Ketika Jiang Chen terbangun di dunia kultivasi, ia mendapati dirinya mewarisi takhta Ketua Sekte Pedang Bintang—sebuah sekte yang dulunya agung namun kini berada di ambang kehancuran absolut. Pilar utama sekte, sang guru, telah tewas terbunuh. Para tetua berkhianat dan membawa lari seluruh harta benda, sementara musuh bebuyutan telah mendobrak gerbang depan untuk merampas wilayah mereka.
Dengan tingkat kultivasi dasar yang sangat lemah dan hanya ditemani oleh satu adik seperguruan yang masih setia bertahan, ajal seolah sudah menanti Jiang Chen di depan mata.
Namun, di saat maut dan keputusasaan memuncak, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di benaknya: [Sistem Pembangunan Sekte Abadi berhasil diikat!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Benturan di Pelabuhan
Darah merah berbau amis menyebar di atas landasan batu giok putih pelabuhan udara Ibukota Provinsi Awan.
Kelepak sayap yang panik dan jeritan elang emas Tingkat 3 itu menciptakan kekacauan. Puluhan pengawal pelabuhan mundur ketakutan, tidak ada yang berani mendekat. Di tengah puing-puing kereta sayap yang hancur, Zi Feng—Tuan Muda Sekte Langit Ungu—merangkak bangun dengan pakaian sutra ungunya yang kini kotor oleh debu dan darah burungnya.
Wajah Zi Feng memerah karena murka yang membakar kewarasannya. Di ibukota ini, Sekte Langit Ungu adalah penguasa langit! Tidak pernah ada yang berani menatap matanya, apalagi memotong sayap binatang tunggangannya di depan umum.
"BERANINYA KALIAN!!" Zi Feng meraung, mencabut pedang pusaka dari cincinnya. Energi qi dari Pembentukan Fondasi Tingkat 1 meledak tak terkendali. "Kalian anjing kampung dari sekte rongsokan! Bunuh mereka! Cincang bocah pembawa pedang besar itu dan lemparkan mayatnya ke selokan!"
Keenam pengawal Zi Feng yang berada di Pembentukan Fondasi Tingkat 2 segera melesat maju, memancarkan niat membunuh yang pekat.
Di geladak Perahu Terbang, Lin Mo menyeringai lebar, tangannya sudah memegang gagang pedangnya lagi. Namun, sebelum ia sempat melompat...
"Duduk."
Sebuah kata tunggal meluncur dari mulut Jiang Chen yang masih berdiri santai di haluan perahu. Suara itu tidak keras, namun mengandung hukum alam yang absolut.
BZZZZT!!
Bukan hanya sebuah perintah untuk Lin Mo, Jiang Chen secara diam-diam melepaskan seperseribu dari tekanan spiritual Inti Emas miliknya, memfokuskannya langsung ke arah rombongan Sekte Langit Ungu di bawah sana.
BAM! BAM! BAM!
Zi Feng dan keenam pengawalnya tiba-tiba merasakan sebuah gunung tak kasat mata seberat puluhan ribu ton menimpa punggung mereka. Tulang-tulang mereka berderak keras. Dalam sepersekian detik, ketujuh ahli kultivasi itu terhempas dengan wajah membentur lantai batu giok pelabuhan hingga retak.
Mereka bahkan tidak bisa menggerakkan satu jari pun. Darah merembes dari sudut bibir Zi Feng. Matanya melotot ngeri menatap pemuda berjubah putih di atas perahu terbang itu.
Tekanan macam apa ini?! Hanya dengan satu kata, dia melumpuhkan kami semua?!
"Menyingkir dari jalanku sebelum aku tidak sengaja menginjak kalian," ucap Jiang Chen dengan nada bosan. Ia lalu melangkah turun dari Perahu Terbang, udara memadat di bawah kakinya membentuk anak tangga hingga ia dan murid-muridnya menjejakkan kaki dengan anggun di daratan ibukota.
Tepat saat para pengawal pelabuhan bersiap membunyikan lonceng darurat, sebuah kereta kuda mewah yang ditarik oleh dua ekor Kuda Bertanduk Kristal berhenti di dekat kerumunan.
Manajer Su Ya, mengenakan gaun ungu elegan yang memancarkan aura bangsawan, melangkah turun dengan senyum menawan. Di belakangnya, dua tetua Paviliun Bulan Perak cabang ibukota memancarkan aura Pembentukan Fondasi Tingkat Puncak, membuat para pengawal pelabuhan langsung membungkuk hormat.
"Ketua Sekte Jiang! Anda selalu tahu cara membuat pintu masuk yang berkesan," Su Ya tertawa pelan, sama sekali tidak memedulikan Zi Feng yang masih tergeletak mencium lantai. "Paviliun Bulan Perak telah menyiapkan kediaman terbaik untuk Anda dan murid-murid Anda."
Su Ya kemudian melirik dingin ke arah pengawal pelabuhan. "Sekte Pedang Bintang adalah tamu VIP Emas dari Paviliun Bulan Perak. Segala kerusakan hari ini, kirimkan tagihannya ke meja kerjaku. Adapun orang-orang di tanah ini... singkirkan mereka."
Mendengar nama Paviliun Bulan Perak—raksasa bisnis terbesar di provinsi—para pengawal pelabuhan langsung berkeringat dingin dan bergegas menyeret Zi Feng beserta rombongannya yang masih lumpuh menjauh dari sana.
Jiang Chen mengangguk pelan. "Manajer Su, kau semakin pandai membaca situasi. Ayo, kita butuh tempat istirahat sebelum turnamen besok."
Arena Grand Ibukota: Tirai Turnamen Terbuka
Keesokan paginya, seluruh Ibukota Provinsi Awan bergemuruh.
Arena Grand Ibukota adalah sebuah koloseum raksasa yang mampu menampung seratus ribu penonton. Di tengahnya, terdapat sepuluh platform pertarungan yang terbuat dari Batu Berlian Bintang—material yang mampu menahan serangan ahli Inti Emas tanpa hancur.
Di kursi kehormatan tertinggi, duduklah utusan dari Gubernur Provinsi. Di bawahnya, puluhan paviliun melayang disediakan khusus untuk sekte-sekte kelas atas.
Jiang Chen duduk santai di paviliun Sekte Pedang Bintang, menyesap teh spiritual sambil menatap ke bawah. Di belakangnya, sepuluh murid—termasuk Lin Mo, Su Yue, dan Han Feng—berdiri tegak dengan aura yang tenang dan stabil.
Di paviliun seberang, aura membunuh yang sangat pekat diarahkan tepat ke paviliun Jiang Chen. Itu adalah lokasi Sekte Langit Ungu.
Zi Feng, yang wajahnya masih sedikit memar, menunjuk-nunjuk penuh kebencian ke arah Jiang Chen sambil membisikkan sesuatu kepada seorang pemuda yang duduk di kursi utama sekte mereka. Pemuda itu adalah Zi Lingtian, Kakak Seperguruan Tertua Sekte Langit Ungu, yang usianya baru 19 tahun tetapi telah mencapai Pembentukan Fondasi Tingkat 3!
Zi Lingtian menatap Lin Mo dan Jiang Chen, lalu menyeringai dingin sambil menyilangkan jari ke lehernya.
"Aturannya sederhana!" Suara utusan Gubernur menggema ke seluruh koloseum. "Ini adalah Sistem Cincin Tantangan. Setiap sekte berhak mengirimkan muridnya yang berusia di bawah 20 tahun. Menang, kalian bertahan di arena. Kalah atau terbunuh, kalian tersingkir. Sekte dengan poin kemenangan terbanyak akan mendapatkan hak eksploitasi Tambang Batu Spiritual Perak selama sepuluh tahun ke depan! Turnamen... DIMULAI!"
TENGGG!!
Begitu lonceng berbunyi, seorang pemuda bertubuh kekar dari Sekte Langit Ungu langsung melompat ke Arena Nomor 1. Ia memancarkan qi di Puncak Pemadatan Qi Tingkat 9. Otot-ototnya meledak, memegang sepasang kapak raksasa.
Ia tidak menantang sekte kecil lainnya, melainkan langsung menunjuk ke paviliun Sekte Pedang Bintang.
"Aku, Kuang Shan dari Sekte Langit Ungu! Siapa pun anjing kampung dari Sekte Pedang Bintang yang berani memotong sayap elang tunggangan sekte kami kemarin, turun dan serahkan kepalamu padaku!"
Sorak-sorai penonton meledak. Sekte Langit Ungu langsung mengincar darah sejak menit pertama!
Di dalam paviliun Sekte Pedang Bintang, Lin Mo mendengus dingin dan melangkah maju. "Biar aku yang memotong lidahnya, Guru."
