Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Jejak yang Menguap dan Kota yang Terlalu Luas

​Matahari perlahan merangkak naik hingga tepat berada di atas ubun-ubun, memanggang aspal ibu kota dengan panas yang menyengat. Hawa gerah dan kepulan asap knalpot dari ribuan kendaraan bermotor menciptakan fatamorgana di ujung jalan raya.

​Di tengah hiruk-pikuk metropolitan yang tak pernah tidur itu, Senja Kirana berjalan tanpa arah.

​Sepatu kets putihnya yang ujungnya sudah menganga terus melangkah, menyusuri trotoar demi trotoar. Peluh membasahi dahi dan punggung seragam cokelatnya. Wajahnya yang biasanya secerah mentari pagi, kini tampak sepucat kertas, dihiasi oleh sepasang mata bulat yang membengkak parah akibat menangis berjam-jam sejak subuh tadi.

​Di tangannya, Senja menggenggam setumpuk kertas fotokopian murahan yang ia cetak menggunakan sisa uang gajinya. Kertas itu berisi tulisan tangan Senja yang dibesarkan menggunakan mesin fotokopi, lengkap dengan deskripsi fisik Arga:

​DICARI: Pria tinggi besar, alis tebal, kulit sawo matang, ada bekas luka tusuk di pinggang. Sedang hilang ingatan (amnesia). Jika menemukan, tolong hubungi Kedai Roti Harum Manis.

​Senja tidak punya foto Arga. Selama pria itu tinggal bersamanya, jangankan untuk berfoto bersama, Senja bahkan tidak memiliki ponsel pintar yang memiliki kamera. Ia hanya bisa mendeskripsikan ciri-ciri Arga dengan tulisan tangan yang bergetar.

​"Permisi, Bu... maaf mengganggu waktunya. Apakah Ibu melihat pria tinggi besar dengan ciri-ciri seperti ini? Dia sedang sakit dan hilang ingatan, Bu," Senja menyodorkan selembar kertas itu pada seorang pejalan kaki.

​Ibu berdandan menor itu melirik kertas Senja sekilas, mengibaskan tangannya dengan ekspresi risih, lalu berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​Senja menelan ludah yang terasa kering seperti pasir. Ia tidak menyerah. Ia kembali menghampiri seorang pedagang asongan di dekat halte bus.

​"Pak, permisi... apa Bapak melihat pria asing yang kebingungan di sekitar sini?"

​"Wah, nggak lihat tuh, Neng. Di terminal ini mah ribuan orang lewat tiap jam, mana saya perhatiin satu-satu," jawab pedagang itu acuh tak acuh.

​Senja mengucapkan terima kasih dengan suara parau, lalu kembali melangkah.

​Di dalam kepalanya, Senja menolak untuk percaya bahwa Arga pergi atas kemauannya sendiri. Logika Senja yang selalu berusaha melihat sisi baik dari dunia mencoba membangun sebuah alibi untuk pria itu.

​Kak Arga pasti sedang kebingungan, batin Senja, membohongi dirinya sendiri untuk menekan rasa sakit di dadanya. Dia kan hilang ingatan. Luka di pinggangnya juga belum sembuh total. Bagaimana kalau tadi pagi dia keluar untuk mencari udara segar, lalu lupa jalan pulang ke kontrakan? Bagaimana kalau dia pingsan di jalanan dan tidak ada yang menolongnya?

​Pikiran bahwa pria raksasa itu sedang kesakitan sendirian di luar sana, membuat dada Senja serasa dihantam palu godam. Rasa lelah, haus, dan lapar di tubuhnya sama sekali tidak ia hiraukan. Di dalam tas kain usang yang ia peluk erat di dadanya, tersimpan kemeja biru kotak-kotak yang Arga tinggalkan. Sesekali Senja meremas tas itu, mencari sisa-sisa kekuatan dari aroma pria tersebut.

