Episode 2

Bab 2

Ternyata Anak Bos

"Pagi, Kak Kira. KTP saya dibawa, kan?"

Suara itu menyambutku bahkan sebelum satu telapak kakiku melewati pintu kantor Fizzo.

Arya berdiri di sebelah Pak Handoko dengan kemeja putih, celana bahan hitam, dan kartu tamu tergantung di leher. Rambutnya disisir rapi. Tidak ada jejak laki-laki yang dua malam lalu bersembunyi telanjang di balik selimutku.

Di sisi lain Pak Handoko berdiri seorang laki-laki yang tak perlu diperkenalkan lagi.

Reza Aditya.

Mantan kekasihku menatapku dengan senyum profesional. "Lama nggak ketemu, Kirana."

Aku menggenggam tali tas sampai buku jariku memutih.

"Kebetulan sekali kalian sudah datang," kata Pak Handoko. "Kirana, ini Arya. Anak magang baru. Tolong kamu bimbing."

Kebetulan apanya?

Arya mengulurkan tangan. "Mohon bimbingannya, Kak Kira."

Aku menjabatnya sesingkat mungkin. Ibu jarinya sempat mengusap sisi telunjukku, ringan sekali, tetapi cukup membuat panas menjalar ke telinga.

"Dan kamu pasti masih ingat Mas Reza," lanjut Pak Handoko. "Dia dipindah dari cabang Surabaya untuk bantu pekerjaan Amelia."

Nama Amelia menarik kami kembali ke urusan kantor. Wakil manajer marketing itu mengundurkan diri saat kandungannya masuk tujuh bulan. Setelah perselisihan keras dengan tim sales membuatnya hampir keguguran, suaminya meminta dia fokus menjaga kesehatan.

Selama dua bulan terakhir, aku mengambil hampir semua pekerjaannya.

Semua orang mengira kursi itu akan diberikan kepadaku.

Lalu Reza datang.

"Saya siap kerja bareng siapa pun," kataku.

"Bagus." Pak Handoko menepuk bahuku. "Siang ini ada townhall. Kalian bertiga ikut. Kita cari konsep kampanye produk baru."

Arya menoleh saat Pak Handoko berjalan lebih dulu. Tatapan kami bertemu.

Anak bos. Benar-benar anak bos.

Dia mengambil ponsel dan mengetik sesuatu. Ponselku bergetar di dalam tas.

Arya: Jangan tegang, Rara. Nanti kelihatan kalau kita punya rahasia.

Aku membalas tanpa menatapnya.

Kirana: Panggil Rara sekali lagi di kantor, KTP kamu aku gunting.

Balasannya datang bersama bunyi tawa kecil dari belakangku.

Di meja kerja, aku menyerahkan kartu identitasnya di dalam amplop cokelat agar tak ada yang melihat. Arya membukanya, lalu mencondongkan tubuh ke sisi monitorku.

"Jadi semalam Kakak sudah tahu saya anak Pak Handoko?"

"Tahu setelah kamu pergi. Kalau tahu dari awal, kamu bahkan nggak akan melewati pintu apartemenku."

"Kenapa? Anak direktur menular?"

"Anak direktur bisa menghancurkan karier orang."

Senyumnya menghilang. "Saya nggak akan pakai Bapak buat menyentuh karier Kakak. Saya juga nggak mau Bapak tahu urusan kita dari orang lain."

Nada suaranya membuatku menoleh. Untuk beberapa detik, dia tidak terdengar seperti anak magang yang gemar menggoda. Dia terdengar seperti seseorang yang paham persis betapa keras aku membangun tempatku di kantor ini.

Lalu dia mengedip.

"Tapi kalau Kakak mau menyentuh saya lagi, itu urusan berbeda."

Aku menutup laptop tepat sebelum keinginan memukulnya menang.

Townhall siang itu dihadiri kepala tim marketing, sales, distribusi, dan beberapa staf produk. Di tengah meja panjang berdiri dua dus kaleng Fizzo varian rosella, minuman soda tanpa alkohol yang baru lolos uji pasar terbatas.

Pak Handoko baru menjelaskan target musim wisuda ketika Reza mengangkat tangan.

"Dengan hormat, Pak, strategi seperti ini terlalu aman. Produk kita kehilangan pangsa anak muda karena keputusan sebelumnya lambat. Kalau cuma mengandalkan promo harga, hasilnya akan sama."

Ruangan hening.

Pak Handoko mengusap dada pelan, kebiasaan yang muncul saat lelah. "Karena itu saya minta ide, bukan penilaian umum."

