Update tiap hari dijam 12.00 WIB.
Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.
Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.
Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.
Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lonceng Kematian di Reruntuhan Gang
Aroma dupa kuno yang bercampur dengan bau busuk racun ungu seketika menyesakkan udara di reruntuhan gang Kota Naga Tidur. Ribuan jarum beracun yang dilepaskan oleh Nenek Yin-Sha melesat cepat bagaikan hujan badai, mengeluarkan desis mendesis yang mampu melelehkan batu-batu jalanan seketika. Nenek tua itu berdiri bungkuk di atas puing-puing bangunan, matanya yang keriput menatap tajam dengan seringai penuh kemenangan. Di usianya yang telah ratusan tahun, ia telah melihat banyak kultivator jenius tumbang di bawah kutukan racun jiwanya.
Bagi Ji Mo-Xian, serangan itu bukan sekadar ancaman fisik, melainkan ujian bagi meridian tubuhnya yang saat ini sudah berada di ambang batas kritis.
Namun, ia tidak menunjukkan tanda-tanda keraguan sedikit pun.
Saat ribuan jarum beracun itu tinggal berjarak beberapa jengkal dari tubuhnya, Ji Mo-Xian tidak mengelak. Ia sedikit mendongakkan kepalanya, lalu membuka mulutnya untuk melantunkan bait syair kematian dengan nada yang begitu tenang, dingin, dan menusuk jiwa:
“Asap beracun menutup pandangan mata...”
“Lonceng berdentang memanggil jiwanya...”
“Tiada penawar bagi yang menduka...”
“Tenggelam dalam racun keabadian fana.”
BARRR!
Gelombang sonik bertekanan ekstrem meledak dari bibir Ji Mo-Xian, berbenturan secara frontal dengan hujan jarum racun ungu tersebut. Suara ledakan itu menciptakan gelombang kejut melingkar yang langsung menyapu bersih asap beracun dalam sekejap.
Tidak hanya itu, getaran syair maut itu berbalik melesat cepat ke arah Nenek Yin-Sha, membawa kekuatan destruktif yang meremukkan udara di sekitarnya.
Wajah Nenek Yin-Sha seketika berubah pucat pasi. Seringai mengerikan di wajahnya lenyap, digantikan oleh rasa ngeri yang teramat sangat. Ia baru menyadari bahwa kekuatan pemuda buta ini jauh melampaui apa yang diceritakan oleh para tetua sekte lain.
"Tidak mungkin...!" teriak Nenek Yin-Sha histeris, mengerahkan seluruh sisa tenaga dari alam Nirwana untuk menghentakkan tongkat kayu hitamnya ke tanah, menciptakan perisai racun tebal berlapis-lapis di sekeliling tubuhnya.
Namun, perisai racun itu tidak berarti apa-apa di hadapan getaran syair kematian.
CUP! BZZZRT!
Perisai itu pecah berkeping-keping bagaikan kaca tipis yang dihantam palu besi. Gelombang sonik itu menghantam tubuh Nenek Yin-Sha secara telak. Wanita tua itu tidak sempat mengeluarkan jeritan kesakitan; tubuhnya mendadak kaku, disusul oleh suara retakan hebat dari dalam tulang belulang dan organ dalamnya.
Dalam sepersekian detik, jasad Nenek Yin-Sha hancur lebur dari dalam, berubah menjadi debu halus dan uap racun yang langsung buyar ditiup angin malam.
Musuh ketiga malam ini tewas tanpa meninggalkan sisa.
Ji Mo-Xian menarik napas panjang. Kali ini, rasa sakit di dadanya terasa jauh lebih nyata. Setetes darah kebiruan mengalir deras dari balik kain sutra hitam di matanya, membasahi sebagian kerah jubah putihnya. Penggunaan kekuatan berturut-turut dalam satu malam membuat mata dewa naga air di dalam tubuhnya bergolak liar, mencoba merusak segel yang menahannya.
Ia meraba dadanya yang terasa panas terbakar, lalu bersandar sejenak pada sisa dinding batu yang masih berdiri kokoh.
Namun, dunia kultivasi tidak pernah memberi waktu bagi yang lemah untuk beristirahat.
Sebelum napas Mo-Xian kembali teratur, udara di atas reruntuhan gang mendadak membeku. Suhu turun drastis dalam sekejap mata, mengubah sisa-sisa genangan air di tanah menjadi lapisan es tebal yang berkilauan di bawah bayangan rembulan.
Dari balik celah langit malam yang gelap, sesosok pria tinggi tegap dengan jubah biru tua bermotif gelombang laut melayang turun tanpa suara. Ia mendarat dengan anggun di atas tumpukan puing, membawa aura tekanan spiritual yang jauh lebih menakutkan daripada ketiga musuh sebelumnya.
Dia adalah Bai Hai-Long, master agung dari Sekte Lautan Biru, salah satu dari lima pendekar puncak terkuat di wilayah selatan yang datang secara khusus untuk merebut mata dewa naga air demi menembus batas kultivasi tertingginya.
"Luar biasa, Ji Mo-Xian..." suara Bai Hai-Long terdengar dalam, berwibawa, dan menggema di seluruh sudut gang. "Tiga orang tua bodoh itu mengira mereka bisa menangkapmu sendirian. Mereka pantas mati karena kesombongan mereka sendiri."
Ji Mo-Xian perlahan menegakkan tubuhnya. Ia tidak menoleh, tetapi indra pendengarannya menangkap setiap detail gerakan pria di hadapannya. "Satu lagi anjing yang datang mengantar nyawa," ucap Mo-Xian datar, suaranya terdengar dingin tanpa rasa gentar sedikit pun.
Bai Hai-Long tersenyum tipis, melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menyipit tajam menatap kain hitam di wajah Mo-Xian. "Aku bukan mereka, anak muda. Aku tahu batas kemampuanmu. Kau sudah terluka parah, dan meridianmu berada di ambang kehancuran akibat menggunakan kekuatan itu terlalu sering malam ini. Menyerahlah, dan aku akan memberimu kematian yang tenang tanpa rasa sakit."
Ji Mo-Xian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraba simpul kain sutra hitam di kepalanya, merasakan detak jantungnya yang berpacu seirama dengan pusaran energi dewa naga air di dalam tubuhnya. Malam ini, di reruntuhan gang ini, pertarungan penutup akan segera dimulai.