Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aneh
Pagi hari setelah acara perusahaan, suasana Verion Group kembali normal, tetapi beberapa staf masih sibuk membereskan sisa perlengkapan acara.
Zevanna datang dengan wajah sedikit lelah.
Tisha menoleh dan menatap Zevanna. "Muka lo kenapa kayak habis dikejar setan?"
Zevanna mendengus dan menguap. "Gue cuma kurang tidur."
"Kebiasaan lo kalau malem pasti begadang." Kata Tisha.
"Ya udah. Gue mau ke meja gue dulu." Zevanna berjalan menuju meja kerjanya.
Ia duduk dan menyalakan komputernya. Matanya terasa lelah karena kemarin malam.
"Ngantuk banget sumpah!" Ujar Zevanna menguap lebar.
Saat sendirian di meja administrasi, Zevanna diam-diam membuka tasnya.
Ia menatap benda kecil milik Zoyya yang ia temukan malam sebelumnya.
Zevanna menatap benda itu cukup lama.
"Kenapa benda ini bisa ada di belakang panggung?" Gumamnya heran.
Ia kembali teringat suara langkah kaki semalam.
Namun sebelum berpikir lebih jauh—
"Zevanna!"
Zevanna buru-buru memasukkan benda tersebut ke dalam tas.
Gista datang sambil membawa beberapa berkas.
"Kamu lagi ngapain?" Tanya Gista.
"Nggak ngapa-ngapain, Mbak," jawab Zevanna.
Gista hanya mengangguk dan memberikan beberapa dokumen.
"Ini kamu susun dokumen sisa acara kemarin, ya." Kata Gista.
Zevanna menatap berkas itu dan mengangguk. "Iya, Mbak."
Saat membuka salah satu map, Zevanna menemukan beberapa berkas lama.
Ada beberapa nama karyawan lama di sana.
Salah satunya adalah Zoyya.
Zevanna langsung terdiam. "Mbak Gista."
"Hm?"
"Ini dokumen lama?"
Gista mengangguk santai. "Iya. Arsip perusahaan. Kenapa?"
Zevanna menunjukkan nama Zoyya. "Ini kok ada nama Zoyya, Mbak? Katanya dia udah resign, kok masih ada namanya di sini?"
Gista terdiam beberapa detik sebelum kembali biasa. "Oh, itu arsip tahun lalu. Banyak banget dokumen kayak gitu. Udah kamu kerjain aja."
Zevanna mengangguk. Namun, ia memperhatikan ekspresi Gista.
Gista berdehem kecil dan mengambil salah satu map. "Yang ini jangan dibuka dulu, Zev."
Zevanna mengerutkan kening. "Kenapa, Mbak?"
"Isinya dokumen lama yang belum selesai diperiksa." Jawab Gista lalu ia membawa map itu pergi.
Zevanna menatap punggungnya. "Kok kayak penting banget ya map itu?"
Zevanna menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas. "Sebenarnya apa isi map itu, kok Mbak Gista nggak bolehin gue buka map itu?"
Zevanna menggeleng dan menghembuskan napas. "Udah, lah. Mending kerjain biar cepet beres kerjaan gue."
Zevanna fokus mengerjakan tugasnya menyusun dokumen tersebut.
Suasana kembali hening ketika Andrew datang membawa beberapa makanan ringan dari area pantry.
Ia menghampiri Zevanna. "Zev."
Zevanna menghentikan tangannya dan menoleh. "Mas Andrew? Ada apa?"
Andrew meletakkan satu makanan dan minuman di meja Zevanna. "Nih."
Zevanna mengangkat alis, bingung. "Ini buat saya, Mas?"
Andrew mengangguk. "Iya, buat kamu."
"Kenapa?"
Andrew hanya tersenyum kecil. "Kemarin kamu katanya belum makan, jadi aku bawain makanan buat kamu."
Zevanna terdiam sejenak. "Lah, kok Mas Andrew tau saya belum makan kemarin?"
Andrew mengangkat bahu. "Dengar dari orang. Udah makan aja, pasti kamu tadi pagi juga belum sarapan kan?"
Zevanna mengangguk. "Iya, hehe."
Zevanna akhirnya mengambilnya. "Makasih ya, Mas Andrew."
"Sama-sama. Kalau gitu aku pergi dulu ya."
"Iya."
Andrew pergi meninggalkan Zevanna.
Saat berjalan menjauh, Andrew menoleh ke belakang. Ia melihat Zevanna mulai membuka makanan tersebut.
Andrew tersenyum miring.
Zevanna tidak menyadarinya karena sedang membaca sesuatu di ponselnya.
"Selamat menikmati makanannya, Zevanna." Lalu Andrew kembali berjalan menuju ke ruangannya.
Tisha berjalan dan melewati meja Zevanna. Ia melihat makanan dan minuman dari Andrew.
"Eh, Zev. Itu punya siapa?" Tanya Tisha.
Zevanna mendongak. "Oh mas Andrew yang kasih."
Tisha langsung menatap Zevanna. "Mas Andrew?"
"Iya."
"Tumben, dia ngasih lo makanan dan minuman."
Zevanna mengangkat bahu. "Katanya kemarin gue belum makan, jadi dia ngasih gue makanan ini."
Tisha mengambil minumannya lalu melihat labelnya. "Lo yakin aman ini?"
Zevanna mendelik. "Tisha! Lo kira dia mau racunin gue apa?"
Tisha tertawa. "Bercanda, woi. Baperan amat lo."
Zevanna mendengus. "Dih, siapa juga yang baperan? Lo kali yang baperan terus."
Tisha terdiam dan bibirnya cemberut. "Eh, Zev. Gue minta dikit ya makanan lo."
Tisha hendak mengambil makanan Zevanna, namun tangannya langsung di geplak.
Plak.
"Enak aja lo! Ini punya gue, ya!" Sentak Zevanna menyembunyikan makanan dan minumannya.
"Yaelah, minta dikit doang, Zev. Masa nggak boleh sih." Kata Tisha sambil mengelus tangannya.
"Nggak boleh, beli sendiri sana." Jawab Zevanna.
Tiba-tiba interkom kantor berbunyi. Salah satu staf memanggil Zevanna.
"Zevanna, Pak Ravenzo meminta kamu ke ruangannya."
Zevanna menghela napas. "Lagi-lagi gue. Muak banget!"
Tisha langsung nyengir. "Cie dipanggil bos."
"DIEM."
Tisha tertawa melihat Zevanna kesal. "Jangan galak-galak, Zev. Nanti Pak CEO pecat lo gimana?"
"Kalau gue dipecat. Gue bakar nih gedung." Gerutu Zevanna.
"Jahat amat lo."
"Bodo amat!"
Zevanna bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ruangan Ravenzo.
"Kenapa sih, gue dipanggil mulu sama dia?" Omelnya di sepanjang koridor kantor.
Zevanna mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Ravenzo.
Ravenzo sedang memeriksa beberapa laporan.
"Duduk."
Zevanna duduk di hadapan Ravenzo.
Ravenzo memberikan beberapa dokumen. "Tolong periksa data ini. Ada beberapa angka yang tidak sesuai."
Zevanna menerima dokumen tersebut. "Sekarang, Pak?"
"Iya."
"Pak, saya manusia, bukan alat printer."
Ravenzo menatapnya datar. "Makanya saya suruh memeriksa, bukan mencetak."
Zevanna terdiam dan mendecih. "Garing."
Ravenzo menahan senyum. "Udah cepet periksa, saya nggak punya banyak waktu."
"Saya juga masih banyak kerjaan, Pak. Bukan bapak aja." Kata Zevanna.
"Tapi saya waktunya lebih banyak daripada kamu." Jawab Ravenzo dingin.
"Ya untungnya saya waktunya sedikit, nggak terlalu banyak kayak bapak." Ucap Zevanna santai membuat Ravenzo tersentak.
"Kamu bilang apa tadi?" Kata Ravenzo, nada suaranya terdengar sedikit tinggi.
Zevanna mendongak dan menggeleng. "Nggak apa-apa kok, Pak. Mungkin bapak salah denger itu."
Ravenzo menatapnya dalam.
Zevanna berdehem kecil lalu berdiri di sisi meja Ravenzo untuk memeriksa dokumen.
Ravenzo menoleh ke arah Zevanna sekilas dan kembali fokus pada pekerjaannya. Sesekali ia menjelaskan bagian yang harus diperiksa.
Zevanna terlalu fokus sampai tidak menyadari ada satu lembar dokumen jatuh ke lantai.
Ia membungkuk mengambilnya bersamaan dengan Ravenzo.
Tangan mereka hampir bersentuhan.
Keduanya terdiam sejenak.
Zevanna langsung menarik tangannya. "Eh..."
Ravenzo mengambil dokumen itu. "Kamu duluan."
"Oh. Iya." Jawab Zevanna, mengatur detak jantungnya.
Ravenzo berdehem cukup besar membuat Zevanna tersentak. "Udah selesai. Kamu bisa keluar."
Zevanna mengangguk, lalu membawa beberapa dokumen keluar dari ruangan.
Namun ketika melewati sisi meja, ujung sepatunya tersangkut kaki meja.
"Eh—!"
Tubuh Zevanna kehilangan keseimbangan.
Ravenzo refleks bergerak. Tangannya menahan Zevanna agar tidak jatuh, sementara tangan lainnya menahan lengannya.
Deg.
Zevanna terdiam.
Ravenzo juga diam.
Keduanya saling menatap beberapa detik. Jantung Zevanna berdetak kencang.
Zevanna baru sadar posisi mereka cukup dekat.
"Pak..."
Ravenzo segera melepaskan tangannya. "Kamu tidak apa-apa?"
Zevanna menggeleng cepat. "Nggak. Aman, Pak."
"Kalau begitu, lebih hati-hati lagi kalau jalan." Kata Ravenzo kembali duduk.
Zevanna mengangguk sambil menahan malu. "Iya, Pak. Saya permisi dulu."
Zevanna keluar dari ruangan Ravenzo dengan cepat.
Ravenzo menatap Zevanna, sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Ceroboh."
Begitu Zevanna kembali ke meja administrasi, Tisha langsung memperhatikan wajahnya.
"Eh, lo kenapa?"
"Kenapa apaan?"
"Muka lo merah." Ucap Tisha.
Zevanna terdiam sejenak dan berdehem, mengatur napasnya. "Panas ini."
Tisha melihat AC. "AC-nya dua puluh derajat."
Zevanna langsung mengambil berkas. "Bacot lo!"
Tisha tertawa. "Cieeee, habis ngapain lo sama Pak CEO?"
Zevanna melempar pulpen ke arahnya. "Diem lo, gue robek juga mulut lo."
"Cieee salting." Tisha langsung pergi membuat Zevanna melotot dan mendecak.
"Ihhhh, nyebelin banget si Tisha." Gerutu Zevanna.
Ia mengingat tatapan mata Ravenzo barusan.
"Ck, ngapain gue mikirin cowok itu sih?" decak Zevanna.
Zevanna kembali fokus pada komputernya. Namun, pikirannya terus memikirkan tatapan dari Ravenzo. Sampai ia salah memasukkan angka.
"Astaga. Kenapa pikiran gue jadi kayak gini sih?" Gumamnya kesal.
***
Dari lantai atas, Alika terlihat sedang berbicara dengan salah satu staf perusahaan.
Ia ternyata masih berada di Verion Group.
Zevanna melihatnya sekilas. "Mbak Alika belum pulang?"
"Dia masih ada urusan sama pak Ravenzo." Jawab staf lain.