Reza tersenyum. "Saya cuma ingin kita berani mengakui ada masalah di level pengambilan keputusan."

Berani.

Kata itu tersangkut di kepalaku.

Reza selalu begitu. Dia membuat serangan terdengar seperti kepedulian. Lima tahun lalu, aku pernah menganggap kecerdikannya menawan. Hari ini, melihat dia menyudutkan Pak Handoko di depan satu divisi, telapak tanganku justru gatal.

Aku membuka satu kaleng Fizzo rosella. Bunyi desisnya memecah diam.

"Kalau targetnya anak muda, kita jangan menyuruh mereka percaya iklan," kataku. "Kita tantang mereka mencoba."

Aku menenggak setengah kaleng, lalu membuka kaleng kedua. Gelembung asam-manis menggelitik tenggorokan.

"Dua kaleng sekaligus, Kir?" Reza menyandarkan punggung. "Masih suka nekat."

"Saya percaya produk kita." Aku mendorong satu kaleng ke arahnya. "Mas Reza berani nggak?"

Senyumnya membeku.

Hanya kami berdua yang tahu tubuhnya sensitif terhadap ekstrak rosella. Seteguk tak akan membunuhnya, tetapi cukup membuat biduran bermunculan di leher dan lengan.

Beberapa staf menoleh. Setelah pidato panjang soal keberanian, menolak satu kaleng produk sendiri akan terlihat lucu.

Reza mengambilnya.

"Tentu."

Dia minum dua teguk. Lima menit kemudian, warna merah merambat dari balik kerahnya. Tangannya ingin menggaruk, tetapi dia menahannya sambil tetap tersenyum.

Aku berdiri di depan layar.

"Berani Nggak?" tulisku sebagai judul. "Kita bukan jual minuman. Kita jual satu momen saat orang berhenti ragu. Tantangan sidang skripsi, daftar kerja pertama, nyatakan perasaan, atau mencoba rasa baru. Konsumen unggah video mereka, lalu tantang tiga teman."

Beberapa kepala mengangguk. Tim digital mulai mencatat.

"Bagus," kata Pak Handoko. "Tapi musim wisuda cuma sebentar. Distribusinya bagaimana?"

Arya mengangkat tangan. "Masuk lewat kampus. Gandeng BEM dan komunitas game. Raja Nusantara lagi menyiapkan turnamen nasional. Kalau Fizzo jadi sponsor utama, tagar kampanye bisa hidup dari penonton turnamen, bukan dari iklan kita saja."

Tatapan Pak Handoko berubah bangga sebelum cepat-cepat disembunyikan. "Kamu tahu orang di sana?"

"Saya kenal ekosistemnya. Saya bisa siapkan daftar kontak dan proyeksi jangkauan."

Reza menggaruk lehernya diam-diam. "Ide game terlalu sempit."

"Pengguna aktifnya dua belas juta," jawab Arya ringan. "Kalau itu sempit, saya ingin tahu definisi luas versi Mas Reza."

Tawa tertahan terdengar di ujung meja.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku ingin tersenyum kepada Arya.

Pak Handoko mengetuk meja. "Kirana dan Reza pimpin proyek. Arya bantu riset audiens dan kerja sama game. Tiga hari lagi saya mau lihat proposal."

Saat rapat bubar, Reza menahanku di lorong.

"Lo sengaja kasih rosella."

"Lo sengaja minum."

"Masih marah soal dulu?"

Aku melihat bentol merah yang mulai naik ke rahangnya. "Minum antihistamin. Jangan sok kuat kalau tubuh lo sendiri bilang tidak."

Arya muncul sambil membawa botol air. Dia menyerahkannya kepada Reza dengan wajah paling polos.

"Mas, wajahnya merah. Malu atau alergi?"

Reza merebut botol itu dan pergi.

Ponselku bergetar lagi.

Arya: Aku lebih cocok jadi partner Kakak.

Kirana: Kamu suami sahabatku, tapi tetap kutiduri juga. Jangan bangga.

Arya: Berarti posisi partner masih kosong. Aku daftar.

Aku menekan layar terlalu keras, lalu membuka Instagram hanya untuk mengalihkan perhatian. Unggahan terbaru Vania muncul di urutan pertama. Foto jendela pesawat dengan pemandangan awan.

Caption-nya pendek.

Takut dia datang ke Jakarta untuk cinta lamanya.

Ponselku terlepas dan jatuh ke meja.

Aku buru-buru memblokir akun Vania, tetapi kalimat itu sudah telanjur menancap. Ternyata mantan memang punya bakat menjadi luka yang bangun pada saat paling tidak diinginkan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!