Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan
Aku masuk ke kediamanku di Istana Selatan,
Kamar ini sepi, di depan pintu dijaga empat pengawal dan dua dayang.
Gerak gerikku selalu di awasi,
Aku berpikir untuk jalan-jalan ke tempat yang baru.
Tiba-tiba aku merindukan perkerjaanku di Rumah Sakit.
Kupandangi kotak obat yang kubawa kemarin.
“Nona Mayanza, bisakah hamba masuk” kata seorang dayang.
“Masuklah..” kataku.
Dayang membawa meja dan perlengkapan teh set keramik berwarna putih di hadapanku.
Beberapa kue berbentuk bunga yang di panggang di piring kecil menemani the.
“Silahkan..” kata Dayang.
“Terima Kasih, apakah kamu mau menemaniku minum bersama?” tanyaku pada Dayang.
Dayang mengangguk pelan.
Ku tuangkan teh ke cangkirnya.
“Maaf…biar hamba” katanya
Aku mecegahnya, “Tidak apa-apa” kataku
Dayang mengambil gelas teh yang sudah kutuang.
“Berapa lama berkerja disini?” tanyaku.
“sudah enam bulan ini nona” kata Dayang.
“Apakah kamu pernah pulang ke kampungmu?” tanyaku.
“Belum selama enam bulan ini, kampung hamba jauh” katanya.
“Dimana?” tanyaku.
Di belakang perbukitan istana.
“Kita melalui jalan apa kesana?”
“Keluar melalui gerbang selatan..” kata Dayang.
“Bagaimana kehidupan disana?” tanyaku.
“Disana orang-orang berkebun, tapi selama musim ini tidak ada panen” wajahnya berubah sedih mengatakan itu.
“Jika melalui gerbang selatan mungkin aku pernah melaluinya, apakah desa itu setelah hutan Teratai Emas?” kataku
“Betul sekali, tapi berbeda arah ke hutan, jalannya menyimpang dari kebun istana.” Kata Dayang.
“Kebun Istana? Dimana?” tanyaku lagi, aku meminum dan mecicipi kue panggang terasa sedikit hambar ada aroma jahe di kue panggang ini.
“Kebun Istana adalah tempat Nona menemukan teratai” katanya tersenyum.
Aku mengangguk-angguk.
Tidak sadar sudah makan tiga kue panggang.
“Kau mau?” tanyaku.
Dayang tersenyum mengambil satu kue panggang.
“Bagaimana kalau kita ke desamu?” aku mengajak dayang.
“Tidak mungkin, Baginda Raja pasti melarang, dan aku belum di perbolehkan keluar Istana” kata Dayang.
“Apakah mendapat hukuman?” tanyaku.
“Iya, aku akan mendapat hukuman dari Kepala Dayang” katanya.
Sedih sekali nasib dayang, tidak ada kebebasan pulang ke rumahnya sendiri saja perlu aturan ini itu.
“Nona bosan?” kata Dayang.
“Lumayan...sepertinya aku mau pulang ke tempatku saja” kataku.
Dayang menunduk meminum tehnya sampai habis dan meletakan gelas di meja.
“Kalau Nona mau, aku akan menemani nona ke tempat di Istana yang belum nona pernah ketahui” kata Dayang.
“Ide yang bagus” kataku.
Aku langsung berdiri, “Kita berangkat sekarang”
**
Seperti yang kakek ceritakan dulu dalam dongengnya yang menjadi nyata.
Kerajaan Zink adalah kerajaan yang indah bangunannya kokoh, banyak ornamen bangunan yang sangat indah, aku berjalan menggunakan payung bersama dayang di istana barat, ternyata pemandangan istana barat sungguh indah, banyak bunga-bunga dan kolam buatan.
Ikan-ikan koi di dalam kolam, serta pohon-pohon rindang tempat berteduh.
Aku dan dayang duduk di bangku batu dibawah pohon rindang.
Udara sejuk, angin bertiup pelan.
Hari semakin siang, kami kembali ke Istana Selatan.
Di perjalanan kembali, kami bertemu dengan Raja Yuko dan rombongannya dari Aula Istana.
Aku dan Dayang menunduk hormat, Raja Yuko melewati kami terburu-buru ke Istana Timur tempat kediamannya.
Aku berisitirahat di kamar.
Aku berpikir kembali sejenak ke Asrama untuk tidur siang dengan AC.
Kubuka portal dan aku kembali ke kamar Asrama untuk tidur siang.
**
Aku terbangun, sudah pukul empat sore berarti tiga jam aku tertidur pulas, aku mandi sebentar dan makan mie seduh, mandi dan bersiap kembali ke Istana Zink.