Zevanna mengangguk. "Oh gitu."
Namun Alika dari kejauhan sempat melihat Zevanna.
Tatapan mereka bertemu.
Alika hanya tersenyum tipis, senyum yang sulit diartikan.
Zevanna menatap Alika heran.
Kenapa dia natap gue sambil senyum ya?
Kemudian Alika pergi dan masuk ke ruangan Ravenzo.
"Ravenzo."
Ravenzo mendongak dan mengerutkan keningnya. "Kamu belum pulang?"
Alika menggeleng dan menghampiri Ravenzo. "Belum, aku disini. Disuruh papa aku buat urus perusahaan bareng kamu."
Ravenzo tidak menjawab, ia kembali menatap layar laptopnya.
Alika mengibaskan rambutnya. "Raven, kemarin kamu cukup dekat dengan Zevanna."
Ravenzo langsung menatapnya. "Itu urusan pekerjaan."
Alika tersenyum. "Aku tidak bilang apa-apa."
"Tapi kamu menanyakannya." Jawab Ravenzo singkat.
Alika hanya tersenyum tipis.
***
Di area administrasi, Gista menerima telepon dari seseorang. Ekspresinya berubah serius.
"Sekarang?"
Ia berjalan menjauh dari staf lain.
Zevanna kebetulan melihatnya.
Gista berbicara dengan suara pelan.
"Jangan bahas itu di sini."
Zevanna tidak bisa mendengar lawan bicaranya.
"Ya gue tau, tapi lo jangan ngomong itu lagi." Ucap Gista pelan. "Udah, gue mau balik kerja dulu."
Pip.
Gista mematikan teleponnya, ia terlihat gelisah.
Ketika menyadari Zevanna memperhatikannya, ekspresinya langsung berubah normal.
"Kenapa lihat-lihat?" Tanya Gista.
Zevanna menggeleng cepat. "Nggak kok, Mbak."
Gista tersenyum kecil. "Bagus. Lo balik kerja sana."
"Iya, Mbak." Zevanna berbalik badan dan menuju ke mejanya.
"Tadi, Mbak Gista nelpon siapa ya? Kok gelisah gitu ya?" Gumamnya, menoleh sekali lagi. Tapi Gista sudah tidak ada di tempatnya.
"Ilang kemana dia, ya?"
Zevanna menghela napasnya. "Jadi pusing kepala gue."
Zevanna kembali berjalan dan duduk di depan komputernya.
Beberapa saat kemudian, Andrew kembali ke meja Zevanna.
"Makanannya enak?"
Zevanna mendongak dan mengangguk. "Lumayan. Makasih ya."
Andrew tersenyum tipis. "Bagus kalau kamu suka."
Zevanna tidak menjawab, ia kembali bekerja.
Andrew sempat memperhatikan tas Zevanna yang sedikit terbuka. Ia melihat sekilas sesuatu di dalamnya.
Zevanna meliriknya, ia segera menutup tasnya.
Andrew langsung mengalihkan pandangan, dan berdehem. "Zev, aku pergi dulu ya. Ada urusan."
Zevanna mengangguk. "Iya, mas."
Andrew pergi meninggalkan Zevanna.
Zevanna menatap punggung Andrew. Pikirannya kembali mengingat beberapa hal yang terjadi sejak kemarin.
Henry dan Arvin yang bicara soal seseorang.
Dokumen lama Zoyya.
Gista yang melarangnya membuka map.
Andrew yang tiba-tiba memberinya makanan.
Alika yang terus memperhatikannya.
Zevanna menghela napas. "Kenapa semuanya jadi aneh sih?"
Ia memijat pelipisnya. Ia belum tahu mana yang benar-benar berkaitan dengan Zoyya.
Zevanna melirik ke samping dan menemukan data administrasi yang tidak sesuai dengan arsip lama.
Tanggalnya ternyata berdekatan dengan periode ketika Zoyya masih bekerja di Verion Group.
