"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Terakhir dan Misi Pertama
Enam tahun berlalu di dalam kegelapan Markas Bawah Tanah Red Crows.
Waktu telah mengikis habis sisa-sisa jejak remaja lemah yang dulu merangkak pasrah di bawah guyuran hujan badai Kota Atlas. Di balik dinding-dinding beton setinggi belasan meter yang terisolasi dari dunia luar, sebuah transformasi yang hampir tidak masuk akal telah terjadi.
Di tengah Sektor Latihan Utama yang luas, seorang pemuda berdiri tegap dengan napas yang berembun pelan. Usianya kini telah menginjak dua puluh satu tahun. Daren tidak lagi tampak seperti ranting kering yang rapuh atau babu kelaparan dengan tulang rusuk menonjol. Postur tubuhnya kini menjulang tinggi dan kokoh, dibalut oleh lapisan otot-otot atletis yang padat dan efisien. Bahunya mengembang lebar, garis rahangnya terpahat begitu tegas dan tajam, memberikan kesan dingin yang membekukan pada wajah tampannya.
Namun, meskipun Daren telah menguasai hampir seluruh disiplin pertarungan dan memiliki fisik yang begitu tangguh, dia masih belum diakui secara resmi sebagai anggota penuh Red Crows. Di tubuhnya belum terukir lambang organisasi. Sebab, masih ada satu tahapan latihan akhir yang belum pernah dia terima—sebuah ujian ekstrem yang dipersiapkan langsung oleh sang Pemimpin Tertinggi.
BZZZZT! BZZZZT!
Sirene bermotif merah keemasan bergema rendah di sepanjang koridor utama. Lampu-lampu indikator berganti warna, memancarkan sinyal panggiran resmi dari Ruang Latihan Eksekutif.
Hari ini, Argus memanggil seluruh perwira eksekutif tertingginya tanpa terkecuali untuk berkumpul di satu arena.
Pintu baja arena latihan bergeser terbuka. Lima sosok penguasa bayangan melangkah masuk secara berurutan: Mike, sang Pemimpin Eksekutif berdarah dingin; Lukas, petarung lincah bermulut tengil; Joe, sang pakar taktis dan data; Demian, eksekutif ahli pertarungan jarak dekat bersenjata; dan Dr. Anthony. Banyak prajurit biasa tidak menyadari bahwa Dr. Anthony bukan sekadar dokter senior berjas putih; di balik stetoskop dan kacamata bacanya, dia adalah mantan eksekutif medis bertangan dingin yang memiliki kemampuan bertarung mematikan.
Namun, di antara kelima eksekutif papan atas tersebut, Mike berada di puncak hirarki kekuatan—tangan kanan Argus yang tak tertandingi dalam hal teknik, naluri membunuh, dan ketenangan.
Argus berdiri di tribun utama, memegang cerutu tebal yang asapnya membumbung tinggi. Matanya yang hitam pekat menatap lurus ke arah Daren yang berdiri sendirian di tengah gelanggang pasir hitam.
"Daren," suara Argus rendah dan tebal, menggaung di seluruh ruangan. "Selama enam tahun kau telah menyerap semua ilmu di markas ini. Hari ini adalah ujian akhirmu. Aturannya sederhana: jatuhkan para eksekutifku."
Argus memalingkan pandangannya pada kelima pria di bawah. "Mike, Lukas, Joe, Demian, Anthony... serang dia bersamaan. Jangan tahan pukulan kalian."
Lukas tertawa hambar seraya merenggangkan jemarinya. "Woa, Tuan Argus! Anda menyuruh kami berlima mengeroyok bocah ini? Apa Anda tidak takut dia bakal masuk rumah sakit lagi?"
"Tutup mulutmu dan serang, Lukas," potong Mike dingin, matanya mengunci pergerakan Daren.
Tanpa peringatan tambahan, kelima eksekutif itu meluncur deras secara bersamaan dari lima arah yang berbeda.
SSET!
Demian menjadi yang pertama melesakkan serangan tusukan belati ke arah rusuk Daren. Namun, sebelum ujung besi itu menyentuh kain kaus Daren, pemuda itu memutar tubuhnya dengan kelincahan yang luar biasa presisi. Tangan kanan Daren mencengkeram pergelangan tangan Demian, memutarnya keras hingga tulang sendi eksekutif itu berderet, lalu melempar tubuh Demian menghantam Dr. Anthony yang mencoba masuk dari sudut buta.
Brak!
Dr. Anthony menepis tubuh Demian, mengayunkan tendangan memutar ke leher Daren. Daren menangkisnya hanya dengan menggunakan satu siku tangan kiri, lalu membalas dengan pukulan lurus ke arah dada sang dokter. Hantaman itu begitu bertenaga hingga membuat Dr. Anthony terdorong mundur belasan langkah dengan napas tersengal.
"Cepat sekali?!" seru Joe yang mencoba menyerang menggunakan teknik kuncian lantai. Daren bahkan tidak menoleh; dia melompat tipis, memanfaatkan lutut Joe sebagai tumpuan, lalu menendang dada Joe hingga sang eksekutif IT tersungkur di atas pasir hitam.
Lukas menyeringai, melompat dari udara seraya mengayunkan tebasan beruntun. "Jangan lupakan aku, Bocah!"
Daren membaca pola serangan Lukas yang acak dengan sangat mudah. Dalam tiga gerakan kilat, Daren menepis semua tebasan Lukas, menyusup ke jarak dekat, dan mendaratkan hantaman telapak tangan tepat di ulu hati Lukas.
BOK!
"Agh!" Lukas terbatuk keras, matanya melotot saat tubuhnya terlempar lima meter dan jatuh telentang di tanah.
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, empat dari lima eksekutif tertinggi Red Crows telah berhasil diredam. Kecepatan, kekuatan, dan refleks Daren jelas telah melampaui rata-rata para petarung senior di organisasi tersebut. Seluruh prajurit yang menyaksikan dari balik kaca pembatas menahan napas mereka karena takjub.
Kini, hanya tersisa satu orang di arena: Mike.
Atmosfer di tengah arena mendadak berubah menjadi sangat pekat. Mike melepas jas hitamnya, melemparnya ke tanah, lalu menyisingkan kemeja putihnya hingga ke siku. Wajah kaku Mike tidak memancarkan rasa terkejut; yang ada hanyalah fokus mutlak dari seorang pembunuh puncak.
"Luar biasa, Daren," ucap Mike datar. "Tapi aku bukan mereka."
SZZZT!
Mike meluncur ke depan. Kecepatannya jauh berbeda dibanding eksekutif lainnya. Pukulan kombinasi jarak dekat meluncur bagaikan badai ke arah Daren.
Daren merapatkan giginya, menerima tumpuan beban serangan Mike. Benturan demi benturan keras terjadi di udara. Daren merasakan tekanan yang sangat berat; teknik bertarung Mike sangat rapat, tanpa celah, dan setiap pukulannya mengandung bobot yang sanggup meremukkan tulang. Daren beberapa kali terdesak mundur, mempertahankan posisi bertahannya dari gempuran beruntun sang kapten tertinggi.
TRANG! BOK! BOK!
Daren tersudut ke dinding beton arena. Pukulan lurus Mike menyapu pipi kanan Daren, meninggalkan goresan lebam merah. Namun, bukannya mundur karena rasa sakit, mata kelabu Daren justru menyala terang. Di dalam himpitan tekanan Mike, insting bertahannya meledak penuh.
Daren merendahkan badannya secara mendadak, membiarkan susulan pukulan Mike menghantam dinding beton di belakangnya hingga retak.
Dengan memanfaatkan momen saat posisi Mike terbuka tipis seperseribu detik, Daren memutar pinggulnya, memusatkan seluruh daya ledak otot paha, dada, dan bahunya ke dalam satu Pukulan kait kiri yang sangat dahsyat.
BAM!
Pukulan keras Daren menghantam telak pipi kiri Mike.
BUK!
Daya hantam pukulan itu begitu kuat hingga menghasilkan bunyi dentuman padat yang bergema di seluruh ruangan. Kepala Mike terlempar ke samping, beberapa tetes darah memercik dari bibirnya. Tubuh kokoh kapten tertinggi itu terdorong mundur lima langkah ke belakang, langkah kakinya terseret di atas pasir hitam sebelum akhirnya dia berhasil menyeimbangkan kembali posisinya.
Mike tidak jatuh. Tubuhnya tetap tegap berdiri, meski memar kemerahan yang pekat langsung terbentuk di rahang dan pipi kirinya. Mike mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya, lalu menatap Daren dengan kilatan rasa hormat yang mendalam.
