Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Beberapa hari kemudian, Keira berniat mengajak salah satu keluarganya untuk menonton pertandingan taekwondonya, dan orang yang pertama kali ia lihat hari itu adalah sang ibu.
Dengan ragu-ragu ia perlahan mendekati perempuan itu.
“Ibu… bolehkah Ibu datang menyaksikan pertandingan taekwondoku?” Pinta Keira dengan penuh harap. Ia memang telah mendalami taekwondo selama beberapa minggu terakhir, dan kini tiba saatnya ia bertanding. Ia berharap setidaknya salah satu anggota keluarganya hadir menyaksikannya bertanding.
“Tidak bisa.” Jawab Gina singkat dan dingin.
“Ibu… kumohon. Hanya Ibu yang bisa kuharapkan hadir. Ayah tak sudi datang, Kakak pun tak memedulikanku.”
“Ada urusan yang harus kuselesaikan bersama pelayan di rumah.”
“Meski Ibu datang terlambat pun tak apa.. yang penting Ibu datang menyaksikan aku berdiri di atas panggung itu. Aku ingin membanggakan Ibu dengan membawa pulang medali, Bu.” Keira memohon lagi, suaranya masih terdengar penuh harap.
“Kau kira aku akan merasa bangga?” Ucap Gina dengan nada yang sedingin es.
“Apa maksud Ibu…?” Tanya Keira tak yakin, hatinya seketika terasa perih.
“Belum cukup jelas makna perkataanku? Haruskah kujelaskan pula kepadamu?” Kata Gina kembali dengan nada yang tak kalah tajam.
“Aku tak akan merasa bangga atas medali apa pun yang kau bawa pulang. Tak peduli apakah itu hasil kerja kerasmu atau bukan. Bagiku, hal yang sungguh membanggakan adalah anak-anakku yang lain.” Lanjut Gina, lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Keira sendirian.
“Lalu.. bagaimanakah menurut Ibu siapa aku ini? Bukankah aku pun lahir dari rahim Ibu sendiri?”
“Kau memang lahir dari rahimmu, namun bukan berarti aku menganggapmu sebagai anakku. Sebab anak yang kusayangi dan kuanggapku hanya ada tiga orang.”
Hal yang paling menyakitkan bukanlah saat kau berusaha bangkit dari rasa sakit yang kau alami sendiri. Melainkan saat kata-kata dari orang yang paling kau cintai justru menjadi tembok tebal yang menghalangi langkahmu untuk bangkit kembali.
Kini Keira berdiri menghadapi lawan di hadapannya. Dengan tekad yang membara, ia berjanji pada dirinya sendiri, apa pun yang terjadi, ia akan berjuang hingga menang.
Meski tak seorang pun dari keluarganya hadir mendukungnya.
Keira menahan setiap rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya setiap kali tendangan lawan mendarat di tubuhnya. Biasanya ia mampu membalas dengan pukulan dan tendangan yang setimpal, namun hari ini terasa lain. Sejak tadi pikirannya tak mampu berkonsentrasi sepenuhnya.
Pikirannya terus terbayang perkataan tajam yang baru saja diucapkan Ibunya kepadanya.
Hatinya masih tak sanggup menerima kenyataan bahwa Ibu kandungnya sendiri pernah melontarkan kata-kata yang begitu menyakitkan kepadanya.
'Sebenarnya kesalahanku di mana? Aku tak pernah meminta apa pun kepada mereka. Lantas mengapa mereka begitu membenciku?'
Hingga kini pun Keira masih tak paham, apa sesungguhnya kesalahan yang telah ia perbuat.
Meski pulang dengan tubuh yang penuh luka dan rasa sakit yang tak terlukiskan, Keira berhasil membawa pulang medali kemenangan.
Namun rasanya tetap berbeda.. kemenangan ini terasa hampa ketika tak ada seorang pun keluarganya yang hadir untuknya.
“Dari mana saja kau?” Tegur Ayahnya, Bara, melihat putrinya pulang dalam keadaan wajah lebam dan penuh luka.
