Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Langit malam di luar jendela kamar utama seolah merangkum badai yang sedang berkecamuk di dalam dada Rangga. Jam dinding berdetak pelan, setiap detik nya terdengar begitu nyaring, seolah menghitung mundur detik-detik kehancuran dari sebuah komitmen yang telah ia bangun. Di atas ranjang berseprai linen putih itu, Rania terlelap dalam diam. Napasnya teratur, wajahnya tampak begitu tenang, tanpa beban—kontras dengan isi kepala Rangga yang saat ini terasa hampir pecah oleh beban pikiran yang bertubi-tubi.

Rangga berdiri terpaku di dekat balkon yang terbuka setengah. Angin malam berhembus dingin, menyentuh kulitnya yang dibalut kemeja kerja kusut, namun sama sekali tidak mampu mendinginkan gejolak panas di dadanya. Pikirannya melayang kembali pada detik-detik menegangkan di hari-hari sebelumnya—di mana benteng pertahanan emosionalnya runtuh seketika saat bayangan masa lalu kembali hadir lewat kehadiran Resti, sementara di saat yang bersamaan, genggaman tangan Rania menahannya untuk tetap berpijak pada kenyataan hari ini.

Sebuah pertanyaan besar terus menghantam nuraninya: Bagaimana mungkin hatinya terbelah sedemikian rupa?

Dulu, ia mengira pernikahan adalah sebuah garis lurus yang pasti. Menikahi Rania adalah keputusan logis, sebuah lembaran baru yang dibangun di atas fondasi kedewasaan, kenyamanan, dan rasa hormat yang mendalam. Rania adalah wanita yang sempurna dalam banyak hal—penuh pengertian, selalu tahu bagaimana cara meredam emosi Rangga, dan mencintainya dengan cara yang begitu tulus tanpa banyak menuntut. Selama bertahun-tahun hidup bersama Rania, Rangga merasa hidupnya sudah berada di jalur yang benar.

Namun, manusia memang tempatnya khilaf dan rapuh. Kehadiran Resti—cinta pertamanya, wanita yang pernah mengisi separuh jiwa dan masa mudanya dengan gelora yang tak tergantikan—datang kembali mengoyak ketenangan yang telah lama ia tata. Pertemuan-pertemuan yang awalnya dianggap biasa, kini berubah menjadi duri dalam rumah tangganya.

Rangga menarik napas dalam-dalam, menutup matanya rapat-rapat. Di satu sisi, gejolak rasa untuk Resti belum sepenuhnya padam. Ada bagian dari dirinya yang masih mendambakan kehangatan masa lalu itu, sebuah rasa penasaran dan keterikatan emosional yang kuat yang sulit dijelaskan dengan logika. Apakah itu cinta? Atau hanya sekadar nostalgia yang dibungkus rindu? Rangga sendiri mulai ragu. Namun, kejujuran pada diri sendiri mengatakan bahwa bayang-bayang Resti masih memiliki daya tarik yang berbahaya bagi kewarasannya.

Di sisi lain, ketika matanya menoleh ke arah tempat tidur dan melihat sosok Rania yang rapuh namun tegar, gelombang penyesalan yang luar biasa langsung menghantam ulu hatinya. Rangga sadar, ia tidak rela menceraikan Rania. Titik. Kata "perpisahan" atau "perceraian" terdengar begitu mengerikan, bagaikan hukuman mati bagi kehidupannya sendiri. Rania bukan lagi sekadar istri di atas kertas; wanita itu sudah menjadi bagian dari aliran darahnya, saksi dari setiap jatuh bangun kariernya, dan rumah tempat ia pulang selama ini. Kehilangan Rania berarti membiarkan hidupnya runtuh total menjadi berkeping-keping.

Rangga terjebak dalam lingkaran setan keegoisannya sendiri. Bisa dibilang, Rangga ingin keduanya.

Sebuah keinginan yang mustahil, egois, dan teramat kejam. Logikanya tahu persis bahwa hukum alam, norma sosial, dan agama tidak akan pernah merestui ambisi gila tersebut. Seorang pria tidak boleh membagi separuh hatinya untuk dua wanita dengan porsi yang sama besarnya, karena pada akhirnya, salah satu atau bahkan keduanya pasti akan terluka parah.

Langkah kaki Rangga bergeser pelan mendekati sisi ranjang. Ia duduk di tepi kasur, menatap wajah Rania dari dekat. Dalam keremangan cahaya lampu tidur yang kekuningan, ia melihat sebutir air mata kering di sudut mata istrinya—bahkan dalam tidurnya pun, Rania seolah menyadari bahwa suaminya sedang tidak baik-baik saja, bahwa ada rahasia besar yang sedang merusak keutuhan rumah tangga mereka.

Rangga perlahan mengulurkan tangannya, ragu-ragu menyentuh helai rambut Rania yang sedikit berantakan di atas bantal. Sentuhan itu begitu lembut, penuh dengan rasa bersalah yang teramat sangat.

"Maafkan aku, Rania..." bisik Rangga sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh udara malam. Suaranya bergetar hebat, sarat akan kepedihan yang dipendamnya sendiri. "Aku terjebak. Aku tidak tahu bagaimana cara keluar dari labirin ini."

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Rangga menyadari bahwa kebimbangannya ini adalah racun yang lambat laun akan membunuh kebahagiaan mereka bertiga. Resti berhak mendapatkan kepastian, Rania berhak mendapatkan kesetiaan yang utuh, dan dirinya sendiri berhak mendapatkan ketenangan batin—yang mustahil ia dapatkan selama ia masih mempertahankan keragu-raguan ini.

Namun malam ini, di saat sunyi menyergap seisi kamar, Rangga masih belum menemukan keberanian untuk memilih. Ia masih ingin menggenggam dua tangan yang berbeda arah, sebuah angan-angan kekanak-kanakan yang siap menghancurkan hidupnya kapan saja. Dan di luar sana, fajar perlahan mulai menampakkan sinarnya, membawa serta kenyataan kejam bahwa setiap keputusan yang tertunda hanya akan membuat luka semakin dalam.

Jangan lupa like ya😉

1
Ketoprak Encok
maaf aja nih kak, otak aku emang buntu banget, dari bab 27 makanya aku cepetin aja namatin cerita ini. tapi thanks kak udah luangin waktunya buat baca
Forta Wahyuni
koq kacau balau novelnya thor, alurnya simpang siur n apa jiplakan.
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!