Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Verion Group

Mobil Alphard hitam itu memasuki halaman mansion keluarga Ganendra.

Pintu mobil terbuka. Ravenzo turun dengan setelan jas hitam yang masih rapi setelah perjalanan panjangnya dari London.

Monica Ganendra yang sudah menunggu di depan pintu langsung menghampiri putranya.

"Raven! Akhirnya kamu pulang juga, Nak!" Monica langsung memeluk Ravenzo.

Ravenzo tersenyum tipis. "Iya, Mom. Maaf baru bisa pulang sekarang."

"Nggak apa-apa. Kamu pasti capek. Ayo masuk, Daddy kamu udah nunggu di ruang keluarga."

Ravenzo mengangguk lalu masuk bersama ibunya.

Di ruang keluarga, Ardiaz Ganendra sedang duduk sambil membaca koran. Begitu melihat Ravenzo, ia langsung meletakkan korannya.

"Pulang juga kamu akhirnya."

Ravenzo duduk di sofa. "Iya, Dad."

"Urusan perusahaan di London udah selesai?" tanya Ardiaz pelan.

"Udah. Makanya aku balik ke Indonesia." jawab Ravenzo.

Ardiaz mengangguk pelan. "Bagus. Mulai sekarang kamu harus lebih fokus ngurus perusahaan pusat."

"Iya."

Ardiaz kembali mengambil korannya, tetapi beberapa detik kemudian ia kembali membuka pembicaraan.

"Oh iya, Raven."

"Apa?"

"Kamu masih ingat soal keluarga Pranaja?"

Ravenzo langsung menghela napas.

"Kalau soal perjodohan lagi, aku nggak mau bahas." ucap Ravenzo.

Ardiaz menatap putranya tajam. "Daddy belum selesai ngomong."

"Tapi aku udah tahu arahnya ke mana."

Monica yang duduk di samping Ardiaz hanya menghela napas.

"Raven, Daddy kamu cuma mau mengingatkan. Keluarga Pranaja masih menunggu jawaban kamu." kata Monica.

Ravenzo berdiri. "Aku udah bilang dari dulu, aku nggak tertarik sama perjodohan itu."

Ardiaz menghela napas panjang. "Terserah kamu. Tapi jangan pikir masalah itu selesai begitu saja."

Ravenzo tidak menjawab. Ia langsung melangkah menuju tangga.

"Raven!"

Ravenzo berhenti sebentar.

"Besok jangan lupa datang ke kantor. Ada beberapa urusan perusahaan yang harus kamu cek."

"Iya, Dad."

Setelah itu Ravenzo melanjutkan langkahnya menuju kamar.

***

Keesokan paginya, Ravenzo sudah selesai bersiap.

Ia turun ke ruang makan dengan kemeja putih dan celana hitam.

Monica tersenyum melihat putranya.

"Raven, sarapan dulu."

"Nanti aja, Mom. Aku udah ditunggu di kantor." kata Ravenzo sambil merapihkan dasinya.

"Minimal makan sedikit. Nanti kamu sakit kalau nggak makan.” Ucap Monica lembut.

Ravenzo akhirnya duduk dan mengambil sepotong roti.

Ardiaz yang sedang minum kopi menatap putranya. "Hari ini kamu langsung ke Verion Group?"

"Iya."

"Bagus. Banyak laporan yang harus kamu periksa setelah lama nggak turun langsung ke kantor."

Ravenzo mengangguk. "Ya udah, aku berangkat dulu."

"Hati-hati, Nak."

Ravenzo berdiri lalu berjalan keluar mansion.

Di depan rumah, sebuah mobil sudah menunggunya.

"Ke kantor pusat Verion Group, Pak."

"Baik, Tuan."

Mobil pun melaju meninggalkan mansion.

***

Tidak lama kemudian, mobil Ravenzo berhenti di depan gedung pencakar langit Verion Group.

Ravenzo turun dari mobil dan langsung berjalan masuk.

Beberapa karyawan yang melihat kedatangannya langsung menundukkan kepala.

"Selamat pagi, Tuan CEO."

Ravenzo hanya mengangguk singkat.

Ia berjalan menuju lift dan naik ke lantai paling atas.

Begitu pintu lift terbuka, Ravenzo langsung masuk ke ruang kerjanya.

Beberapa map sudah tersusun di atas meja.

Tidak lama kemudian, Arvin masuk sambil membawa tablet.

"Rav."

Ravenzo mengangkat kepalanya. "Apa?"

"Ini beberapa laporan perusahaan yang harus lo tanda tangan." Arvin meletakkan map di atas meja.

Ravenzo membukanya satu per satu. "Yang ini laporan dari Hotlic?"

"Iya."

"Jadwal rapatnya kapan?"

"Besok sore."

"Atur aja."

"Oke."

