"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Musim berganti dengan anggun di atas langit Istana Blackwood. Tiga bulan berputar membawa embun dingin yang perlahan mencair di balik dedaunan perak, berganti dengan aroma bunga mawar putih yang bermekaran di seluruh penjuru taman kerajaan.
Seiring berjalannya waktu, kedamaian yang sempat terenggut kini perlahan merayap kembali. Di tengah balutan kehangatan istana, Ocean telah tumbuh pesat. Bayi mungil yang kini genap berusia enam bulan itu menjelma menjadi titik pusat kebahagiaan semua orang.
Pipi gembulnya yang merona, ditambah dengan sepasang mata kelam yang amat mirip dengan milik Arthur, selalu berhasil memancing senyum siapa saja yang memandangnya. Ocean sudah bisa duduk tegak sembari menepuk-nepuk tangannya yang berisi, meracau riang di balik buaian hangat sang ibu.
Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh pelosok kerajaan akhirnya tiba. Katedral Agung Blackwood yang megah didekorasi penuh dengan juntaian kain sutra putih dan ribuan kelopak bunga lily. Musik organ mengalun syahdu, memecah heningnya bangunan berasitektur gotik tersebut sewaktu gaun pengantin murni berlapis renda terbaik membalut tubuh anggun Snow.
Di depan altar pernikahan yang sakral, Arthur berdiri tegap. Pria itu mengenakan seragam kebesaran militer berwarna hitam pekat bertatahkan pin emas kerajaan. Namun, kerapian dan wibawa resminya tak mampu menyembunyikan getar emosi di dadanya saat menyaksikan Snow melangkah menyusuri lorong gereja dipandu oleh Silas Hawthorne.
Ketika jemari dingin Snow diserahkan ke dalam genggaman tegap Arthur, waktu seolah berhenti berputar. Pendeta Agung melangkah maju, memimpin prosesi pengucapan janji suci di hadapan Tuhan dan para saksi.
Arthur menatap lurus ke dalam sepasang mata bening milik Snow, menyalurkan seluruh jiwanya ke dalam tiap bait kalimat yang diucapkannya dengan suara yang amat dalam dan tegas.
"Aku, Benedictus Arthur Blackwood, mengambil engkau, Snow Hawthorne, menjadi istriku yang sah. Untuk memiliki dan mempertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, dalam kelimpahan dan kekurangan, dalam sakit dan sehat, untuk saling mencintai dan menghargai, sampai kematian memisahkan kita..."
Arthur meremas lembut jemari Snow, menyapukan ibu jarinya di atas kulit halus wanita itu sembari melanjutkan sumpah tambahannya yang melintasi hukum waktu. "...dan aku bersumpah di depan Altar Agung ini, bahwasanya seluruh nafas, takhta, dan hidupku sepenuhnya adalah milikmu. Luka masa lalu yang kuukir akan kubayar dengan pengabdian abadi tanpa batas."
Snow mengulum senyum tipis, air mata haru menetas melintasi pipinya yang teroles rona tipis. Dengan suara melankolis namun sarat akan keteguhan hati, ia membalas pengucapan janji tersebut.
"Aku, Snow Hawthorne, mengambil engkau, Benedictus Arthur Blackwood, menjadi suamiku yang sah..." Snow menatap dalam pada pria yang telah menjadi pusat dari jagat kehidupannya. "...aku berjanji untuk mencintaimu, menghukummu dengan kasihku, dan mendampingi langkahmu di setiap helaan napasku. Hati ini adalah milikmu, selamanya."
Saat Pendeta Agung meresmikan keduanya sebagai suami istri dan mengizinkan sang mempelai pria untuk mencium pengantin wanita, Arthur tak membuang waktu.
Pria tegap itu merengkuh pinggang Snow dengan posesif, mendaratkan ciuman dalam yang sarat akan dahaga cinta dan rasa syukur yang tak terhingga. Tepuk tangan riuh langsung memenuhi seluruh area katedral.
••••
Di barisan kursi tamu kehormatan, suara siulan nyaring dan godaan liar memecah suasana sakral sewaktu rombongan sahabat karib Arthur menyuarakan kehebohan mereka.
Matthias, Razeena sang istri, serta Aldrick berdiri berdampingan. Ketiga sahabat dekat Arthur sejak masa kecil itu tampak masih berada dalam kondisi syok yang luar biasa. Mereka sama sekali tidak pernah menyangka bahwa sahabat tegap mereka yang selama ini dikenal sebagai pria bertangan dingin, kaku, anti-wanita, dan terkesan 'mati rasa' rupanya telah menyembunyikan seorang kekasih berparas bak dewi sejak lima tahun lalu—bahkan telah memiliki seorang putra mungil!
