Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Malam merayap turun dengan anggun di pedesaan Bandung. Langit malam bersih tanpa awan, membiarkan cahaya bulan purnama menyiram hamparan kebun teh dan atap-atap rumah panggung dengan pendar perak yang tenang.

​Di dapur rumah, aroma harum masakan rumahan menggugah selera. Kinanti dengan cekatan menata hidangan malam di atas meja kayu sederhana panci cilok kuah rempah buatan mereka, sepiring nasi hangat, dan sambal terasi segar. Wajah cantiknya tampak berseri-seri karena hari itu ia berhasil mendapatkan seluruh peralatan dapur impiannya di pasar kota.

​Arka berdiri di sampingnya, membantu membawakan mangkuk dan sendok. Tatapan mata Arka tidak pernah lepas dari gerak-gerik sang istri, memancarkan rasa cinta dan ketulusan yang begitu dalam.

​"Mas Arka, hari ini benar-benar melelahkan tapi seru banget!" ujar Kinanti riang sambil mendongak menatap suaminya. "Makasih ya sudah mau nemenin aku keliling pasar kota tadi sore."

​Arka tersenyum lembut, mengelus puncak kepala Kinanti dengan penuh kasih sayang. "Apapun untuk kamu, Sayang. Selama kamu senang, Mas pasti temani."

​Kinanti tersenyum manis, lalu merangkul pinggang Arka dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Aku beruntung banget punya suami kayak kamu, Mas. Di sini, rasanya dunia luar yang kejam dan bising itu nggak pernah ada."

​Mendengar kata-kata itu, hati Arka bergemuruh hangat. Namun, di saat yang bersamaan, sudut matanya melirik tajam ke arah jendela dapur yang menghadap langsung ke jalan setapak desa.

​Meskipun Kinanti merasa aman, Arka tahu persis bahwa ketenangan ini adalah ketenangan sebelum badai besar.

​Ponsel rahasia di saku jaketnya bergetar senyap sekali. Sebuah pesan teks terenkripsi dari Lingga muncul di layarnya:

​Bos, Blackcurrant sudah keluar dari markas utamanya di Jakarta. Dia bergerak sendiri menggunakan mobil pribadi langsung menuju perbatasan desa kita malam ini.

​Arka menarik napas perlahan, lalu mengetik balasan singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Kinanti:

​Biarkan dia datang. Jangan ada yang menghalangi jalurnya sampai ke batas pekarangan rumah.

​"Mas... kok ngelamun? Makananannya keburu dingin lho," tegur Kinanti lembut, membuyarkan lamunan Arka.

​Arka langsung memasang senyum hangatnya kembali, mengecup pelipis istrinya penuh cinta. "Ah, nggak apa-apa, Sayang. Mas cuma lagi mikirin betapa beruntungnya Mas punya istri sehebat kamu. Yuk, kita makan."

​Mereka pun duduk bersama di meja makan, menikmati malam yang hangat dalam gelak tawa dan obrolan ringan.

​Pukul dua belas malam. Pedesaan Bandung diselimuti keheningan yang pekat. Di dalam kamar utama, Kinanti terlelap nyenyak dalam pelukan hangat Arka setelah melelahkan diri seharian.

​Perlahan, Arka melepaskan rangkulan tangannya, merapikan selimut istrinya, dan bangkit berdiri tanpa suara. Ia mengenakan jaket taktis hitamnya, menyelipkan sepasang pisau lipat di balik pinggang, lalu melangkah keluar rumah lewat pintu belakang.

​Di pekarangan luar yang diterangi cahaya bulan purnama, Blackcurrant pimpinan tertinggi Club Strawberry sudah berdiri menunggu. Mengenakan mantel panjang hitam berkerah tinggi dan sarung tangan kulit, pria paruh baya itu menatap tajam ke arah Arka dengan senyum sinis yang mengerikan. Di belakangnya, tiga orang pengawal elit bersenjata lengkap bersiaga.

​"Luar biasa, Arka," suara Blackcurrant memecah keheningan malam dengan nada penuh kebencian. "Kau berhasil meratakan seluruh anak buahku, dari The Black Dragon sampai tim elit Red Berry. Tapi malam ini, pelarianmu sebagai tukang cilok berakhir!"

