Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Misi Berbahaya di Sektor Utara dan Duta Persit
BAB 23: Misi Berbahaya di Sektor Utara dan Duta Persit
Enam bulan berlalu sejak deru mesin truk militer membawa Mayor Aris meninggalkan Mako Batalyon menuju kawasan perbatasan terluar di Ujung Utara.
Waktu berjalan merambat pelan, menyisakan kesunyian yang menggantung di setiap sudut markas.
Namun, Mayang bukanlah tipe wanita yang membiarkan hatinya larut dalam ratapan rindu yang sia-sia.
Di balik kacamata barunya yang jernih, terpancar kedewasaan dan keteguhan jiwa yang makin matang.
Gadis yang dulunya dikenal polos dan suka berulah dengan toa kuning itu kini telah menjelma menjadi pilar kehangatan di Mako.
Pagi itu, Aula Utama Batalyon disulap menjadi penuh warna. Suara riuh rendah tawa ibu-ibu Persit (Persatuan Istri Prajurit) bersahutan dengan aroma harum kue-kue tradisional yang baru matang.
Mayang berdiri anggun di atas panggung kecil, mengenakan seragam batik hijau zaitun khas Persit yang dijahit sangat pas di tubuhnya.
Di dada kirinya, bros perak ukiran pita peninggalan keluarga Ibu Diah memantulkan kilau cahaya lampu yang amat lembut.
Hari ini adalah hari istimewa. Mayang secara resmi dipercaya memimpin program pemberdayaan ekonomi dan bakti sosial Persit Batalyon.
Dengan memegang mikrofon, Mayang menatap seluruh jajaran istri prajurit dan perwira yang hadir di ruangan.
"Ibu-ibu yang saya hormati dan saya banggakan," ucap Mayang dengan nada suara jernih, hangat, dan mengalir sangat alami tanpa kesan kaku.
"Suami-suami kita saat ini sedang berdiri tegap di garis paling depan, menahan dinginnya malam dan bertaruh nyawa demi menjaga patok batas negara. Tugas kita yang berada di benteng belakang ini bukan untuk meratapi jarak atau menangisi keadaan. Tugas kita adalah berdiri sama tegapnya, menjadikan Mako ini sebagai rumah yang hidup, mandiri, dan penuh dengan doa-doa yang menguatkan mereka di sana!"
Brak! Tepuk tangan bergemuruh riuh memenuhi seluruh sudut aula!
Ibu Diah yang duduk di barisan paling depan bersama para purnawirawan mengusap sudut matanya yang berkaca-kaca.
Ada rasa bangga yang luar biasa terpancar dari raut wajah tua yang penuh kehangatan itu.
Bahkan Dokter Siska, yang kini menjabat sebagai kepala divisi kesehatan Persit, bertepuk tangan paling keras dengan senyuman tulus yang mengembang lebar.
Mayang tidak hanya memenangkan hati Mayor Aris, tetapi juga berhasil menjadi perekat yang menyatukan seluruh keluarga besar Batalyon.
Lewat gagasannya yang cemerlang, Mayang menggerakkan pelatihan kerajinan tangan, membuka Dapur Gizi Anak untuk warga desa sekitar, hingga memproduksi produk UMKM lokal berupa olahan es sirup herbal dan camilan kering yang dipasarkan hingga ke tingkat provinsi.
Sosok Mayang yang ramah, tidak pernah membedakan pangkat, dan selalu siap mendengarkan curhat ibu-ibu prajurit membuat Mako Batalyon kembali bergairah dan penuh semangat hidup.
Namun, di saat Mako Batalyon diselimuti oleh kehangatan dan keberhasilan program Persit, ribuan kilometer di utara sana di tengah pekatnya rimba belantara perbatasan yang ganas dan terisolasi situasi justru berada di ambang maut.
Brak! Boom! Khrekkk!
Suara ledakan mortir berkekuatan tinggi membelah keheningan malam yang gulita di Sektor Utara.
Kilatan api dan asap hitam membumbung tinggi di antara celah pohon-pohon raksasa hutan hujan tropis.
Badai hujan deras yang mengguyur sejak sore mengubah tanah menjadi kubangan lumpur pekat setinggi lutut.
Pos Komando Pengamanan Perbatasan yang dipimpin oleh Mayor Aris disergap secara mendadak oleh kelompok penyusup bersenjata yang memanfaatkan cuaca buruk untuk melancarkan serangan taktis.
"Bertahan di posisi! Jangan ada yang membuang peluru sembarangan!" teriak Mayor Aris menggelegar menembus deru gemuruh hujan dan hujan peluru.
Pakaian Dinas Lapangan (PDL) motif loreng yang dikenakan Aris tampak koyak di beberapa bagian, basah kuyup oleh air hujan dan bersimbah noda lumpur hitam.
Wajah tampan sang Komandan tertutup jelaga hitam bekas tembakan, tetapi manik mata pekatnya memancarkan aura prajurit yang sangat dingin, tajam, dan mematikan.
"Mayor! Radio komunikasi utama hancur terkena serpihan ledakan!" lapor seorang prajurit perhubungan seraya merayap di tanah lumpur dengan wajah pucat pasi.
"Kita terisolasi total! Musuh mencoba merangsek masuk dari tebing sebelah barat untuk memotong jalur evakuasi warga desa perbatasan!"
Mayor Aris mengepalkan jemarinya di atas badan senjata laras panjangnya. Aura komando militer di dalam dirinya membakar hebat.
"Kapten Yoga!" panggil Aris dengan intonasi mantap.
"Siap, Mayor!" sahut Kapten Yoga yang bertahan di samping barikade kayu tebal.