​Pukul dua siang, Senja akhirnya tiba di Kedai Roti Harum Manis. Kakinya bergetar hebat saat ia melangkah masuk.

​Pak Yanto yang sedang menyusun roti di etalase terkejut melihat kondisi anak asuhnya.

​"Astaga, Senja! Wajahmu pucat sekali, Nak! Matamu bengkak. Kau sakit lagi?!" seru Pak Yanto panik, buru-buru keluar dari balik meja kasir dan memapah gadis itu untuk duduk di kursi pelanggan.

​"P-Pak Yanto..." suara Senja pecah menjadi isakan. Pertahanannya selalu runtuh setiap kali ada yang bersikap baik padanya. "Kak Arga... pria yang menumpang di rumahku... dia hilang, Pak..."

​Pak Yanto tertegun. Ia langsung teringat pada pria bertubuh besar dengan aura mengerikan yang ia lihat semalam di kontrakan Senja. Pria yang ia yakini memiliki hubungan dengan pemilik baru kedai ini.

​"Hilang bagaimana maksudmu, Nak?" tanya Pak Yanto hati-hati.

​"Tadi pagi saat aku bangun, dia sudah tidak ada. Bajunya ditinggalkan. Pak... tolong aku... aku harus mencarinya," Senja meraih tangan pria tua itu dengan putus asa. "Bolehkah aku menempelkan kertas pengumuman ini di kaca depan kedai? Siapa tahu ada pelanggan yang melihatnya... Dan bolehkah aku minta izin setengah hari? Aku harus mencari Kak Arga ke klinik-klinik terdekat. Dia sedang sakit parah, Pak."

​Melihat keputusasaan di mata gadis yatim piatu itu, hati Pak Yanto ikut teriris. Ia tahu siapa 'bos besar' di balik semua ini, dan ia tahu bahwa pria itu pasti tidak benar-benar hilang. Namun, melihat air mata Senja, ia tidak berani mencampuri urusan para petinggi.

​"Tentu saja, Senja. Tempelkan sebanyak yang kau mau," Pak Yanto menepuk punggung Senja dengan iba. "Ambillah libur hari ini. Bapak akan memberikan gajimu secara penuh. Tapi ingat, jangan paksakan dirimu. Kota ini terlalu besar untuk dikelilingi dengan berjalan kaki."

​Senja mengangguk lemah. Setelah menempelkan satu selebaran di kaca kedai, gadis itu kembali menembus panasnya ibu kota.

​Ia mendatangi klinik-klinik kecil, puskesmas, pos polisi, hingga bertanya pada para tukang sapu jalanan. Setiap kali ia ditanya siapa nama lengkap pria yang dicarinya, Senja hanya bisa menangis dalam diam, menyadari betapa bodohnya ia. Ia bahkan tidak tahu nama belakang pria yang telah mencuri seluruh hatinya itu.

​Tanpa Senja sadari, di tengah hiruk-pikuk pencariannya, ia tidak pernah benar-benar sendirian.

​Dua puluh meter di belakang Senja, seorang pria berjaket ojek online yang sedang duduk di atas motornya terus mengawasi setiap langkah gadis itu. Di seberang jalan, seorang pria lain berpakaian layaknya petugas kebersihan kota yang sedang menyapu trotoar, matanya tak pernah lepas dari Senja.

​Mereka adalah tim bayangan elit Danendra Group. Pasukan rahasia yang ditugaskan khusus dengan ancaman kematian jika sampai sehelai rambut pun jatuh dari kepala gadis bernama Senja itu.

​Pria berjaket ojek online itu menyentuh earpiece tak kasat mata di telinganya.

​"Lapor, Kode Bayangan Satu. Nyonya Besar saat ini berada di persimpangan Blok M. Beliau terlihat sangat kelelahan, berjalan pincang karena sepatunya jebol, dan terus menangis sambil membagikan selebaran fotokopi," lapor pria itu dengan suara sepelan bisikan. "Suhu udara 34 derajat Celcius. Nyonya Besar belum mengonsumsi air minum sejak tiga jam yang lalu. Mohon instruksi selanjutnya."

