Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.
Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.
Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.
Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.
Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
POV Suster Mary Mendez
Halo, aku Suster Mary Mendez. Izinkan aku menceritakan kisahku.
Usiaku delapan belas tahun, dan aku tinggal di biara ini sejak keluarga yang tak pernah kukenal meninggalkanku di sini. Delapan belas tahun tanpa keluarga sedarah, tetapi dikelilingi kasih Tuhan, kasih para suster, dan kasih para sahabat yang kutemui di sepanjang jalan.
Para biarawati menampungku saat aku masih bayi, dan sejak itu tempat ini menjadi rumahku.
Pagi itu berjalan seperti pagi-pagi lainnya.
Kami bangun sebelum matahari terbit, memanjatkan doa, lalu membantu menyiapkan sarapan. Setidaknya itulah tugas kelompokku di sini, yang diatur oleh Ibu Kepala Biara. Setelah itu kami berkumpul di ruang makan sementara Ibu Kepala Biara membagikan tugas hari itu. Perubahan jadwal memang jarang terjadi, tetapi sesekali ada juga. Aku justru senang bila ada kegiatan sosial, karena dari sana aku bisa mengikuti berbagai kursus gratis, seperti teknik keperawatan, perawatan lansia, dan pengasuhan anak.
Aku sangat menyayangi anak-anak, mata mereka yang memandang dunia dengan polos. Mereka belum mengenal rasa sakit, kejahatan, atau iri hati. Namun anak-anak di sini mengenal satu hal: ketiadaan kasih sayang. Dan aku mengisinya, atau setidaknya diam-diam kujadikan itu misiku sendiri. Setiap anak di sini mendapat kasih sayangku, cintaku tanpa syarat, kelembutanku, dan selalu bantuanku, terutama untuk tugas-tugas sekolah mereka.
Ibu Kepala Biara menghampiri kami.
"Suster Mary, Natália, Bárbara, dan Graziela, kalian akan mengurus anak-anak baru yang tiba di panti asuhan," katanya dengan senyum tenang seperti biasa.
Kami langsung mengangguk dan menuju sayap anak-anak.
Tugas pertama kami adalah memandikan para bayi dan anak-anak kecil, lalu membantu mereka saat sarapan. Anak-anak yang lebih besar, yang sudah bisa melakukan sebagian besar kegiatan sendiri, berada di bawah pengawasan Suster Luciana dan para biarawati lain yang biasa mengawasi kami saat bertugas.
Bekerja dalam kelompok berempat membuat segalanya lebih cepat dan tertata.
Dan jauh lebih ringan.
Kami mulai bekerja, dan aku tak bisa menyangkal betapa bahagianya aku, karena aku memang mencintai pekerjaan mengasuh anak.
Tak lama, sayap biara itu pun dipenuhi tawa, tangis bayi, permainan, dan derap kaki-kaki kecil yang berlarian di sepanjang lorong.
Dan aku mencintai setiap detiknya.
Merawat anak-anak ini adalah kebahagiaan terbesarku.
Kukira hari itu hanya akan menjadi satu lagi hari yang tenang.
Aku sama sekali tak menyangka bahwa takdir sebentar lagi akan mengubah hidupku selamanya.
Setelah semuanya selesai, kami berdoa bersama anak-anak, lalu menyiapkan pakaian mereka untuk nanti, sebab akan ada Misa, dan Pastor Francisco akan datang untuk mendengar pengakuan dosa kami.
POV Dante Herrera
Namaku Dante Herrera.
Usiaku tiga puluh lima tahun.
Menjadi pemimpin mafia menuntut banyak dariku, tetapi aku tak pernah mengeluh. Aku lahir di dunia ini dan dipersiapkan untuk memikul tanggung jawab itu sejak kecil.
Di atas segala kekayaan, kekuasaan, atau pengaruh, ada sesuatu yang kuanggap jauh lebih berharga: keluargaku.
Kedua orang tuaku, Rômulo dan Consuelo Herrera.
Dan tiga saudaraku: Pietro, Giovanni, dan Kevin.
Kami memiliki perusahaan yang tersebar di berbagai negara, dan kami memimpin organisasi kriminal terbesar di Spanyol. Namun, di atas urusan bisnis, kami bersatu. Kami bukan sekadar saudara; kami sahabat, rekan bisnis, sekaligus mitra dalam hidup.
