Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Suamiku Nyanyi di Panggung Lounge
"Maaf," kataku sambil berdiri di sisi Kevin. "Dia nggak sendirian."
Perempuan yang memegang lengannya menatapku dari kepala sampai kaki. "Pacarnya?"
Kevin justru terlihat senang melihatku. "Ci, akhirnya balik juga."
"Balik dari mana? Aku cuma duduk di sana."
Dia menurunkan ransel, membuka resleting, lalu mengeluarkan map plastik yang sudah kulihat sejak siang. Akta perkawinan kami muncul di antara botol minum dan sekantong permen.
"Bukan pacar," katanya kepada perempuan itu. "Istri. Baru sah hari ini."
Aku hampir menutup wajah. Siapa yang membawa akta perkawinan ke lounge?
Perempuan itu membaca nama kami, melepaskan tangan dari lengan Kevin, lalu mengangkat mocktail-nya. "Selamat, ya. Gue salah sasaran."
"Nggak apa-apa," jawab Kevin ringan. "Aku memang kelihatan masih tersedia."
Aku mencubit pinggangnya setelah perempuan itu pergi. "Bangga banget digoda?"
"Bangga Cici datang menjemput."
Sebelum aku bisa membalas, lampu panggung berubah terang. Ko Alex berdiri di depan mikrofon sambil mengangkat gelas.
"Perhatian! Malam ini Nona Vanessa dan Tuan Kevin merayakan pernikahan mereka. Semua minuman diskon lima puluh persen sampai tengah malam!"
Tepuk tangan dan siulan pecah. Michelle berteriak paling keras. Aku menatap Ko Alex dengan ancaman, tetapi pemilik lounge itu malah memanggil Kevin naik ke panggung.
Kevin menyelipkan akta kembali ke ransel, lalu mengeluarkan sekantong permen.
"Jangan dilempar ke muka orang," peringatanku.
"Ini permen nikah, Ci. Aku sudah beli dari sore."
Dia membagikannya ke meja-meja seperti anak sekolah merayakan ulang tahun. Saat akhirnya naik ke panggung dengan gitar Ko Alex, wajahnya tidak lagi terlihat seperti mahasiswa tersesat. Jemarinya memeriksa senar dengan tenang, lampu keemasan jatuh di rambutnya, dan seluruh lounge perlahan diam.
"Lagu ini aku tulis sendiri," katanya. "Belum dirilis. Jadi kalau nanti terkenal, kalian saksi pertama bahwa lagu ini buat istri aku."
Dia mulai bernyanyi.
Suaranya hangat, sedikit serak di nada rendah. Lagunya bercerita tentang seorang anak yang mengenali jalan pulang meski rumahnya telah berubah. Tidak ada nama di dalamnya, tetapi setiap kali Kevin mengangkat pandangannya, matanya berhenti tepat padaku.
Michelle menyenggol lenganku. "Kalau ini modus, modalnya mahal juga."
"Katanya dapat royalti."
"Dari lagu begini? Bisa jadi beneran banyak."
Aku tidak menjawab. Dadaku terlalu penuh oleh cara Kevin menyanyikan bagian terakhir dengan senyum kecil, seolah dia sudah menunggu bertahun-tahun untuk sampai pada malam ini.
Begitu lagu selesai, tepuk tangan meledak. Kevin membungkuk, lalu menunjukku tanpa rasa malu.
"Cewek cantik itu istriku! Gue beruntung banget!"
Pipiku panas. Aku yang biasanya tahan menghadapi rapat direksi mendadak ingin bersembunyi di bawah meja.
"Nikah di tempat murahan begini ternyata cukup meriah juga."
Suara itu memotong kegembiraan seperti pecahan kaca.
Rendi berdiri dekat bar. Jas mahal, arloji mengilap, dan senyum yang selalu dia pakai saat ingin membuat orang lain merasa kecil. Tidak ada yang mengundangnya.
"Gue lihat unggahan Michelle," katanya. "Penasaran aja. Setelah tujuh tahun sama gue, ternyata standar lo turun jauh."
Aku baru hendak menjawab ketika Kevin turun dari panggung. Dia berdiri di depanku, satu kepala lebih tinggi dari Rendi. Senyum anak anjingnya lenyap.
"Lo mantannya?"
Rendi mengangkat dagu. "Dan lo suami dadakannya?"
"Betul. Sekarang bilang selamat, minum kalau diundang pemilik tempat, lalu pulang."
"Anak kecil jangan sok mengatur. Vanessa itu gampang bosan. Nanti kalau sadar nikah sama pengamen bar, dia juga bakal menyesal."