​Di lantai enam puluh Gedung Danendra Group, dunia yang sama sekali berbeda tengah berputar.

​Ruang rapat direksi raksasa itu terasa seperti ruang jagal. Suhu pendingin ruangan diatur sangat rendah, namun keringat dingin sebesar biji jagung mengalir deras di pelipis belasan direktur berjas mahal yang duduk mengelilingi meja marmer panjang.

​Di kursi kebesaran di ujung meja, duduklah sang malaikat maut mereka.

​Arga Danendra.

​Setelan jas Armani hitam membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Wajahnya membeku menjadi sebongkah es tanpa belas kasihan. Sang tiran telah kembali ke singgasananya, dan kembalinya sang raja diiringi oleh badai pembersihan yang brutal.

​Brak!

​Sebuah dokumen investigasi tebal dilemparkan oleh Raka ke tengah meja. Raka berdiri di samping kursi Arga, tersenyum miring bagaikan penasihat iblis.

​"Direktur Utama Wijaya Group resmi ditetapkan sebagai tersangka korupsi dana talangan negara pagi ini. Perusahaannya dibekukan," suara Arga mengalun sangat tenang, membelah keheningan ruangan yang mencekam. Mata elangnya menyapu wajah-wajah pucat para pengkhianat di mejanya. "Dan yang lebih menarik, tim hukumku menemukan aliran dana dari Wijaya masuk ke lima rekening luar negeri milik para direktur eksekutif di ruangan ini."

​Beberapa direktur langsung tersentak, wajah mereka kehilangan darah sepenuhnya.

​"P-Pak Arga! Itu fitnah! Kami tidak mungkin mengkhianati Danendra Group!" seru seorang direktur berkepala botak, memohon dengan suara bergetar.

​Arga tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya sedikit, memberikan isyarat mematikan.

​Dalam hitungan detik, pintu ruang rapat terbuka. Belasan polisi dari departemen kejahatan ekonomi masuk bersama tim internal sekuriti perusahaan.

​"Bawa lima orang yang namanya sudah ditandai," perintah Arga dingin. "Pastikan aset mereka disita sepenuhnya untuk mengganti kerugian perusahaan. Aku tidak ingin melihat wajah mereka lagi di industri ini, selamanya."

​Jeritan protes dan permohonan ampun bergema di ruangan itu saat lima orang direktur senior diseret keluar dengan borgol di tangan mereka. Direktur-direktur lain yang tersisa menunduk dalam-dalam, tak berani bernapas keras, bersyukur karena mereka tidak ikut bersekongkol menjatuhkan sang tiran.

​"Rapat selesai," ucap Arga mutlak.

​Saat semua orang berhamburan keluar dari ruangan dengan napas lega karena selamat dari tiang gantungan, Raka melangkah mendekati Arga. Ia meletakkan sebuah tablet tipis di atas meja, tepat di hadapan bosnya.

​"Laporan dari Tim Bayangan di lapangan, Ga," ucap Raka pelan, nada suaranya berubah simpati.

​Arga menatap layar tablet itu. Di sana, tertampil foto-foto hasil jepretan kamera jarak jauh. Foto yang memperlihatkan sosok Senja Kirana dari berbagai sudut jalanan ibu kota.

​Jantung Arga seolah diremas oleh tangan besi panas.

​Di dalam foto itu, Senja terlihat sangat menyedihkan. Seragam cokelatnya basah oleh keringat. Wajah pucatnya memerah karena terbakar terik matahari. Dan yang paling menghancurkan kewarasan Arga adalah melihat selembar kertas fotokopian yang dipegang erat-erat oleh gadis itu.

​Kertas yang berisi deskripsi ciri-cirinya. Kertas pencarian orang hilang.

