Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
Setelah mobil Rian menghilang di balik gerbang besi tinggi itu, perlahan-lahan terdengar suara mesinnya yang makin menjauh, hingga akhirnya lenyap sepenuhnya. Tinggallah gadis itu dan Amira berdiri di halaman rumah yang luas itu, di bawah terik matahari siang yang mulai meninggi. Gadis berbalik menghadap Amira yang masih berdiri di sampingnya, tangan mungil amira kecil itu masih menggenggam ujung bajunya dengan erat, seolah takut jika melepaskan, sosok yang membuatnya merasa aman itu akan ikut pergi bersama ayahnya.
"Ayo, Amira, kita masuk dulu ya" ucap gadis itu lembut sambil tersenyum hanga.
"Di luar panas sekali, nanti kamu kepanasan kalau terlalu lama berdiri di sini. Kita masuk, di dalam lebih sejuk dan nyaman" timpalnya.
Amira mengangguk riang, matanya bersinar cerah, lalu tanpa ragu menarik tangan gadis itu, membimbingnya melangkah masuk ke dalam rumah yang luas itu. "Iya, tante! Ayo, aku tunjukkan kamarku! Kamar Amira ada banyak mainan, dan ada boneka beruang yang besar sekali! Nanti tante bisa lihat sendiri!" suaranya renyah dan penuh semangat, seolah kehadiran gadis itu membawa cahaya baru ke dalam rumah yang biasanya begitu hening, dingin, dan sepi itu.
Gadis itu membiarkan diri dituntun oleh tangan mungil itu, melangkah melewati pintu utama yang terbuka lebar. Ruang tengah yang luas itu tampak megah dengan perabotan kayu jati yang kokoh dan berkilau, lantai marmer yang bersih memantulkan cahaya matahari yang masuk lewat jendela besar, namun di tengah kemewahan itu, suasana terasa begitu dingin dan kosong.
Tidak ada suara tawa, tidak ada kesan hangat, seolah rumah itu hanyalah bangunan mewah tanpa jiwa. Di sudut ruangan, di balik tiang penyangga yang besar, Laras berdiri diam, tubuhnya sebagian tersembunyi namun matanya terang dan tajam, mengikuti setiap gerak-gerik gadis asing yang kini masuk ke rumahnya bersama cucunya. Tatapannya penuh kecurigaan, ketidaksetujuan yang tak bisa ia sembunyikan sedikit pun.
Ia tidak mengenal gadis itu, tidak tahu dari mana asalnya, dan tidak menyukai kenyataan bahwa seseorang yang baru pertama kali datang itu begitu akrab, begitu dekat, dan begitu disukai oleh Amira dalam waktu yang begitu singkat. Siapa gadis itu? Mengapa naumi membiarkannya masuk ke sini? Dan mengapa Amira begitu nyaman di dekatnya? batin Laras, merasakan ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang mengganggu ketertiban dan aturan rumah yang selama ini ia jaga dengan ketat.
Tanpa menyadari tatapan tajam itu, gadis itu terus berjalan bersama Amira menuju tangga di sudut ruangan. Amira melangkah cepat, menaiki tangga dengan langkah ringan dan riang, sesekali menoleh ke belakang memastikan gadis itu tetap mengikutinya, wajahnya tersenyum lebar tanpa beban.
"Di sini, tante! Kamar Amira di lantai atas, dekat jendela besar! Sore nanti bisa lihat matahari terbenam dari sini, warnanya cantik sekali!" serunya antusias, jarinya menunjuk ke arah jendela besar di ujung lorong.
Sesampainya di depan pintu kamar yang berwarna krem dengan hiasan bunga-bunga kecil yang dilukis rapi di pinggirnya, Amira berhenti sejenak, lalu mendorong pintu itu terbuka lebar dengan kedua tangannya. "Tadaaa! ini kamar amira!" serunya bangga, melangkah masuk lebih dulu dan mempersilakan gadis itu masuk sepenuhnya.
