Indonesia
NovelToon NovelToon
Tahta Kaisar Iblis

Tahta Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.

​Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.

​Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.

​"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​BAB 8: SAPU DAN PROVOKASI

Hari demi hari berlalu, xuan chen melakukan tugas nya manahan beberapa ejekan atau provokasi dari sesama murid luar.

Dan pagi berikut nya baru saja menembus kabut tebal Lembah Murid Luar saat Xuan Chen mulai mengayunkan sapu lidi bambunya. Di samping kakinya, sebuah keranjang anyaman besar bertengger di atas lantai batu, perlahan terisi oleh tumpukan dedaunan kering dan debu tebal yang berserakan di sekitar pelataran utama.

​Langkah kaki dan ayunan tangan Xuan Chen terasa sangat ritmis. Meskipun tugas ini terkesan merendahkan, dia melakukannya tanpa banyak mengeluh. Namun, ketenangannya tak bertahan lama.

​Seiring berjalannya waktu, belasan murid luar mulai berkumpul di pinggir pelataran. Mereka menunjuk-nunjuk ke arah Xuan Chen seraya menyeringai lebar.

​"Lihat junior itu.. , sudah diperintahkan menyapu halaman seperti pelayan!" seru seorang murid bertubuh kurus sambil menepuk bahu temannya.

​"Hahaha! Sok hebat sekali dia!" timpal murid di sebelahnya dengan tawa keras. "Bocah tak tahu diri, mentang-mentang dibawa langsung oleh Tetua Mo ke sekte, dia pikir dia bisa berbuat seenaknya? Pada akhirnya cuma ditugaskan membersihkan kotoran kita!"

​Ejekan itu bergema di sepanjang pelataran. Xuan Chen tetap bergeming. Dia menatap tumpukan daun di depannya dengan mata dingin, mengabaikan segala bentuk cemoohan yang terlontar.

​Srak! Srak!

​Tepat saat keranjang anyamannya hampir penuh, tiga buah bayangan mendadak melangkah lebar menghampirinya. Pria di barisan terdepan memiliki tato kalajengking di lehernya, otot fisiknya kekar memancarkan aura Ranah Penempaan Tubuh Lapisan 4.

​Brak!

​Tanpa ucapan salam, kaki tebal milik pria bertato itu menghantam keras keranjang sampah di samping Xuan Chen. Keranjang anyaman itu hancur berkeping-keping, menerbangkan ratusan daun kering dan kotoran yang telah dikumpulkan Xuan Chen selama satu jam terakhir, menyebarkannya kembali ke seluruh pelataran batu.

​Xuan Chen menghentikan gerakan sapunya. Matanya menyempit mendalam, menatap dedaunan yang kini berhamburan kembali di sekeliling kakinya. Di dalam dadanya, gejolak emosi mulai membakar panas.

​"Bocah," suara berat pria bertato itu memecah keheningan. "Namaku Zhao Huo. Kau pasti tidak kenal denganku, tapi kau pasti ingat Gu Kang."

​Xuan Chen tidak menjawab. Dia hanya berdiri tegap dengan sapu bambu di tangannya, menatap Zhao Huo dengan wajah tanpa ekspresi.

​"Gu Kang adalah orang ku," lanjut Zhao Huo dengan tatapan berdarah dingin. "Kau mematahkan lehernya di platform batu tanpa memandang wajahku. Berani sekali kau bertindak sewenang-wenang di wilayah barat!"

​Xuan Chen menarik napas pendek, menahan dorongan untuk mengayunkan ujung sapunya ke leher pria di depannya. Kata-kata Tetua Mo di aula beberapa hari lalu bergema kuat di kepalanya: Aturan kedua, kau tidak boleh terpancing oleh ejekan atau provokasi, dan dilarang keras menggunakan kekerasan untuk menyerang.

​Melihat Xuan Chen diam membisu, Zhao Huo tertawa meremehkan. Dia mengibaskan tangannya ke arah dua pengikutnya yang berada di Ranah Penempaan Tubuh Lapisan 3 dan 2.

​"Lihat penakut ini! Dia bahkan tidak berani menjawab ucapanku!" cemooh Zhao Huo. "Kalian berdua, acak-acak seluruh halaman ini! Biarkan bocah ini menyapu sampai mati!"

