ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sementara itu, di sebuah kafe yang tidak jauh dari area kampus, Adrian tampak duduk tenang di dekat jendela besar sambil menikmati secangkir kopi hangat. Ia sengaja berteduh di sana, menunggu hujan deras di luar reda sekaligus meredakan rasa gelisahnya.
Brrrr... Brrrr...
Ponsel di atas meja mendadak berdering. Adrian langsung menyambarnya dan melihat layar panggilan dari seseorang yang beberapa hari ini ia mintai bantuan.
"Halo, gimana?" tanya Adrian langsung to the point begitu panggilan terhubung.
Di seberang sana, suara sang informan terdengar jelas.
"Gue udah telusuri tempat tinggal Luna di perkampungan waktu dan gue dapet info kalau sebelumnya Luna sempat tinggal di Apartemen Cemara. Tapi sejak empat hari yang lalu, dia udah gak tinggal lagi di sana."
Adrian mengerutkan keningnya, rasa penasarannya kian menjadi-jadi.
"Empat hari lalu? Terus sekarang dia pindah ke mana?"
"Belum tau pasti, itu yang lagi gue cari."
"Oke, kabari gue kalau lo dapet info baru," pungkas Adrian sebelum mengakhiri panggilan.
Adrian meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, namun pikirannya langsung melayang ke mana-mana. Jika Luna sudah tidak tinggal di perkampungan itu lalu tinggal di mana gadis itu sekarang?
Apakah ia pindah ke tempat lain atau... jangan-jangan Luna sudah kembali pulang ke kediaman Damaris?
Tak mau terus-terusan berspekulasi, Adrian kembali merogoh saku jaketnya. Ia mencari kontak lain di ponselnya, lalu menekan tombol panggil untuk seseorang yang bisa dimintai tolong mengawasi situasi di rumah keluarga Luna.
Begitu tiba di penthouse, Luna langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Namun, entah kenapa, sekujur tubuhnya mendadak terasa lemas dan lunglai.
Kepalanya juga berdenyut pening, padahal ia sempat berniat untuk merapikan sisa tugas bersih-bersihnya yang tertunda tadi pagi.
Hari masih menunjukkan pukul empat sore. Merasa tidak sanggup berdiri lebih lama lagi, Luna memutuskan merebahkan diri sejenak di atas tempat tidur sekedar mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk.
Tak butuh waktu lama bagi matanya untuk terpejam; rasa lelah dan pening itu langsung membawanya hanyut ke dalam tidur yang lelap.
Sementara itu, Moreno yang baru saja memasuki unit apartemen langsung berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah selesai dengan ritual mandinya dan mengenakan pakaian santai, pria itu keluar kamar dan menatap sekeliling ruangan.
Suasana terasa senyap. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Luna di area depan maupun ruang tengah.
Didorong rasa penasaran, Moreno melangkah menuju kamar tamu tempat Luna beristirahat. Ia sempat mengetuk pintunya pelan, namun tidak ada sahutan dari dalam. Perlahan, Moreno memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka.
Di atas ranjang, terlihat sosok Luna yang sedang tidur meringkuk memeluk selimut, napasnya terdengar sedikit tidak teratur.
Melihat kondisi gadis itu yang tampak kelelahan, Moreno hanya terdiam sejenak. Tanpa melontarkan komentar apa pun, ia kembali menutup pintu kamar tersebut rapat-rapat lalu melangkah menuju dapur.
Sadar kalau Luna tidak bisa diandalkan untuk urusan masak-memasak— sementara perutnya mulai terasa lapar, Moreno akhirnya memutuskan untuk turun tangan.
Berbanding terbalik dengan Luna yang payah di dapur, tangan kokoh Moreno justru terlihat sangat lincah memainkan peralatan masak.
Gerakannya terarah dan terbiasa mengolah berbagai bahan makanan dengan cekatan. Pria itu bahkan dengan sengaja memasak dalam porsi yang lebih banyak, mengingat Luna pasti belum mengisi perutnya sejak siang tadi.
