Indonesia
NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#28

Suasana di dalam kamar utama sayap utara perlahan kembali tenang, meski sisa-sisa badai pertengkaran di Ruang Teh Kerajaan masih merayap tipis di udara.

Baxeena mendudukkan Violet di tepi tempat tidur berlapis sutra, lalu berlutut di hadapan gadis remaja itu. Jemari Baxeena yang halus mengusap lembut jemari Violet yang sempat gemetar dingin.

"Maafkan Mommy, ya... Apa Mommy mengejutkanmu, Sayang?" bisik Baxeena, memandang dalam-dalam ke balik mata jernih Violet dengan raut penyesalan yang tulus.

Violet menggelengkan kepalanya pelan, namun riak kecemasan di wajahnya tidak bisa disembunyikan. "Mommy... bolehkah kita pergi ke tempat Ayah saja? Aku takut berada di istana ini..."

Baxeena menyunggingkan senyum menenangkan, merengkuh kedua pipi halus Violet dengan kehangatan sorot matanya.

"Justru di istana ini tempat yang paling aman untuk kita saat ini, Sayang. Kita harus bertahan di sini, dan yang paling penting... doakan semoga Ayahmu bisa kembali dengan selamat tanpa kurang apa pun dari daerah konflik sana."

Violet menatap Baxeena erat-erat, mencerna keteguhan sikap ibu sambungnya yang tak pernah gentar. Baru saja Violet ingin menganggukkan kepala, ketukan pelan berbunyi di pintu ganda kamar.

Seorang pelayan senior kerajaan melangkah masuk dengan kepala menunduk kaku, membawa nampan berisi selebaran berukir lambang emas dinasti.

"Permisi, Nyonya Baxeena," ujar pelayan itu dengan suara amat formal dan teratur. "Saya menyampaikan perintah dari Yang Mulia Ibu Ratu. Nanti malam, Anda diminta untuk menyiapkan diri untuk menghadiri Acara Perjamuan Kerajaan bersama Ibu Ratu."

Baxeena memiringkan kepalanya sedikit. Tatapan matanya berkilat tajam—ia bisa menebak dengan sangat mudah bahwa taring kemenangan dan permainan taktik baru sedang mulai dimainkan oleh sang Ratu usai konfrontasi panas mereka tadi.

"Baiklah, kami akan bersiap," jawab Baxeena tenang.

Namun, pelayan itu tidak segera mundur. Ia menunduk lebih dalam. "Mohon maaf, Nyonya. Instruksi dari Yang Mulia Ratu hanya berlaku untuk Anda. Nona Violet tidak diizinkan keluar dari lingkungan istana, selain untuk jadwal kegiatan belajar bersama pengawal kerajaan."

Mendengar aturan mendadak itu, Baxeena mengerti persis bahwasanya Ratu Lizzeebeeth sedang berusaha memisahkan dirinya dari Violet dan membatasi ruang geraknya. Namun Baxeena tidak membiarkan provokasi kecil itu memancing emosinya lagi.

"Saya mengerti. Terima kasih," sahut Baxeena singkat.

Pelayan itu membungkuk dalam-dalam lalu melangkah keluar, menutup pintu kamar kembali hingga rapat.

Sepeninggal pelayan tersebut, Baxeena memutar tubuhnya dan menatap Violet yang duduk membisu. Baxeena mendekati putrinya lagi, memegang kedua bahu Violet dengan lembut.

"Kau tidak mendengarkan apa pun yang membuatmu cemas, kan, Sayang?" tanya Baxeena, memastikan mental gadis tiga belas tahun itu tetap terjaga.

Violet yang mengerti maksud Baxeena langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Aku paham, Mommy."

"Bagus," pangkas Baxeena lembut. "Pastikan pertengkaran Mommy dengan Nenek tadi tidak akan pernah sampai ke telinga Ayahmu di sana. Jangan biarkan kabar ini memberatkan pikirannya. Dan satu hal lagi... jangan pernah menceritakan hal ini pada ibumu, Katherine."