Begitu acara mengarah pada resepsi pribadi di aula barat istana, Matthias dan Razeena langsung menghampiri pasangan pengantin baru tersebut dengan cengiran lebar dan tatapan penuh maksud kotor.
"Bangsat memang kau, Arthur!" maki Matthias santai tanpa mempedulikan etiket istana, menepuk bahu tegap sahabatnya dengan keras. "Selama lima tahun ini kau berakting sok suci di depan kami, berpura-pura tidak tertarik pada wanita, padahal di belakang... kau menyembunyikan surga seindah ini?! Gila kau, benar-benar bajingan liar yang licik!"
"Mulutmu, Matthias..." tegur Aldrick seraya terkekeh sinis, memutar gelas champagne di tangannya. "Tapi aku setuju. Lihat saja leher Snow. Pria bangsat ini jelas tidak mengasihanimu semalam, Snow. Bercak merah itu menyeramkan sekali, seperti habis diterkam serigala kelaparan."
Wajah Snow memerah padam mendengarkan celetukan tanpa filter dari sahabat-sahabat suaminya. Namun sebelum ia sempat membalas, Razeena—istri Matthias yang juga sahabat kecil suaminya—langsung merangkul bahu Snow dengan akrab.
"Oh, Snow Sayang, tidak usah dengarkan dua pria tolol ini," goda Reena dengan kedipan mata nakal. "Tapi sejujurnya... bagaimana rasanya disiksa oleh Pangeran Utama di atas ranjang? Pria sekaku Arthur ini kalau sudah bucin pasti cara 'mainnya' gila, kan? Lihat saja mukanya yang layu sekarang, seperti tidak diberi jatah tidur tiga hari!"
"Razeena!" sahut Arthur dengan nada rendah memperingatkan, walau raut wajah tegapnya mendadak merona tipis di bagian telinga. Pria itu menyusupkan tangannya ke pinggang Snow, menarik istrinya rapat ke dadanya secara protektif. "Jaga bahasamu di depan istriku. Jangan menular-nularkan pemikiran mesummu padanya."
"Halah! Sok suci kau, Arthur!" potong Matthias tertawa gelak. "Kau yang paling mesum di antara kita semua! Bertahun-tahun menyimpan wanita cantik ini sendirian. Awas saja kalau nanti malam kau membuat kamar istana roboh!"
Gelak tawa memenuhi sudut aula sewaktu Arthur hanya mampu mendengus kasar sembari terus mengusap pinggang Snow, sementara Snow hanya bisa menyembunyikan senyum malunya di balik dada tegap sang suami.
Namun, di saat sorak-sorai kebahagiaan dan riak tawa memenuhi Istana Blackwood atas kebahagiaan Arthur dan Snow, suasana yang teramat bertolak belakang tercipta di wilayah utara kerajaan.
••••
Di dalam sebuah fasilitas isolasi medis tertutup bernuansa putih pucat yang dingin dan terasing, kondisi Savea tampak sudah berada di ambang kehancuran total.
Wanita yang dahulu dipenuhi oleh ambisi takhta dan intrik gila itu kini terduduk di sudut lantai kamar berbusa.
Pakaian khususnya tampak melorot kusam, rambut legamnya yang dahulu selalu tertata rapi kini kusut bagaikan benang ruwet. Mental Savea telah rusak sepenuhnya.
"Arthur... Arthur milikku..." racau Savea lirih dengan sepasang mata liar yang terus membelalak menatap ruang kosong. Jemarinya yang kurus kering menggaruk-garuk permukaan lantai marmer hingga meninggalkan bekas garis merah.
Halusinasi dan obsesi gilanya telah merusak sel-sel otaknya secara permanen. Ia sering kali berteriak histeris di tengah malam, memukuli kepalanya sendiri sewaktu bayangan keberhasilan Snow dan senyuman Pangeran Arthur menghantui pikirannya.
Tak ada lagi sisa-sisa keanggunan seorang wanita kelas Atas. Yang tersisa di dalam sel isolasi dingin itu hanyalah sosok cangkang manusia yang hancur, membusuk dalam neraka ciptaannya sendiri, terhapus sepenuhnya dari lembaran sejarah kebahagiaan keluarga kerajaan.