Pagi itu, kami tengah mengawasi sebuah operasi penting di pelabuhan ketika semuanya lepas kendali.
Sebuah organisasi saingan mencoba merampas salah satu muatan kami.
Tembakan mulai berhamburan.
Orang-orang berlarian ke segala arah.
Ledakan mengguncang tempat itu.
Satu-satunya yang kupikirkan adalah melindungi keluargaku.
Saat kami masuk ke helikopter untuk meninggalkan area itu, aku mendengar suara yang membuat darahku membeku.
Sebuah bom.
Untung kami sudah bersiap dengan parasut.
"Lompat!" teriakku.
Ledakan terjadi beberapa detik kemudian.
Helikopter itu ditelan kobaran api.
Tanpa berpikir dua kali, aku melemparkan diri keluar dari pesawat.
Hal terakhir yang kulihat adalah saudara-saudaraku yang berhasil meloloskan diri.
Lalu rasa sakit yang hebat menembus tubuhku.
Pandanganku mengabur.
Dunia mulai menggelap.
Dan akhirnya, semuanya menjadi hitam.
Aku sama sekali tak menyangka takdir sedang membawaku ke tempat yang paling mustahil...
Sebuah biara.
POV Mary Mendez
Setelah pagi yang penuh kesibukan, akhirnya tibalah waktu tidur siang anak-anak.
Para bayi sudah terbaring nyaman di ranjang mereka, sementara anak-anak yang lebih kecil tidur tenang setelah makan siang. Biara terasa senyap, sesuatu yang jarang terjadi di siang hari.
Kumanfaatkan saat itu untuk merapikan beberapa mainan, memisahkan buku-buku anak, dan menyiapkan segala keperluan untuk kegiatan anak-anak berikutnya, ketika kudengar suara aneh dari arah halaman.
Terdengar seperti sesuatu yang berat jatuh ke tanah.
Aku mengernyit. Meski takut, rasa ingin tahuku lebih besar.
"Suara apa itu?" gumamku pada diri sendiri.
Aku melangkah menuju pintu dan menyusuri lorong hingga tiba di halaman luar.
Begitu memandang ke depan, jantungku berdegup kencang.
Ada seorang pria tergeletak di tanah.
Ia tak sadarkan diri.
Pakaiannya compang-camping, ada darah di beberapa bagian tubuhnya, dan wajahnya penuh luka sayat serta memar. Melihat begitu banyaknya luka, sungguh sebuah keajaiban ia masih hidup.
"Ya Tuhan!" seruku panik.
Tanpa membuang waktu, aku berlari kembali ke dalam biara.
"Ibu Kepala Biara! Ibu Kepala Biara!" teriakku sambil menyusuri lorong-lorong.
Para biarawati langsung menoleh ke arahku.
"Mary, ada apa?" tanya Ibu Kepala Biara cemas.
"Ada seorang pria terluka di halaman! Dia pingsan dan terluka parah!"
Ibu Kepala Biara tak membuang waktu.
"Panggil tim medis sekarang juga!"
Beberapa biarawati berlari menjalankan perintah itu, sementara aku menuntun Ibu Kepala Biara ke tempat pria itu tergeletak.
Beberapa menit kemudian, para tenaga dari rumah sakit komunitas tiba dengan tandu dan peralatan pertolongan pertama.
Di belakang paroki, di dalam wilayah biara, beroperasi sebuah rumah sakit komunitas kecil tempat kami dan anak-anak menerima perawatan setiap kali dibutuhkan.
Para dokter memeriksa pria itu dengan cepat.
"Dia masih hidup, tetapi kehilangan banyak darah," kata salah satu dokter.
Dengan hati-hati, mereka membaringkannya di tandu dan membawanya ke rumah sakit.
Saat aku menyaksikan penyelamatan itu, memandang tim medis menjauh sambil membawa pria itu di atas tandu menuju rumah sakit, entah mengapa kurasakan sesuatu yang aneh dalam diriku.
Aku bahkan tak mengenal pria itu.
Tak tahu namanya.
Tak tahu dari mana ia berasal.
Namun, entah kenapa, hatiku berkata bahwa kedatangannya ke biara ini akan mengubah banyak kehidupan.
Termasuk hidupku.
Diam-diam kupanjatkan doa, memohon kepada Tuhan agar ia selamat dan segera pulih.