Kudengar ketukan pintu kamar.
Aku tidak memperdulikan ketukan itu, membuka portal dan kembali ke kamarku.
Jendela sudah tertutup rapat.
Raja Yuko duduk di tengah ruangan menatapku.
“A…Aku..baru saja kembali dari duniaku” kataku menunjuk kearah belakang.
“Kenapa tidak memberi tahu dayang?” tanyanya.
Pintu dibuka, “Baginda…kami belum menemukan No…na…” dayang bersujud dan heran melihatku ada di kamar.
“Sudahlah…” kata Raja Yuko, dia berdiri meninggalkanku yang mematung di ruangan dan dayang yang bersujud.
“Persiapkan diri besok pagi kita berangkat ke camp, banyak orang sakit disana” kata Raja Yuko yang berhenti sebentar di depan pintu.
**
Pagi ini masih terbilang subuh, udara dingin menusuk.
Dayang sudah mempersiapkan barang-barang untuk tinggal dua hari di camp.
“Kau harus ikut bersamaku” kataku.
Kami berangkat dengan kereta, tapi aku berpesan dengan pengawal untuk membawa kudaku juga.
Kuelus rambut kudaku.
“Nona mayanza suka berkuda” tanya Dayang.
“Sebenarnya aku lebih suka berkuda daripada di dalam kereta” kataku.
“Kalau begitu naik kuda saja, tidak perlu ikut naik kereta” kata Raja Yuko yang sudah berdiri di samping dayang,
Dayang mundur memberikan jalan Raja Yuko masuk ke dalam keretanya di ikuti Swanzi.
Aku naik kereta bersama dayang di kereta belakang.
Pintu kereta di ketuk.
“Nona Mayanza, perintah Baginda Raja Nona ikut di Kereta depan” kata Pengawal.
Aku terpaksa turun dan masuk kereta di depan,
Pintu kereta dibuka, tampak Swanzi duduk sendiri dan di seberangnya Raja Yuko.
Aku memilih duduk di sebelah Swanzi.
Raja Yuko menatapku masuk, aku tidak perduli.
Tidak juga memberi hormat.
“Mayanza, apakah kau sudah membawa obat-obatan yang banyak?” tanya Swanzi.
“Aku tidak banyak membawa obat, aku tidak tau obat apa yang dibutuhkan. Mungkin aku akan belajar banyak dari Tabib Swanzi, mohon bimbingannya” kataku.
Kenyataannya memang begitu buku ramuan tradisional yang kubaca dari perpustakaan belum habis kubaca, karena aku lelah melawan mahluk gaib, mana sempat membaca dan mempraktekan obat.
Swanzi berpandang-pandangan dengan Raja Yuko tersenyum, aku hanya bisa memalingkan wajah ke jendela, rasanya kepalaku agak pusing karena mabuk.
“Kamu baik-baik saja Mayanza” tanya Swanzi menepuk kakiku,
“Kamu terlihat pucat” katanya.
Aku menggeleng, haruskah aku bilang aku mabuk naik kereta lagi.
Kereta berhenti di sebuah perkampungan, aku turun dari kereta, ada pasar disana.
Dayang mendekat padaku.
Kami berhenti ke restoran, tempat makan.
Kupastikan perjalanan kami jauh kalau sampai mampir untuk makan.
Raja Yuko duduk di dampingi Swanzi, aku menepi mengambil tempat bersama dayang di tempat yang tidak jauh,
“Nona…, nona harus makan satu meja dengan Raja Yuko” kata pengawal menemuiku.
Aku melambaikan tangan ke panglima, memintanya duduk di sebelahku.
“Aku makan semeja dengan panglima, katakan pada baginda” kataku dengan suara yang agak nyaring terdengar jelas di telinga Raja Yuko.
Kami menikmati hidangan makanan yang tersedia, ada ayam, bebek, ikan kukus, daging oseng, dan nasi yang sangat pulen di mangkok.
Aku kenyang, rasa mabukku berkurang.
Mungkin aku tadi kelaparan.
Matahari bersinar sangat terang, kami selesai makan, tapi tidak langsung berangkat.
Raja Yuko dan Swanzi berjalan-jalan dulu di pasar berbelanja.
Aku yang sudah naik kereta, turun lagi dari kereta dan ikut pengawal pergi ke toko obat membeli persediaan ramuan obat untuk pasien luka-luka di camp didampingi dayang.
“Kapan kita berangkat lagi?” tanyaku pada pengawal.
“Setelah matahari turun dari atas kepala” kata pengawal lalu pergi meninggalkanku.
Aku mendongak, matahari siang tepat di atas kepala.