Arvin hendak keluar, tetapi Ravenzo tiba-tiba memanggilnya.

"Vin."

Arvin menoleh. "Kenapa?"

"Kenapa dari tadi lo yang ngurus semua berkas gue? Sekretaris pribadi gue ke mana?” tanya Ravenzo.

Arvin menggaruk kepalanya.

"Ah, soal itu..."

"Ada apa?"

"Gue lupa cerita. Sekretaris pribadi lo yang lama mendadak resign sebelum lo balik ke Indonesia." jawab Arvin.

Ravenzo mengernyitkan dahinya. "Resign?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Nggak tahu. Katanya ada urusan pribadi. Dia udah ngasih surat pengunduran diri ke bagian HR."

Ravenzo terdiam sebentar. "Kenapa dia nggak langsung ngomong ke gue?"

"Lo lagi di London waktu itu. Mungkin dia nggak mau ganggu lo."

Ravenzo mengangguk pelan. "Ya udah. Nanti HR cari penggantinya."

"Siap."

Arvin hendak pergi lagi. "Oh iya, Rav."

"Apa lagi?"

"Besok ada beberapa rapat divisi. Lo juga diminta ngecek beberapa bagian yang kinerjanya lagi turun."

"Kasih semua laporannya ke gue."

"Siap, Bos."

Arvin keluar dari ruangan.

Ravenzo kembali fokus pada laptopnya.

***

Beberapa saat kemudian, pintu ruang kerja Ravenzo kembali terbuka.

Kali ini seorang perempuan masuk dengan pakaian rapi dan membawa tas kecil.

"Ravenzo."

Ravenzo mengangkat kepalanya.

Perempuan itu tersenyum manis.

"Alika?"

"Iya. Akhirnya kamu balik juga."

Ravenzo menatapnya datar.

"Ngapain kamu ke sini?"

Alika terkekeh kecil.

"Ya mau ketemu kamu lah. Kamu baru pulang dari London, kan?"

Ravenzo menghela napas.

Alika Aira Pranaja adalah putri keluarga Pranaja sekaligus perempuan yang sejak lama dijodohkan dengan Ravenzo oleh kedua keluarga mereka.

"Aku cuma mau ngasih tahu kalau nanti malam keluargaku ada acara makan malam." kata Alika pelan.

"Aku nggak bisa."

"Belum aku bilang acaranya apa."

"Pokoknya aku nggak bisa." ulang Ravenzo tegas.

Alika mengerucutkan bibirnya. "Kamu tuh dari dulu susah banget diajak ngobrol."

Ravenzo kembali melihat laptopnya. "Kalau nggak ada urusan lain, kamu bisa pulang."

Alika hanya terkekeh. "Oke deh. Nanti kita ketemu lagi ya.”

Alika berbalik lalu keluar dari ruangan.

Ravenzo hanya menggeleng pelan.

"Ribet."

***

Sementara itu, di sekolah...

Zevanna sedang duduk bersama Tisha, Fiona, dan Kanita di rooftop sekolah.

Fiona menatap Zevanna.

"Zev, lo nanti setelah lulus mau ngapain?"

"Kerja." jawabnya cepat.

Kanita langsung ikut bertanya.

"Kerja di mana?"

"Verion Group."

Fiona langsung membelalakkan mata.

"HAH?!"

Zevanna menatapnya malas. "Apaan?"

"Lo serius mau kerja di Verion Group?"

"Iya."

"Zev, itu perusahaan gede banget!"

"Terus?"

"Persyaratannya juga pasti susah."

Zevanna mengangkat bahu. "Gue coba aja."

Tisha yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. "Gue juga bakal ikut daftar."

Fiona menatap mereka berdua bergantian. "Kalian berdua serius?"

"Iya," jawab Zevanna dan Tisha hampir bersamaan.

Kanita menghela napas. "Zev, gue masih nggak ngerti kenapa lo ngebet banget masuk perusahaan itu."

Zevanna langsung terdiam. Tatapannya berubah serius.

"Karena gue mau cari tahu soal Kak Zoyya."

Fiona dan Kanita saling pandang.

Tisha juga ikut diam.

Zevanna melanjutkan. "Gue masih nggak percaya Kak Zoyya meninggal cuma gara-gara jatuh di toilet."

"Kan bisa aja kecelakaan," kata Kanita.

"Kalau cuma kecelakaan, terus kenapa ada luka di lengan Kak Zoyya?" tanya Zevanna.

Kanita terdiam.

"Terus HP Kak Zoyya juga hilang."

Fiona mengerutkan kening. "HP-nya masih belum ketemu?"

Zevanna menggeleng. "Belum, gue nggak tau di mana itu Hp."

Tisha menatap Zevanna. "Makanya gue bakal bantu lo."

Zevanna mengangguk. "Gue nggak tahu apa yang terjadi sama Kak Zoyya waktu itu. Tapi gue bakal cari tahu sendiri sampai ketemu."

***

Sore harinya, Ravenzo sedang melakukan pengecekan beberapa divisi di Verion Group.

Ia melihat beberapa pekerjaan yang belum selesai.

Ravenzo memanggil salah satu manajer. "Kenapa laporan bagian ini belum selesai?"

Manajer tersebut langsung berdiri tegak. "Maaf, Tuan. Beberapa staf kami masih kekurangan tenaga."

"Kekurangan tenaga?"

"Iya, Tuan. Beberapa posisi memang sedang kosong." jawabnya.

Ravenzo mengangguk. "Berarti HR harus segera buka lowongan."

Manajer itu mengangguk. "Baik, Tuan."

Ravenzo menoleh kepada Arvin yang berdiri tidak jauh darinya.

"Vin."

"Iya?"

"Suruh HR evaluasi lagi persyaratan beberapa posisi yang kosong." kata Ravenzo.

"Persyaratannya?" tanya Arvin.

"Kalau pekerjaannya nggak membutuhkan gelar sarjana, jangan wajibkan S1."

Arvin mengangguk. "Jadi lulusan SMA atau SMK juga bisa?"

"Kalau kualifikasinya sesuai, iya."

"Kenapa tiba-tiba?"

Ravenzo menatapnya datar. "Karena perusahaan butuh orang yang bisa kerja. Bukan cuma orang yang punya gelar."

Arvin mengangguk. "Masuk akal juga."

"Jadi urus."

"Siap, Pak bos."

Ravenzo kembali berjalan.

Tidak ada yang tahu bahwa keputusan sederhana itu nantinya akan membuka jalan bagi seseorang yang sama sekali belum pernah ia kenal.

***

Malam harinya, Zevanna sedang membuka laptop di kamarnya.

Ia mencari informasi lowongan pekerjaan Verion Group.

Matanya langsung membesar.

"Eh?"

Zevanna membaca persyaratan yang tertera di layar.

"Ini beneran?"

Ia membaca sekali lagi.

Beberapa posisi memang membuka kesempatan untuk lulusan SMA/SMK sederajat dengan kualifikasi tertentu.

Zevanna langsung mengambil ponselnya dan menelepon Tisha.

"Halo, Zev?"

"Tis! Coba lo cek lowongan Verion Group sekarang!"

"Kenapa?" tanya Tisha.

"Kayaknya beberapa posisi bisa dilamar lulusan SMA/SMK." jawab Zevanna.

"Hah? Serius?"

"Iya! Coba cek!" ulang Zevanna tidak sadar meremas bantal guling-nya.

Tisha langsung membuka laptopnya.

Beberapa detik kemudian terdengar suara Tisha dari seberang telepon.

"Eh iya, Zev! Bener!"

Zevanna tersenyum. "Berarti kita bisa daftar, Tis."

"Iya!"

"Tapi inget, Tis." kata Zevanna.

"Apa, Zev?"

"Tujuan utama gue tetap Kak Zoyya." jawabnya.

Tisha terdiam sebentar. "Iya. Gue tahu."

"Gue nggak mau kita masuk sana cuma buat kerja. Gue mau cari tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Kak Zoyya."

"Oke. Gue bantu lo."

Zevanna mengangguk meskipun Tisha tidak bisa melihatnya. "Setelah lulus, kita daftar bareng."

"Deal."

Panggilan berakhir.

Zevanna menutup laptopnya.

Ia menatap langit-langit kamar.

"Sebentar lagi..."

***

Di tempat lain, Ravenzo masih berada di ruang kerjanya.

Ia sedang memeriksa beberapa dokumen perusahaan.

Arvin masuk membawa beberapa berkas. "Rav, ini laporan dari HR."

Ravenzo menerima berkas tersebut. "Lowongan yang tadi?"

"Iya. Udah diproses." ucap Arvin.

Ravenzo mengangguk. "Bagus."

Arvin hendak keluar.

"Vin."

Arvin menoleh. "Apa?"

"Besok ingetin gue soal rapat." kata Ravenzo dingin.

"Oke, siap."

Arvin keluar dan menutup pintu.

Ravenzo kembali membaca dokumen di tangannya.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa di salah satu sudut Jakarta, seorang siswi kelas 12 sedang mempersiapkan diri untuk melamar kerja di perusahaannya.

Dan Ravenzo juga tidak tahu bahwa alasan gadis itu ingin masuk ke Verion Group bukan sekadar mencari pekerjaan.

Melainkan mencari jawaban atas kematian kakaknya.

Sementara itu, Zevanna menutup laptopnya dengan satu keyakinan.

Setelah lulus nanti, ia akan masuk ke Verion Group.

Apa pun caranya.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!