Violet menatap Baxeena dengan mata polosnya, lalu menggeleng pelan. "Ibu Katherine tidak lagi diizinkan untuk meneleponku, Mommy... Ayah sudah menetapkan aturan bahwa Ibu Katherine harus berada jauh dari radar seratus meter dariku."

Baxeena terdiam sejenak mendengar ketegasan aturan yang pernah dibuat Alistair untuk melindungi Violet. Baxeena mengelus kepala Violet dengan penuh kasih.

"Walau bagaimanapun, jangan pernah membenci ibumu, ya?" tutur Baxeena dengan suara yang amat lembut. "Ingat, Mommy adalah temanmu... dan Mommy datang ke dalam kehidupan Ayahmu bukan untuk merebut apa pun atau menguasai siapa pun."

Kata-kata tulus Baxeena merasuk hangat ke dalam dada Violet. Remaja yang baru saja menginjak kedewasaannya itu mendadak menatap perut Baxeena dengan binar mata yang penuh perlindungan murni.

"Kalau begitu..." ujar Violet tiba-tiba, menatap Baxeena dengan raut wajah seserius mungkin, "Mommy harus menjaga Adik Bayi dengan baik di perjamuan nanti malam! Jangan minum alkohol, dan jangan berbicara dengan orang-orang jahat di sana!"

Baxeena tertawa kecil—sebuah tawa hangat yang meluluhkan seluruh ketegangan di antara mereka. Baxeena mengelus pipi halus Violet dengan penuh rasa haru.

"Janji, Sayang. Mommy akan menjaga Adik Bayi dan diri Mommy dengan sangat baik," bisik Baxeena, memeluk putri kecilnya erat-erat di dalam kehangatan kamar utama.

Usai pelukan hangat bersama Violet terurai, suasana di dalam kamar utama kembali diliputi oleh konsentrasi yang dingin. Baxeena berdiri di hadapan cermin besar setinggi tubuhnya.

Di belakangnya, dua penata busana kepercayaan yang telah disumpah untuk menjaga kerahasiaan personal Baxeena merapikan lipatan gaun malam berwarna hijau zamrud yang terbuat dari sutra halus buatan Italia.

Gaun itu berpotongan sangat anggun—longgar di bagian pinggang namun jatuh meliuk mempertegas postur tubuh Baxeena yang tegap dan berwibawa.

Tidak ada lekukan ketat yang akan menekan bagian perutnya, sebuah pilihan terencana yang diambil Baxeena demi melindungi benih Alistair yang mulai bertumbuh di rahimnya.

"Nyonya," bisik salah satu penata busana dengan suara amat pelan, menyematkan bros berlian berukir daun laurel di dada kiri Baxeena. "Ibu Ratu telah menginstruksikan agar Anda mengenakan perhiasan dinasti generasi lama yang dikirimkan dari ruang penyimpanan utama."

Baxeena menatap pantulan perhiasan kalung zamrud besar yang disodorkan di atas bantalan beludru hitam. Ia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang memancarkan kecerdasan murni.

Ratu Lizzeebeeth sengaja menyodorkan perhiasan dinasti tersebut untuk menegaskan dominasi dan "status pemberian" istana atas dirinya di hadapan para bangsawan tinggi nanti malam.

Sang Ratu ingin Baxeena tampak seperti wanita asing yang berutang kemewahan pada Kerajaan.

"Simpan kembali kalung itu," pangkas Baxeena datar namun tak terbantahkan. "Saya akan mengenakan perhiasan warisan keluarga Desmon dari Los Angeles."

Penata busana itu sempat ragu sejenak, namun tatapan mata Baxeena yang begitu tenang dan memancarkan kekuasaan mutlak membuat wanita itu membungkuk patuh dan menarik kembali bantalan beludru tersebut.