Gadis itu melangkah masuk perlahan, matanya berkeliling melihat ruangan itu dengan kagum. Kamar itu luas dan terang, dihiasi perabotan yang cantik dan tertata rapi tempat tidur berukuran besar dengan selimut bermotif bunga yang lembut, rak mainan yang penuh dengan boneka dan mainan edukasi yang berwarna-warni, serta meja belajar kecil yang terbuat dari kayu mahogany yang mengkilap.
Namun di balik semua kemewahan dan kelengkapan itu, ada kesan kesepian yang samar namun terasa nyata tidak ada gambar keluarga yang terpajang di dinding, tidak ada foto bersama ayah dan ibu, tidak ada tanda-tanda kehangatan yang biasa ada di kamar anak-anak yang tumbuh penuh kasih sayang. Ruangan itu lengkap secara benda, namun terasa kosong secara hati.
"Bagus sekali kamarmu, Amira" puji gadis itu tulus, suaranya lembut dan penuh kekaguman, lalu berlutut di samping gadis kecil itu agar tingginya sama, menatap mata bundar itu dengan senyum yang tulus.
"Sangat cantik dan sangat rapi. Kamu pasti anak yang rajin merapikan tempat tidur dan menyimpan mainan ya?"
Amira tersenyum bangga, dadanya sedikit membusung, lalu berlari kecil menuju rak mainan di sudut kamar dan mengambil sebuah boneka beruang berwarna cokelat muda yang cukup besar dan empuk.
"Iya! Amira selalu merapikan sendiri, tidak mau disuruh. Ini namanya Beruang Cokelat, teman tidur Amira setiap malam. Kalau hujan atau malam gelap, Amira peluk dia supaya tidak takut" Suaranya perlahan melembut di kalimat berikutnya, matanya menatap boneka di pelukannya dengan tatapan yang sendu dan pelan-pelan menambahkan, "Tapi... kadang-kadang Amira tetap kesepian kalau Ayah tidak pulang ke sini dan tidak ada yang menemani"
Gadis itu merasa hatinya terenyuh mendengar kalimat itu, seolah ada sesuatu yang lembut dan sedih bergetar di dadanya. Ia mendekat dan mengusap rambut Amira dengan lembut, gerakannya begitu tulus dan penuh kasih sayang, tanpa pamrih apa pun.
" Sekarang tidak akan kesepian kok tante kan ada di sini" ucapnya pelan namun tegas, menatap mata gadis kecil itu dengan penuh kehangatan.
" Tante temanin sampai mama pulang yah.. Kita bisa baca buku cerita, atau menggambar bersama, atau menyusun balok. Kita bisa lakukan banyak hal yang menyenangkan. Bagaimana?"
Wajah Amira seketika bersinar kembali, mendung di matanya lenyap seketika digantikan cahaya bahagia yang murni.
"Benarkah, tante? Asyik! Ayo kita gambar sekarang juga! Amira mau gambar rumah, dan Ayah, mama, tante rina dan Beruang Cokelat!"
Dari lorong di luar kamar, Laras berdiri diam di balik dinding, tak jauh dari pintu yang sedikit terbuka itu. Ia berdiri di sana cukup lama, tanpa bergerak, tanpa bersuara. Setiap kata yang terucap di dalam sana terdengar jelas hingga ke telinganya, dan semakin ia mendengar, semakin rasa tidak sukanya tumbuh dan menguat.
Gadis itu terlalu manis, terlalu dekat, terlalu mudah masuk ke hati Amira dan itu membuatnya merasa terancam. Di matanya, kehadiran gadis itu adalah gangguan, orang asing yang tiba-tiba masuk tanpa izin dan mencuri kasih sayang cucunya, yang seharusnya hanya milik keluarga Wijaya dan tidak boleh dimiliki atau dibagi dengan orang luar.
Ia tidak tahu bahwa gadis sederhana di dalam sana justru datang dengan hati yang paling tulus, tanpa pamrih, tanpa mengetahui siapa sebenarnya keluarga yang ia kunjungi.