Aku melihat hiasan rambut, dayang mengikutiku dari belakang.
“Cantik..” ucap dayang.
Raja dan Swanzi sepertinya berbelanja banyak di lapak seberang, swanzi terlihat memilih tas dan membeli tas kain.
Aku menyentuh satu hiasan rambut berbentuk bunga berwarna putih mirip sekali dengan bunga peony , cahayanya sangat indah terpantul sinar matahari.
“Nona, hiasan rambut ini sangat cantik hanya 7 keping perunggu” kata penjual padaku
“Hanya lihat-lihat” kataku tersenyum.
Ku lepas hiasan rambut itu.
Mengingat uang yang kupunya 3 koin perunggu.
Dayang mengikutiku, aku berjalan menyusuri pasar, melihat sebuah kain masker pelindung wajah.
“Berapa harganya?” tanyaku
“nona memerlukan pelindung wajah?kita bisa minta di istana” kata Dayang.
Aku menyetuh tangannya agar tidak melanjutkan.
“Dua perunggu” kata penjual.
“Bagaimana kalau dua lembar 3 perunggu?” tawarku.
Penjual tersenyum, “Baiklah, untuk nona yang cantik dua lembar tiga perunggu” kurogoh uang dari tas kainku, kuserahkan 3 keping perunggu.
Kupilihkan berwarna putih dan satunya berwarna biru muda.
“Ini untukmu” kataku pada Dayang.
Menyerahkan satu cadar berwarna biru muda, itu cocok dengan pakaian yang dia pakai.
Wajahnya sangat senang sekali.
Aku kembali menunggu di kereta.
Raja Yuko dan Swanzi akhirnya masuk ke dalam kereta.
Belanjaan Swanzi sangat banyak.
“Kau juga berbelanja tadi?” tanya Swanzi yang sangat normal seperti manusia biasa tanpa riasan hitam.
Aku mengangguk.
“Kenapa jadi bisu?” kata Raja Yuko.
“Biasanya bicaramu lantang dan lancang” ucapnya lagi.
Darahku rasanya mendidih, kenapa bisa membuang darahku mengobati orang ini.
“Jangan bicara begitu, Mayanza wajahnya memerah” kata Swanzi yang duduk di sampingku.
Rasanya wajahku sangat panas kena terik matahari.
“Aku membelikanmu ini”, kata Swanzi menyerahkan saputangan bersulam berwarna merah jambu.
“Terima Kasih” kataku.
Memasukkannya di bungkusan di pangkuanku.
Bungkusanku berwarna cream dari kain sutra di ikat empat sisi, aku tidak membawa tas dari duniaku, tentu saja akan beda fashion di sini.
Aku memandangi jendela, perjalanan masih jauh melintasi perkampungan dan persawahan yang hijau.
Aku mengantuk, menutup jendela, menyandarkan kepalaku ke jendela.
Aku terbangun, ternyata belum tiba juga di camp.
Kubuka jendela sudah hampir gelap.
Raja Yuko dan Swanzi masih tertidur.
Kami berhenti lagi untuk beristirahat di pinggiran jalan.
Dayang menyerahkan minuman dan bakcang yang dibeli di pasar tadi.
Aku makan dengan lahap, aku tidak tau apakah energiku habis karena bolak balik membuka portal beberapa hari ini, aku mudah mengantuk.
Aku berpikir mungkin karena aku naik kereta.
Aku menggerakan tubuh, setelah makan.
Bungkusan kuikat di bahuku, aku berjalan ke belakang, melihat kudaku.
Kudaku juga sudah diberi makan dan minum.
Aku menepuk bahunya pelan, kuminta pengawal melepaskan ikatan dari kereta.
Aku menuntunnya ke depan.
Mengambil pedang ku dari kereta barang.
Mengikatnya di pinggang.
Raja Yuko tersenyum melihat ke arahku yang menuntun kuda.
"Nona berkuda? " tanya Dayang.
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Tapi Nona memakai rok? " tanya dayang.
Melihat rok panjang ku.
Pakaianku jubah berwarna kuning lembut dengan bawahan rok semata kaki.
Tapi dalamannya ada celana panjang putih.
"Tidak apa.. " kataku.
“Aku naik kuda saja tadi kutanya pengawal tidak terlalu jauh” kataku pada Raja Yuko.
“Terserah..” kata Raja Yuko acuh tak acuh...naik ke kereta lagi dengan Swanzi.
Aku maju berkuda ke barisan depan bersama Panglima dan prajurit. Memasang cadar putih yang kubeli di pasar tadi.
Jalanan tenang langit berbintang.
**
𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...