Baxeena meraih kalung platinum dengan liontin berlian murni milik ibunya, Zephyr. Ketika perhiasan itu melingkar indah di leher mulusnya, penampilan Baxeena tidak lagi tampak seperti menantu yang tertekan oleh hukum kuno istana, melainkan sosok putri bangsawan bisnis modern dari Amerika yang mandiri, mahal, dan tak tersentuh oleh ancaman apa pun.

Violet, yang duduk di sofa sembari memperhatikan setiap gerakan Baxeena, membelalakkan matanya kagum. "Mommy tampak sangat cantik... dan sangat menakutkan untuk orang-orang jahat di luar sana."

Baxeena memutar tubuhnya, tertawa kecil mendengar ucapan jujur dari putrinya. Ia menghampiri Violet, merapikan helai rambut pirang gadis itu, lalu membungkuk dan mengecup keningnya dengan kehangatan seorang ibu.

"Ingat pesan Mommy, Vio," tutur Baxeena lembut. "Tetaplah di dalam kamar ini bersama pengawal pribadi yang sudah Mommy atur. Jangan memakan atau meminum apa pun yang dikirimkan langsung dari dapur umum tanpa diperiksa oleh pelayan kepercayaan kita."

Violet mengangguk mantap. "Aku mengerti, Mommy. Aku akan mengunci pintu dan menunggu Mommy kembali."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Tepat pukul delapan malam, dentang lonceng besar Istana Buckingham bergema delapan kali, menandai dimulainya Perjamuan Diplomatik Kerajaan di Aula Kristal.

Aula megah berlapis dinding marmer putih dan bertatahkan lampu gantung emas itu telah dipenuhi oleh para pangeran dari negara tetangga, duta besar, perwira tinggi militer, serta para bangsawan senior berdarah murni.

Musik klasik dari orkestra gesek mengalun lembut, membungkus percakapan-percakapan politik yang berseliweran di antara denting gelas porselen dan kristal.

Di puncak panggung kehormatan, Ratu Lizzeebeeth berdiri anggun dengan gaun kebesarannya. Di sampingnya, Raja George berbincang kaku dengan beberapa menteri senior. Namun, tatapan mata sang Ratu terus-menerus melirik ke arah pintu ganda utama, menunggu kedatangan menantunya yang baru saja ia caci-maki di ruang teh tadi pagi.

Ratu Lizzeebeeth meyakini bahwa guncangan mental akibat ancaman pencabutan gelar dan tuduhan kotor soal kemandulan akan membuat Baxeena tampil pincang, ragu-ragu, atau setidaknya menunjukkan raut wajah terpukul di hadapan publik.

Namun, harapan sang Ratu musnah seketika saat pintu ganda Aula Kristal terbuka lebar.

"Hadir di ruangan ini... Nyonya Baxeena Valerio Desmon Blackwood, Istri dari Pangeran Alistair Blackwood!" seru pengawal kerajaan dengan nada lantang.

Seluruh perhatian di dalam aula seketika teralih. Suara gesekan gelas dan percakapan perlahan mereda.

Baxeena melangkah masuk. Dagunya terangkat anggun, tatapan matanya jernih dan tenang memancarkan wibawa tingkat tinggi. Langkah kakinya yang mantap di atas karpet merah tidak menunjukkan setitik pun kegentaran.

Gaun hijau zamrudnya melambai indah setiap kali ia bergerak, membiaskan cahaya lampu kristal yang membuat seluruh mata bangsawan di ruangan itu terpana.

Ia tidak memamerkan senyuman murahan, juga tidak memperlihatkan keangkuhan yang berlebihan. Baxeena berjalan dengan etika ke- bangsawaan paling berkelas—tenang, mahal, dan dipenuhi aura kewaspadaan yang tidak bisa ditembus oleh provokasi apa pun.

Ratu Lizzeebeeth mencengkeram kipas berenda di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya membelalak tak percaya melihat Baxeena yang justru tampak makin bersinar dan berkuasa di tengah ketidakhadiran Alistair.

Beberapa istri duta besar dan bangsawan senior segera mendekati Baxeena, menyambut wanita Amerika itu dengan hangat.

