Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:914
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Xavier

Aku mengirimkan semua informasi yang dibutuhkan Annastasia untuk kepindahannya tepat pada hari Minggu pukul dua belas siang. Bukan karena takut dia akan membuat keributan di depan gedungku, melainkan karena rasa kagum yang enggan aku akui atas aksi nekad yang dilakukannya di pameranku.

Ternyata mawar kecil yang tampak rapuh itu punya pendirian yang cukup tangguh juga.

Akhir pekan berikutnya, Annastasia muncul lagi di rumahku, kali ini dengan membawa sepasang tim pengangkut barang.

Beatrice, pengurus rumahku, dan jack, kepala pelayanku, mengambil alih tugas untuk mengarahkan para petugas pengangkut barang mengitari apartemen, sementara aku mengantar Annastasia menuju kamarnya.

Tak satu pun dari kami yang bersuara, dan keheningan itu makin meluas di setiap langkah hingga rasanya menjadi sosok kasatmata yang bernapas di antara kami.

Rasa jengkel merayap masuk ke dalam dadaku.

Annastasia bisa bersikap sangat ramah kepada Beatrice, Jack, dan seluruh stafku yang lain, yang dia sapa dengan senyuman hangat dan kue-kue berengsek dari Levain. Namun begitu berhadapan denganku, dia langsung menutup diri seolah-olah akulah yang baru pindah ke rumahnya dan mengacaukan kehidupannya yang telah tertata rapi.

Seolah-olah akulah yang muncul tanpa diundang di pestanya dengan pakaian yang bisa membuat seorang pria berlutut tak berdaya.

Seminggu telah berlalu, namun bayangan gaun hitam yang membungkus lekat lekuk tubuhnya itu masih terekam jelas di benakku, begitu pula dengan kobaran amarah di matanya saat dia membentakku.

Namun tidak ada kobaran amarah itu sekarang. Annastasia adalah wujud nyata dari keanggunan yang dingin saat berjalan di sampingku, dan hal itu membuatku gusar tanpa alasan yang jelas.

Atau mungkin kekesalanku ada hubungannya dengan kenyataan bahwa, bahkan hanya dengan blus dan rok santai, keberadaannya membangkitkan gairah yang tak kuinginkan di dalam perutku. Tubuhku belum pernah bereaksi sekuat ini pada siapa pun sebelumnya, padahal aku bahkan tidak menyukainya sama sekali.

Kami berhenti di depan sebuah pintu kayu berukir.

“Ini kamarmu.” Aku menempatkannya di kamar yang paling jauh dari kamarku, tapi itu pun masih terasa terlalu dekat. “Beatrice yang akan membongkar barang-barangmu nanti.”

Suaraku terdengar luar biasa keras setelah keheningan yang menekan tadi.

Sebelah alisnya terangkat. “Kamar terpisah sampai kita menikah. Aku tidak tahu kamu setradisional ini.”

“Aku juga tidak tahu kamu sebegitu tidak sabarnya untuk berbagi tempat tidur denganku.”

Sebuah senyum miring tipis melengkung di bibirku saat pipi Annastasia merona merah. Itu adalah momen pertamanya kehilangan ketenangan sepanjang pagi ini.

“Aku tidak bilang aku ingin berbagi tempat tidur denganmu,” katanya dingin. “Aku hanya menunjukkan betapa kunonya pemikiranmu. Tidur di kamar terpisah itu untuk pasangan suami istri yang sedang bertengkar, bukan untuk pasangan yang baru bertunangan yang seharusnya sedang kasmaran. Kabar ini bakal bocor. Orang-orang bakal bergosip.”

“Tidak akan bocor, dan mereka tidak akan bergosip.” Staf rumah tanggaku telah bekerja bersamaku selama bertahun-tahun dan sangat menjaga kerahasiaan. “Jika sampai terjadi, aku yang akan membereskannya. Namun karena kita sedang membahas citra publik, kita harus menetapkan batasan-batasan dalam hubungan kita.”

“Ah, komunikasi. Aku mulai percaya kamu akhirnya lulus dari era manusia purba dalam hidupmu.”

Aku mengabaikan sindiran tajamnya dan melanjutkan, “Di depan umum, kita akan memainkan peran sebagai pasangan yang saling mencintai. Kita akan menghadiri acara bersama, tersenyum ke arah kamera, dan berpura-pura saling menyukai. Kamu juga akan mendapatkan akses penuh ke seluruh portofolio merek Romanov Group. Jika kamu menginginkan apa pun dari koleksi kami, hubungi asistenku Astrid dan dia yang akan mengurusnya. Di atas mejamu, kamu akan menemukan nomor teleponnya, sebuah kartu Amex Black, dan cincin pertunanganmu. Pakai cincin itu.”

