Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Pintu

Pagi hari telah tiba, suasana kantor Verion Group sudah mulai ramai dengan ketukan sepatu dan riuh percakapan tipis antar staf.

Zevanna duduk diam di kursi meja administrasi, berpura-pura sibuk merapikan tumpukan kertas formulir. Namun, fokus matanya sebenarnya tertuju penuh ke arah lain. ia mengamati gerak-gerik Fika dan Hesa dari jauh dengan sangat hati-hati, berusaha keras menjaga raut wajahnya agar tidak memicu kecurigaan sedikit pun.

Fika tampak sibuk mengetik sesuatu di komputernya. Jemarinya menekan tombol papan ketik dengan irama terburu-buru, lalu sesekali ia berhenti hanya untuk menghela napas panjang dan melirik ke sekeliling area lorong VIP. Sementara itu, di sudut lain dekat meja koordinasi, Hesa kelihatan sangat fokus merapikan tumpukan berkas teknis, meski gestur tubuhnya tampak sedikit kaku dan berjarak dari staf lainnya.

Tisha tiba-tiba menghampiri Zevanna dari arah belakang sambil menepuk pundaknya pelan. "Zev!"

Zevanna melirik sekilas, mencoba bersikap sealami mungkin. "Apaan?"

"Temenin gue yuk ke area belakang panggung utama. Mau nemuin tim dekorasi buat cocokin daftar peralatan," ajak Tisha sambil menggoyangkan bahu Zevanna.

Zevanna mendecih pelan. "Gue nggak bisa, Tis. Lagi sibuk banget nih," katanya sambil berpura-pura serius mengetik sesuatu di layar komputernya yang padahal cuma halaman kosong.

"Ayo dong, Zev! Masa lo tega biarin sahabat sendiri jalan sendirian ke panggung? Sebentar doang kok, beneran!" Tisha memasang muka memohon dengan mata dibulat-bulatkan.

Zevanna menghela napas pasrah, menyerah pada rengekan sahabatnya itu. "Ya udah, iya. Gue temenin."

"Nah, gitu dong! Ini baru sahabat gue!" Tisha tersenyum lebar, wajahnya langsung cerah seketika.

Zevanna berdiri dari kursinya lalu berjalan berdampingan di samping Tisha menuju arah koridor belakang panggung.

Di tengah perjalanan yang riuh oleh lalu lalang staf, mata Zevanna tanpa sengaja menangkap sosok Fika. Wanita itu terlihat berjalan terburu-buru menuju ke arah lorong ruang istirahat khusus staf senior. Yang membuat Zevanna makin curiga, Fika tampak memeluk sebuah tas kain kecil berwarna gelap secara sembunyi-sembunyi di samping pinggangnya.

"Eh? Mau ngapain dia ke area sana jam segini? Mana bawanya sembunyi-sembunyi gitu lagi," batin Zevanna, rasa ingin tahunya langsung membuncah seketika.

Zevanna refleks memelankan langkah kakinya. ia menoleh ke arah Tisha. "Tis."

Tisha nengok dengan kening berkerut. "Apa?"

"Gue mau ke toilet sebentar ya, mules nih tiba-tiba," bisik Zevanna setengah beralasan.

Tisha menatap Zevanna penuh curiga selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Ya udah, tapi jangan lama-lama ya! Awas kalau lo sengaja ngilang!"

"Iya-iya, rewel banget sih lo!" balas Zevanna pelan sambil mengibaskan tangan.

Begitu Tisha melangkah menjauh menuju panggung, Zevanna segera memutar arah langkahnya. Ia bergegas memisahkan diri dan membuntuti Fika dari jarak aman dengan sangat hati-hati. Langkah kakinya dibuat seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara gesekan sepatu yang kentara.

Begitu sampai di lorong dekat ruang istirahat staf senior yang tergolong sepi, Zevanna merayap pelan menempel pada dinding. Dari balik salah satu ruangan, dia mendengar samar-samar suara bisikan dua orang yang sedang berdiskusi serius. Zevanna mendekat tanpa ragu, lalu mengintip melalui celah pintu kayu yang sedikit terbuka.

"Gue takut dia mulai banyak nanya," bisik Fika dengan nada suara yang bergetar penuh kecemasan. Tangannya tampak meremas tali tas kain yang dibawanya tadi.

"Kalau gitu, jangan pernah kasih dia alasan buat terus-terusan nanya," jawab seorang pria yang berdiri membelakangi pintu. Suara itu terasa sangat familiar di telinga Zevanna.

Andrew. Pria itu menatap Fika dengan raut wajah datar yang sulit diartikan.

"Tapi kalau sampai dia tahu soal barang itu... gimana, Ndrew?” tegas Fika lagi dengan bisikan yang makin tertahan.

Andrew terdiam sejenak. Ia mengelus dagunya pelan, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Barang itu bukan masalah... selama nggak ada satu orang pun yang tahu cerita di baliknya. Kita aman!”

Deg.

Zevanna tersentak kaget di balik pintu. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat itu juga.

