Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Depan Gerbang Kelam
Debu ledakan dari kedua sisi hutan belum sepenuhnya mereda ketika kelima anggota Tim Vanguard akhirnya berhasil berkumpul kembali di depan gerbang raksasa Lembah Kelam.
Gerbang batu setinggi sepuluh meter itu terukir dengan simbol-simbol kuno yang kini membara merah darah, memuntahkan hawa panas bercampur bau belerang yang amat pekat.
"Kalian tidak apa-apa?" Monica menjadi yang pertama bertanya, matanya menyapu kondisi Reno dan Kazuma.
Armor perak Reno tampak tergores dalam di beberapa bagian, dan jubah penyihir Kazuma sedikit tersulut api, tetapi keduanya berdiri tegap dengan napas memburu.
"Kami selamat, Monica," jawab Kazuma seraya membetulkan kacamata yang hampir melorot. "Tapi seperti yang kalian rasakan... menghancurkan altar di Ngarai Tengkorak justru membuat gerbang ini bereaksi semakin gila."
"Sama halnya di desa mati," timpal Elena seraya menarik anak panah baru dan memasangnya pada tali busur emasnya. "Altar-altar itu bukan sumber tenaga, melainkan segel pengunci."
Danis yang berdiri di atas bongkahan batu besar menatap lurus ke puncak gerbang. "Dan sekarang, segelnya sudah runtuh sepenuhnya. Perempuan bermasker perak itu sengaja memanipulasi kita untuk menghancurkannya dari luar."
Kreeek... BRAK!
Dentuman keras menggoncang tanah di bawah pijakan mereka. Pintu gerbang batu raksasa itu perlahan terdorong terbuka dari dalam. Dari celah kegelapan yang menganga, muncul riak aura hitam pekat yang menyapu area sekitar, memadamkan sisa-sisa cahaya sihir di sekeliling mereka dalam sekejap.
Dari balik kegelapan gerbang, langkah kaki yang teratur dan gemerincing rantai besi bergema nyaring.
Bukan lagi pasukan bayangan tanpa wajah atau monster batu yang keluar, melainkan sebuah barisan zirah besi hitam berukuran dua kali lipat ukuran manusia biasa. Setiap zirah memegang pedang besar berkarat yang dialiri sihir kegelapan. Di atas barisan prajurit zirah itu, sesosok naga hitam raksasa mendarat dengan dentuman keras yang meretakkan tanah.
Di atas kepala sang naga, perempuan berpakaian gaun hitam dengan topeng perak melayang pelan, lalu hinggap anggun di tanduk naga tersebut.
"Kerja yang sangat luar biasa, anak-anak dari Akademi Grandoria," suara perempuan itu bergema merdu namun dingin, menusuk hingga ke dalam benak mereka.
"Terima kasih telah membantuku melepaskan Pasukan Abadi dari kurungan segel tua ini."
Monica melangkah paling depan, membetulkan posisi ikatan kuncir kudanya yang bergoyang diterpa angin malam. Ia menyilangkan tongkat safirnya di depan dada, memancarkan aura cahaya biru murni yang menahan gelombang tekanan sihir hitam dari sang perempuan.
"Siapa kau sebenarnya?" seru Monica tegas, matanya menatap lurus tanpa gentar ke arah topeng perak itu. "Dan apa tujuanmu membangkitkan pasukan kegelapan ini?!"
Perempuan itu menyunggingkan senyum tipis di bibirnya yang terlihat pucat. "Nama tidak lagi penting bagi calon mayat. Yang perlu kalian tahu, dunia yang kalian kenal sedang menuju akhirannya, dan tugas kecil kalian di sini hanya menjadi kerikil pertama yang kuinjak, hahaha!!!!" ucapnya dengan tertawa keras.
Ia mengangkat tangan kanannya yang dibalut sarung tangan hitam berukir emas, lalu mengibaskannya pelan ke arah Tim Vanguard.
"Musnahkan mereka! ."
Seketika, puluhan prajurit zirah besi hitam menghentakkan kaki serentak dan melesat maju dengan kecepatan yang tak masuk akal untuk ukuran badan mereka yang raksasa. Naga hitam di belakang mereka meraung dahsyat, menyemburkan kobaran api hitam yang siap membumihanguskan tempat mereka berdiri.
"Reno, tahan semburan apinya! Kazuma, bantu dengan sihir es peningkat!" perintah Monica dengan suara lantang yang menguasai arena pertarungan. "Elena, Danis, kita incar pergerakan prajurit zirah dari celah samping!"
"Siap, Ketua!" seru keempat temannya kompak.
Di bawah naungan langit malam yang diselimuti pusaran awan hitam, pertempuran garis depan yang sesungguhnya baru saja meletus. Monica menggenggam tongkatnya erat-erat, menyalakan seluruh pendaran sihir terkuatnya demi melindungi setiap rekannya dari ancaman bahaya yang kian membesar.