Di dalam kamarnya, Moreno duduk di balik meja kerja dengan layar laptop menyala terang di hadapannya. Deretan angka serta kolom-kolom rumit yang dipenuhi digit-digit finansial terpampang jelas di layar.
Ia sedang fokus memantau perkembangan beberapa bisnis rahasianya, sesekali mengetik balasan untuk beberapa surel penting yang masuk.
Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Saat Moreno melirik jam di layar ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Ada satu hal yang mendadak terasa ganjil. Suasana di dalam penthouse terasa terlalu sunyi. Tidak terdengar suara bising atau langkah kaki Luna yang biasanya mondar-mandir grasak-grusuk di area dapur.
Merasa ada yang tidak beres, Moreno bangkit dari kursi kerjanya. Langkah kakinya langsung membawanya keluar kamar, menuju pintu kamar Luna.
Tanpa mengetuk kali ini, Moreno langsung memutar gagang pintu dan melangkah masuk.
Luna masih terbaring di atas ranjang dengan posisi yang sama seperti beberapa jam lalu. Namun, saat Moreno mendekat, ia langsung menyadari ada yang salah.
Wajah Luna tampak pucat, sementara keringat dingin tampak membasahi pelipis dan permukaan kaus oversized yang dipakainya.
Moreno mengernyitkan dahi. Ia duduk di tepi ranjang, lalu mengulurkan tangan dan menempelkan punggung tangannya di dahi gadis itu.
"Suhu tubuhnya panas sekali!
Moreno terkejut. Seketika itu juga, ia merasa agak bersalah. Mengingat bagaimana ia sengaja membiarkan Luna berdiri kedinginan dan kehujanan di parkiran tadi siang sebagai bentuk hukumannya.
Tanpa buang waktu, Moreno bergegas melangkah ke dapur untuk menyiapkan semangkuk air hangat dan mengambil sehelai handuk kecil. Setelahnya, ia kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang, berniat menyeka tubuh Luna yang basah oleh keringat.
Namun, sebelum itu, ia harus mengganti kaus basah yang melekat di tubuh gadis itu terlebih dahulu.
Moreno sempat mencari sejenak ke dalam lemari pakaian Luna untuk mengambil kaus ganti, lalu kembali mendekati ranjang. Dengan gerakan hati-hati, ia merangkul tubuh Luna dan menyandarkannya perlahan ke dada bidangnya.
Rasa dingin dan panas beradu di kulit Luna. Gadis itu mengerjap pelan, kesadarannya berada di antara sadar dan tidak.
"L-lagi... apa lo, Reno...?" tanya Luna dengan suara serak dan lemah.
"Gue mau ganti baju lo," jawab Moreno tenang namun tegas.
Luna menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menolak meski tenaganya habis.
"Gak... gak usah..."
"Baju lo udah basah sama keringat. Jangan membantah, Luna," tukas Moreno dengan nada mutlak.
Mendengar itu, Luna kembali terdiam lemas. Kali ini ia benar-benar pasrah, membiarkan apapun yang akan dilakukan oleh pria itu karena sekujur tubuhnya sudah terlampau lemas untuk melawan.
Moreno perlahan menarik hem kaus oversized yang dipakai Luna, lalu melepasnya dari tubuh gadis itu.
Seketika, napas Moreno sedikit tertahan. Di balik kaus yang terlepas, Luna kini hanya mengenakan celana pendek dan bra hitam berenda yang membungkus tubuhnya.
Kulit putih mulusnya tampak kontras di bawah temaram lampu kamar, sementara lekuk dada yang padat dan berisi tersaji jelas di depan mata.
Melihat pemandangan yang begitu menggoda, pertahanan diri Moreno nyaris runtuh. Pria itu terpaku sejenak, terpesona oleh keindahan yang tersembunyi di balik sikap galak Luna selama ini.
Sebuah umpatan rendah lolos begitu saja dari bibir Moreno, nyaris tak terdengar di telinga Luna:
"Sial... ternyata lo seksi juga ya..."