Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Setibanya di kamar utama, Bunga langsung berjalan canggung menuju lemari pakaian. Jemari mungilnya memilah-milah baju yang akan dimasukkan ke dalam koper, sementara pikirannya masih dipenuhi bayangan ucapan sang ayah mertua tentang honeymoon dan cucu.
Keanu yang baru saja melepaskan jasnya melangkah mendekat. Pria itu bersandar pada daun pintu lemari, mengamati istrinya yang tampak begitu sibuk demi menutupi rasa gugupnya.
"Biarkan para pelayan yang membereskan pakaian kita, Bunga," ujar Keanu dengan suara bernada rendah.
Bunga tersentak kecil, lalu menghentikan gerakannya. Ia mengambil buku catatan kecil di atas meja dan mengetikkan sesuatu di ponselnya, lalu memperlihatkannya pada Keanu:
'Tidak apa-apa, Kak Keanu... Aku bisa menyiapkan pakaian kita sendiri. Lagipula, aku belum pernah ke Belitung sebelumnya.'
Melihat binar kepolosan dan rasa penasaran di matanya Bunga, ketegangan di dada Keanu perlahan mencair. Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang hangat, mengikis jarak di antara mereka hingga berdiri tepat di hadapan Bunga.
"Di sana tempatnya sangat indah," bisik Keanu lembut, menatap lekat pada bola mata jernihnya Bunga. "Ada pantai dengan bebatuan granit besar dan laut yang jernih. Anggap saja perjalanan ini untuk mengistirahatkan pikiranmu dari semua trauma yang terjadi baru-baru ini."
Bunga mengangguk pelan. Kehangatan dari ucapan Keanu merayap perlahan ke dalam hatinya, menggantikan rasa panik yang sempat menguasai dirinya. Bunga menggerakkan tangannya membentuk bahasa isyarat:
"Terima kasih, Kak Keanu... Karena selalu memikirkan perasaanku."
Keanu mengusap lembut puncak kepalanya Bunga, merasakan desir halus yang kembali memburu di dadanya. Pria itu berdehem pelan untuk menetralkan debaran jantungnya yang semakin liar.
"Selesaikan kemasan mu, lalu segera istirahat. Besok kita harus bangun sangat pagi," kata Keanu seraya memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas.
*
*
Keesokan paginya, sebuah jet pribadi milik keluarga Alexander sudah bersiap di landasan pacu. Keanu menggandeng erat tangannya Bunga saat menaiki tangga pesawat, memastikan istrinya yang pergelangan kakinya belum pulih sepenuhnya tidak tersandung.
Setelah menempuh perjalanan udara yang singkat, mereka akhirnya mendarat di Pulau Belitung. Sebuah mobil mewah yang sudah disiapkan oleh anak buah Tuan Alexander membawa mereka langsung menuju sebuah resor pribadi eksklusif yang terletak tepat di tepi pantai.
Pintu vila terbuka, menyajikan pemandangan lanskap laut biru yang membentang luas dengan hamparan pasir putih dan gundukan batu granit raksasa khas Belitung. Angin laut yang segar berembus lembut, menerpa wajahnya Bunga hingga membuat helai hijabnya berkibar pelan.
Bunga terpana. Matanya berbinar penuh takjub menatap keindahan alam liar di hadapannya. Ia refleks melangkah ke arah balkon luar, menghirup dalam-dalam udara pantai yang menenangkan.
Keanu melangkah pelan di belakangnya, mengamati binar kebahagiaan yang akhirnya kembali terpancar dari wajah istrinya.
"Suka tempatnya?" tanya Keanu lembut seraya berdiri di samping Bunga, ikut menikmati hembusan angin laut.
Bunga mengangguk antusias dengan senyuman manis yang terkembang sempurna di bibirnya. Bunga merogoh ponselnya dan mengetik pesan cepat:
'Sangat suka! Tempat ini benar-benar indah, Kak!'
Namun, kebahagiaan itu sedikit terusik saat pelayan resor masuk membawakan koper mereka dan menyampaikan satu informasi penting.
