Indonesia
NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Di Bawah Bayang-Bayang Cemoohan

Pagi berawan menyambut langkah kaki Bayu Anggara di halaman Fakultas Ilmu Komputer. Sepatu kain hitam yang semalam ia tatap di kamar kontrakannya kini menapak perlahan di atas lantai koridor kampus yang bersih. Di sudut dekat tangga utama, Dimas sudah berdiri menunggunya sambil memegang dua cangkir kopi panas.

"Pagi, Bay! Muka lu kelihatan loyo banget. Begadang lagi semalaman?" sapa Dimas seraya menyerahkan salah satu cangkir kopi.

Bayu menerimanya dengan anggukan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Dim. Iya, memantau kondisi Ibu sambil menyelesaikan beberapa baris program."

"Ibu lu gimana pagi ini? Udah mendingan?"

"Lumayan stabil, tapi ya itu... obat utamanya harus segera ditebus nanti siang."

Dimas menyenggol bahu Bayu pelan. "Tenang, uang yang gue omongin semalam udah gue siapin. Lu nggak boleh nolak kali ini, Bay. Ini demi kesehatan Tante."

"Dim, aku benar-benar--"

Belum sempat Bayu menyelesaikan kalimatnya, benturan keras tiba-tiba menghantam bahu kirinya dari arah belakang. Map folder dan buku catatan yang dipegang Bayu terlepas, berserakan di atas lantai koridor yang dingin.

"Ups, sori banget ya, Si Miskin. Gue nggak sengaja," suara tawa renyah beriringan dengan nada ejekan yang sangat familier terdengar dari arah belakang.

Nadeo berdiri di sana dengan gaya angkuhnya, mengenakan jaket merek ternama dan sepatu edisi terbatas. Di samping kiri dan kanannya, dua kawannya, Rian dan Fajar, ikut terkekeh menyebalkan.

"Eh, Nadeo! Maksud lu apa main tabrak-tabrak orang?!" bentak Dimas, matanya langsung melotot tajam.

Nadeo hanya mendengus meremehkan, memutar-mutar kunci mobil mewahnya di jari telunjuk. "Santai dong, Dim. Gue kan udah bilang nggak sengaja. Lagian, lorong kampus ini sempit banget gara-gara ada sampah yang ngalangin jalan."

Bayu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia berlutut perlahan, memunguti lembaran kertas tugasnya satu per satu dari lantai.

"Lihat tuh, gaya berlututnya pas banget," ejek Rian sambil menyilangkan tangan di dada. "Sesuai sama kastanya."

"Nadeo, jaga mulut lu ya!" seru Dimas seraya melangkah maju, menyorotkan tatapan penuh amarah. "Lu pikir karena bapak lu kaya, lu bisa semena-mena di kampus ini?"

Nadeo melangkah mendekat ke arah Dimas, menatapnya dengan pandangan menantang. "Kenapa, Dim? Lu mau jadi pahlawan buat si miskin ini? Lu itu dari keluarga berada, Dim. Nggak sudi gue lihat lu gaul sama makhluk kere yang bajunya sudah bau tengik gini."

Nadeo kemudian mengalihkan pandangannya ke bawah, tepat ke arah sepatu Bayu yang berlubang di bagian ujungnya. Dengan sengaja dan kasar, sepatu mahal Nadeo menginjak ujung sepatu Bayu yang robek, menekan jempol kaki Bayu hingga pemuda itu meringis pelan tanpa bersuara.

"Ops, sepatu lu berlubang ya, Bay?" cibir Nadeo sambil sengaja menekan berat badannya lebih keras. "Pantas saja bau kemiskinan menyeruak di lorong ini. Kenapa nggak minta bapak lu beliin baru? Oh iya...gue lupa, lu kan yatim."

Tawa Rian dan Fajar pecah seketika, mengundang perhatian beberapa mahasiswa lain yang mulai berkerumun di sekitar lorong.

"Nadeo! Cukup!" jerit Dimas keras. Ia mendorong dada Nadeo hingga pemuda kaya itu melangkah mundur dua langkah.

Nadeo terkejut, matanya membelalak penuh amarah atas dorongan Dimas. "Lu berani dorong gue cuma demi membela si kutu buku miskin ini, Dim?!"

"Gue berani ngelakuin lebih dari ini kalau lu masih berani mengganggu Bayu!" tegas Dimas, memasang badan tepat di depan Bayu yang baru saja berdiri. "Lu sama sekali nggak punya empati, Nadeo! Asal lu tahu, otak Bayu seribu kali lebih berharga daripada seluruh harta bapak lu!"

Nadeo menunjuk wajah Dimas dengan jarinya yang gemetar karena emosi. "Lu bakal menyesal udah ngebela dia, Dim. Dan lu, Bayu..." Nadeo menatap Bayu dengan kebencian mendalam. "Lu cuma benalu di kampus ini. Jangan harap lu bisa hidup tenang di fakultas ini!"

