Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Memilih Melangkah
Riva akhirnya berhenti membahas Aksa. Ia sudah hafal sifat Aynara. Kalau terus memaksa, ujung-ujungnya gadis itu pasti memilih diam atau malah mengusirnya dari ruangan.
Riva kemudian teringat sesuatu. "Oh iya!" serunya.
Aynara menoleh. "Apa lagi?"
"Interview kamu gimana? Diterima gak?" Riva menunggu jawaban dipenuhi rasa penasaran.
Aynara memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam wadah. "Diterima."
Riva langsung membulatkan mata. "Serius?"
"Iya," jawab Aynara. "Aku diterima sebagai sekretaris di bagian manajemen."
"Woah!" Riva berseru antusias. "Keren, Ra! Aku bilang juga apa."
Ia mengamati Aynara dari atas sampai bawah, lalu mengangguk-angguk sok serius.
"Kamu itu S2, nilaimu hampir sempurna, postur tubuh oke, wajah cakep..." Riva mengangkat kedua tangannya. "Mana mungkin gak diterima?"
Aynara mendengus. "Sudah gak usah banyak bacot. Cepetan ganti baju dan bantuin aku masak."
"Eh, tunggu!" Riva langsung menunjuk dirinya sendiri. "Cuma bantu masak dapat makan gratis? Kesempatan seperti ini gak akan aku lewatkan!" Ia buru-buru berlari kecil menuju kamarnya.
Aynara hanya bisa menggeleng pelan. "Dasar beo."
Namun beberapa detik kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis. Sejujurnya, kehadiran Riva yang berisik justru membuat apartemen itu terasa lebih hidup. Setidaknya, ia tidak lagi merasa sendirian.
Tak lama kemudian, Riva kembali mengenakan kaus lengan pendek dan celana pendek. Ia segera mengambil celemek yang tergantung di dekat dapur lalu memakainya.
"Udah siap!" serunya.
Ia berdiri di samping Aynara sambil melihat bahan-bahan makanan yang sudah tertata di atas meja.
"Aku harus ngapain?"
Aynara menunjuk beberapa sayuran. "Cuci itu."
Riva langsung mengambilnya. "Siap, Chef!"
Aynara terkekeh kecil.
Mereka baru saja mulai memasak ketika Riva tiba-tiba teringat sesuatu lagi. "Oh iya, Ra."
"Hm?" sahut Aynara tanpa menoleh.
"Langlang juga diterima, lho."
Gerakan tangan Aynara yang sedang memotong bawang berhenti sesaat. "Langlang?"
"Iya." Riva mengangguk. "Tadi aku sempat lihat namanya di daftar peserta yang lolos."
Aynara kembali memotong bawang. "Dia diterima di bagian apa?"
"Management trainee." Riva mengangkat satu jari. "Katanya hasil interview-nya bagus. Dengan gelar S2 dan nilai akademiknya, ya wajar sih."
Aynara mengangguk kecil. "Oh."
Hanya itu. Tidak ada wajah kecewa. Tidak ada senyum bahagia. Bahkan tidak ada rasa penasaran berlebihan.
Riva sampai menoleh. "Cuma 'oh'?"
Aynara mengangkat bahu. "Terus aku harus bilang apa?"
"Entahlah. Dulu kalian 'kan..."
Riva menghentikan ucapannya sendiri. Ia tahu hubungan Aynara dan Langlang pernah cukup dekat.
Aynara pun terdiam sejenak. Dulu, mendengar nama Langlang saja sudah cukup membuat hatinya berdebar. Namun sekarang, nama itu terasa berbeda.
Bukan karena ia membenci Langlang. Perasaannya hanya sudah tidak sama. Sejak menikah, Aynara sengaja menjaga jarak. Awalnya ia pikir perasaan itu akan tetap ada karena pernikahannya dengan Aksa sama sekali tidak dilandasi cinta.
Namun semakin lama, ia justru merasa semakin tidak nyaman ketika Langlang terus berusaha mendekatinya.
Mungkin karena sekarang ia sadar bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar. Atau mungkin...
Perasaannya memang sudah perlahan berubah.
"Baguslah kalau dia diterima," ucap Aynara akhirnya. "Berarti dia bisa mulai bekerja."
Riva memerhatikan wajahnya beberapa saat. "Kamu benar-benar gak apa-apa?"
Aynara menoleh. "Memangnya aku harus gimana?"
Riva mengangkat bahu. "Gimana pun dia 'kan mantan kamu."
Aynara tersenyum tipis. "Riv, masa lalu ya masa lalu. Sekarang kami cuma teman."
Riva tidak berkomentar. Ia hanya mengangguk pelan, kemudian kembali mencuci sayuran. "Ya sudah. Yang penting makan malam kita gak gosong."
Aynara terkekeh. "Itu baru masalah penting."
***
Keesokan paginya, Aynara dan Riva berangkat bersama menuju Aksara Group.
Aynara fokus mengemudi, sementara Riva duduk di kursi penumpang sambil terus mengoceh sejak mobil meninggalkan apartemen.
"Ra, aku masih gak percaya hidupku bisa berubah secepat ini."
Aynara melirik sekilas. "Berubah bagaimana? Jadi Power Rangers atau Ultraman?"
"Lah, malah bercanda. Aku serius ini."
Aynara mengulum senyum. "Iya, iya. Gak becanda lagi."
"Nah, gitu dong. Dengerin, ya. Dulu aku harus mikir keras tiap akhir bulan cuma buat bayar kontrakan. Sekarang?" Riva mengangkat kedua tangannya dengan bangga. "Aku punya sahabat seperti Dewi Fortuna!"
Aynara terkekeh.
"Dan kamu punya ibu mertua kayak ibu peri!" lanjut Riva penuh semangat. "Aku ikut kecipratan rezekinya."
"Jangan lebay."
"Ini bukan lebay. Ini fakta! Realita, Ra." Riva mulai menghitung menggunakan jarinya. "Aku gak perlu bayar kontrakan. Gak perlu pusing mikirin ongkos. Makan juga tinggal bantu masak. Cuci piring tinggal cuci. Baju tinggal masukin mesin. Beres-beres apartemen juga tinggal aku kerjakan."
Ia menoleh kepada Aynara. "Jadi kalau dipikir-pikir, aku ini bukan numpang."
Aynara mengerutkan dahinya. "Terus?"
"Ini namanya program pertukaran tenaga kerja dengan fasilitas premium."
Aynara langsung tertawa. "Program pertukaran tenaga kerja apaan?"
"Ya aku bantu pekerjaan rumah, kamu menyediakan tempat tinggal, makanan, dan fasilitas." Riva mengangguk mantap. "Kalau mau disebut mbabu juga aku gak keberatan. Mbabu sama teman sendiri, bukan sama majikan galak. Mana 'kan cuma pagi sama sore doang. Gak fulll seharian kayak di tempat lain."
Aynara menggeleng sambil tersenyum. "Kamu benar-benar gak punya malu."
"Ngapain malu? Aku malah untung." Riva menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. "Pokoknya mulai sekarang aku harus rajin. Jangan sampai Dewi Fortuna-ku berubah pikiran dan ngusir aku."
"Kalau kamu terus ngoceh begini, aku yang bisa berubah pikiran."
Riva langsung memasang wajah panik. "Jangan, Ra! Aku masih punya cicilan harga diri."
Aynara terkekeh lagi.
Begitu tiba di Aksara Group, Aynara memarkirkan mobil di area parkir karyawan. Mereka kemudian masuk ke lobby bersama.
Mereka kemudian masuk ke lobby bersama. Namun baru beberapa langkah, Riva tiba-tiba berhenti.
"Eh..."
Aynara ikut menoleh mengikuti arah pandangan Riva.
Di dekat meja resepsionis, seorang pria berdiri sambil berbicara dengan salah satu karyawan.
...🔸🔸🔸...
...“Tidak semua awal yang baru datang setelah kita siap. Terkadang, kita harus berani melangkah meski hati masih penuh luka. Sebab kehidupan tidak akan menunggu sampai kita benar-benar pulih untuk memberikan kesempatan berikutnya.”...
...“Ketika satu jalan tidak lagi bisa kita tempuh, jangan terus berdiri di persimpangan sambil menyesali arah yang telah berlalu. Beranilah memilih jalan lain, karena bisa jadi kebahagiaan yang kita cari memang menunggu di sana.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
yang berbicara depan Resepsionis dengan Karyawan?