Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Perjalanan menuju parkiran terasa cukup tenang. Elara berjalan di antara Leonard dan Lionel. Lionel berjalan sambil sesekali melihat ke arah jam tangannya.

“Kalau dipikir-pikir, sekarang sudah hampir jam makan siang,” gumam Lionel.

Leonard melirik sebentar sebelum kembali menatap ke depan. “Terus?”

Lionel menyeringai kecil. “Daripada balik ke sekolah, bagaimana kalau kita bolos?”

Langkah Leonard langsung terhenti.

Ia menoleh pada Lionel dengan tatapan datar. “Tidak.”

“Kenapa langsung ditolak?” Lionel ikut berhenti. “Aku kan belum selesai ngomong.”

“Dari wajahmu saja aku sudah tahu.”

Lionel mengerutkan kening. “Tahu apa?”

“Pasti mau ngajak bolos.”

“Ya memang.” Lionel mengangkat bahu santai. “Kita sudah keluar cukup lama dari sekolah. Kalau balik sekarang, paling tinggal beberapa jam pelajaran.”

“Memangnya kenapa kalau tinggal beberapa jam?”

“Ya justru itu.” Lionel kembali berjalan sambil terkekeh. “Sayang kalau cuma masuk sebentar.”

Leonard menghela napas dan menggeleng kecil. “Kita tetap harus kembali.”

“Kalau begitu kita makan dulu, ya?”

“Tidak.”

Lionel menoleh.

“Main sebentar?”

“Tidak.”

“Jalan-jalan?”

“Tidak.”

Lionel langsung mendengus kesal. “Kamu ini susah sekali diajak kompromi.”

“Karena dari awal niatmu memang mau bolos.”

“Bukan bolos.” Lionel menunjuk dirinya sendiri. “Ini namanya memanfaatkan waktu.”

Leonard menatapnya tidak percaya. “Memanfaatkan waktu untuk tidak sekolah?”

Lionel tertawa kecil. “Nah, itu kamu mengerti.”

Leonard hanya menggeleng.

Lionel kemudian melirik Elara yang sejak tadi berjalan diam di antara mereka.

“Elara.”

Gadis itu menoleh. “Apa?”

“Kamu mau bolos, kan?”

“Tidak.”

Jawaban Elara begitu cepat sampai Lionel sempat terdiam.

Ia menatap Elara beberapa detik, lalu menghela napas.

“Kalian ini kenapa rajin sekali, sih?”

Leonard tersenyum tipis. “Karena nggak semua orang seperti kamu, Lio.”

Lionel mengabaikannya. Ia kembali menatap Elara.

“Serius nggak mau bolos? Bolos itu enak, lho.”

Elara mengangguk kecil. “Ada sesuatu yang tertinggal.”

Leonard yang mendengar itu langsung menoleh. “Apa?”

“Kantong kertas yang diberikan Aldo tadi pagi. Dia bilang itu dari Kak Leon.”

Lionel langsung memasang wajah tidak suka.

“Sebentar.” Ia menunjuk Leonard. “Kamu panggil dia Kakak?”

Elara mengangguk.

“Kenapa aku tidak?”

Elara hanya menatapnya sebentar, lalu kembali berjalan.

Lionel terlihat kesal. “Kok diam?”

Leonard justru tertawa kecil. “Mungkin karena tidak perlu.”

“Diamlah.”

Lionel mempercepat langkahnya hingga kembali berada di samping Elara.

“Kamu benar-benar mau balik ke sekolah cuma gara-gara paper bag?”

“Iya.”

“Itu isinya cuma makanan ringan, Elara.”

“Dan aku belum memakannya, Lio.”

Lionel terdiam.

Ia menatap Elara dengan wajah tidak percaya sebelum akhirnya mengusap wajahnya sendiri.

“Ya ampun…”

Leonard yang berjalan di belakang mereka hanya tersenyum kecil.

Lionel kembali mencoba membujuk.

“Dengar, Elara. Makanan itu nggak akan kabur.”

“Tapi aku meninggalkannya."

“Dan itu bukan masalah besar," sahut Lionel cepat.

Elara menoleh ke arah Lionel, tatapannya tenang namun terasa menakan. “Kalau bukan masalah besar, kenapa kamu terus membahasnya?”

Lionel langsung bungkam.

Leonard tertawa pelan.

“Sudah, Lio. Kamu kalah. Sekarang kembali ke sekolah. Aku tidak mau motorku disita Papa karena ketahuan bolos lagi.”

Leonard segera menarik tangan Elara menuju motornya.

Sedangkan Lionel diam-diam mencibir Leonard yang entah sejak kapan dia jadi terlihat menyebalkan dimatanya.

“Padahal ini saja kita juga sedang bolos. Apa bedanya kalau dilanjutkan sampai jam pulang sekolah.”

Setelah aksi kabur di jam pertama pelajaran, dan kembali saat jam makan siang. Kini ketiga anak Halvar itu berdiri berjajar di tengah lapangan.

Mereka harus menjalani hukuman yang diberikan. Berdiri selama satu jam penuh di bawah terik matahari.

Lionel mengusap wajahnya yang mulai berkeringat.

“Apa aku bilang. Seharusnya kita lanjut bolos saja daripada harus berdiri di tengah panas seperti ini,” keluhnya.

“Berisik, Lio. Mulutmu itu cukup merepotkan. Telingaku hampir meledak mendengar ocehanmu sejak tadi,” kesal Leonard.

Lionel langsung menekuk muka sambil melemparkan cibiran ke arah saudara kembarnya.

“Elara, apa kulitmu tidak terbakar kalau terlalu lama dibawah terik matahari?” tanya Lionel yang masih berusaha merayu Elara setelah aksinya pada Leonard gagal.