Laras membuang napas kasar, berbalik perlahan dan melangkah pergi menjauh dari pintu itu. Langkah kakinya terdengar berat di atas lantai keramik yang dingin, seolah membawa beban kekesalan dan kecurigaan yang tak bisa ia ungkapkan kepada siapa pun. Siapa pun gadis itu, aku harus memastikan dia tidak terlalu dekat dengan Amira. Rumah ini punya aturan, dan orang luar tidak boleh sembarangan masuk dan mengganggu ketertiban serta ketenangan di sini, batinnya dengan tegas, tanpa menyadari bahwa justru kehangatan dan kasih sayang yang tulus yang dibawa gadis inilah yang paling dibutuhkan oleh gadis kecil yang kesepian itu.
Di dalam kamar, tak menyadari rasa tidak suka yang mengintai dari luar, gadis itu dan Amira sudah duduk di atas karpet empuk berwarna biru langit di tengah ruangan. Kertas gambar putih dan pensil warna yang beragam warna sudah tersebar rapi di antara mereka. Tawa kecil Amira terdengar renyah dan jernih, mengisi ruangan yang biasanya hening dan sepi, menciptakan suasana hangat yang belum pernah ada sebelumnya di kamar itu.
Gadis itu tersenyum melihat kegembiraan murni di wajah Amira, hatinya merasa tenang dan bahagia bisa membuat anak kecil itu tersenyum lebar tanpa tahu bahwa rumah ini adalah rumah sahabat terbaiknya, tanpa tahu bahwa keluarga yang ia temui ini adalah keluarga yang dulu pernah menyakiti orang yang paling ia sayangi di dunia.
Setelah berjalan menjauh dari pintu kamar Amira, langkah kaki Laras terdengar berat dan cepat di atas lantai keramik yang dingin. Ia melangkah dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kekesalan yang mulai menumpuk di dadanya, menaiki tangga menuju lantai dua dengan langkah yang mantap namun penuh kegelisahan.
Lorong lantai atas itu sunyi dan panjang, hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri yang bergema pelan di dinding-dinding berwarna krem itu. Ia berbelok ke kanan, berjalan menuju kamar pribadinya yang terletak di ujung bangunan itu, tempat yang selama ini menjadi pelindungnya dari segala sesuatu yang dianggap mengganggu ketertiban rumah yang ia jaga dengan ketat.
Pintu kamar itu tertutup rapat begitu masuk, Laras langsung menguncinya dari balik pintu, seolah ingin memisahkan dirinya dari segala sesuatu yang baru saja ia lihat dan dengar di lantai bawah.
Kamar itu luas dan tertata mewah, dominasi warna cokelat gelap dan krem yang memberikan kesan kaku, dingin, dan tak tersentuh. Tidak ada barang yang berantakan, tidak ada hiasan yang berlebihan semuanya diatur dengan presisi, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang terbiasa mengatur segalanya sesuai keinginannya.
Laras berjalan menuju meja rias besar di sudut ruangan, duduk di kursi empuk berbalut kain beludru di hadapan cermin besar yang berbingkai ukir kayu, lalu segera meraih ponsel pintar yang tergeletak rapi di sana. Jemarinya bergerak cepat, menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala nomor putri kesayangannya, Rina. Satu-satunya orang yang ia percaya sepenuhnya, satu-satunya yang selalu ia andalkan untuk mengurus segala sesuatu di rumah ini, satu-satunya yang menurutnya mampu memahami cara berpikir dan aturan-aturan yang ia tetapkan.
Tak lama, panggilan itu tersambung. Suara Rina terdengar lembut, sopan, dan tenang dari seberang sana persis seperti putri penurut yang selalu dikenalnya, persis seperti peran yang sudah lama ia mainkan dengan sangat baik dan sempurna di hadapan ibu tirinya.
"Halo, Bu... Ada apa, Bu?"tayanya.
Laras langsung berbicara dengan nada yang penuh kekesalan dan ketidaksetujuan, tanpa bertele-tele, tanpa basa-basi.
"Rina, ada hal yang membuat Ibu tidak tenang sejak tadi. Ada seorang gadis asing masuk ke rumah ini tanpa izin Ibu, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dia datang mengendarai motor, menjemput Amira di sekolah, lalu masuk ke dalam rumah, dan sekarang berada di kamar Amira bersama cucu Ibu itu. Ibu tidak tahu siapa gadis itu, tidak tahu dari mana asalnya, dan Ibu sama sekali tidak suka ada orang baru yang datang ke rumah ini tanpa persetujuan Ibu terlebih dahulu. Rasanya tidak tenang, tidak aman, dan Ibu merasa ada sesuatu yang salah dengan kehadirannya di sini..."