"Selamat datang di Villa Utama, Tuan dan Nyonya Alexander. Semua fasilitas terbaik sudah kami siapkan di dalam kamar utama," ujar pelayan itu sopan seraya membungkuk.
Keanu mengerutkan keningnya. "Tunggu. Kamar utama? Apakah hanya ada satu kamar tidur di vila ini?"
Pelayan itu tersenyum ramah. "Benar, Tuan Keanu. Sesuai pesanan khusus dari Tuan Alexander Senior, vila ini adalah unit honeymoon suite khusus pasangan suami istri, jadi hanya tersedia satu ranjang besar king size."
Deg!
Seketika itu juga, Keanu dan Bunga saling pandang dengan mata terbelalak kaku. Rona merah tebal langsung membanjiri pipi mereka berdua.
Begitu pelayan resor pamit mundur, suasana di dalam honeymoon suite mendadak hening dan serasa kian menghangat. Demi mencairkan kekokohan canggung di udara, Bunga terburu-buru menarik kopernya ke dekat area lemari. Ia berniat untuk segera berganti pakaian kasual agar bisa menenangkan debaran dadanya yang liar.
Namun, saat ritsleting koper digeser dan penutupnya dibuka, Bunga seketika membeku. Matanya terbelalak sempurna, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Seluruh deretan gaun sopan, pakaian santai, dan piyama tertutup yang dikemasnya sendiri tadi malam hilang tanpa bekas! Isi kopernya telah berubah seratus persen, digantikan oleh deretan lingerie sutra berenda tipis, baju tidur transparan, dan beragam gaun malam berpotongan amat minim dengan warna-warna yang berani.
Bunga memegangi kedua pipinya yang mendadak terasa terbakar hebat. Pikirannya benar-benar kacau dan terkejut.
Keanu, yang menyadari istrinya mematung dalam waktu lama tanpa bergerak sedikit pun, melangkah mendekat dengan dahi berkerut heran.
"Bunga, kau kenapa? Bukannya tadi kau mau berganti pakaian?" tanya Keanu lembut namun sarat akan rasa penasaran.
Sontak Bunga tersentak kaget. Dengan gerakan panik dan tangan gemetar, ia buru-buru menutup kembali koper tersebut sebelum pandangan Keanu sempat menangkap resah di dalamnya. Gelagatnya yang begitu gugup dan panik justru membuat kecurigaan Keanu membumbung tinggi.
"Apa yang sedang kau sembunyikan, Bunga?" tanya Keanu seraya menatap istrinya lekat-lekat. "Apakah ada sesuatu di dalam kopermu itu?"
Bunga menggelengkan kepalanya dengan cepat, memegangi Ritsleting koper erat-erat seraya menundukkan kepala dalam-dalam. Wajahnya yang memerah padam sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Ia benar-benar pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa.
Melihat respons Bunga yang semakin mencurigakan, rasa penasaran Keanu tidak bisa ditahan lagi. Pria itu mengikis jarak, lalu mengambil alih koper dari jemarinya Bunga yang gemetar.
"Coba aku lihat," ujar Keanu seraya menggeser ritsleting koper itu hingga terbuka lebar.
Deg!
Pandangan Keanu terkunci pada tumpukan kain sutra berenda yang begitu tipis dan minim di hadapannya. Pria angkuh yang biasanya selalu berpikiran dingin itu seketika terpaku.
Bayangan liar secara mendadak melintas di kepalanya, membayangkan bagaimana indahnya lekuk tubuh Bunga jika terbalut salah satu dari pakaian transparan tersebut. Seketika itu juga, rona merah hangat menyebar cepat dari leher hingga membakar kedua pipi dan telinganya Keanu. Tenggorokannya mendadak terasa teramat kering.
Keanu refleks memalingkan wajahnya ke samping, mengacak rambutnya kasar seraya berdehem sangat keras demi menguasai kesadarannya yang sempat melayang.
"Aih... Apa yang sedang kau pikirkan, Keanu?! Buang pikiran kotor mu itu! Ini pasti ulah Papah!" geram Keanu dalam hati, menyadari betul tangan jahil Tuan Alexander yang sengaja menukar isi koper menantunya saat persiapan keberangkatan tadi pagi.
Bersambung...
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander