Indonesia
NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29: Visha Menyusul dan Pemberian Hadiah

Siang menjelang sore, Azka termenung menatap televisi menyala tanpa suara dengan pandangan kosong. Ia sedang berpikir tentang apa yang harus ia lakukan sekarang.

Oleh karena keputusan akhir dari debat sebelumnya menyatakan bahwa Visha diizinkan pergi menyusul Azka pada penerbangan sore ini.

Azka terpaksa mengikuti keinginan Visha karena tidak ingin membuat istrinya curiga.

Setelah berpikir cukup lama, Azka memutuskan ajak Kayla pergi ke Talitha Cafe saat itu juga. Ia menelepon, memberitahu kalau ia mempunyai acara penting yang sangat mendadak sehingga harus memajukan rencana pertemuan.

Kayla sebenarnya sudah menolak, minta Azka menunda hingga ia mempunyai waktu luang. Tapi Kayla terpaksa setuju karena terus dipaksa, meyakinkan bahwa pertemuan ini sangat penting.

“Aku siap-siap dulu, mungkin sekitar satu jam lagi aku sampai di sana,” kata Kayla di telepon.

“Baik, hati-hati ya,” tutup Azka yang sudah mengalungkan handuk di pundak.

Ia pun segera masuk kamar mandi.

***

Azka duduk sendiri di sudut pojok sebuah kafe yang hampir kosong. Meja kecil bundar di depan hanya terlihat vas bunga kecil termasuk rangkaian interior. Sementara pandangan mengarah ke luar jendela, menembus bayangan gedung-gedung tinggi berdiri kokoh membisu.

Waktu istirahat kantor telah lama usai. Tak heran jika suasana di dalam kafe begitu lengang. Kursi-kursi tampak rapi, tak banyak tersisa selain suara musik pop yang terdengar pelan dari speaker mungil di sudut ruangan.

Ia memilih tempat paling pojok, jauh dari kasir, juga dari pintu, seakan ingin menyembunyikan diri atau hanya butuh ruang untuk berpikir tanpa gangguan. Di kepalanya, pikiran masih berputar-putar tidak tenang menunggu.

Sambil menggulir layar handphone yang sejak tadi tak benar-benar ia perhatikan, Azka menghela nafas panjang. Di tengah sunyi itulah, ia menyadari diam bisa jauh lebih bising dari keramaian.

Azka terlihat membawa sebuah kotak di dalam tas pinggangnya. Ia meletakkan tas tersebut ke atas meja bagian samping.

Ia memandang orang-orang yang lewat di jalan karena kebetulan dinding Talitha Cafe terbuat dari kaca transparan, sehingga ia bisa melihat dari dalam, begitu juga sebaliknya.

Tak berapa lama, muncul secara mengejutkan, Kayla entah datang dari mana, ia sudah berada di depan Azka.

“Sudah lama, Pak?”

Azka yang terkejut tidak langsung menjawab. Selain kaget, ia juga terpukau melihat penampilan Kayla yang tampak sangat mempesona.

Dengan make up tipis, rambut dikuncir, busana kasual kekinian, membuat Kayla terlihat seperti influencer muda populer. “Kamu cantik sekali siang ini,” ucap Azka refleks.

“Terima kasih, Pak. Aku jadi malu,” responnya santai sambil bercanda.

Melihat meja masih kosong, ia segera mengalihkan topik tentang orderan, “Kamu belum pesan, Pak?”

Azka mengiyakan, tapi masih terpana melihat wajah Kayla yang menurutnya sangat cantik.

Tak terlalu menghiraukan sikap Azka, tangan Kayla terangkat lalu memanggil pelayan mencatat pesanan mereka.

Setelah memesan, Kayla langsung mempertanyakan alasan pertemuan ini. Ia mengatakan sudah sangat penasaran dengan Azka yang memaksa bertemu sekarang.

“Oke, jadi sekarang tidak ada alasan lagi untuk Pak Azka mengelak. Jawab! Ada apa?” tanyanya bernada seperti detektif.

“Ampun, saya tidak melakukan kejahatan,” respon Azka mengikuti sandiwara.

Mereka pun tertawa bersama, tapi tidak lama karena setelahnya, Azka membuka tas pinggang yang ada di meja. Ia menyerahkan sebuah kotak kepada Kayla.

“Tadinya aku ingin memberikan setelah makan, tapi karena rasanya kamu sudah tidak sabar, ya sudah, aku serahkan sekarang,” ucap Azka.

Kayla tersenyum lebar, tidak menyangka kalau Azka akan memberikan hadiah. Ia mengira Azka hanya membeli kue dari Dess Cake kemarin sebagai hadiah ulang tahunnya.

“Apa ini, Pak?”

“Buka saja, semoga kamu suka,” jawab Azka.

Tanpa diduga, Kayla berteriak kencang, “Aaa, aku paling tidak bisa kalau dibuat penasaran seperti ini.”

Untungnya di sana sedang sepi sehingga Kayla tidak menyita perhatian banyak orang kecuali para pegawai yang memandangnya heran, tapi langsung paham Kayla tengah bereaksi setelah diberi hadiah oleh Azka.

Perlahan, Kayla membuka kotak dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Kalung?” ucapnya sesaat setelah kotak terbuka.

“Kenapa? Kamu tidak suka?” Azka pesimis.

Seketika saja Kayla berdiri, jalan memutari meja, mendekat ke arah Azka lalu memeluknya. Ia benar-benar mencengkram tubuh Azka sangat erat.

“Terima kasih ya, Pak.” wajahnya berseri.

Suasana mendadak canggung, Kayla kembali ke tempat duduk. Ia memandangi kalung yang ada di tangan.

“Indah sekali,” ucapnya mengagumi kalung tersebut.

“Mau aku bantu pasangkan?” Azka menawarkan diri.

Kayla mengangguk manja, bibir tersenyum lebar, “Mau!”

Nafas sedikit terengah, Kayla berusaha tetap tenang saat Azka berdiri di belakang, memasang kalung ke leher.

Pada waktu bersamaan, tiba-tiba saja handphone Azka yang diletakkan di atas meja menyala. Pada layar terlihat sebuah telepon masuk dari Visha namun tanpa suara, juga tidak bergetar.

Azka sudah mengantisipasi pakai mode silent. Ia melihat sebentar, lalu mengabaikannya.

Beralih kembali ke Kayla, kalung sudah terpasang di leher. Sesaat kemudian, ia bertanya pada Azka yang langsung kembali ke tempat duduk.

“Gimana? Bagus tidak ya?” tanya sambil menggerakan sepuluh jari di dekat kalungnya.

“Perfect!” jawab Azka singkat.

Melihat Kayla terlihat sangat senang, Azka pun merasa puas. Tapi perasaannya sedikit terganggu karena Visha terus menghubungi.

Ia membuka handphone sebentar, melihat beberapa panggilan tak terjawab dan sejumlah pesan belum terbaca.

Tapi Azka tidak terlalu khawatir karena sebelumnya telah memberitahu Visha kalau ia ingin tidur setelah minum obat.

Mencoba fokus ke Kayla, ia memberitahu kalau masih punya satu hadiah untuknya. Tapi saat Azka ingin mengatakan, pegawai kafe mengantarkan makanan dan minuman yang tadi dipesan.

“Kita makan saja dulu. Setelahnya, aku baru kasih tahu kamu,” kata Azka sambil menerima segelas hot tea pesanannya.

Mereka berbincang tentang banyak hal. Azka mempertanyakan tentang kesehatan ibunya, Kayla menceritakan kalau saat ini kondisinya cukup baik, tapi masih khawatir karena bisa kambuh kapan saja.

Azka memberanikan diri bertanya mengenai apa penyakit yang diderita ibunya. “Apa aku boleh tahu? Sebenarnya ibu kamu menderita penyakit apa?

Meski terasa berat, Kayla memberitahu kalau ibunya menderita kanker. Sesaat setelah mengatakannya, ia menangis sedih.

Sebenarnya Azka tidak terkejut, ia sudah menduga tapi belum mengetahui secara pasti, kanker apa yang diderita ibunya.

“Maaf ya, aku jadi membuat kamu sedih. Sekarang lupakan saja dulu tentang itu, nanti saja kita bahas lagi. Yang terpenting saat ini kamu harus bahagia, sebahagia-bahagianya, oke?” ucap Azka sambil memberikan tisu kepada Kayla.

Usai mereka menyantap semua hidangan, Kayla mempertanyakan tentang apa yang ingin dikatakan Azka tadi.

“Kamu ini benar-benar tidak sabaran ya orangnya,” ucap Azka bercanda.

“Memangnya baru sadar, Pak? Jangan coba-coba pancing aku deh kalau tidak mau repot.”

Azka hanya tertawa. Ia kemudian memberitahu apa yang ingin dikatakan. Tapi ia berpikir sebentar sebelum mengatakan. Ia memilih kata-kata yang tepat.

“Mhh, gimana ya, aku jadi bingung ngomongnya. Tunggu,” ujarnya.

Kayla hanya diam membiarkan Azka berpikir.

Tapi baru beberapa saat, “Ah lama sekali, Pak Azka. Aku bisa mati penasaran nih?”

Didesak oleh Kayla, ia pun akhirnya mengutarakan keinginan tanpa pikir panjang.

“Mengenai ibu kamu, tidak perlu khawatir lagi. Aku akan kasih kamu dua juta rupiah setiap bulan untuk biaya tebus obatnya. Dan aku tidak terima penolakan,” ucapnya.

Kayla menunjukkan gestur menolak kebaikan Azka, tapi langsung dipotong. “Aku sudah bilang, tidak menerima penolakan. Jadi, kalimat apa yang kamu ucapkan setelah ini. Silahkan saja, kecuali penolakan. Kalau kamu menolak, aku akan sangat marah,” lanjut Azka mengancam serius.

Tak bisa berkata-kata, Kayla bingung. Ia hanya ingin menolak, enggan menerima. Tapi Azka melarangnya dengan tegas. Ia merasa tidak enak kalau memaksakan ego hingga membuat orang yang selama ini telah baik padanya menjadi marah.

1
Storyginal Finger
sangat bagus
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
Storyginal Finger: sepakat 😍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!