Kevin tidak menaikkan suara. Justru itu yang membuat udara terasa dingin.
"Lo datang ke perayaan orang yang bukan teman lo, menghina istri gue, lalu berharap tetap dilayani. Ko Alex, aturan tempat ini apa?"
Ko Alex memberi isyarat kepada petugas keamanan. "Tamu yang ganggu kenyamanan keluar."
Michelle sudah membuka ponselnya. "Oh, tunggu. Sebelum keluar, gue mau ucapin selamat juga. Undangan nikah lo lucu banget, Ren. Hotel bintang lima, tunangan anak sultan, lengkap dengan foto cincin. Pantas perlu keliling cari penonton."
Dia meneruskan tangkapan layar undangan itu ke grup WA teman-teman lama kami. Notifikasi langsung bermunculan.
Wajah Rendi mengeras. "Kalian iri."
"Nggak," kataku. "Kami cuma sedang merayakan pernikahan yang tidak melibatkanmu. Pergi."
Petugas mengantarnya ke pintu. Kevin baru menoleh kepadaku setelah Rendi benar-benar hilang.
"Aku boleh peluk Cici?"
Pertanyaan itu mengembalikan hangat ke ruangan.
"Boleh. Tapi jangan pamer akta lagi."
Dia memelukku erat. "Besok aku beli brankas."
Teman-teman Ko Alex tidak memaksa kami minum. Menjelang tengah malam, aku membawa Kevin pulang ke apartemenku. Sekarang apartemen kami, kurasa.
Di kamar, dia kembali menjadi suami manis yang sibuk menggantung jas dan menyusun map akta di tempat aman. Aku berdiri di belakangnya, menarik ujung kemejanya.
"Kev."
"Hm?"
"Katanya beruntung dapat istri cantik. Cuma mau dipajang?"
Dia menoleh dengan mata polos yang terlalu dibuat-buat. "Cici capek. Harus istirahat."
Aku mendekat dan membuka satu kancing kerahnya. "Aku belum bilang capek."
Dalam satu gerakan, Kevin membalik posisi kami. Punggungku menyentuh lemari, sementara satu tangannya menahan pinggangku. Ekspresi lembutnya berubah lebih tajam, tetapi ia tetap memberi ruang bagiku untuk mundur.
"Ci," bisiknya, "boleh lanjut?"
Aku menariknya lebih dekat sebagai jawaban, lalu berkata jelas, "Boleh."
Malam menutup pintu kamar dan menyimpan sisanya untuk kami berdua.
Beberapa hari pertama pernikahan ternyata tidak kacau. Kevin bangun lebih pagi, membuat sarapan, mencuci piring, dan mengantar kopi ke meja kerjaku. Aku yang terbiasa hidup sendiri justru menjadi pihak paling manja.
Dia tidak pernah meminta kartu tambahan atau uang belanja. Ketika aku diam-diam memasukkan biaya makan ke rekeningnya, jumlah itu kembali lengkap dengan catatan, "Buat beli sepatu Cici saja." Malam hari, ia sering duduk di ruang tamu memakai headphone, menyusun melodi di laptop sampai lewat tengah malam. Beberapa kali ponselnya berbunyi karena laporan royalti, tetapi ia selalu menutup layar sebelum aku sempat membaca angkanya.
Kupikir itu sekadar harga diri laki-laki muda yang ingin terlihat mandiri. Aku belum tahu kemandiriannya bukan sesuatu yang perlu dibuktikan kepadaku.
"Rajin banget sih," kataku suatu pagi sambil mencuri telur dari piringnya. "Takut aku berhenti kasih uang jajan?"
"Aku bisa cari duit sendiri. Nggak perlu Cici tanggung."
"Royalti lagu?"
"Salah satunya."
Dia menyandarkan dagu di bahuku. "Justru aku harus lebih jagain Cici. Cici polos banget. Nikah saja nggak tanya aku sebenarnya siapa."
"Aku sudah lihat KTP. Kevin Tanuwijaya, dua puluh tiga tahun, muda, ganteng, badan bagus. Cukup."
"Kalau ternyata penipu?"
Aku tertawa dan mengusap rambutnya. "Asal muda dan ganteng, mau tipu harta atau tipu badan juga nggak masalah. Banyak pengganti kalau gagal."
Tubuh Kevin mendadak kaku.
Dia melepaskan dagu dari bahuku, menatapku beberapa detik tanpa senyum, lalu turun dari tempat tidur.
Tanpa berkata apa pun, dia berjalan ke dapur dan mulai membuat sarapan.