Barang? Cerita apa yang dimaksud mereka? Kenapa seolah-olah barang itu berkaitan langsung sama seseorang? batin Zevanna panik, pikirannya langsung berputar hebat.

Gara-gara terlalu kaget dan panik, Zevanna refleks mencoba mundur beberapa langkah secara mendadak. Namun sial baginya, tumit sepatunya menyenggol dasar pot tanaman hias kecil yang diletakkan di sudut koridor.

Bruk!

Suara gesekan pot yang lumayan keras itu langsung memecah keheningan koridor. Seketika itu juga, obrolan Fika dan Andrew di dalam ruangan terhenti total.

"Ada orang di luar?" suara Fika terdengar sangat panik dan gemetar dari dalam.

Zevanna yang tersadar langsung memutar otaknya secepat kilat. Dalam hitungan detik, dia jalan cepat melewati depan pintu sambil menempelkan layar ponselnya ke telinga, berpura-pura seolah sedang sibuk menelepon seseorang dengan suara yang diangkat sedikit.

"Iya, Nenek... ini Zevanna lagi jalan nyari toilet kok, nanti ditelpon lagi ya..." ujar Zevanna asal bicara.

Pintu ruangan itu mendadak terbuka lebar. Andrew keluar dari dalam dan langsung berdiri memotong jalan, memperhatikan gerak-gerik Zevanna secara menyeluruh.

"Hai, Zevanna. Ngapain kamu di lorong area staf senior gini?" tanya Andrew. Wajahnya memasang senyum tipis yang mendadak terasa sangat dingin dan mengintimidasi, berbanding terbalik dengan image ramahnya selama ini.

Zevanna menghentikan langkah, pura-pura kaget lalu menoleh sambil menyunggingkan cengiran canggung. "Eh, hai juga, Mas Andrew! Ini... aku lagi nyari toilet, biasa deh... aku agak linglung kalau di koridor ini, suka lupa belokannya di mana."

Andrew menatap mata Zevanna dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam. "Oh... mau ke toilet?"

"Iya, Mas. Kebelet banget ini," sahut Zevanna berusaha sealami mungkin meski tangannya di balik saku sudah dingin.

Andrew menunjuk ke arah ujung koridor dengan gestur santai, tapi matanya tetap tidak lepas memindai raut wajah Zevanna. "Toilet staf ada di ujung sana, nanti kamu tinggal belok kanan aja. Di situ tempatnya."

"Oh gitu! Wah, makasih banyak ya, Mas Andrew. Kalau gitu aku permisi ke toilet dulu!" Zevanna buru-buru ngacir tanpa menoleh lagi. Jantung Zevanna berdebar. Tatapan Andrew tadi terasa berbeda.

Sesampainya di dalam toilet, Zevanna langsung mengunci pintu rapat-rapat. Ia menghampiri wastafel dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Zevanna menatap cermin di depannya dengan napas yang masih terengah-engah.

"Anjir, hampir ketahuan gue tadi! Untung refleks ngeles gue masih jalan." gumamnya pada bayangan di cermin.

Ia mengusap air di wajahnya dengan tisu sambil menghela napas panjang. "Tapi sebenarnya barang apa yang disembunyiin Mbak Fika? Kenapa Mas Andrew ikut-ikutan pasang badan buat nutupin semuanya? Apa Mas Andrew juga terlibat dari awal?"

Zevanna menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Aduh, pusing banget kalau dipikirin sendiri begini!"

Setelah memastikannya sudah agak tenang, Zevanna keluar dari toilet dan berjalan cepat menuju area panggung utama untuk menyusul Tisha.

Suasana di sekitar panggung sudah sangat sibuk. Beban peralatan, kabel audio, serta lampu sorot sedang dirapikan oleh beberapa orang. Di sana, Hesa tampak sibuk mengatur tata pencahayaan panggung bareng Vera dan Gista.

"Zevanna!" panggil Gista dari atas panggung sambil melambaikan tangan. "Sini!"

Zevanna menghampiri mereka. "Iya, Mbak?"

"Kamu tadi dari mana aja sih? Aku cariin dari tadi, kirain masih ngetik di meja administrasi," tanya Gista sambil mengelap keringat di dahinya.

Zevanna menyunggingkan senyum tipis. "Tadi dari toilet sebentar, Mbak. Perut agak nggak enak."

"Oh, kirain nyasar ke mana," balas Gista santai.

Vera yang sedang meriksa lipatan kain dekorasi panggung tiba-tiba ikut menimpali obrolan mereka. "Ngomong-ngomong soal barang-barang di kantor, gue jadi teringat sesuatu deh."

Gista menoleh pada Vera. "Apaan, Ver?"

"Lo masih ingat nggak, barang-barang pribadi punya staf lama yang dulu sempat dititipin ke staf lain sebelum mereka berhenti?" kata Vera mengingat-ingat.

Zevanna yang baru saja mau membungkuk mengambil kotak peralatan langsung membeku seketika. tangannya menggantung di udara.

Barang staf lama? batinnya terhentak.