Di atas tribun utama, Argus yang menyaksikan pertarungan tersebut menyunggingkan senyuman lebar. Cerutu di jarinya dihisap dalam-dalam sebelum dihembuskan ke udara. Pria penguasa bawah tanah itu sangat puas. Pemuda yang dipungutnya dari semak-semak enam tahun lalu... kini telah mampu mendaratkan pukulan telak yang menggeser posisi tangan kanannya sendiri.
"Cukup!" suara Argus menghentikan seluruh gerakan di arena.
Argus berdiri, menepuk tangannya pelan. "Sesi latihan resmi selesai."
Dua jam setelah ujian fisik tersebut berakhir, Daren melangkah menyusuri lorong khusus di Sektor Keramat Markas Utama.
Dia telah dipanggil oleh Argus menuju sebuah ruangan bernuansa gelap yang hanya diterangi oleh pendar lilin dan lampu redup. Ruangan ini adalah tempat sakral di mana para rekrutan baru mendapatkan tato lambang Red Crows sebagai simbol identitas dan keanggotaan mutlak mereka.
Biasanya, aturan organisasi sangat mengikat. Setiap rekrutan wajib dilukis dengan tato lingkaran burung gagak merah melingkar tepat di lengan atas atau di tengah punggung mereka.
Namun, malam ini aturan itu tidak berlaku untuk Daren.
Argus duduk di kursi kayu berukir di sudut ruangan, sementara seorang seniman tato senior organisasi telah menyiapkan jarum dan tinta merah pekat di meja steril.
"Bagi prajurit biasa, simbol di lengan atau punggung adalah tanda bahwa mereka dimiliki oleh Red Crows," ucap Argus datar saat Daren melangkah masuk. "Tapi bagimu, Daren... kau telah membuktikan bahwa kau berada di tingkat yang berbeda. Aku membebaskanmu. Kau boleh memilih simbol apa saja dan di bagian tubuh mana pun yang kau inginkan."
Daren berdiri tegap di tengah ruangan. Dia tidak perlu berpikir panjang. Selama enam tahun, hanya ada satu dorongan yang membakar dadanya setiap kali dia mengayunkan belati atau menahan beban besi.
Daren menatap Argus lurus. "Aku ingin tulisan kanji di leher bagian kanan."
Argus menaikkan sebelah alisnya. "Arti dari kanji itu?"
"Akuma no Urami (Dendam Sang Iblis)," jawab Daren pendek, suaranya dingin dan tanpa ragu. "Dilukis secara vertikal tepat dari bawah garis rahang hingga ke pangkal leher."
Argus menyunggingkan senyum dominannya. "Sesuai keinginanmu."
Proses penatoan berlangsung dalam hening. Desung halus mesin tato menembus kulit leher kanan Daren, mengukirkan tinta merah pekat bercampur garis hitam. Daren tidak meringis sedikit pun saat jarum tajam itu merobek kulit lehernya yang sensitif. Rasa sakit fisik itu hanyalah hiasan kecil dibanding rasa sakit yang tersimpan di dalam jiwanya.
Satu jam kemudian, ukiran kanji itu selesai.
Tato vertikal berwarna merah pekat membara terukir sempurna di leher kanan Daren, memberikan kesan yang sangat berbahaya, elegan, dan mengerikan pada penampilan fisik pemuda itu.
Dengan terukirnya tato tersebut, Daren secara resmi diakui sebagai anggota penuh Red Crows—sebuah senjata bernyawa yang siap dilepaskan ke dunia atas.
Keesokan harinya, pukul empat pagi.
BRAAK! BRAAK! BRAAK!
Pintu kamar pribadi Daren digedor secara brutal dari luar. Tidak hanya digedor, gagang pintunya diputar-putar secara kasar mengganggu ketenangan pagi.
"Oii! Bocah Babu! Bangun! Ini sudah pagi!" suara nyaring Lukas berteriak dari balik pintu dengan gaya super menyebalkan. "Tuan Argus menyuruhku memanggilmu! Kalau kau tidak keluar dalam tiga detik, aku akan mendobrak pintu ini dengan bom tempel!"
Pintu kamar bergeser terbuka secara mendadak.
Daren berdiri di ambang pintu dengan celana taktis hitam dan kaus ketat yang memperlihatkan tato kanji merah yang masih baru di lehernya. Tatapan matanya yang dingin menembus wajah Lukas.
