Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Kelam
Waktu memperlihatkan pukul sebelas malam. Hujan turun dengan rintik di barak proyek.
Tiba-tiba saja, listrik padam karena teravo listrik tertimpa dahan pohon yang tumbang.
Lampu senter menjadi satu-satunya penerangan yang ada.
Kasih terbangun dari tidurnya. Ia merasa sesak pipis, dan dengan langkah yang hati-hati ia keluar dari barak, dengan membawa sebuah senter sebagai penerangan.
"Mau kemana, Kasih?" tanya Bi Inah yang juga terbangun karena merasa sangat gelap.
"Ke kamar mandi, Bi." sahut Kasih dengan cepat.
"Jangan lama-lama, takut ada petir," pesannya. "Dan hati-hati... Takutnya ada ular."
Bi Inah masih mengantuk, dan memilih untuk kembali tertidur.
"Iya, Bi." jawab Kasih pelan. Lalu meneruskan langkahnya, membelah malam dan juga rintik hujan.
Kasih keluar dengan menggunakan daster dan juga selendang tipis untuk menutupi kepalanya dari rintik hujan.
Ia berjalan pelan ke arah kamar mandi. Sebab kondisi yang cukup licin untuk di lalui.
Dindingnya terbuat dari triplek dan berjarak sepuluh meter dari barak.
WUUUSH!
Angin bertiup menyapu punggung Kasih, dan membuatnya sedikit bergidik ngeri.
Sementara itu, dari balik tumpukan semen, terlihat Karno dengan matanya yang merah karena mabok, dan nafas yang cukup berat sedang mengawasi Kasih, seolah seek9r kucing yang bersiaga menangkap tikus.
Bisikan di kepalanya kembali datang. "Sekarang waktunya, dan tidak ada yang melihatmu."
Suara bisikan itu kembali mengusiknya.
Kasih masuk dengan terburu, dan menyelesaikan buang hajatnya. Saat ia baru saja hendak membuka Kunci dari dalam.
KRETEK
Pintu didobrak dari luar.
Karno berdiri menatapnya dengan wajah merah menahan hasrat yang mengguncang. "Kasih..." suaranya terdengar parau.
Kasih tersentak kaget. Bahkan ia tak mengetahui siapa nama pria yang ada dihadapannya.
Sedangkan hujan turun semakin deras.
"JANGAN PAK! JANGAN GANGGU SAYA! BAPAK MAU APA?!" ucapnya dengan nada gemetar.
Karno melangkah maju. Ia sempoyongan. "Kamu sangat cantik. Nikah sama aku ya. Aku ini duda. Gak akan menyakitin kamu.... Alu janji"
Tangannya menarik selendang Kasih dengan kasar, dan membuat sang gadis terhempas ke dinding kamar mandi.
"LEPAS! TOLONG!!"
Karno tersenyum seringai. "Teriak sekuatmu. Gak akan ada yang dengar. Suaramu tertelan guyuran hujan." bisiknya, sembari menahan tubuh Kasih ke dinding kamar mandi.
Senter di tangannya terlempar ke lantai tanah dan basah.
Karno menyekap mulut Kasih. Daster gadis itu di tarik paksa, dan membuatnya robek parah.
Kasih menangis sesenggukkan. "Tolong... Jangan lakukan ini," ucapnya sembari memohon.
Tetapi Karno semakin liar. Ia berhasil meloloskan pakaian sang gadis.
"Aku gak bisa menahan rasa hasratku yang menggebu..."
Karno mengecup bibir Kasih dengan paksa.
Tangannya bergerilya ke sana kemari dengan nafas yang memburu.
Sang gadis mencoba mendorong tubuh Karno, tetapi tidak memiliki tenaga yang cukup kuat.
Kasih mencoba melawan. Ia mencakar wajah Karno.
Craaaash!
Kuku Kasih berhasil menciptakan guratan yang cukup dalam.
Mendapati penolakan dari Kasih, Karno yang sedang mabuk langsung mencekik sang gadis.
"Eeerrrggh!" erang Kasih dengan nafasnya yang terasa sesak.
"Kau mencoba menolakku, dasar pelacur!" ucapnya dengan nada kasar.
Plaaak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Kasih. Dan berhasil membuat bibir gadis itu pecah.
Kasih sudah berada di ujung tanduk. Nyawanya sudah sangat berat, dan ia pasrah dengan apa yang terjadi.
Hingga tiba-tiba...
Buuuugh!
Sebuah tendangan yang cukup kuat menghantam pinggang Karno.
Braaaak!
Tubuh Karno terpental ke lantai kamar mandi.
"Errrrgh!"
Erang Karno kesakitan. Wajahnya mencium lantai tanah, dan berlumuran tanah merah yang bercampur dengan sisa sabun.
"Uhuuuuk!"
Kasih terbatuk, sebab ia baru saja menghirup udara yang hampir habis.
Nafasnya terasa sesak, dan wajahnya memucat.
Farhan menoleh ke arah Kasih yang pakaiannya sudah terlepas dan hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Ia bergegas menghampirinya, dan membuka jaketnya, lalu memasangkannya kepada Kasih. "Jangan takut," bisiknya.
Lalu kembali menoleh ke arah Karno yang berusaha untuk bangkit dari lantai kamar mandi.
BUK!
Kembali sebuah tinju melayang di pipi Karno.
Pria paruh baya itu kembali sempoyongan. Wajahnya tampak pucat saat melihat siapa yang datang.
"Bos?" ia mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Mendadak tubuhnya gemetar saat melihat Farhan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Bedebah!" maki Farhan dengan kesal.
Karno tak ingin melepaskan Kasih begitu saja. Meskipun lawannya adalah Farhan—bosnya sendiri.
"INI URUSAN SAYA, BOS! HARAP JANGAN IKUT CAMPUR!" ucapnya tanpa rasa takut.
"Ini menjadi urusan saya! Dan mulai saat ini, aku memecatmu!" ucap Farhan dengan menahan amarahnya.
Tinjunya sudah mengepal. "Pergi!" bentak Farhan dengan sengit.
Karno masih kekueh ingin mendapatkan Kasih. "KAMU GAK BERHAK MELARANG AKU! DIA HANYA SEORANG BABU!"
"DIAM!" bentak Farhan lagi.
BUK! BUK! BUK!
Tiga pukulan di wajah Karno dan membuatnya langsung mengalami mimisan.
"Apa yang terjadi?" teriak Mandor Karjo saat melihat tiga orang di dalam kamar mandi salam kondisi yang berantakan
"Urus dia! Jangan sampai memperlihatkan batang hidungnya di hadapanku," titah Farhan dengan nada yang cukup dingin.
Mandor Karjo tak menjawab. Tetapi ia lngsung menyeret Karno, dan di bantu para pekerja lainnya keluar dar8 kamar mandi.
Sedangkan Kasih berdiri merapat di dinding dengan tubuhnya yang gemetar. Dasternya sudah tak dapat lagi di gunakan.
Farhan menghampirinya. Dan menatap sejenak wajah pucat ketakutan dari sang gadis.
Tanpa mengatakan apapun, Farhan menggendongnya, dan itu membuat Kasih terdiam.
"Sudah... Aku tidak apa-apa... Kamu turunkan saja aku.. Nanti kamu lena sial..." ucap Kasih dengan rasa canggung.
Untuk pertama kalinya ia tidak memberontak saat di sentuh oleh pria.
Farhan tak menggubrisnya, dan membawa Kasih menuju mobilnya. Ia berjalan dengan cukup kencang.
Sesampainya di mobil, ia mengambil sebuah selimut, dan menyelimuti Kasih.
"Maafkan aku, membawamu ketempat ini," ucapnya, dan mengemudikan mobilnya, membelah langit malam yang kembali di guyur hujan.
"Mobil siapa yang kamu bawa? Nanti Pak Mandor marah. Aku takut kamu ketiba sial, dan di pecat karena membelaku," suara Kasih terdengar pelan. Wajahnya semakin pucat, sebab kuyup terkena hujan.
"Jangan banyak bicara, kamu harus ke rumah sakit," ucap Farhan, tanpa menggubris ocehan Kasih yang terdengar mulai melantur.
Sedangkan Kasih mendadak menggigil hebat. Ia mengalami hipotermia, dan...
Braaaak!
Ia jatuh bersandar dengan kepalanya di pundak Farhan.
Bibirnya bergetar, dan tubuhnya mendadak panas. Ia mengalami demam tinggi.
"Hei.... Sadarlah." Farhan menepuk pipi Kasih, berusaha menyadarkan gadis tersebut.
Mendapati sang gadis yang tampak kritis, ia menepikan mobilnya di tepian jalan.
Farhan memeriksa suhu tubuh sang gadis dengan meletakkan punggung tangannya ke kening sang gadis.
"Astaghfirullah... Suhunya tinggi sekali," ucapnya dengan panik.
Farhan melajukan mobilnya, dan bergegas menuju rumah sakit.
Semoga mereka bisa menemukan Kasih yah.. ☺
Sekalian tuh ajak Roro Penguk, biar dia nggak gangguin keluarganya Rayyan lagi.. 🧐
Tubuhnya sebesar rumah pihak pengembang? 🤭
Ohya Kak.. si Gita dan suaminya, orang yang pertama kali bawa Kasih ke panti asuhan ketika Kasih masih bayi, kok nggak di munculin sih..
Apa dia mereka beda kota dengan tempat tinggal Kasih.. 😌