"Suamimu sedang menjalankan tugas mulia di garis depan, Baxeena," ujar salah satu istri Duta Besar Inggris untuk Prancis dengan raut kagum. "Pasti sangat berat bagimu harus berdiri di sini sendirian."

Baxeena menerima segelas air mineral segar dari pelayan pribadinya—menolak tegas gelas sampanye yang disodorkan pelayan istana—lalu menyesapnya anggun sebelum menjawab.

"Pangeran Alistair sedang menunaikan kewajibannya menjaga perdamaian, Lady Catherine," sahut Baxeena dengan suara bariton yang halus namun tegas, cukup keras untuk didengar oleh para pejabat di sekitar mereka.

"Dan sebagai istrinya, tugas saya adalah menjaga kehormatan, keturunan, dan nama baik keluarga kami di sini sampai beliau pulang membawa kemenangan."

Kalimat yang diucapkan Baxeena mendarat bagai tamparan terselubung yang menghantam Ratu Lizzeebeeth di panggung kehormatan. Kata "keturunan" dan "kehormatan" yang ditekankan oleh Baxeena secara tidak langsung memperjelas posisinya yang tak tergoyahkan sebagai calon ibu dari pewaris Alistair.

Dari kejauhan, Ratu Lizzeebeeth menatap Baxeena dengan dendam yang makin pekat. Sang Ratu menyadari bahwa wanita yang coba diintimidasi dan disingkirkannya ini bukanlah seorang gadis naif yang mudah dihancurkan oleh intrik istana.

Baxeena adalah benteng kokoh yang siap bertarung hingga titik darah terakhir demi Alistair dan masa depan anak-anak mereka.

1
Mei TResna Rahmatika
nunggu kebenaran tentang violet terkuak
Mei TResna Rahmatika
landon junior high school apakah yg punya landon Desmon kakek nya baxeena ?
Rosdianah 🌷: Huhu author typo itu kak, London (ibu kota inggris) 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
bagussssss
Ainun Mahya
up lagi kakak😍😍😍😍
Mita Paramita
go baxenaa 🔥 tunjukan pesona mu bikin Mak Lampir kesel 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nenek sihir makin panas 🤣
Rosdianah 🌷: Hahah Desmon dilawan 🤭🤣
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
sudah kuduga violet bukan anak alistair
Mei TResna Rahmatika
wahh si lizbet belum tau ntar kalo aj sama braxley tau bisa hancur itu kerajaan 🤣
Mei TResna Rahmatika
🙏ohh ini Lizzie yg dulu di tolong aj ya pas penculikan 🤣
Rosdianah 🌷: Haha iya kaa🤣
total 1 replies
Forta Wahyuni
kau mengirim anak mu ke neraka Zephyr, sblm kau nikahkan knapa tdk cari tau maksud dan tujuan pernikahan itu. suami mu pengusaha sukses, jgn bodoh lah n kau punya koneksi. mudah2 an rahim xeena tdk kering n bisa mengandung.
Mita Paramita
mertua laknat 🤣🤣🤣
untung lawan nya xeena 😝
Rosdianah 🌷: wkwkw🤣
total 1 replies
Forta Wahyuni
jd gk seru, knapa gk dipisahkan aja seenaknya dgn Ali n krg suka klu lakiknya bekas jalang dan ibu mertua mendukung. knapa malah skrg ibunya menikahkan mreka, jls2 dia tau xeena anak mantanya dulu. lagian mommy Zephyr tega membuat anaknya mnikah dgn lelaki duda seperti tdk ada lg lelaki lbh dr Ali. kluarga pengusaha koq n bkn org biasa.
Rosdianah 🌷: Ada kebenaran setelah nya kak, selamat membaca y kaa🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Kita liat nanti diapa yg akan menag ratuelizabet atau bezena
Asriani Rini
Prrsng ternuka di mulsi antara ratu lizabet dan bezena siapakah yg nanti menang
pika shu
lanjut thor
Rosdianah 🌷: sebentar ya kak🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!