat. Akhir-akhir ini tubuhnya memang lebih cepat lelah tapi ia tidak pernah terlalu memedulikannya.
Pekerjaan jauh lebih penting. Keluarga juga. Terutama Miranda dan Shiren. Dika memejamkan mata sebentar.
Ia tidak tahu bahwa pemeriksaan sederhana yang akan dilakukannya beberapa hari lagi akan membuka jalan menuju sebuah pertemuan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Pertemuan dengan seseorang dari masa lalu. Seseorang yang selama dua puluh lima tahun tidak pernah ia cari yaitu Azmira Shafitri.
☘️☘️☘️☘️
Sore hari, Azmira baru saja selesai mengganti pakaiannya ketika ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat senyumnya mengembang.
Kak Shasa.
Azmira segera mengangkat telepon. "Halo, Kak."
"Mira, sudah selesai kerja?"
"Sudah. Baru saja."
Shasa terdengar lebih ceria dibandingkan kemarin. "Kakak sudah sehat?"
"Sudah dong. Gara-gara ada dokter pribadi yang datang tanpa dipanggil."
Azmira terkekeh. "Dokter pribadi apanya? Kemarin Kakak cuma pusing."
"Justru itu."
Shasa tertawa kecil. "Makanya Kakak mau ketemu kamu."
"Ketemu?"
"Iya."
Azmira mengernyit. "Kenapa?"
"Aku mau traktir kamu makan."
Azmira langsung tertawa. "Lagi?"
"Iya."
"Kenapa?"
Shasa terdiam sebentar sebelum menjawab dengan nada lembut. "Karena kemarin kamu sudah menyempatkan datang ketika Kakak sakit. Padahal kamu sedang bekerja."
Azmira tersenyum kecil. "Namanya juga Kakak."
"Tetap saja. Kakak mau berterima kasih."
"Enggak perlu."
"Harus."
Azmira menghela napas.
"Kakak memang keras kepala."
"Belajar dari kamu."
Azmira tertawa. "Besok malam kamu kosong?"
Azmira berpikir sebentar. "Sepertinya kosong."
"Bagus. Jangan membuat alasan."
"Iya, Kak."
"Janji?"
"Janji."
"Kalau begitu besok Kakak jemput."
Azmira tersenyum bangga entah kenapa bersama Shasa ia seperti menemukan kakak perempuan.
"Baik."
Telepon berakhir. Azmira memasukkan ponselnya ke dalam tas. Entah kenapa, setelah berbicara dengan Shasa, hatinya selalu terasa lebih ringan.
Ia tidak tahu... di tempat lain, seorang lelaki sedang memulai pemeriksaan kesehatan yang kelak akan membawa dirinya tepat ke hadapan putri yang selama ini ia tinggalkan.
Dan ketika hari itu tiba...
Azmira mungkin akan melihat seorang pasien.
Tetapi Dika...
akan berhadapan dengan darah dagingnya sendiri.
Bersambung...
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