Pengumuman pertunangan kami telah terbit pagi ini. Annastasia dan aku secara resmi telah terikat, yang berarti reputasiku juga menjadi taruhannya.

Aku tidak peduli apakah orang-orang menyukaiku secara pribadi atau tidak, tetapi persepsi publik sangat penting dalam bidang pekerjaanku. Perselisihan yang kentara akan menimbulkan terlalu banyak pertanyaan, dan hal terakhir yang kubutuhkan adalah wartawan kolom gosip yang suka mencium bau ketidakharmonisan berkeliaran di sekitarku.

“Sebuah cincin di atas meja samping tempat tidur. Romantis sekali.” Annastasia menyentuh gelang batu safir di pergelangan tangannya. “Kamu benar-benar tahu cara membuat seorang wanita merasa spesial.”

“Aku di sini bukan untuk membuatmu merasa spesial.” Aku mendekatkan kepalaku ke arahnya. Aroma apel yang manis dan sedikit segar terhirup masuk ke paru-paruku selagi aku mengucapkan kalimat berikutnya dengan penekanan yang tegas dan tajam. “Aku di sini karena aku membuat kesepakatan dengan ayahmu.”

Annastasia tidak mundur, tetapi rasa terkejut dan sedikit keraguan muncul di matanya saat aku mengusapkan buku jariku dengan santai di atas rantai kalung emas di lehernya.

Bahkan dalam jarak sedekat ini, kulitnya tampak tanpa cela, seperti krim yang dituangkan di atas kain sutra. Bulu mata hitamnya yang panjang membingkai mata cokelat tuanya, dan sebuah tahi lalat kecil, sangat kecil hingga seseorang harus berada sedekat aku sekarang untuk bisa melihatnya, menghiasi area di atas bibirnya yang ranum.

Pandanganku turun ke mulutnya. Rasa hangat dari dalam perutku kian menjalar hebat.

Dia memakai lipstik yang sama seperti saat di pameran. Tegas, merah, dan menggoda, bagaikan panggilan siren di tengah lautan yang tenang.

Aku ingin mengusapkan ibu jariku di bibir bawahnya dan merusak lipstiknya yang sempurna itu sampai dia tidak lebih dari sekadar kekacauan yang cantik. Mengupas topeng ketenangannya dan melihat keburukan di baliknya.

Annastasia mungkin terbungkus dalam wujud yang cantik, tetapi seorang anggota keluarga Clifford tetaplah keluarga Clifford. Mereka semua dicetak dari cetakan yang sama.

“Jangan harapkan kencan makan malam atau kata-kata manis dari ku, mia cara,” kataku, dengan suara yang terdengar selembut dan sesantai sentuhanku. “Kamu tidak akan mendapatkan keduanya.”

Alih-alih menyentuh mulutnya, aku mengusapkan punggung tanganku di tulang selangkanya, melewati lekuk bahunya, dan turun ke lengannya hingga mencapai denyut nadi di pergelangan tangannya yang berpacu cepat.

“Buang jauh-jauh bayangan romantis apa pun tentang kita yang saling jatuh cinta dan hidup bahagia selamanya. Itu tidak akan pernah terjadi.” Aku menekan ibu jariku pada denyut nadinya, keras, dan tersenyum saat dia terperanjat oleh gerakan yang mendadak dan kasar itu. “Ini murni kesepakatan bisnis. Tidak lebih. Apakah aku sudah cukup jelas?”

Annastasia merapatkan bibirnya membentuk garis lurus yang keras kepala.

Udara di sekitar kami seolah hidup dengan percikan listrik dan permusuhan. Percikan itu mendesis menyentuh kulitku, membuat otot-ototku menegang dan menyulut api aneh yang lapar di perutku.

Ketika dia tetap diam membangkang, aku mengulurkan tangan dan melingkarkan jemariku di tenggorokannya. Perlahan, hanya cukup untuk merasakan napasnya yang mendadak dangkal.

Suaraku merendah menjadi sebuah peringatan yang berbahaya. “Apakah. Aku. Sudah. Cukup. Jelas?”

Mata Annastasia berkilat. “Sangat jelas.” Janji akan balasan dendam tersirat di balik jawabannya yang tenang.

“Bagus.” Aku melepaskannya dan melangkah mundur dengan senyuman mengejek. “Selamat datang di rumah, sweetheart.”

Aku pergi tanpa menunggu jawaban darinya.

Kehangatan kulit Annastasia masih tertinggal di telapak tanganku sampai aku mengepalkan tangan menggegam korek apiku dan membiarkan dinginnya logam mengusir sisa-sisa sentuhannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!