"Aku di sini untuk belajar, Nadeo. Bukan untuk berurusan denganmu," ucap Bayu sangat tenang. Matanya yang ada di balik kacamata tebal menatap lurus ke arah mata Nadeo tanpa ada sedikit pun rasa takut. Ketenangan itu justru membuat Nadeo semakin merasa terhina.

"Cepat atau lambat, gue bakal bikin lu keluar dari kampus ini sambil berlutut minta ampun ke gue!" ancam Nadeo.

Fajar menepuk bahu Nadeo pelan. "Deo, dosen kelas pertama sebentar lagi masuk. Kita pergi sekarang saja."

Nadeo membetulkan kerah jaket mahalnya, lalu memberikan tatapan sengit terakhir kepada Bayu dan Dimas. "Urusan kita belum selesai."

Ia meludah ke samping lantai dekat kaki Bayu sebelum melangkah pergi meninggalkan lokasi bersama kedua pengikutnya. Mahasiswa lain yang menyaksikan insiden itu perlahan-lahan membubarkan diri dengan bisik-bisik yang merayap di sepanjang koridor.

Dimas menghembuskan napas gusar, berusaha meredakan emosinya yang masih membumbung tinggi. Ia memutar badan dan menatap Bayu dengan rasa cemas yang mendalam.

"Lu enggak apa-apa, Bay? Kaki lu sakit diinjak bajingan itu?" tanya Dimas cepat seraya membantu mengambil sisa kertas tugas Bayu yang belum terambil.

"Aku tidak apa-apa, Dim. Terima kasih sudah melerai," jawab Bayu datar, sambil mengibaskan debu yang menempel di celana kainnya yang sudah pudar.

"Gue benar-benar gedek sama si Nadeo itu! Rasanya pengin gue pukul mukanya tadi!" umpat Dimas sambil mengepalkan tangannya. "Dia pikir dia bisa sewenang-wenang cuma karena bapaknya pengusaha besar dan punya pengaruh di kota ini?"

"Biarkan saja, Dim. Melayani emosinya hanya akan membuang waktu dan energi kita," tutur Bayu tenang. Ia menyusun kembali kertas-kertasnya dan memasukkannya dengan rapi ke dalam tas ranselnya yang kusam.

Dimas menggelengkan kepala melihat kepasifan sahabatnya itu. "Bayu... lu itu terlalu sabar, tahu gak? Dia itu udah kelewatan. Dia menghina almarhum bapak lu, dia menginjak sepatu lu, dia mempermalukan lu di depan banyak orang!"

"Bicara balik atau membalas dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah keuangan keluargaku, Dim. Itu tidak akan membelikan obat untuk Ibu," sahut Bayu sambil menatap Dimas lurus.

Dimas terdiam sejenak. Amarah di wajahnya perlahan luntur, berganti menjadi rasa hormat dan empati yang mendalam terhadap keteguhan hati sahabatnya itu.

"Lu beneran terbuat dari baja ya, Bay," bisik Dimas pelan. "Kalau gue jadi lu, gue udah pasti mengamuk di tempat."

"Aku bukan baja, Dim. Aku hanya punya prioritas yang lebih penting daripada harga diri yang diserang orang sombong seperti Nadeo," ujar Bayu sambil tersenyum tipis. "Lagipula, kata-katanya tidak mengubah kenyataan siapa aku."

Dimas merangkul bahu Bayu dengan erat. "Pokoknya mulai hari ini, ke mana pun lu pergi di kampus, lu harus bareng gue. Gue nggak bakal biarkan Nadeo atau kroco-kroconya menyentuh lu lagi."

"Terima kasih banyak, Dim. Kamu sahabat terbaik yang aku punya," kata Bayu tulus.

"Sudah, tak usah dramatis begitu," kekeh Dimas berusaha mencairkan suasana. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu memaksakannya masuk ke dalam saku jaket lusuh Bayu.

"Dim, apa-apaan ini?" Bayu mencoba mengeluarkan uang itu kembali.

"Diem, Bayu Anggara!" potong Dimas tegas sambil menahan tangan Bayu. "Ini bukan bantuan dari orang asing. Ini pinjaman dari sahabat lu. Nanti kalau lu udah sukses di bidang IT, baru lu balikin uang ini seratus kali lipat. Sekarang, ambil uang ini dan tebus obat Tante nanti siang. Titik. Nggak ada penolakan!"

Bayu menatap lembaran uang di tangannya, lalu memandang mata Dimas yang memancarkan ketulusan tanpa ada sedikit pun niat merendahkan. Bayu menelan ludahnya, merasakan kehangatan yang merayap di dadanya.

"Terima kasih, Dim. Aku pasti akan mengembalikannya," ucap Bayu pelan dengan penuh penekanan.

"Nah gitu dong! Yuk, masuk kelas sebelum Pak Bambang ngomel-ngomel," ajak Dimas sambil menepuk punggung Bayu.

Keduanya pun berjalan berdampingan menyusuri koridor menuju ruang kuliah. Di balik penampilannya yang sederhana dan cemoohan yang baru saja diterimanya, Bayu berjalan dengan kepala tegak, siap menjalani harinya dengan fokus penuh pada impian dan pengabdian untuk ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!