“Aku baru saja selesai bertanding, Ayah. Dan aku berhasil memenangkannya.. aku membawa pulang medali.” Ucap Keira penuh sukacita, berharap Ayahnya akan ikut merasa bangga.
Namun yang menyusul justru suara tamparan yang terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu.
“Yang kutanyakan adalah ke mana saja kau pergi, bukan medali apa yang kau bawa! Apa gunanya medali itu jika kini kau pulang dalam keadaan seperti ini? Sudah larut malam, ke mana saja kau pergi dan berani-beraninya keluar rumah pada jam seperti ini?” Bentak Bara dengan amarah yang meluap-luap.
“Akibat perbuatanmu, Keyna kini jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit!” Tambah Bara sekali lagi dengan nada yang tak kalah tajam.
“Keyna jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit?” Tanya Keira memastikan. Ia sama sekali tak memedulikan rasa perih di pipinya yang baru saja ditampar, hatinya justru terasa jauh lebih sakit mendengar ucapan Ayahnya.
“Benar! Dan itu semua terjadi karena ulahmu! Seandainya kau tak pergi dan menjaga Keyna dengan baik, ia pasti tak akan jatuh sakit dan kini sedang terbaring di rumah sakit!”
Setelah melontarkan kata-kata itu, Bara beranjak pergi meninggalkan Keira untuk memeriksa keadaan putri kesayangannya yang terbaring lemah di rumah sakit.
Begitu mendengar kabar bahwa saudara kembarnya jatuh sakit dan harus dirawat, Keira sama sekali tak memedulikan rasa sakit yang mendera tubuhnya sendiri. Dengan segera ia pun bergegas menuju rumah sakit tempat Keyna dirawat tak lama kemudian.
Sesampainya di sana, Keira melihat seluruh keluarganya berkumpul di ruangan itu.
Tanpa memedulikan tatapan penuh amarah yang dilontarkan kepadanya, Keira melangkah mendekat ke arah tempat tidur tempat Keyna berbaring.
“Bagaimana keadaanmu, Keyna?” Tanyanya dengan tulus, terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya.
Keyna tampak tersentak mendengar suara itu.
“Berani sekali kau datang ke sini setelah semua yang telah kau lakukan hingga membuatku jatuh sakit seperti ini!” Ucap Kakak perempuannya, Segar.
“Mengapa Kakak justru menyalahkanku? Bukankah Kakak sendiri yang pergi meninggalkan rumah hari itu? Mengapa kini semua kesalahan justru jatuh kepadaku? Aku mengakui aku memang sempat meninggalkan Keyna sendirian sesaat.. namun apakah itu benar-benar kesalahanku hingga semua ini terjadi?” Keira akhirnya tak mampu lagi menahan amarah yang selama ini ia pendam, dan tanpa sadar ia pun membentak Kakak perempuannya sendiri.
“Keira!!!” Suara itu terdengar nyaring, seketika membungkam mulut Keira yang baru saja membentak kakaknya.
Arya melangkah mendekat lalu menampar adiknya dengan sekuat tenaga, tanpa sedikit pun memedulikan rasa sakit yang kini tergambar jelas di wajah adiknya.
“Berani-beraninya kau kini membentak Kakakmu sendiri? Siapa yang mengajarimu berbicara kasar kepada perempuan, Keira?” Amarah Arya tak lagi mampu ia tahan.
“Maaf..” Hanya satu kata itu yang mampu terucap dari bibir Keira. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia tak sepatutnya berbicara dengan nada tinggi kepada kakak perempuannya. Meski hatinya terluka, ia tetaplah seorang laki-laki yang seharusnya tak bersikap kasar kepada perempuan mana pun.
“Tetapi..” Saat Keira berusaha membela diri, perkataannya pun dipotong oleh suara Ayahnya yang terdengar tegas.
“Sudah, Arya. Lepaskan dia. Jangan membuat keributan di rumah sakit. Keyna masih lemah dan terganggu oleh suara-suara keras kalian.” Kata Bara menenangkan suasana.