Zevanna terdiam sejenak. "Ini kok tanggalnya sama...?"
Ia hendak mencatatnya. Namun, Gista tiba-tiba datang.
"Zevanna."
Zevanna tersentak dan menoleh. "Iya, Mbak?"
Gista melihat dokumen tersebut. "Berkas itu serahkan ke saya."
Zevanna mengangguk dan menyerahkannya. "Ini, Mbak."
Gista mengambilnya dan menyimpannya.
Zevanna menatapnya. "Mbak, itu memang dokumen lama, kan?"
Gista mengangguk. "Iya."
"Kenapa harus Mbak yang simpan?" Tanya Zevanna.
Gista tersenyum kecil. "Karena saya yang bertanggung jawab atas arsip bagian itu."
Zevanna terdiam dan tidak bisa membantah.
Namun setelah Gista pergi, Zevanna mengerutkan keningnya.
"Tetap aja aneh."
***
Alika kebetulan melewati koridor kantor dan mendengar dua staf membicarakan Zevanna.
"Zevanna akhir-akhir ini sering banget dipanggil Pak Ravenzo."
Alika berhenti. Ia tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap ke arah meja administrasi.
Alika mengepalkan tangannya, kemudian berjalan pergi. Namun sebelum pergi, ekspresinya berubah dan tersenyum kecil.
***
Tepat pukul lima sore, sebagian staf mulai menyelesaikan pekerjaan.
Zevanna membereskan mejanya. Ia membuka tas untuk memastikan benda milik Zoyya masih ada.
Benda itu masih di sana.
Zevanna menggenggamnya. "Kak Zoyya... Sebenarnya apa yang terjadi sama kakak?"
Dari belakang terdengar suara.
"Zevanna?"
Zevanna tersentak dan langsung memasukkan benda itu kembali ke tas, lalu menoleh.
Ternyata itu Andrew.
"Belum pulang?" Tanya Andrew.
"Bentar lagi." Jawab Zevanna singkat.
Andrew tersenyum. "Hati-hati."
Tanpa menunggu jawaban dari Zevanna, Andrew langsung pergi.
Zevanna memperhatikannya, menggaruk kepalanya.
"Dia sebenarnya kenapa sih? Kok ke meja gue mulu?" Gumamnya.
Ketika Andrew berjalan cukup jauh, ia berhenti sebentar. Lalu ia menoleh ke arah Zevanna.
Senyum miring yang sama muncul di wajahnya.
Zevanna tidak melihat karena sedang membereskan meja.
Andrew kemudian pergi.
Di sisi lain koridor kantor, Alika ternyata juga berada di sana.
Ia sempat melihat Andrew pergi. Tatapannya mengikuti Andrew beberapa detik.
"Ternyata lo deketin dia, ya." Ucap Alika pelan lalu melangkah pergi.
Zevanna sudah membereskan mejanya, lalu ia menyambar tasnya dan berjalan keluar dari lobby kantor.
Saat Zevanna hendak pulang, ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Ting!
Zevanna menghentikan langkahnya, lalu mengeluarkan ponselnya.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Unknown: Jangan mencari tau tentang Zoyya kalau kamu masih ingin tetap aman di Verion Group.
Zevanna membeku, matanya membesar saat membaca pesan tersebut.
"Siapa yang ngirim ini?"
Ia melihat nomor tersebut. Tidak ada nama dan foto profil.
Zevanna mencoba menelpon nomor tersebut. Namun, nomor itu tidak dapat dihubungi.
Zevanna menatap layar ponselnya dengan gelisah.
Kemudian ia perlahan menoleh ke sekeliling kantor yang mulai sepi.
Tidak jauh darinya, seseorang berdiri di ujung koridor.
Sosok itu hanya terlihat sekilas sebelum berbalik dan menghilang.
Zevanna berdiri terpaku.
"Siapa dia...?"
Bersambung…