Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Episode 1

Bab 1

Aku Tidur sama Pelatih Gym-ku

Telapak tangan laki-laki itu masih terasa panas di pinggangku ketika aku sadar satu hal penting: aku baru saja tidur dengan pelatih gym pengganti yang bahkan belum kuketahui namanya.

Dan sekarang dia ada di ranjangku.

Tanpa baju.

Sementara sahabatku sedang menggedor pintu kamar dari luar.

"Kirana! Buka! Suami gue hilang!"

Aku menarik selimut sampai ke dagu. Di sampingku, laki-laki itu membuka mata. Bulu matanya yang lentik bergerak pelan, lalu sepasang mata bening menatapku tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Malah ada senyum di sudut bibirnya.

Sore tadi, senyum itu yang membuat otakku berhenti bekerja.

Tina, pelatih tetapku, mendadak izin karena demam. Pihak gym mengirim pengganti muda yang mengenakan kaus hitam ketat dan celana training abu-abu. Katanya, dia hanya menggantikan satu sesi.

Aku sempat ingin pulang. Besok ada presentasi penting, dan otot punggungku sudah terasa seperti kawat ditarik sejak seminggu lalu.

Namun laki-laki itu berdiri di belakangku dan berkata, "Kak, bahunya rileks. Jangan dilawan."

Tangannya menahan pinggangku ketika tubuhku dibungkukkan dalam peregangan. Napasnya menyentuh rambut di pelipisku. Aroma sabun bercampur keringat tipis membuat tengkukku meremang.

"Saya bisa sendiri," kataku.

"Bisa, tapi dari tadi Kakak gemetar."

"Karena otot saya kaku."

"Oh." Tatapannya turun ke bibirku. "Saya kira karena saya dekat sekali."

Kurang ajar.

Seharusnya kutegur. Seharusnya aku memanggil staf gym. Seharusnya aku ingat bahwa aku datang untuk olahraga, bukan membawa pulang anak muda bermata indah.

Sebaliknya, ketika dia bertanya pelan, "Boleh saya cium?" aku tidak mendorongnya.

Tubuhku sudah memberi jawaban sebelum pikiranku sempat menyusun alasan.

Satu ciuman berubah menjadi perjalanan tak masuk akal menuju apartemenku di Tangerang Selatan. Lampu kamar padam, kancing bajuku terlepas, dan malam menelan semua pertanyaan yang seharusnya kuajukan.

Sampai suara notifikasi WhatsApp membangunkanku beberapa menit lalu.

Reza: Kir, apa kabar? Aku mau pindah ke Jakarta.

Lima tahun setelah membuatku percaya bahwa jarak bisa dikalahkan, lalu membiarkan perempuan lain mengunggah foto bahagia bersamanya, dia muncul lagi dengan kalimat seolah kami baru tak saling berkabar seminggu.

Pesan itu membawa kembali suara pendingin ruangan kantor Surabaya, bau kopi sachet, dan punggung Reza yang dulu selalu berjalan setengah langkah di depanku. Kenangan itu belum sempat mengendap ketika lengan hangat Arya melingkar di pinggangku dari belakang. Masa lalu dan kesalahan malam ini bertabrakan di layar yang sama.

Aku begitu kesal sampai ponsel itu terlepas dan menghantam dahiku sendiri.

Lalu Nadia mulai menggedor pintu.

"Kira! Lo tidur, ya? Bangun! Ini darurat rumah tangga!"

Laki-laki di sampingku duduk. Selimut turun sampai ke pinggangnya, memperlihatkan bahu lebar yang tadi membuatku lupa umur dan harga diri.

"Rumah tangga siapa?" bisiknya.

"Diam." Aku menempelkan telunjuk ke bibirnya. "Kalau mau hidup panjang, jangan bersuara."

Matanya melengkung. "Galak banget setelah dapat yang diinginkan."

Pipiku terbakar.

"Kirana Maheswari!"

Gagang pintu bergerak. Untung aku menguncinya.

Aku mendorong laki-laki itu agar kembali berbaring, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. "Jangan bergerak."

"Saya susah napas."

"Lebih baik susah napas daripada dibunuh Nadia."

Aku meraih kaus longgar di lantai dan memakainya dengan tangan gemetar. Baru dua langkah menuju pintu, Nadia sudah menggedor lagi.

"Suami gue nggak bisa dihubungi. Tadi online di Raja Nusantara, terus hilang. Padahal malam ini ada perang guild!"

Aku membeku.

