Indonesia
NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:405.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Langit di atas pemakaman umum itu mendung, seolah mendukung suasana hati rombongan yang datang dengan wajah muram. Meisya berdiri lemas di pelukan Mama Revan, sementara petugas pemakaman mulai menyiapkan peralatan untuk membongkar nisan bertuliskan "Bayu Pratama".

Revan berdiri di samping mereka dengan tatapan kosong. Namun, tepat saat petugas hendak menancapkan cangkul pertama, sebuah jeritan melengking memecah kesunyian.

"Aduh! Perutku... Mas Revan, sakit!" Meisya merosot ke tanah sambil memegangi perut bawahnya. Wajahnya meringis hebat, keringat dingin mulai membasahi keningnya.

"Meisya!" Revan langsung panik. "Ma, Meisya kesakitan! Pak, berhenti dulu! Hentikan pembongkarannya!"

"Jangan dipaksa, Revan! Lihat ini calon cucu Mama bisa bahaya!" teriak Mama Revan histeris. Tanpa pikir panjang, Revan segera membopong Meisya menuju mobil, meninggalkan petugas makam yang kebingungan.

Ketua tim pembongkaran segera menghubungi nomor yang membayar jasa mereka. "Halo, Dokter Adila? Maaf, Dok, pembongkaran tertunda. Pihak keluarga tadi ada yang pingsan kesakitan, jadi dibawa ke rumah sakit pusat."

Di seberang telepon, Adila yang sedang memarkirkan mobilnya di rumah sakit merasakan darahnya mendidih. "Rumah sakit pusat? Ke sini?"

"Iya, Dok."

"Baik. Biarkan saja. Tugas kalian tetap laksanakan begitu mereka pergi. Jangan berhenti sampai jenazah itu masuk ke ambulans," instruksi Adila dengan suara bergetar karena murka. Ia tahu betul, ini adalah taktik distraksi murahan dari Meisya.

Adila menghela napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah rotasi pertamanya di bawah pengawasan dr. Adrian Dewantara, Sp.OG. Dokter spesialis paling jenius namun paling dingin yang pernah ada. Salah sedikit saja, karier kedokterannya bisa tamat di tangan pria itu.

Di lobi rumah sakit, Maya dan Sari sudah menunggu dengan wajah cemas.

"Dila! Akhirnya datang juga," bisik Maya sambil menarik lengan Adila. "Kamu sudah dengar? dr. Adrian sudah di ruang bangsal. Dia benci orang telat walau cuma semenit."

"Dan tebak siapa yang baru saja masuk IGD?" Sari menimpali dengan wajah kesal. "Suamimu, mertuamu dan si parasit itu! Katanya dia mengeluh nyeri perut hebat."

Adila merapikan jas putihnya, mengancingkannya dengan mantap. "Biarkan saja. Aku tidak punya waktu untuk drama mereka. Ayo, kita ke bangsal."

Ketiganya berjalan cepat menuju ruang rawat inap kelas satu. Di sana, seorang pria tinggi dengan jas dokter yang sangat rapi berdiri membelakangi mereka, sedang membaca rekam medis. Auranya begitu mengintimidasi, membuat lorong rumah sakit yang sibuk mendadak terasa senyap.

"Selamat pagi, Dokter Adrian," sapa Adila dengan suara stabil.

Pria itu berbalik perlahan. Matanya tajam di balik kacamata frameless. Dr. Adrian Dewantara hanya mengangguk tipis, nyaris tidak terlihat.

"Pagi. Adila, Maya, Sari. Kita punya pasien baru di ruang VVIP 01. Keluhan nyeri abdomen pada kehamilan trimester kedua. Katanya karena stres berat," suara dr. Adrian rendah dan tanpa ekspresi. "Adila, kamu yang pegang anamnesis awal. Laporkan padaku dalam sepuluh menit."

Jantung Adila mencelos. VVIP 01? Itu pasti tempat Meisya dibawa oleh Revan.

"Ada masalah?" tanya dr. Adrian saat melihat Adila bergeming sesaat.

"Tidak, Dokter. Saya laksanakan," jawab Adila tegas.

Adila melangkah menuju ruangan itu diikuti Maya dan Sari yang saling lirik dengan cemas. Begitu pintu dibuka, pemandangan yang memuakkan kembali tersaji. Meisya berbaring di tempat tidur dengan infus terpasang, sementara Revan duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Mama Revan dan Tiara berdiri di sudut ruangan, sibuk menyumpah-nyumpah.

"Oh, lihat siapa yang datang!" Mama Revan langsung menghampiri Adila. "Kamu puas sekarang? Gara-gara gertakan gilamu tadi, Meisya hampir keguguran! Kamu mau membunuh anak ini, hah?!"

Adila tidak bergeming. Ia membuka papan jalannya, memegang stetoskop dengan tangan yang sangat tenang. "Mah, saya di sini bukan sebagai menantu Anda. Saya di sini sebagai dokter yang bertugas di bawah instruksi Dr. Adrian. Mohon kerja samanya untuk tidak mengganggu proses pemeriksaan."

"Sok sekali kamu!" Tiara mencibir. "Kak Revan, lihat istrimu! Bahkan di saat Meisya kritis, dia masih bersikap dingin seperti ini."