“Tidak.”

“Kulitmu itu putih bersih seperti salju. Sayang sekali kalau harus menghitam karena kepanasan.”

“Tidak akan. Panas tidak akan mempengaruhiku,” jawab Elara tenang.

Lionel terdiam. Ia kembali memikirkan kalimat apalagi yang bisa mempengaruhi Elara agar mau kabur bersamanya.

“Buang saja rencanamu itu, Lio. Aku tidak akan ikut denganmu.”

Ucapan Elara membuat Lionel seketika membulatkan matanya.

Sedetik kemudian, ekspresi Lionel kembali kesal. “Padahal aku belum sempat mengatakannya.”

Leonard yang berdiri di tengah-tengah mereka hanya bisa menghela nafas pelan dan terkekeh melihat saudara kembarnya yang kembali gagal membujuk Elara.

Lima belas menit berlalu, bel istirahat kedua akhirnya berbunyi. Keberadaan ketiga anak Halvar itu menarik perhatian siswa yang mulai keluar dari kelas.

Bisik-bisik mulai terdengar tentang kesalahan apa yang mereka perbuat hingga harus mendapat hukuman.

“Apa mereka ini tidak punya kegiatan sampai harus melihat kita seperti itu?” Lionel kembali menggerutu saat menyadari tatapan para siswa yang terus tertuju ke arah mereka.

Bahkan ada yang sengaja berhenti dan menonton cukup lama.

“Heyy!”

Lionel berteriak cukup keras kearah para siswa yang sedang memperhatikan mereka.

“Daripada kalian hanya menonton, lebih baik bawakan kami minum!”

“Berisik, Lio!”

Leonard menatap kembarannya itu dengan tajam, kesabarannya hampir di ujung batas menghadapi tingkah Lionel di tengah terik matahari.

Beberapa siswa langsung menahan tawa. Ada yang buru-buru pergi, ada juga yang tetap berdiri sambil mengeluarkan ponsel.

Tak lama kemudian, Bianca datang dengan sebotol mineral dingin di tangannya. Langkahnya riang dan penuh percaya diri saat menghampiri Leonard.

“Ini, minumlah!”

Bianca menyodorkan botol mineral itu dengan senyum yang ia buat semanis mungkin.

Namun Leonard hanya menatapnya sekilas sebelum kembali menatap lurus kedepan.

“Tidak perlu,” tolaknya tegas.

“Niatku baik, Leon. Aku tau kamu pasti kehausan.”

“Kalau niatmu baik, kenapa hanya membawa satu? Sedangkan disini juga ada adik-adikku yang membutuhkan minum.”

Bianca terdiam sejenak.

“Memangnya salah kalau aku tidak membelikan untuk mereka juga? Mereka bisa beli sendiri, kan?”

Tatapan Leonard langsung menajam. Tangannya yang menggantung mengepal kuat. Kehadiran Bianca justru membuat kesabarannya benar-benar diujung batas.

Elara menyadari perubahan ekspresinya segera menarik lengan Leonard pelan sebelum pemuda itu sempat membalas.

Leonard menoleh dengan ekspresi tidak terima. Tapi Elara hanya memberikan isyarat dengan menggelengkan kepala.

“Sebenarnya apa yang dibilang Leon ada benarnya juga,” sahut Lionel. “Bianca… kalau niatmu baik, seharusnya kamu juga membawakanku dan juga Elara. Apa kami begitu tidak terlihat dimatamu sampai kamu hanya membawa satu untuk Leonard.”

Bianca mengernyit. “Kalian punya tangan dan kaki. Kenapa tidak beli sendiri.”

“Kalau boleh, aku sudah dari tadi pergi ke kantin,” sahut Lionel cepat.

“Tapi sayangnya guru itu tidak membiarkan aku pergi dari sini,” sambungnya pelan sambil menoleh ke arah Pak Budi yang berdiri dengan tangan bersedekap di tepi lapangan.

Beberapa siswa yang mendengar percakapan mereka itu mulai saling menatap. Bahkan ada yang diam-diam menahan tawa melihat wajah Bianca yang mulai tidak nyaman.

Tepat saat suasana mulai terasa canggung, Aldo dan Dimas berlari menghampiri mereka.

Saat keduanya melihat keberadaan Bianca, mereka tidak segan segan untuk mendorongnya menjauh.

“Minggir dulu!” ketus Aldo tanpa basa-basi.

Bianca Langsung membelalak. “Kamu—”

Aldo sama sekali tidak memperdulikannya. Ia menyerahkan beberapa botol minuman dingin yang dibawanya bersama Dimas.

“Kita bawakan kalian minum.”

“Pak Budi juga bilang, setelah ini hukuman kalian selesai,” tambah Dimas.

“Serius?” Lionel langsung bersemangat seperti menemukan harapan hidupnya kembali.

“Iya.”

Baru saja Dimas hendak melanjutkan perkataannya, Lionel sudah lebih dulu merebut salah satu botol minuman dan membukanya.

“Ahh… akhirnya. Tenggorokanku tidak harus merasakan kemarau panjang lagi.”

Leonard memijit pelipisnya. Sedangkan Elara menerima botol yang diberikan Aldo dan membukanya.

“Terima kasih.”

Aldo langsung terdiam. Wajahnya perlahan memerah.

“Iya… sama-sama.”

Melihat reaksi sahabatnya, Dimas langsung menyikut pinggang Aldo sambil menahan tawa.

Namun, tidak jauh dari sana, Bianca hanya bisa menggigit bibirnya pelan.

Tatapannya tertuju pada mereka semua. Gadis itu cukup kesal karena merasa seperti tidak dianggap.

1
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!