​Arga memejamkan matanya kuat-kuat. Tangannya yang baru saja memerintahkan pemenjaraan musuh-musuhnya tanpa ampun, kini bergetar hebat saat menyentuh layar tablet itu, mengusap wajah Senja yang sedang menangis di foto tersebut.

​Kau bilang kau akan membiarkanku menjadi tempatmu bersembunyi. Kenapa kau mencari pria bajingan ini, Senja? Kenapa kau tidak marah padaku? raung Arga di dalam hatinya yang berdarah.

​Gadis ini terlalu murni. Alih-alih merasa marah karena ditinggalkan tanpa pamit, Senja justru menghukum dirinya sendiri dengan mencarinya berkeliling kota di bawah terik matahari, khawatir bahwa pria amnesianya itu tersesat dan dalam bahaya.

​"Dia belum makan atau minum sejak pagi, Ga," Raka melaporkan dengan nada berat. "Tim di lapangan meminta izin untuk turun tangan secara langsung. Jika dibiarkan, dia bisa pingsan karena dehidrasi."

​Arga mengertakkan rahangnya. Emosinya nyaris meledak. Ia ingin berlari ke lift, menyetir mobilnya sendiri dengan kecepatan gila, lalu memeluk gadis itu di tengah jalanan kota dan meminta maaf ribuan kali.

​Tapi ia tidak bisa. Sisa-sisa loyalis Wijaya Group yang masih berkeliaran di luar sana sedang memantau pergerakannya. Kejaksaan masih bolak-balik ke kantornya untuk meminta keterangan terkait penjatuhan Wijaya. Jika Arga terlihat berlari menemui seorang gadis di distrik kumuh, musuh-musuhnya yang putus asa akan menggunakan gadis itu sebagai sandera terakhir untuk membalas dendam padanya.

​Ia baru bisa membawa Senja ke dunianya saat ancaman itu benar-benar bersih seutuhnya.

​"Jangan biarkan dia tahu keberadaan kalian," perintah Arga dengan suara yang sangat serak, mati-matian menahan air matanya.

​"Suruh beberapa anggota tim wanita menyamar sebagai pejalan kaki. Suruh mereka 'tanpa sengaja' menabrak Senja, lalu berikan dia sebotol air mineral dingin dan roti yang enak sebagai permintaan maaf. Lalu... suruh anggota tim lain menyamar sebagai orang baik hati yang membeli semua sisa selebaran itu darinya dengan alasan akan membantu menyebarkannya. Buat dia merasa cukup tenang agar dia mau pulang dan beristirahat."

​Raka mengangguk pelan. "Akan kulaksanakan, Bos."

​Asisten setia itu berbalik pergi, meninggalkan Arga sendirian di ruang rapat raksasa yang sepi. Sang miliarder yang menempati puncak piramida kehidupan itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat dalam kesunyian. Ia telah memenangkan peperangan mematikan melawan musuh besarnya, namun ia merasa kalah telak oleh cinta seorang gadis dari distrik pinggiran.

​Matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh temaram lampu-lampu jalan ibu kota.

​Senja Kirana duduk bersandar di sebuah bangku taman kota yang usang. Ia melepaskan sepatu ketsnya yang robek. Kaki mungilnya dipenuhi oleh lepuh-lepuh merah yang menyakitkan akibat berjalan belasan kilometer tanpa henti.

​Selebarannya telah habis. Beberapa orang baik—yang Senja tidak tahu adalah agen rahasia Arga—telah menolongnya, memberinya air minum, dan berjanji akan membantu menyebarkan selebarannya.

​Namun, hingga langit berubah gelap, tidak ada satu pun tanda-tanda keberadaan Arga. Kota ini terlalu masif. Jakarta dengan belasan juta penduduknya dengan mudah menelan satu nyawa tanpa menyisakan jejak, apalagi seorang pria amnesia yang tidak memiliki identitas.