Suami yang dimaksud Nadia bukan suami sungguhan. Dua minggu lalu dia memasang pengumuman di forum Raja Nusantara untuk mencari pasangan main. Seorang pemain muda menjawab, lalu mereka menggelar pernikahan virtual yang dihadiri satu guild.

Nadia begitu serius sampai mengusirku dari sofa setiap malam agar bisa bermain sambil video call.

"Terus kenapa nyarinya di kamar gue?" tanyaku dari balik pintu.

"Karena gue dengar suara cowok. Buka dulu!"

Aku menoleh ke ranjang. Selimut itu bergerak sedikit.

"Jangan," desisku.

"Gue telepon dia sekali lagi. Kalau nggak diangkat, gue lapor ketua guild."

Detik berikutnya, nada dering berbunyi dari bawah selimutku.

Lagu tema Raja Nusantara.

Dunia berhenti.

Nadia berhenti menggedor.

Aku menatap gundukan di ranjang dengan mata membelalak. Sebuah tangan keluar dari balik selimut, meraba lantai, lalu mengangkat celana yang tergeletak di sana. Ponsel menyala dari saku celana itu.

Nama penelepon di layar: Istri Game.

Aku ingin lompat dari balkon.

"Kira?" Suara Nadia berubah tipis. "Kenapa nada deringnya kedengaran dari kamar lo?"

Laki-laki itu menurunkan selimut. Tidak ada lagi senyum polos di wajahnya. Dia menatap layar, lalu menatapku.

"Ini bisa dijelaskan," bisiknya.

Aku mencengkeram bantal. "Lo bukan pelatih gym?"

"Bukan pelatih tetap."

"Dan lo suami game sahabat gue?"

"Secara teknis, cuma pasangan main."

Aku melempar bantal tepat ke wajahnya.

"Kirana, buka sekarang!"

Tak ada waktu untuk membunuhnya. Aku membuka pintu selebar tubuhku dan berdiri menghalangi pandangan Nadia. Rambut sahabatku berantakan. Satu tangannya memegang ponsel, tangan lain berkacak pinggang.

"Ada siapa?"

"Salah kamar," jawab laki-laki itu tiba-tiba.

Aku hampir tersedak.

Dia sudah mengenakan celana dan kemeja kusut. Entah bagaimana dia bergerak secepat itu. Sambil memasang satu kancing yang tersisa, dia berjalan mendekat dengan ekspresi sopan.

"Maaf, Mbak. Saya salah masuk. Saya sudah mau pergi."

Nadia memandangnya dari kepala sampai kaki. "Salah kamar sampai buka baju?"

"AC-nya panas."

Aku menutup mata. Alasan paling bodoh sedunia.

Anehnya, Nadia sedang terlalu mengantuk untuk menyusun bukti. Dia menguap, lalu menatap layar ponselnya yang sudah tak berdering.

"Mukanya mirip foto profil suami gue," gumamnya.

"Semua cowok gym mukanya mirip," sahutku cepat. "Tidur sana. Besok kita cari suami game lo."

Nadia mengangkat telunjuk mengancam kami berdua. "Kalau ada yang nyembunyiin sesuatu, gue sumpahin rank-nya turun sampai Bronze."

Setelah pintu ruang tamu tertutup, lututku hampir lemas.

Laki-laki itu mengambil tasnya. "Saya pergi dulu, Kak Kira."

"Jangan panggil gue begitu." Aku menahan lengannya. "Nama lo siapa?"

"Cari sendiri. Bukannya Kakak jago menyelidiki?"

Dia melepaskan peganganku dengan halus, menyelipkan sesuatu ke saku celana, lalu pergi sambil menahan tawa.

Pintu apartemen menutup.

Aku baru sadar ada satu kartu jatuh di sisi ranjang.

KTP.

Foto di kartu itu milik laki-laki yang baru keluar dari kamar. Namanya Arya Wardhana. Usianya dua puluh dua tahun, tujuh tahun lebih muda dariku.

Aku membaca alamatnya sekali.

Dua kali.

Cluster Cendrawasih, Pondok Indah.

Jari-jariku mendadak dingin. Aku pernah mengantar Pak Handoko pulang ke alamat itu. Istrinya bernama Retno Wardhana. Pak Handoko adalah direktur yang memegang keputusan promosi wakil manajer di divisi kami.

Wardhana.

Arya Wardhana.

Aku baru tidur dengan anak semata wayang bosku.

Ponselku berbunyi. Nomor baru mengirim pesan.

Arya: KTP-ku ketinggalan. Simpan dulu, ya, Rara. Senin aku ambil di kantor.

Di kantor?

Aku menatap tiga kata terakhir sampai huruf-hurufnya berbayang.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar-benar ingin mati saja.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!