"Bawa dua regu penembak jitu! Amankan seluruh warga sipil ke dalam bunker perlindungan di bawah posko! Saya bersama tim inti akan mengambil alih bukit timur dan memancing perhatian musuh!" perintah Aris mutlak tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Tapi Mayor, itu terlalu berbahaya! Jumlah mereka lebih banyak!" seru Kapten Yoga cemas.
"Ini perintah, Yoga! Laksanakan!" tegas Aris.
Sebelum melompat keluar dari balik barikade karung pasir untuk memimpin serangan balasan, tangan kiri Aris yang terbungkus sarung tangan taktis merogoh saku dada sebelah kiri seragamnya.
Di dalam saku yang paling dekat dengan detak jantungnya itu, Aris mengeluarkan selembar foto berukuran kecil yang terbungkus plastik kedap air foto Mayang yang tersenyum manis dengan kacamata tebalnya saat hari pertunangan mereka.
Di tengah desingan peluru tajam yang melintas hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya dan gemuruh suara ledakan yang menggetarkan bumi, Aris menatap foto itu sejenak.
Bayangan senyuman polos Mayang, gelak tawanya yang konyol, serta janji suci yang terucap di Mako mendadak hadir dengan sangat nyata, menyapu bersih seluruh rasa lelah dan dingin yang membekukan tulangnya.
Aris mendekatkan foto itu ke bibirnya, mengecupnya singkat, lalu memasukkannya kembali ke saku dada dengan rapat.
"Tunggu saya pulang, Mayang..." bisik Aris di antara gemuruh badai malam.
"Saya tidak akan membiarkan maut mengambil saya sebelum saya menepati janji untuk memelukmu kembali."
Dengan semangat baja yang tak tergoyahkan, Mayor Aris bangkit berdiri tegap.
Menerobos kegelapan malam dan hujan deras, sang Komandan memimpin pertempuran jarak dekat secara presisi.
Dalam waktu dua jam yang menegangkan, strategi taktis yang dilancarkan Aris berhasil meruntuhkan pertahanan musuh, mengamankan sektor perbatasan, dan menyelamatkan seluruh nyawa pasukannya tanpa ada satu pun korban jiwa!
Dua hari kemudian, suasana damai di Mako Batalyon mendadak berubah menjadi tegang dan mencekam.
Kabar mengenai pertempuran berdarah di Sektor Utara perbatasan akhirnya menembus pemberitaan nasional.
Mayang sedang berada di ruang sekretariat Persit, merapikan laporan keuangan bersama beberapa anggota, ketika Sertu Bambang mendobrak pintu ruangan dengan wajah sangat pucat dan napas terengah-engah.
Di tangan Sertu Bambang, tercekik selembar koran cetak edisi pagi yang memuat judul berita cetak tebal yang sangat mengerikan,
"Pos Perbatasan Sektor Utara Disergap Kelompok Bersenjata, Pasukan Batalyon Bertahan Dalam Badai Malam dan Putus Komunikasi."
Deg!
Seketika itu juga, warna di wajah Mayang menguap tanpa sisa. Pensil di jemari tangannya terlepas dan jatuh berkeping ke lantai.
Jantungnya serasa berhenti berdetak, dan seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas tak berdaya.
Kata "Putus Komunikasi" dan "Penyergapan" bergema hebat di dalam kepalanya, memicu gelombang kepanikan dan rasa takut yang luar biasa mencekik.
Ibu Diah dan Dokter Siska yang berada di ruangan itu buru-buru mendekati Mayang.
Ibu Diah langsung merengkuh bahu Mayang yang gemetar hebat, memeluknya dengan rasa cemas yang tak kalah besarnya.
"Mayang... Mayang, dengarkan Ibu, Nak. Tenang ya..." bisik Ibu Diah dengan suara parau menahan tangis.
Mayang memejamkan matanya rapat-rapat. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, bayangan wajah Aris, sentuhan tangannya yang hangat saat pamit, dan surat-surat rindu dari perbatasan berputar cepat.
Mayang memegang bros perak di dadanya, menarik napas panjang dan dalam berulang kali untuk menguasai gejolak emosi di dalam jiwanya.
Gadis itu kemudian membuka matanya kembali. Dibalik kaca lensa barunya, tidak ada lagi jejak ketakutan atau kepanikan yang melumpuhkan.
Yang tersisa hanyalah binar kepercayaan mutlak, ketegaran, dan iman yang sangat kuat.
Mayang mengusap setitik air mata yang sempat menetes di pipinya, lalu berdiri tegap di hadapan seluruh anggota Persit yang menatapnya dengan raut khawatir.
"Mas Aris adalah seorang Komandan Batalyon yang sangat hebat dan bertanggung jawab," tutur Mayang dengan suara yang amat jernih, mantap, dan berwibawa tanpa ada getaran ragu sedikit pun.
"Beliau sudah berjanji demi kehormatan militer dan cintanya untuk pulang selamat memeluk Mayang. Mas Aris tidak pernah ingkar janji. Dan tugas kita di sini sekarang adalah terus mendoakan beliau dan seluruh pasukan, bukan tenggelam dalam ketakutan!"
Ketegaran, kekuatan mental, dan cinta tulus Mayang yang tak tergoyahkan oleh badai berita itu membuat seluruh ruangan hening terperangah.
Rasa hormat dan rasa bangga seluruh anggota Batalyon terhadap Mayang kini menyatu sempurna.
Mayang bukan sekadar calon istri Komandan, melainkan sosok penopang sejati yang menjadi pilar kekuatan bagi seluruh markas.
Masa penugasan satu tahun yang panjang kini telah melewati puncaknya.
Di balik bahaya pertempuran perbatasan dan jarak ribuan kilometer yang memisahkan, benang merah cinta antara Mayor Aris dan Mayang justru terikat makin kencang, tak tergoyahkan oleh badai apa pun di dunia.