​Malam ini, di tengah riuhnya suara klakson kendaraan dan lampu neon yang menyilaukan mata, Senja merasa dirinya adalah manusia paling kecil dan paling kesepian di seluruh alam semesta.

​Gadis itu memeluk kedua lututnya di atas bangku taman. Ia menyembunyikan wajahnya di antara lipatan lengannya, dan tangisan putus asa itu kembali pecah, mengalahkan suara bising kota di sekitarnya.

​Ia kesepian. Sangat kesepian.

​Rumah kontrakan yang dulunya menjadi tempatnya berlindung dari kerasnya dunia, kini hanya mengingatkannya pada kekosongan yang ditinggalkan pria itu. Ia membayangkan malam ini ia harus tidur sendirian, tanpa ada suara bariton yang menenangkannya, tanpa ada dada bidang yang menjadi tempatnya bersandar saat ia bermimpi buruk.

​Di mana Kakak? isak Senja dalam hati, meremas kemeja kotak-kotak biru di dalam pelukannya. Apakah aku melakukan kesalahan hingga Kakak pergi meninggalkanku? Tolong kembali, Kak... Senja takut sendirian lagi.

​Di saat yang bersamaan, hanya berjarak beberapa blok dari taman tersebut, terparkir sebuah Maybach hitam pekat di balik bayang-bayang pohon besar. Kaca jendelanya yang gelap diturunkan sedikit.

​Dari balik kegelapan kabin mobil mewah itu, sepasang mata elang menatap nanar ke arah bangku taman tersebut. Arga Danendra duduk di sana, mencengkeram jok kulit mobilnya kuat-kuat, membiarkan hatinya hancur berkeping-keping melihat punggung kecil yang bergetar hebat di bawah lampu jalan itu. Ia tidak bisa turun. Ia hanya bisa menemani gadisnya menangis dari dalam kegelapan.

​[Pesan Tersembunyi untuk Pembaca:]

(Saat kau kehilangan seseorang di tengah dunia yang begitu luas dan tak bertepi, kau akan bertanya-tanya: Apakah aku yang harus terus berlari mencarinya hingga kakiku berdarah, atau haruskah aku berhenti dan menunggu takdir yang mengembalikannya padaku?

​Ketahuilah, cinta sejati bekerja seperti dua kutub magnet raksasa. Senja yang kelelahan menangis karena mengira ia tak akan pernah menemukan Arga, tidak menyadari bahwa ia tidak perlu mencari pria itu ke ujung dunia. Karena saat hati memiliki ikatan yang murni dan tulus, kau tidak perlu memohon pada takdir untuk mempertemukan kalian. Sang pria-lah yang akan menghancurkan dinding takdir itu dengan tangannya sendiri, membelah lautan dan menembus badai, hanya untuk kembali berlutut di tempat kau meninggalkannya. Senja tidak sedang mencari orang hilang; ia sedang menunggu seorang raja yang sedang membersihkan takhta untuknya.)

​Malam semakin larut. Senja akhirnya mengusap air matanya. Dengan tenaga yang tersisa, ia memaksakan dirinya untuk berdiri, memakai kembali sepatu rusaknya yang terasa menyiksa, dan berjalan tertatih menuju halte bus terdekat.

​Ia harus pulang. Ia harus kembali ke rumah kontrakannya, meski tempat itu kini terasa seperti kuburan kenangan. Siapa tahu, siapa tahu saja keajaiban itu datang lagi, dan 'Kak Arga' sudah duduk menunggunya di depan pintu kayu jati itu dengan senyum hangat andalannya.

​Harapan palsu yang menyedihkan itu adalah satu-satunya bahan bakar yang membuat jantung Senja tetap berdetak malam ini. Namun, bidadari kecil itu tidak menyadari bahwa malam-malam penuh air mata ini hanyalah panggung pembuka sebelum badai besar yang sesungguhnya menghantam hidupnya—saat dunia akhirnya mengetahui rahasia besar di balik menghilangnya sang pria amnesia kesayangannya.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!