​Arka berdiri tegak dengan tangan santai di saku jaketnya. Tatapan matanya amat dingin, menembus langsung ke jiwa musuhnya. "Kalian memilih tempat yang salah untuk mati."

​Bugh! Sshht!

​Blackcurrant mengibaskan tangannya memberi komando. Dua pengawal elit langsung menerjang maju dengan kecepatan tinggi, menghunus belati taktis beracun.

​"Habisi dia! Jangan biarkan dia bernapas!" bentak salah satu pengawal sambil melayangkan tebasan mendatar ke arah leher Arka.

​Trang!

​Arka bergerak secepat kilat. Dengan satu tepisan tangan kosong, ia membelokkan arah belati musuh, lalu melayangkan hantaman lutut telak yang menghantam dada pengawal pertama.

​Brak! Pengawal itu terpental keras menabrak pagar kayu hingga pingsan seketika.

​Pengawal kedua mencoba menyerang dari sisi samping dengan tusukan mematikan. "Mati kau, mantan bos!" teriaknya penuh amarah.

​Namun Arka sama sekali tidak bergeming. Ia merunduk mulus, menangkap pergelangan tangan pengawal tersebut, memutarnya 180 derajat hingga terdengar bunyi tulang bergeser (Krek!), lalu membanting tubuh musuh ke tanah basah.

​Melihat dua pengawalnya tumbang dalam hitungan detik, Blackcurrant mendengkus geram. Ia mencabut pistol silencer dari balik mantelnya dan mengarahkannya tepat ke dada Arka.

​"Kau pikir insting bertarungmu masih sama setelah menjadi petani desa yang lemah, hah?!" cibir Blackcurrant dengan seringai gila, jari telunjuknya mulai menarik pemicu. "Rasakan ini!"

​Sssht Clack!

​Sebelum peluru sempat melesat, Arka sudah melemparkan pisau lipatnya dengan akurasi mutlak. Pisau itu menembus tepat di pergelangan tangan Blackcurrant, membuat senjata api tersebut terlepas dari genggamannya dan jatuh berserakan di tanah.

​"Arghhh!" teriak Blackcurrant kesakitan sambil mencengkeram tangannya yang berlumuran darah.

​Arka melangkah maju perlahan, setiap jejak kakinya memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat Blackcurrant terhuyung mundur hingga punggungnya menempel pada dinding luar rumah.

​"Kau menyentuh batas wilayahku, dan kau mengancam istriku," bisik Arka tepat di depan wajah Blackcurrant dengan suara berat yang membekukan darah. "Kesalahan yang tidak akan pernah ada pengampunannya."

​Arka melayangkan satu pukulan telak terakhir ke titik saraf rahang Blackcurrant.

​Bugh!

​Pimpinan tertinggi Club Strawberry itu langsung terkulai pingsan, tak berdaya di atas tanah pekarangan.

​Dari balik kegelapan kebun pinus, Lingga muncul bersama dua anggota The White Dragon, bertepuk tangan pelan sambil tersenyum miring. "Gaya bertarung Lu emang nggak pernah luntur, Bos. Sampah-sampah Club Strawberry akhirnya bersih total."

​"Bawa dia dan sisa anak buahnya pergi dari sini," perintah Arka dingin. "Pastikan jaringan mereka hancur sampai ke akar-akarnya di pusat."

​"Siap, Bos!" sahut Lingga sigap.

​Pukul empat pagi.

​Arka melangkah masuk kembali ke dalam kamar utama, membersihkan sisa debu di tangannya, lalu berbaring memeluk Kinanti yang masih terlelap pulas.

​Kinanti menggeliat kecil, merapatkan tubuhnya ke dada Arka seraya tersenyum dalam tidur lelapnya. "Mas... dari mana...?" gumam Kinanti pelan.

​Arka mencium puncak kepala istrinya penuh kelembutan. "Cuma sebentar di luar, Sayang. Tidur lagi ya, semuanya sudah aman."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!