Dia mencoba memasang wajah seringan mungkin agar tidak kelihatan bermaksud lain. "Memangnya barang staf lama yang mana, Mbak?" pancing Zevanna sehalus yang dia bisa.

Vera mengangkat kedua bahunya santai. "Ya beberapa orang staf yang resign atau pindah divisi gitu. Gue juga nggak begitu ingat detail nama-namanya."

"Ah, lo mah memang gampang lupa orangnya!" ledek Gista sambil tertawa pelan.

"Bukan gampang lupa, gue memang nggak tipe orang yang suka kepo sama urusan atau barang orang lain ya," balas Vera tidak mau kalah.

Zevanna makin penasaran, ia melangkah satu sentimeter lebih dekat. "Kalau barang-barang kayak gitu, biasanya disimpen atau dititipin ke siapa sih, Mbak?"

Gista menatap Zevanna heran. "Ya tentu saja dititipin ke orang yang paling dipercaya sama staf itu lah. Kenapa emangnya? Kok kamu tumben nanya-nanya hal beginian?"

Zevanna menggelengkan kepala dengan cepat, menepis kecurigaan. "Nggak apa-apa kok, Mbak. Cuma penasaran aja sama sistem penitipan barang staf di sini."

"Tapi kalau kamu berniat mau nyari tahu atau nyari barang milik staf lama, jangan pernah nanya ke aku ya. Aku beneran nggak tahu-menahu," tambah Vera menegaskan.

Di tengah obrolan itu, Zevanna menyempatkan diri melirik ke arah Hesa yang sejak tadi berdiri diam tidak jauh dari mereka sambil memegang gulungan kabel lampu.

Anehnya, raut muka Hesa kelihatan makin tegang dan memucat pas topik tentang 'barang staf lama' itu dibahas oleh Vera dan Gista. Tangannya bahkan tampak mencengkram gulungan kabel itu terlampau kuat.

Hesa akhirnya mendadak memotong percakapan mereka dengan nada suara keras dan dingin. "Udah-udah! Kenapa jadi malah gosip di sini? Kalau kalian mau pekerjaan ini selesai tepat waktu sebelum gladi bersih, mendingan fokus kerja sekarang!"

Gista nyengir canggung. "Iya, iya, Mbak Hesa. Ampun, bercanda dikit padahal..."

"Tahu nih Mbak Hesa, galak banget. Cuma ngobrol sebentar padahal sambil nunggu kabel dipasang," mumpung Vera pelan.

"Ngobrol sebentar tapi bikin kerjaan kalian mandek semua!" tegas Hesa lagi tanpa tersenyum sedikit pun, lalu membalikkan badan dan berjalan menjauh dari panggung.

Zevanna memperhatikan punggung Hesa yang berjalan cepat menjauh.

Kenapa Mbak Hesa se-sensitif dan sepanik ini tiap kali hal yang berhubungan sama masa lalu dibahas? Apa Mbak Hesa salah satu orang kepercayaan yang dimaksud?

***

Jam makan siang akhirnya tiba.

Zevanna baru saja selesai menyantap bekalnya di pantry dan berniat kembali ke meja administrasi. Koridor utama tampak sedikit lengang karena sebagian staf sedang berada di kantin luar.

Tiba-tiba, dari ujung lorong VIP, terdengar suara langkah sepatu yang tegas dan berwibawa.

Zevanna langsung mengenali sosok yang muncul dari sana.

Ravenzo.

Pria itu berjalan melintasi lorong panggung dengan kemeja rapi, didampingi Arvin di sampingnya. Dan saat melewati Zevanna, tatapan mereka sempat bertemu.

Ravenzo tidak mengatakan apa-apa.

Namun, beberapa langkah kemudian, pria itu mendadak berhenti.

Ia menoleh sedikit.

Tatapannya beralih ke arah koridor ruang istirahat staf senior—tepat ke lokasi tempat Fika dan Andrew berbicara diam-diam tadi pagi.

Zevanna yang memperhatikan gerak-geriknya langsung tertegun.

Kenapa Pak Ravenzo melirik ke arah sana dengan tatapan kayak gitu?

Ravenzo kemudian kembali berjalan menuju ruangannya tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Zevanna masih berdiri di tempatnya. Matanya mengikuti punggung Ravenzo sampai pria itu menghilang di balik pintu kayu tebal ruangannya.

Apa dia tahu sesuatu tentang Mbak Fika?

Zevanna menghela napas pelan, lalu melangkah kembali menuju meja administrasi.

Namun, langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya.

Kenapa semua orang di perusahaan ini seolah-olah punya sesuatu yang mereka sembunyikan?

Ia menunduk, pikirannya kembali mengingat percakapan Fika dan Andrew, reaksi Hesa, hingga tatapan Ravenzo beberapa saat lalu.

Satu hal yang semakin ia yakini sekarang...

Ada sesuatu yang tidak beres di Verion Group.

Dan entah kenapa, setiap jejak yang ia temukan selalu membawa pikirannya kembali kepada satu nama.

Kak Zoyya.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!