Revan menatap Adila dengan tatapan kecewa. "Dila, tolong... jangan sekarang. Periksa dia dengan benar."

Adila mendekati bed Meisya. Ia melihat Meisya yang memejamkan mata sambil sesekali mengaduh. Adila mulai melakukan pemeriksaan fisik. Tangannya dengan sangat profesional menekan beberapa titik di perut Meisya.

"Sakit, Mbak... pelan-pelan..." rintih Meisya.

Adila tersenyum tipis, sebuah senyuman yang hanya bisa dimengerti oleh sesama medis. "Nyeri tekan di kuadran bawah? Tapi kontraksinya tidak teraba, Meisya. Detak jantung janin juga stabil."

Tiba-tiba, pintu terbuka. dr. Adrian masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang membuat semua orang terdiam.

"Bagaimana, Dokter Muda Adila?" tanya dr. Adrian sambil menatap tajam ke arah Meisya, lalu ke arah Revan yang masih memegang tangan pasien.

"Izin melaporkan, Dokter. Pasien mengeluh nyeri hebat, namun secara objektif, palpasi abdomen menunjukkan otot yang rileks. Tidak ada tanda-tanda pelepasan plasenta atau ancaman abortus yang nyata," lapor Adila dengan bahasa medis yang lugas.

Dr. Adrian mendekat. Ia menatap Meisya yang mendadak berhenti mengaduh karena terpesona sekaligus takut melihat aura sang dokter spesialis.

"Dokter, tolong selamatkan cucu saya..." rengek Mama Revan.

Dr. Adrian tidak menoleh pada Mama Revan. Ia justru menatap Revan yang duduk di samping bed. "Anda suaminya?"

Revan ternganga. "E-eh... saya..."

"Dia suaminya!" sahut Mama Revan cepat.

Adila mengepalkan tangan di balik papan jalannya. Namun, sebelum ia sempat bicara, dr. Adrian sudah menyela dengan suara yang sangat dingin.

"Kalau Anda suaminya, kenapa Anda membiarkan istri sah Anda Dokter Muda Adila bekerja sendirian sementara Anda menggenggam tangan wanita lain di depan wajahnya?"

Hening. Ruangan itu seketika terasa membeku. Revan langsung melepas tangan Meisya seolah terkena setrum.

"Dan untuk Anda, Pasien," dr. Adrian beralih pada Meisya. "Diagnosis saya sederhana Malingering. Anda memalsukan gejala untuk mendapatkan perhatian. Adila, siapkan berkas rawat jalan. Pasien ini tidak butuh rawat inap. Dia hanya butuh belajar jujur."

Adila menatap dr. Adrian dengan rasa kagum yang tak terbendung. Sang "Ice Prince" baru saja memberikan tamparan medis yang paling telak dalam hidup Meisya. Sementara Revan, Mama, dan Tiara hanya bisa berdiri mematung dengan wajah yang memerah karena malu luar biasa.

1
miati christ
memang pelakor dan suami plin plan jng dikasih kesempatan, spy tdk menjamur 🤣👍
Eem Suhaemi
mungkin author lupa...🙏
Evy
Bukannya Tiara baru pertama kali datang kerumah Aris...Kok bisa tiba-tiba tinggal di paviliun rumah Aris.gimana bisa jadi begitu..
Evy
Kalo masih ada pria yang lain....gak usah diteruskan perjodohan ini...
Evy
Daster itu maksudnya apa ya.... yang pasti bukan baju daster...tapi apa..sama sekali tidak bisa dimengerti...
Evy
Ngelunjak banget nih Tiara...
Evy
Kalo gak ngelunjak dan bisa berhemat selama hidup dikota.. pastinya hidupnya Meisya tidak akan semiris sekarang..
Evy
Adila umurnya sudah 32th...kakak dan Abang nya sudah pasti usianya lebih tua dikit..tapi sepertinya belum menikah ya...
Evy
Waduh.. episod ini lebih aneh lagi...Nama Almarhum suami Meisya..awalnya Bayu berubah menjadi Hadi eh sekarang berubah lagi menjadi Danang..
Author nya mungkin ngantuk ya...
Evy
Awal baca nama suami Meisya itu Bayu ya....kok bisa berubah menjadi Hadi...
blcak areng: lupa kak 🙏🙏 kebanyakan Novel 🙏🙏
total 1 replies
Evy
Iih Dokter Adrian kepo deh...pasti dah selama ini cinta dalam diam sama Adila...
Julia thaleb
untung lho masuk penjara, Revan ngak bingung lagi, bisa hidup gratis di hotel prodeo
Yati Syahira
revan jugavmurahan rasain sejarang makan tu kesombonganmu
Evy
Pelakor yang punya trik manipulatif..
Evy
Wau Dokter yang berjulukan pangeran es kok bisa tau itu suami nya Adila..
apa diam2 Pak Dokter menyukai Dila ya...
Julia thaleb
Meisya hebat banget ya,punya 3 suami:
Bayu, Hadi dan Danang...
Evy
Itu tindakan yang benar..
Evy
Itu tindakan yang benar Dila....
Evy
Jika memang kasihan...Kenapa tidak dirumah orang tua Revan saja sicalon pelakor itu tinggal...
Evy
Sifat mertua dan suami yang sudah tidak sejalan ...gak usah dipertahankan lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!