Indonesia
NovelToon NovelToon
Cici, Aku Suamimu

Cici, Aku Suamimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?

Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.

Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.

"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"

Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.

Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—

Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 Kau yang Pilih

"Jadi, tadi kalian bicara apa?"

Pertanyaan Keira muncul lagi setelah mobil bergerak meninggalkan halaman rumah Sutanto.

Nathan merapikan sabuk pengamannya. Di layar ponsel yang terkunci, bayangan wajahnya tampak terlalu tenang untuk seseorang yang menyimpan rahasia sebesar itu.

"Ko Fabian cemburu," jawabnya.

Keira menatap lurus ke jalan. "Aku sudah tahu bagian itu."

"Dia bilang kita tidak cocok. Aku bilang pendapatmu lebih penting."

"Lalu?"

"Aku menyombongkan diri karena kamu memanggilku Sayang."

Keira menoleh cepat. "Kamu bilang itu kepadanya?"

"Fakta yang sangat relevan."

"Nathan."

"Baik, mungkin sedikit tidak relevan."

Keira mengembuskan napas, tetapi ujung telinganya memerah. Ia tidak bertanya lagi. Nathan justru merasa lebih bersalah karena kebohongannya hanya terdiri dari hal-hal yang benar.

Jauh sebelum pernikahan, ia pernah mengikuti jejak sebuah akun publik lama sampai menemukan alamat IP milik Fenny. Dari sana muncul arsip sekolah, foto keluarga, dan nama Yovita. Semua diperoleh dari ruang publik atau basis data legal yang bisa dibeli. Ia tidak pernah masuk ke perangkat Keira, tetapi garis yang disentuhnya tetap terlalu dekat dengan hidup pribadi perempuan itu.

Ia memutuskan menunggu. Herman dan Mariana pantas mendapat kesempatan untuk bicara lebih dulu. Setelah itu, jika mereka tetap diam, Nathan akan memberi Keira semua yang ia tahu.

Mobil berhenti di depan bank swasta di Menteng. Notaris yang menangani akta hibah sudah menunggu. Selama hampir satu jam, Keira memeriksa rekening penampung, deposito berjangka, pajak, dan kepemilikan aset satu per satu.

Ketika mereka kembali ke mobil, ia menyandarkan kepala ke kursi.

"Pagi tadi aku masih pegawai yang mengejar revisi rambut karakter," katanya. "Sekarang aku punya aset sembilan puluh miliar."

"Kamu tetap orang yang sama."

"Orang yang sama sekarang harus belajar pajak lebih serius."

"Aku bisa minta tim keluarga membantu."

"Boleh memberi rekomendasi. Keputusan tetap aku yang ambil."

"Tentu."

Keira menatap map di pangkuannya. "Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?"

Nathan tidak langsung menjawab. "Sebagian deposito, sebagian obligasi pemerintah, sisanya jangan disentuh sebelum kamu tahu tujuanmu. Jangan masuk ke bisnis hanya karena kenal pemiliknya. Jangan tanda tangan sesuatu yang tidak bisa kamu jelaskan sendiri."

"Itu nasihat yang sangat membosankan."

"Nasihat keuangan yang menarik biasanya mahal."

Keira mengangguk kecil. "Baik. Aku pilih yang membosankan."

Nathan lalu membuat tiga catatan sederhana di ponsel Keira, semuanya tanpa menyentuh akun atau kata sandi. Catatan pertama berisi jadwal jatuh tempo deposito. Catatan kedua berisi daftar pertanyaan untuk penasihat pajak independen. Catatan ketiga hanya bertuliskan, Jangan membeli perusahaan karena sedang kesal.

"Siapa yang membeli perusahaan saat kesal?" tanya Keira.

"Papa pernah membeli pemasok hanya karena direkturnya membuat Mama menunggu di lobi."

"Itu tidak normal."

"Karena itu aku memberi peringatan sejak awal."

Keira menambahkan satu baris di bawahnya, Jangan membeli perusahaan untuk membalas orang yang membuat pasangan kesal.

Nathan membaca kalimat itu dan memasukkan kembali ponselnya ke telapak Keira. "Aturan kedua terlalu spesifik. Aku tidak bisa menyetujuinya tanpa rapat direksi."

"Direksinya siapa?"

"Aku dan suamimu."

"Orangnya sama."

"Maka voting akan sangat efisien."

Di ujung jalan dekat gerbang lingkungan, seorang laki-laki berkaus polo sedang berbicara dengan petugas keamanan. Nathan mengenalinya lebih dulu.

"Ko Adrian."