"Tunggu," Jiang Chen mengangkat tangannya, mencegat Lin Mo.
Jiang Chen menoleh ke arah Han Feng yang berdiri di barisan belakang. Bekas budak tambang itu kini memiliki tubuh tegap dengan otot padat yang ditempa oleh panasnya tungku. Di punggungnya, terikat sebuah pedang besar tak bersarung berwarna hitam legam yang sangat tebal.
"Han Feng," panggil Jiang Chen santai.
"Murid di sini, Ketua Sekte!" Han Feng berlutut dengan satu kaki.
"Kau menghabiskan tiga bulan di ruang tempa untuk melengkapi saudara-saudaramu. Kau belum pernah mencicipi darah musuh sejak masuk ke sekte ini, kan?" Jiang Chen menyesap tehnya. "Turunlah. Lakukan pemanasan. Jangan permalukan pedang yang kau tempa sendiri."
Mata Han Feng berbinar buas. "Han Feng mengerti!"
WUUUSH!
Han Feng melompat dari paviliun yang tingginya puluhan meter, mendarat di Arena Nomor 1 dengan bunyi debuman keras yang meretakkan lantai sedikit.
Kuang Shan dari Sekte Langit Ungu mengerutkan kening. Ia merasakan fluktuasi qi Han Feng yang hanya berada di Pemadatan Qi Tingkat 8.
"Hahaha! Sekte Pedang Bintang benar-benar pengecut! Kalian mengirim seorang murid Tingkat 8 untuk mati di tanganku?!" Kuang Shan tertawa mengejek, menjilat bilah kapaknya.
Han Feng perlahan menarik pedang hitam besarnya dari punggung. Pedang itu tidak memiliki mata tajam, melainkan tumpul seperti balok besi, namun memancarkan aura ketebalan dan bobot yang luar biasa. Itu adalah mahakaryanya: Pedang Penekan Bumi.
"Di tambang dulu, aku belajar satu hal," ucap Han Feng dengan suara serak yang dingin. "Batu yang paling keras tidak dihancurkan dengan pisau yang tajam, tapi dengan palu yang paling berat."
"Mati kau, keparat bodoh!" Kuang Shan meraung, melesat maju dengan kapak ganda yang memancarkan aura api ungu mematikan.
"Kapak Penebas Gunung Ungu!"
Menghadapi serangan mematikan itu, Han Feng tidak menghindar. Akar Roh Logam Mutasi di dalam tubuhnya mendidih. Otot-otot lengannya membesar dua kali lipat, urat-urat hijau bermunculan layaknya naga kecil di bawah kulitnya.
Ia memegang gagang pedang hitam besarnya dengan kedua tangan, menariknya ke belakang, lalu mengayunkannya lurus ke depan layaknya memukul bongkahan bijih besi di atas tungku.
"Seni Palu Seribu Tempa: Pukulan Pemecah Inti!"
DOOOOOOMMMM!!!!
Bukan suara tebasan pedang, melainkan suara ledakan sonik layaknya dua meteor yang bertabrakan.
Pedang hitam tumpul Han Feng menghantam kapak ganda Kuang Shan dengan kekuatan fisik murni yang tidak masuk akal. Kapak baja berkualitas tinggi milik jenius Sekte Langit Ungu itu hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh.
Gaya dorong yang mengerikan tidak berhenti di situ. Pedang tumpul itu menghantam dada Kuang Shan dengan telak.
KRAAAK!
Tulang dada Kuang Shan remuk sepenuhnya. Tubuh kekarnya terlempar ke udara dengan kecepatan peluru, terbang melintasi seluruh arena, dan menghantam dinding penghalang energi pelindung hingga meledak menjadi kabut darah sebelum akhirnya jatuh ke tanah layaknya karung daging tak bernyawa.
Mati dalam satu serangan!
Seluruh koloseum raksasa itu mendadak sunyi senyap. Puluhan ribu penonton menahan napas, menatap pemuda pandai besi yang masih berdiri tegap memegang pedang hitamnya.
Seorang murid di ranah yang lebih rendah baru saja menghancurkan jenius puncak sekte nomor satu di ibukota... hanya dengan satu ayunan pedang tumpul?!
Han Feng memanggul kembali pedang beratnya ke bahu, menatap dingin ke arah paviliun Sekte Langit Ungu yang kini hening mencekam.
"Siapa selanjutnya?" tantang Han Feng, suaranya menggema bagaikan palu godam di hati setiap musuh.