Lukas yang berdiri di depan pintu dengan kacamata hitamnya mendadak menghentikan tawa ejekannya. Mata Lukas tertuju pada tato kanji di leher kanan Daren, lalu beralih melihat aura intimidasi yang kini memancar dari tubuh pemuda di depannya.
"Cih, gaya bertambah keren saja kau setelah dapat tato," gumam Lukas seraya memutar-mutar kunci di jarinya. "Cepat ikut aku ke Ruang Pribadi Tuan Argus. Beliau menunggumu sekarang."
Tanpa membuang kata, Daren melangkah mengiringi Lukas menyusuri koridor Markas Utama menuju Ruang Pribadi Pemimpin Tertinggi.
Pintu jati tebal Ruang Pribadi Argus terbuka.
Ruangan itu dipenuhi dengan interior kayu klasik, rak-rak buku tua, serta koleksi senjata antik di dinding. Argus berdiri di dekat jendela besar yang membelakangi ruangan, mengapit cerutunya seperti biasa.
Begitu Daren melangkah masuk dan membungkuk hormat, Argus membalikkan badannya. Tanpa basa-basi atau kata sambutan yang bertele-tele, Argus mengambil sebuah benda dari atas meja kayunya dan melemparnya ke udara menuju Daren.
SSET!
Daren menangkap benda itu dengan refleks cepatnya.
Di dalam genggaman tangan Daren, bertengger sebuah kunci kontak berlogo merek motor sport ternama dengan gantungan besi berukirkan emblem Red Crows.
Daren menatap kunci motor itu, lalu menengadah menatap Argus dengan kening sedikit terlipat.
"Motor sport kustom serba hitam itu milikmu sekarang. Sudah terparkir di helipad pelataran utama," kata Argus, suaranya tebal dan berwibawa. "Dan keberadaan kunci itu menandai dimulainya misi pertamamu sebagai anggota resmi Red Crows."
Mata Daren menyempit. "Misi pertama?"
Argus melangkah mendekati mejanya, melempar sebuah dokumen tipis ke arah Daren.
"Beberapa hari lalu, tim intelijen Joe menemukan bahwa salah satu jalur distribusi logistik rahasia kita di Sektor Barat Kota Atlas terganggu," jelas Argus dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi sangat dingin dan membahayakan. "Seorang pengusaha papan atas lokal mencoba bermain kayu dengan memotong pasokan kita dan menyuap pejabat pelabuhan untuk merebut wilayah bisnis milik Red Crows."
Argus menatap lurus ke dalam manik mata Daren.
"Pria lancang yang berani mengganggu bisnisku itu..." Argus menghentikan kalimatnya sejenak, memberikan jeda yang menekan udara ruangan. "...bernama Deni."
DEG!
Nama itu menghantam dada Daren bagaikan petir di siang bolong.
Deni. Pria yang sepuluh tahun lalu mengurungnya di gudang bawah tangga, menyiksanya dengan gesper kulit berujung besi, dan membiarkannya hampir mati karena vas porselen yang pecah.
Bara api yang ditahannya selama enam tahun di dalam jiwanya seketika membakar seluruh aliran darah Daren. Tato kanji merah di leher kanannya seolah makin menyala menanggapi gejolak emosi di dalam tubuhnya.
"Aku tidak suka ada bajingan yang mencampuri bisnis Red Crows," tegas Argus dengan perintah mutlak. "Misi pertamamu sangat sederhana, Daren. Pulanglah ke rumah tempat kau disiksa dulu. Pulanglah ke kediaman Deni... dan habisi mereka semua tanpa terkecuali. Hapuskan keberadaan keluarga itu dari Kota Atlas."
Daren tidak membalas dengan kalimat panjang. Dia tidak bertanya bagaimana cara melakukannya, dia tidak meminta bantuan pengawal, dan dia tidak menunjukkan rasa ragu sedikit pun.
Dengan satu gerakan mantap, Daren meremas kunci motor sport di tangannya hingga besi kunci itu berderit dalam cengkeramannya. Matanya yang dingin kini dipenuhi oleh kepekatan murni yang siap menghancurkan apa pun di depannya.
Daren memasukkan kunci itu ke sakunya, membungkukkan badannya mendalam di hadapan Argus, lalu berbalik melangkah lebar keluar dari ruangan tanpa mengeluarkannya sepatah kata pun.
Perjalanan pembalasan dendam sang Gagak Merah... secara resmi telah dimulai.