​Dua murid Lapisan 3 itu menyeringai lebar. Mereka mulai menendang-nendang dedaunan di sekitar pelataran, sengaja mengotori kembali area yang sudah dibersihkan oleh Xuan Chen.

​Krek!

​Jemari Xuan Chen menggenggam gagang bambu sapunya hingga terdengar derik halus. Otot-otot di lengannya yang telah naik ke Lapisan 3 menegang hebat. Menahan amarah di saat dirinya memiliki kemampuan untuk membunuh adalah siksaan yang sangat berat.

​Namun, saat situasi makin memanas, seorang pemuda jangkung berpakaian jubah hitam dengan helai rambut merah mendadak melintas di pinggir pelataran. Dia adalah Lu Feng, seorang kultivator Lapisan 4. Lu Feng menghentikan langkahnya sejenak, melirik ke arah keributan itu dengan pandangan malas.

​"Hei, Zhao Huo," panggil Lu Feng santai dari kejauhan. "Kau harusnya tahu, di sekte kita tidak ada aturan yang melarang murid untuk saling membunuh."

​Zhao Huo menoleh, matanya mendelik liar memancarkan hawa haus darah yang barbar. Dia sama sekali tidak gentar atau mundur sedikit pun.

​"Memangnya kenapa... kau mau ikut campur, Lu Feng?!" bentak Zhao Huo dengan suara menggelegar. "Siapa pun yang berurusan dengan orang-orangku harus menghadapi amarahku! Jangan membuang waktuku!"

​Lu Feng hanya mendengus pelan, mengibaskan tangannya malas lalu melanjutkan langkah kakinya tanpa peduli lagi. "Terserah kau saja. Aku cuma mengingatkan."

​Zhao Huo mengalihkan pandangannya kembali ke arah Xuan Chen dengan seringai penuh kekejaman. Rasa gatal untuk menumpahkan darah sudah tidak bisa dia tahan lagi.

​"Serang bocah ini!" teriak Zhao Huo memberi perintah.

​Tanpa menunggu instruksi kedua, dua murid di sebelah Zhao Huo langsung melompat maju! Karena ini adalah pertarungan fisik di Ranah Penempaan Tubuh, tidak ada aura Qi atau tebasan energi warna-warni yang tercipta. Pertarungan ini murni mengandalkan kecepatan otot, kekuatan fisik, dan serangan jarak dekat.

​Wuuushhh!

​Dua pukulan berbobot ratusan kati meluncur deras dari kiri dan kanan, mengincar pelipis dan rusuk Xuan Chen secara bersamaan. Angin pukulan mereka menyingkap jubah abu-abu milik Xuan Chen.

​Xuan Chen tidak menggunakan Mata Dewa-nya. Mengaktifkan kemampuan mata di ranah fisik murni tanpa pasokan energi Qi hanya akan membuang-buang staminanya secara konyol.

​Sret!

​Dengan mengandalkan refleks murni dan kekuatan fisiknya yang telah melonjak ke Lapisan 3, Xuan Chen memiringkan tubuhnya ke belakang. Pukulan pertama meleset hanya selebar helai rambut di depan dadanya.

​Namun, bukannya melepas sapunya untuk membalas dengan tinju, Xuan Chen tetap memegang erat gagang sapu bambunya!

​Tuk!

​Xuan Chen mengayunkan bagian bawah sapunya secara horizontal, menghantam tepat di tendon lutut penyerang kedua. Gerakannya begitu presisi dan cepat, memanfaatkan momentum sergapan musuh sendiri.

​"Ugh!" murid kedua terhuyung ke depan akibat tumpuan kakinya diganggu secara mendadak.

​Xuan Chen memanfaatkan momen itu untuk melompat mundur dua tapak, menancapkan bagian bawah sapunya ke tanah, lalu kembali menyapu dedaunan yang berhamburan di dekat kakinya seolah tidak ada pertarungan yang baru saja terjadi!

​Dari atas benteng batu yang agak jauh di batas zona luar, sosok Su Ling berdiri anggun berselimut gaun merah darahnya. Matanya yang tajam menyempit mendalam, mengunci setiap detail pergerakan yang terjadi di pelataran utama.

