Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. DSKKR (POV Full Fandi)

Malam berangkut makin larut, tapi lampu kamar di rumah Fandi masih menyala benderang. Lemari pakaian terbuka lebar, memperlihatkan beberapa sudut yang kini melompong kosong.

Fandi melangkah dengan ketukan kaki berat mengelilingi rumah yang terasa mendadak sangat asing dan dingin. Sepi yang mencekam memeluk seluruh sudut ruangan. Biasanya, di jam-jam seperti ini, suara tawa riyuh tiga anaknya Arka, Arki, dan Kirana masih terdengar samar dari ruang keluarga sebelum dibimbing Maya untuk tidur.

Fandi berjalan ke arah sudut meja belajar anak-anak. Di sana, tergeletak sebuah buku gambar kecil milik Kirana yang tertinggal. Fandi membukanya perlahan. Lembar demi lembar berisi coretan krayon warna-warni: gambar sosok ayah, ibu, dan tiga anak kecil berpegangan tangan di bawah matahari tersenyum.

Di bawah gambar itu, ada tulisan tangan Kirana yang masih menyot-menyot: *'Aku sayang Ayah dan Ibu.'

Dada Fandi terasa sesak bergetar hebat. Kepingan kenangan memukul kepalanya tanpa ampun.

"Kenapa jadi kayak gini, ya..." bisik Fandi parau pada keheningan kamar.

Pintu depan terdengar digedor kasar. Fandi menyapu air mata yang nyaris menetes di pipinya, lalu bergegas melangkah ke ruang tamu. Saat pintu dibuka, sosok Ibu Ratna bersama Intan berdiri di sana dengan raut wajah gusar dan napas terengah-engah.

"Fandi!" cerocos Ibu Ratna tanpa permisi langsung menerobos masuk. "Ibu denger dari teman-teman pengajian, kamu beneran sudah ketok palu cerai sama si Maya?! Kok kamu gak cerita sama Ibu?!"

Fandi menghela napas lelah, bersandar pada kusen pintu. "Bu, kan sidang cerainya memang sudah diputus tadi siang. Kan Ibu juga yang dari awal nyuruh Fandi lepas dari Maya?"

"Iya, tapi kan waktu itu Ibu kira si Maya itu kere dan gak bakal punya apa-apa lagi!" sergah Ibu Ratna membela diri, tidak mau disalahkan. "Sekarang kamu lihat sendiri kan? Dia kerja di agensi mewah, pakai mobil bagus, dandanannya mahal! Kenapa kamu gak tuntut harta gono-gini atau minta jatah dari dia?!"

"Bener tuh, Mas!" timpal Intan menyilangkan tangan di dada. "Mbak Maya itu kan naik kelas gara-gara relasi yang pernah kamu kasih waktu masih jadi fotografer! Harusnya kamu dapet bagian dong! Rumah ini aja masih nyicil, studio kamu sepi, masa dia enak-enakan hidup mewah sendirian?!"

Fandi menatap ibu dan adiknya dengan pandangan nanar. Kecewa dan penyesalan yang mendalam membakar kepalanya.

"Harta gono-gini? Ibu enggak ngerti kah hukum? Terus kalian sadar gak sih apa yang udah kita perbuat?" tanya Fandi pelan, suaranya gemetar menahan amarah yang mulai membumbung.

"Maksud kamu apa, Fandi?" tegur Ibu Ratna mengerutkan dahi.

"Kita yang usir Maya dari rumah ini!" bentak Fandi meledak, matanya menatap tajam ke arah ibunya. "Ibu sama Intan yang tiap hari hina dia kayak pembantu! Ibu yang selalu puji-puji Siska kaya raya padahal Siska cuma mau morotin Fandi! Sekarang studio Fandi mau bangkrut, klien-klien pada kabur gara-gara gak ada arahan Maya, dan kalian cuma mikirin uang gono-gini?!"

Ibu Ratna terperanjat, mundur satu langkah karena kaget dibentak anak kesayangannya. "Fandi! Kamu kok malah nyalahin Ibu sama adikmu sendiri?!"

"Karena memang kita yang salah, Bu!" seru Fandi frustrasi seraya mencengkeram rambutnya sendiri. "Maya itu mahakarya yang bikin nama Fandi terpandang! Dan Fandi sendiri yang udah buang dia demi cewek yang gak ada gunanya kayak Siska!"

Intan mencibir, mencoba menutupi rasa salahnya. "Ah, Mas Fandi aja yang lemah! Cuma gara-gara ditinggal wanita dasteran gitu aja langsung tiarap. Cari cewek lain yang lebih kaya kan bisa!"

"Keluar," bisik Fandi dingin.

"Apa?!" peki Ibu Ratna tak percaya.

"Aku bilang keluar dari rumah ini sekarang!" teriak Fandi meluapkan seluruh kegilaan di kepalanya. "Aku mau sendiri!"