Adrian menoleh, lalu mendekat setelah mobil berhenti. Kacamata berbingkai emasnya memantulkan cahaya sore.

"Kalian baru dari rumah keluarga?"

"Ya," jawab Keira. "Koko sedang apa di sini?"

"Mengurus renovasi rumah nomor delapan. Cindy memaksa makan malam kecil Sabtu depan. Dimas juga datang. Kalian belum menjawab undangannya."

Nathan pura-pura memeriksa kalender. "Kalau ada makanan, kami datang."

"Aku yang harus menjawab," kata Keira.

"Kalau ada makanan yang kamu suka, kita datang."

Adrian tertawa. "Baik. Sabtu depan, kompleks Nirwana. Aku kirim lokasinya."

Sebelum berpisah, ia melirik Ferrari merah yang diparkir beberapa meter di belakang mobil mereka, dibawa sopir dari Verde sesuai permintaan Nathan.

"Mau mencoba?" tanya Nathan kepada Keira.

Keira mengikuti tatapannya. "Sekarang?"

"Kau yang pilih mobil, jalan, dan kecepatan. Aku duduk manis."

Lima menit kemudian, Nathan duduk di kursi penumpang Ferrari dengan sabuk terpasang ketat. Keira mengatur posisi kursi, memeriksa spion, lalu menyalakan mesin.

"Jangan berteriak," katanya.

"Aku percaya padamu."

Mobil bergerak mulus keluar dari kawasan Menteng. Keira tidak mengebut. Ia menikmati respons kemudi, mengikuti batas kecepatan, dan mengabaikan tatapan orang di lampu merah.

Belum dua puluh menit, petugas polisi lalu lintas memberi isyarat agar mereka menepi untuk pemeriksaan rutin.

Nathan menurunkan kaca. Keira menyerahkan SIM dan dokumen kendaraan tanpa protes.

"Dari acara keluarga?" tanya petugas setelah memeriksa mereka.

"Ya, Pak," jawab Keira.

"Ada minum alkohol?"

"Suami saya hanya mencicipi saat makan siang. Saya tidak minum."

Tes singkat menunjukkan nol. Dokumen pun lengkap. Petugas mengembalikannya dan mempersilakan mereka melanjutkan.

Begitu kaca naik, Nathan bersandar dengan wajah puas.

"Apa?" tanya Keira.

"Kamu bilang suami saya."

"Memang harus bilang apa? Penumpang yang banyak bicara?"

"Itu juga akurat."

Tujuan berikutnya adalah butik pengantin di Kemang. Staf membawa Keira ke ruang ukur, sementara Nathan diminta menunggu di area depan.

"Tidak boleh mengintip," kata Keira sebelum tirai tertutup.

"Aku ahli sistem keamanan. Larangan seperti itu terdengar seperti tantangan."

"Kalau mengintip, aku pulang sendiri."

Nathan langsung membelakangi ruang ganti. "Aku bahkan tidak tahu ada ruang ganti di belakangku."

Perancang busana memeriksa ulang ukuran Keira dan menunjukkan sketsa terakhir. Gaun utama disimpan sebagai kejutan, tetapi Keira masih harus memilih bahan kerudung pendek dan sepatu.

Ketika staf bertanya tentang lokasi resepsi, Nathan menjawab dari sofa, "Kami mendapat tempatnya dari undian."

Keira menyingkap tirai sedikit. "Undian?"

"Supaya mereka tidak tahu aku menyewa resort."

Perancang itu menahan tawa. "Pak, nama Halim di formulir sudah cukup jelas."

Nathan terdiam dua detik. "Kalau begitu, abaikan bagian undian."

Keira memilih sepatu dengan hak paling aman dan kain yang tidak membuat bahunya gatal. Setiap keputusan kecil terasa lebih ringan setelah pagi yang penuh angka dan tatapan tersimpan.

Dalam perjalanan pulang, ia menyandarkan map akta hibah di antara mereka.

"Semua orang memberi terlalu banyak," katanya. "Mama memberiku aset. Keluargamu menyiapkan pesta. Kamu bahkan memberiku kartu tanpa batas."

Nathan menatap cincin ular di jarinya. "Kamu tidak berutang balasan kepada siapa pun."

"Termasuk kepadamu?"

"Termasuk aku."

"Kalau aku mau memberi sesuatu?"

Nathan menoleh. "Pilih sendiri."

Keira menyentuh punggung tangannya. "Baik. Aku yang pilih."

Nathan menggenggam jemarinya, sementara rahasia tentang Fenny tetap tinggal di belakang giginya.

Untuk sekarang, bahkan waktu untuk mengetahui kebenaran itu harus menjadi pilihan Keira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!