Mendengar itu, Rina menarik napas dalam-dalam, menahan rasa cemas yang tiba-tiba menyeruak di dadanya, rasa takut yang seketika memenuhi dadanya. Namun ia tidak membiarkan suaranya berubah. Ia menelan ludah, lalu menjawab dengan nada yang tetap terdengar tenang, lembut, dan penuh kepatuhan topeng yang sudah lama ia pakai untuk bertahan hidup di rumah itu.
"Ibu tenang saja dulu ya... Tarik napas dalam-dalam, jangan terlalu cemas dan jangan marah dulu ya. Aku segera pulang. Aku yang akan urus semuanya. Biar aku yang datang dan melihat sendiri siapa gadis itu, lalu aku yang akan bicarakan dengannya dengan baik-baik. Ibu tunggu saja di rumah ya, jangan dulu lakukan apa pun sampai aku sampai di sana. Biar aku yang selesaikan"
Nada bicara Rina begitu menenangkan, begitu meyakinkan, penuh perhatian seolah ia benar-benar berpihak pada keinginan ibunya, sehingga Laras merasa lega seketika. Kekhawatirannya sedikit berkurang mendengar kata-kata putrinya itu. Ia percaya sepenuhnya pada Rina, percaya bahwa Rina akan mampu menyelesaikan masalah ini dengan baik, sesuai dengan keinginannya, tanpa menimbulkan keributan.
"Baiklah, Rina. Ibu tunggu kepulanganmu. Cepatlah pulang ya, jangan terlalu lama"
"Siap, Bu. Aku berangkat sekarang juga. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Panggilan berakhir. Layar ponsel itu menjadi gelap kembali. Laras meletakkan benda itu perlahan di atas meja, lalu bersandar di kursi riasnya, menarik napas panjang, merasa sedikit lebih tenang karena tahu Rina akan segera datang dan mengurus segalanya. Di matanya, Rina adalah putri yang paling patuh, paling mengerti, dan paling bisa diandalkan. Ia tidak pernah menyadari bahwa di balik nada lembut dan kata-kata penurut itu, tersembunyi ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam di hati putrinya.
Sementara itu, di tempat yang tak terlalu jauh, Rina meletakkan ponselnya di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar. Wajahnya yang tadi tampak tenang kini berubah menjadi pucat dan cemas. Ia berdiri perlahan, meraih tas dan kunci mobilnya dengan gerakan yang cepat namun tergesa.
Ia tidak segera pulang karena ingin mematuhi perintah ibunya, ia ingin segera pulang karena takut. Takut gadis yang baru pertama kali datang itu menjadi sasaran amarah dan kecurigaan Laras. Takut ibunya melakukan sesuatu yang kasar, sesuatu yang menyakiti gadis yang sama sekali tidak tahu apa-apa itu, yang mungkin datang dengan niat baik tanpa bermaksud mengganggu siapa pun.
Rina tahu betul sifat ibunya keras, curiga, tegas, dan tidak segan-segan mengusir siapa pun yang dianggap mengganggu ketertiban rumahnya atau mengganggu keluarganya. Dan bayangan gadis asing itu yang belum pernah ia temui, namun yang sudah masuk ke rumah itu dan menemani Amira membuat hatinya gelisah dan takut.
Siapa gadis itu? Mengapa dia ada di sana? Apakah dia orang baik? Dan apa yang akan Laras lakukan padanya jika aku tidak segera sampai? batin Rina berulang-ulang, berjalan cepat menuju mobilnya, melangkah dengan niat bulat di dadanya ia harus sampai di sana sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Bukan untuk mengusir gadis itu, bukan untuk menuruti kemauan ibunya melainkan untuk melindunginya. Melindungi seseorang yang bahkan belum ia kenal, namun yang kehadirannya sudah membuat ibunya tidak tenang. Dan tanpa ia ketahui, takdir sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertemuan biasa karena di dalam rumah itu, menunggu seseorang yang selama ini ia rindukan tanpa ia sadari.
Bersambung..