​Di tangannya, sebuah buku kecil tergenggam. Jari-jarinya mencatat seluruh tindakan Xuan Chen dengan cermat—mulai dari respons fisik, ritme pernapasan, kontrol emosi, hingga penggunaan gagang sapu sebagai alat pengalih serangan.

​"Orang ini..." bisik Su Ling pelan, suaranya halus ditiup angin lembah. "Dia berada di Lapisan 3, tetapi tidak mengalirkan kekuatan fisiknya secara langsung untuk menghantam musuh. Dia murni menggunakan kecepatan refleks dan keseimbangan tumpuan lawan untuk melumpuhkan gerakan mereka."

​Su Ling tahu persis perintah yang diberikan Tetua Mo kepada Xuan Chen. Mengamati bagaimana Xuan Chen mampu menahan egonya di bawah provokasi yang begitu intens membuat Su Ling terpaksa memberikan sedikit apresiasi tersembunyi di dalam hatinya.

​Sementara itu, di tengah pelataran batu, amarah Zhao Huo benar-benar meledak. Otot-otot di leher dan lengan bertatonya menegang hingga pembuluh darahnya menonjol keluar. Wajah barbar itu memerah menahan rasa malu yang sangat besar di depan belasan murid luar yang sedang menonton.

​"Sampah tak berguna!" bentak Zhao Huo dengan suara guntur, menunjuk dua bawahannya yang masih terhuyung. "Dua orang bahkan tidak bisa menyentuh jubah seorang bocah baru?! Cepat selesaikan dia, atau kalian berdua yang akan menjadi sasaran amarahku!"

​Dua murid itu gemetar mendengar ancaman Zhao Huo. Perasaan takut akan amarah atasan mereka bercampur dengan rasa malu yang luar biasa akibat dipermainkan oleh Xuan Chen di hadapan publik.

​"Bajingan!" teriak salah satu murid seraya mengibaskan debu di lututnya.

​"Jangan hanya menghindar, Junior!" jerit murid kedua yang matanya sudah memerah penuh dendam.

​Umpatan dan deru napas memburu keluar dari tenggorokan mereka. Bagi mereka berdua, tindakan Xuan Chen yang langsung kembali menyapu setelah menggagalkan serangan tadi bukan lagi sekadar pertahanan diri, melainkan sebuah hinaan terang-terangan yang merendahkan martabat mereka sebagai murid senior.

​Brak!

​Tanpa kompromi lagi, kedua murid itu menerjang maju bersamaan dari sudut yang berbeda! Gerakan mereka kali ini jauh lebih brutal, mengorbankan pertahanan fisik mereka demi memastikan Xuan Chen terpojok di antara dinding pelataran dan tumpukan sampah yang berhamburan.

​Namun, di tengah kepungan serangan mematikan itu, Xuan Chen hanya menyapu dedaunan di depan kakinya dengan pandangan yang tetap sedingin es.

1
Day Chuk
Xuan Chen punya Cheat di mata 🤣
Kausafiksi: Hehehe benar
total 1 replies
Septiana Athorid
makin seru
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Day Chuk
lanjut 🙏
Kausafiksi: 👍 siap
total 1 replies
Day Chuk
aku pikir su ling yang akan jafi rekan nya thour
Day Chuk: Hahahha sibuk ngapain thor
total 2 replies
:P @.Ar.world(づ ̄ ³ ̄)づ
mampir ya bro ke buku novel gua (。・ω・。) btw novel mu enak juga ya ceritanya tapi sayangnya fotonya hanya ia mau aku bantu kasih karakter laki laki untuk mu gratis
Kausafiksi: terimakasih sudah mampir 🙏😁

novel mu juga bagus,

semangat😁
total 1 replies
Septiana Athorid
saran thor kamar 405 harus nya pakai nama sajah, kesan fantasi timur nya kurang

tapi so cerita nya menarik.
Kausafiksi: terimakasih saran nya, akan aku pertimbangkan 🙏
total 1 replies
Septiana Athorid
naggung thor, 10 bab langsung biar puas 😁
Septiana Athorid: sehari 2 kali thor
total 2 replies
Day Chuk
lanjut thor di tunggu🙏
Kausafiksi: update satu hari sekali ya jam 19:00 di tunggu sajah 😁🙏
total 1 replies
Day Chuk
bagus cerita nya, anti hero, gue suka yang langsung yanpa bertele tele thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!