Ibu Ratna dan Intan bersungut-sungut dengan wajah merah padam, melangkah keluar sambil terus memaki-maki Fandi yang dianggap tidak tahu terima kasih.

Pintu terbanting keras. Fandi terduduk lesu di lantai ruang tamu yang dingin. Di kepalanya kini hanya ada satu kenyataan pahit yang mengejar tanpa henti: penyesalan itu datang, dan penyesalan itu perlahan-lahan mulai membunuhnya dari dalam.

***

Suasana ruang tamu rumah fandi terasa begitu pengap. Sejak hari persidangan cerai dan diusirnya sang ibu serta adiknya, Fandi hidup bak mayat hidup. Botol-botol minuman berserakan, koper-koper berisi sisa pakaian Maya yang tak sempat terbawa masih menumpuk kusam di sudut ruangan.

Di atas meja, sebuah surat penagihan utang dari bank untuk cicilan studio foto sudah menumpuk bersama dua surat peringatan sewa rumah.

Pintu depan mendadak didobrak kasar.

Siska melangkah masuk tanpa mengetuk. Kali ini, dia tidak datang sendiri. Seorang wanita setengah baya berpenampilan mencolok dengan perhiasan emas tebal di jemarinya Ibu Lusi, ibu kandung Siska mengekor di belakang dengan tatapan menilai yang sangat sinis.

Fandi hanya melirik lemas dari sofa. "Mau apa lagi kamu ke sini, Sis?"

"Mau minta kejelasan lah, Mas!" sahut Siska galak, menyilangkan tangannya di dada. "Ini Mama sengaja aku ajak ke sini buat nagih janji kamu!"

Ibu Lusi maju dua langkah, mengibaskan kipas tangannya dengan raut wajah penuh tuntutan. "Fandi! Kamu tuh gimana sih?! Katanya kamu fotografer terkenal, punya studio besar! Kok anak saya diajak pacaran tapi kamu malah nunggak beliin dia mobil baru?! Rumah yang kamu janjiin mana?!"

Fandi tertawa miris. Tawa kering yang terdengar membentak rasa frustrasinya sendiri.

"Mobil? Rumah?" Fandi berdiri perlahan, menatap Ibu Lusi dan Siska bergantian. "Tante, Siska... matamu berdua itu kebukanya cuma sama uang ya? Kalian gak lihat studio saya lagi sepi? Klien-klien besar pada kabur!"

"Ya itu salahmu sendiri dong!" cerocos Siska tak mau kalah, matanya melotot tajam. "Kamu yang gak bisa kerja! Masa gara-gara gak ada mantan istrimu yang kusam itu studio kamu langsung memble?! Berarti dari dulu kamu tuh cuma manfaatin dia kan?!"

Kalimat Siska persis menembak ulu hati Fandi. Rasa bersalah yang tertahan meledak menjadi kemarahan besar.

"Iya! Memang Maya yang bikin studio itu hidup!" teriak Fandi meledak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Dan kamu tahu apa, Sis?! Kamu gak ada sepersepuluhnya Maya! Maya tulus nemenin saya dari nol, gak pernah nuntut barang mewah waktu saya susah! Sementara kamu? Kamu cuma benalu yang cuma tahu ngeruk uang saya sampai habis!"

"Kurang ajar kamu ya, Fandi!" potong Ibu Lusi penuh amarah, menunjuk-nunjuk muka Fandi dengan kipasnya. "Berani-beraninya kamu ngatain anak saya benalu! Anak saya ini model cantik, masa depan panjang! Lagian kalau tahu kamu mau bangkrut dan melarat begini, dari awal saya gak bakal izinin Siska dekat-dekat sama cowok gagal kayak kamu!"

Siska tersenyum sinis, menarik lengan mamanya. "Udah deh, Ma. Gak usah dilayani lagi. Mending kita pergi dari sini. Mas Fandi ini memang udah gak punya masa depan. Tabungannya tiris, studionya mau disita, ditinggal Maya pula. Benar-benar kasihan!"

Siska menyambar tas mewahnya yang dibeli menggunakan uang tabungan bersama Fandi dan Maya dulu lalu melangkah keluar bersama ibunya sambil membandingkan Fandi dengan pria-pria kaya lainnya.

"Dasar laki-laki miskin" Sambung ibu lusi.

Fandi menyandarkan tubuhnya ke dinding, lalu perlahan meluncur jatuh terduduk di lantai.

Dan malam itu juga, di dalam rumah yang kini sepi tanpa kehangatan, Fandi menyadari kenyataan yang paling pahit. Dia telah mengorbankan wanita tulus yang bersedia menjadi pijakannya demi sosok-sosok yang hanya mencintai hartanya.

Semua hal yang dibanggakannya popularitas, studio, kekasih muda, dan rasa percaya diri yang melambung tinggi kini hancur tak berbekas.

"Mayaa... Arka.. Arki..Kirana..." Ucap fandi bersedih.

Bersambung...

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!